APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel When We Were In Love

When We Were In Love

Alice Reeves didera kepedihan akibat cinta tak berbalas kepada Douglas Handerson, saudara tiri sekaligus sahabatnya yang memutuskan pergi. Di tengah luka hati tersebut, Maximilliam Callyps datang menawarkan kesembuhan dan mencoba merebut hati Alice. Saat Alice mulai mempertanyakan arti kebahagiaan sejatinya, Douglas justru dilingkupi penyesalan atas keras kepalanya dahulu. Akankah babak baru bersama Maximilliam terwujud, ataukah bayang-bayang masa lalu Douglas tetap tak tergantikan?
Bab
Bagikan

Bab 1

Restauran mewah yang terletak di lantai paling atas sebuah hotel terlihat tidak terlalu ramai, hanya ada beberapa meja yang sudah terisi. Seorang gadis yang sedang duduk di dekat jendela menatap pemandangan lampu jalanan yang berkelap-kelip di bawahnya sambil tersenyum puas. Alice Reeves, kembali mengingat moment saat dirinya menerima penghargaan untuk kategori artis pendatang baru terbaik di Festival Film Cannes seminggu yang lalu.

Rasanya masih seperti mimpi ia bisa memenangkan penghargaan itu di film debutnya dan menghalahkan para pesaingnya. Tapi jika ini memang mimpi Alice berharap ia tidak akan pernah bangun dari tidurnya.

"Kenapa kau senyum-senyum sendiri?"

Alice menoleh. Phoebe McCain yang sedang duduk di hadapannya menatapnya dengan pandangan heran. Phoebe, wanita berusia 26 tahun yang memiliki rambut ikal berwarna coklat dan kulit pucat adalah teman baik Alice yang datang untuk menemaninya makan malam.

Alice tertawa kecil. "Hanya mengingat kembali moment malam itu."

Phoebe tersenyum mendengar jawaban Alice. Ia mengangkat gelas wine yang ada di sebelahnya dan berkata "Mari kita bersulang untuk merayakan kemenanganmu." Alice tersenyum mengangguk. Ia mengangkat gelas wine nya dan mendentingkannya dengan gelas Phoebe.

"Cheers" ucap mereka bersamaan lalu meminum wine itu dalam sekali teguk. Rasa manis dan pahit meresap ke dalam indra perasa Alice.

"Aku tidak menyangka kau bisa memenangkan penghargaan ini di film pertamamu" ujar Phoebe sambil mengelap mulutnya dengan tissue.

Alice mengangguk setuju. "Benar. Aku juga memikirkan hal yang sama denganmu. Aku bahkan sempat mengira mereka salah membacakan nama pemenangnya." Phoebe tertawa mendengar gurauan Alice.

Alice saat ini berprofesi sebagai seorang aktris pendatang baru. Ia memulai karir sebagai model untuk pemotretan sebuah majalah fashion selama tiga tahun sebelum terpilih menjadi model MV oleh salah satu penyanyi papan atas yang sedang naik daun untuk single terbarunya. Tema short movie yang dipilih oleh penyanyi itu dan lagunya yang meledak di pasaran membuat nama Alice ikut melambung dan mulai di perhitungkan dalam industri hiburan. Sejak saat itu Alice mulai mendapat tawaran iklan dari beberapa brand ternama.

Puncaknya adalah ketika dia bertemu dengan Sebastian Romson, sutradara terkenal yang sedang naik daun. Ia terkesan dengan penampilan Alice dalam MV itu dan meminta Alice untuk mengikuti casting film yang akan di buatnya. Alice lolos casting sebagai peran antagonis dalam film besutannya.

Dewi Fortuna seakan tidak berhenti berpihak pada Alice. Film pertama yang ia bintangi mendapat sambutan hangat dari kritikus dan para penikmat film. Hampir semua orang yang dia temui memuji keterampilan aktingnya dalam film tersebut. Alice bahkan sempat berpikir dirinya mungkin pernah menyelamatkan negara di kehidupannya yang dulu karena keberuntungannya tidak berakhir sampai di situ. Kemarin malam menjadi pembuktian dari semua hasil kerja keras Alice selama ini.

Ponsel Alice yang tergeletak di atas meja bergetar. Ia meliriknya, pesan masuk dari Noah, manajernya. Alice meraihnya dan membacanya.

'Besok kita akan makan malam dengan Sebastian dan para sponsor. Aku akan datang untuk menjemputmu dan kau wajib ikut Alice karena kau adalah salah satu bintang utamanya. Kalau kau beralasan lagi untuk tidak hadir, aku akan mulai mempertimbangkan untuk mencari pekerjaan lain.'

Alice menghela nafas setelah membaca pesan dari Noah. Meskipun saat ini dirinya bisa di bilang sebagai seniman tapi ia sama sekali tidak suka dengan yang namanya pesta. Terlalu banyak keramaian di dalam satu ruangan membuat kepalanya pusing saat menghadirinya. Kecuali jika sedang shooting atau pemotretan Alice tidak akan terlalu memikirkan hal itu karena sedang fokus ke hal lain.

"Kenapa dahimu berkerut seperti itu?" tanya Phoebe. Alice memberikan ponselnya pada Phoebe agar dia bisa membacanya langsung.

Phoebe menerimanya dan membaca pesan dari Noah. 

"Kau memang harus datang Alice. Mungkin dulu tidak apa-apa kalau kau beralasan tidak hadir. Tapi sekarang aku rasa kau harus mulai membiasakan diri" kata Phoebe sambil mengembalikan ponsel Alice.

Alice memajukan bibir bawahnya mendengar nasihat dari Phoebe, kebiasaannya sejak kecil saat sedang tidak suka dengan sesuatu. "Kau mau ikut?" ajak Alice.

Phoebe langsung menggeleng dengan cepat. "Tidak, terima kasih. Aku lebih baik nonton film di bioskop sendirian daripada harus ikut menghadiri pesta denganmu."

Alice tertawa mendengar penolakan Phoebe. Mungkin karena sifat mereka berdua sama-sama introvert sehingga mereka bisa berteman baik hingga sekarang. "Kau menyuruhku datang, tapi kau juga menolak ajakanku" gerutu Alice.

"Jelas saja. Kau'kan artis jadi kau harus datang, tidak ada alasan bagimu untuk menolaknya. Sedangkan aku hanya seorang guru jadi tidak ada alasan bagiku untuk menghadirinya."

Alice menggelengkan kepalanya, Phoebe memang sangat pintar ketika membalikkan kata-katanya seperti sekarang dan dia juga selalu berhasil membuat Alice terdiam seketika karena tidak bisa membalasnya. Mungkin ini salah satu pengaruh yang dimiliki oleh Phoebe dari pekerjaannya sebagai guru sekolah dasar.

"Baiklah aku akan datang ke pesta besok" kata Alice.

"Bagus" sahut Phoebe tersenyum.

Setelah makan malam selesai mereka memutuskan untuk pulang ke rumah. Alice turun lebih dulu dari taksi karena apartemennya lebih dekat dari hotel dibanding rumah Phoebe.

"Hati-hati" ujar Alice sambil melambaikan tangan pada Phoebe lewat jendela. Phoebe mengangguk tersenyum dan membalas lambaian tangan Alice. Kemudian taksi jalan dan Alice melihatnya hingga taksi itu menghilang dari pandangannya.

____

____

Alice menekan nomor sandi pintu apartemennya. Setelah pintu terbuka, ia masuk dan menyalakan lampu. Apartemen dua kamar yang ia beli dua tahun lalu terasa sangat besar saat ia sedang sendirian seperti sekarang.

Alice menghela nafas sebentar sambil melepaskan sepatu dan menggantung coatnya, ia berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.

Alice memutar musik sebelum melepas handuknya dan berendam di bathtub. Kegiatan ini adalah favorit Alice. Pemandangan gedung-gedung yang terlihat dari jendela di sisi bathub saat ia berendam mampu memberikan sensasi tenang di dalam dirinya. Inilah salah satu alasan Alice memilih apartemen ini. Karena pemandangan dari kamar mandinya terlihat begitu indah. Alasan sederhana tetapi lebih dari cukup untuk membuat dirinya merasa senang.

Suasana berubah saat lagu All I Want milik Kodaline berputar. Kejadian di masa lalu muncul mendadak di benak Alice secara bergantian tanpa peringatan.

'Kami akan menikah'

'Pulanglah, kita hadapi semua ini bersama'

'Kalau kau mau menangis, menangislah tapi jangan melakukan hal yang bisa membahayakan nyawamu sendiri'

Karena tidak tahan dengan suara-suara yang menggema di kepalanya, Alice langsung menenggelamkan kepalanya ke dalam air di bathtub. Entah berapa lama dirinya seperti itu. Yang jelas saat dadanya mulai terasa sesak karena kekurangan oksigen, Alice tersentak dan segera tersadar kembali.

Alice mengangkat kepalanya dari dalam air dan mengusap wajahnya yang penuh dengan busa. Ia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Alice melakukan hal itu berulang kali sampai emosinya terasa lebih stabil. Ia meraih ponselnya dan mematikan lagu yang sedang diputar. Lagu itu adalah lagu favoritnya. Tapi liriknya yang sangat mewakili perasaannya selalu mampu membuat Alice teringat akan kenangan itu.

Saat lebih tenang ia bangkit dari bathub dan berjalan menuju shower untuk membilas tubuhnya. Setelah selesai mandi, Alice duduk di depan meja rias untuk mengeringkan rambutnya dengan hair dryer. Ia menatap sosoknya di cermin dan termenung. Memang benar perkataan orang bijak, semakinseseorang ingin melupakan sesuatu  semakin ia mengingatnya. 

Dan sekarang ingatan Alice kembali ke momen tujuh tahun yang lalu saat bersama 'dia' di musim gugur.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bukan Rahim Istriku
7.9
Aryo mengkhianati pernikahannya hingga selingkuhannya mengandung. Demi mempertahankan sang istri yang sangat dicintainya, ia melakukan aksi nekat di luar akal sehat dengan memindahkan janin haram itu ke rahim istrinya sendiri. Langkah ekstrem ini seketika memicu komplikasi fatal dan perang batin yang luar biasa. Kini, bahtera rumah tangga mereka berada di ambang kehancuran, menyisakan penderitaan mendalam yang terus menyiksa kehidupan pernikahan mereka.
Sampul Novel Cinta yang Sudah Hilang
8.1
Sejak kehamilanku, suamiku selalu pergi lari malam. Namun hari ini, dia terburu-buru pergi hingga meninggalkan ponselnya dan hanya memakai jam tangan pintar. Saat itulah aku tidak sengaja membaca pesan-pesan intim yang dia kirimkan kepada seorang rekan wanita, menawarkan dirinya untuk "dimakan". Rasa mual langsung bergejolak di perutku mengingat sup ayam yang baru saja dia suapkan padaku. Yang membuatku semakin terguncang, wanita selingkuhannya itu adalah orang yang baru saja dia kenalkan kepada adikku.
Sampul Novel Deviant Love
9.5
Kehidupan Windy hancur total pasca-kematian Jimmy. Tak lama setelah itu, rangkaian pembunuhan sadis mulai meneror orang-orang terdekat di sekitarnya. Tragisnya, pola kejahatan ini malah membuat Windy dituduh sebagai dalang di balik semua kekejian tersebut. Di tengah desakan tudingan publik, ia juga harus bertahan dari ancaman mematikan sosok misterius yang mengincar nyawanya. Windy kini terjebak dalam teka-teki mencekam: apakah sang pembantai dan peneror itu adalah orang yang sama?
Sampul Novel Dicintai Adik Ketemu Gede
9.1
Vivi, gadis berusia 17 tahun, memendam rasa pada Agam Permana, pria dewasa yang sudah sepuluh tahun dikenalnya. Walau hanya dianggap adik, Vivi berani melamar Agam begitu lulus sekolah. Rumitnya, Fadlan yang merupakan sahabat Agam juga menyukai Vivi. Agam kini bimbang antara menjaga pertemanan atau mengakui perasaan sendiri yang mulai berkembang. Mampukah hubungan beda usia ini terwujud tanpa menghancurkan persahabatan mereka?
Sampul Novel Jadilah Milikku, Nona Sekretaris
8.9
CEO tampan dan kaya, Julian Evans, harus menghadapi penolakan dari sekretarisnya, Mia Sanders. Walau saling mencintai, status Mia sebagai anak pelayan di keluarga Evans membuatnya memendam perasaan demi membalas budi. Mia merasa perbedaan sosial membuat hubungan mereka mustahil. Namun, Julian tidak tinggal diam. Ia bertekad menantang keraguan Mia demi membuktikan ketulusannya. Sanggupkah perjuangan gigih Julian meyakinkan Mia bahwa cinta mereka pantas dipertahankan?
Sampul Novel Perjanjian 100 Hari Menikah Dengan Om CEO
9.5
Akibat salah masuk mobil, Tiffania Almora terjebak dalam pusaran takdir bersama CEO terpandang, Elnathan Devandra. Pertemuan intens itu mendorong Devan melamar Fania secara nekat demi menghindari perjodohan keluarga. Fania menerima lamaran tersebut, tetapi mengajukan syarat pernikahan kontrak yang hanya berlangsung seratus hari. Akankah Devan menyetujuinya? Bagaimana kelanjutan hubungan mereka saat benih cinta mulai tumbuh dan rahasia kesepakatan itu terancam terbongkar?