APKDock Logo
Sampul Novel Jadilah Milikku, Nona Sekretaris

Jadilah Milikku, Nona Sekretaris

8.9 / 10.0
CEO tampan dan kaya, Julian Evans, harus menghadapi penolakan dari sekretarisnya, Mia Sanders. Walau saling mencintai, status Mia sebagai anak pelayan di keluarga Evans membuatnya memendam perasaan demi membalas budi. Mia merasa perbedaan sosial membuat hubungan mereka mustahil. Namun, Julian tidak tinggal diam. Ia bertekad menantang keraguan Mia demi membuktikan ketulusannya. Sanggupkah perjuangan gigih Julian meyakinkan Mia bahwa cinta mereka pantas dipertahankan?

Jadilah Milikku, Nona Sekretaris Bab 1

“Mia, bolehkah aku menanyakan sesuatu kepadamu?” ucap Julian sukses membuat sang sekretaris menghentikan langkah. Dua detik kemudian, gadis yang semula berjalan menuju pintu itu, berbalik menghadapnya.

“Ada apa, Tuan?”

Sambil menyempalkan tangan ke dalam saku, sang CEO mengitari meja kerja dan berhenti tepat di hadapan sekretarisnya.

“Max, kau, dan aku tumbuh bersama sejak kecil. Dengan kata lain, kau pasti sudah sangat mengenal kami,” ujarnya dengan ekspresi yang sulit ditebak. Baru kali ini Mia mendapati raut semacam itu. “Menurutmu, adikku itu orang yang seperti apa?”

Mendapat pertanyaan yang terkesan konyol, sang sekretaris hampir saja mengerutkan alis. Namun, demi menghargai bosnya, ia terpaksa mempertahankan tampang datar.

“Tuan Max orang yang cerdas dan penuh perhatian. Meskipun dia tegas dan ambisius, dia tetap bisa menempatkan keluarga sebagai prioritasnya. Tipikal pria idaman banyak wanita,” jawab Mia jujur.

“Begitukah? Lalu, apakah kau pernah menaruh hati padanya?”

Mendengar pertanyaan yang tak terduga itu, Mia sontak menaikkan alis. “Maaf?”

“Kau mengatakan kalau adikku itu idaman banyak wanita. Apakah kau termasuk salah satu dari mereka?”

“Kenapa Anda tiba-tiba menanyakan hal semacam itu, Tuan?” balas sang sekretaris sambil memiringkan kepala.

Julian pun mengangkat bahu sekilas. “Hanya ingin tahu saja. Jadi, apakah kau pernah menyukainya?”

Selang perenungan sejenak, Mia mengangguk tegas. “Ya. Sampai sekarang pun, aku masih menyukainya.”

Hanya dalam sekejap, jantung sang CEO berdebar tak karuan. Ia tidak menduga jika pertanyaan spontannya malah mendatangkan keresahan yang lebih hebat.

“Lalu, apakah karena itu kau tidak pernah menerima cintaku? Karena kau masih berada dalam bayang-bayangnya?” desah Julian yang tak bisa menyembunyikan keterkejutan.

Alih-alih menjawab, Mia malah menghela napas tak percaya. “Kenapa Anda berpikir begitu? Tentu saja tidak.“

“Tapi, kau baru saja mengaku masih menyukainya,” sanggah sang pria dengan napas yang menderu.

“Bukankah tadi Anda sendiri yang bilang kalau kita bertiga tumbuh bersama-sama? Sejak dulu, aku menganggap Tuan Max sebagai kakakku. Wajar jika aku menyukainya. Dia juga selalu baik dan menganggapku sebagai adik.”

Menyadari bahwa dirinya telah salah paham, Julian berkedip-kedip tanpa kata. Ia tidak tahu bahwa basa-basi juga bisa membahayakan hati.

“Apakah ledakan emosi Anda sedang kambuh, Tuan? Pikiran Anda sepertinya agak kacau,” sindir Mia dengan tampang polos.

“Tentu saja tidak. Aku hanya mengujimu saja,” gumam Julian sambil menggaruk pelipis.

“Menguji bagaimana?”

Kesal karena gadis di hadapannya itu sama sekali tidak peka, sang CEO spontan berdecak. “Kesetiaanmu terhadap Gabriella. Siapa tahu, kau tiba-tiba mengkhianati persabahatan kalian dan merebut Max darinya.”

“Sepertinya, Anda bukan menguji kesetiaan melainkan kesabaran saya, Tuan. Sebelum kita bertengkar lagi, izinkan saya kembali bekerja.”

Sebelum gadis itu sempat berbalik, Julian tiba-tiba menahan kedua lengannya.

“Maaf, tadi itu ... aku hanya bercanda saja. Sebetulnya, aku ingin mengetahui pandanganmu terhadapku. Bagaimana sosok Julian Evans di matamu? Kenapa kau tidak pernah serius setiap aku mengutarakan perasaan?” ucap sang pria dengan nada lembut.

Mia dapat merasakan ketulusan pada sorot mata yang hangat itu. Sebelum ia tenggelam di dalamnya, secepat kilat gadis itu menepis tangan sang CEO.

“Maaf, Tuan. Kita sedang berada di kantor, dan sekarang adalah jam kerja. Kita tidak boleh mencampuri urusan pribadi dengan pekerjaan.”

“Tapi semua agenda hari ini sudah terlaksana, dan kita tinggal menunggu jam pulang,” bujuk Julian dengan penuh harap.

Mia sudah hafal gerak-gerik pria itu. Setelah menahannya pergi, Julian akan menjelaskan tentang betapa ia mencintai Mia. Lalu, sang gadis akan menyangkal dan obrolan mereka akan diakhiri dengan pertengkaran.

“Maaf, Tuan. Hari ini, suasana hati saya sedang tidak bersahabat. Lebih baik, kita bicarakan nanti saja,” ujar sang sekretaris datar.

“Nanti, nanti, nanti. Mau sampai kapan kau menunda pembahasan ini?”

“Pembahasan apa, Tuan? Bukankah kita sudah mencapai kesimpulan. Saya tidak bisa membalas perasaan Anda.”

“Mustahil!” hardik Julian sambil mengguncang lengan sang sekretaris sehingga gadis itu terbelalak. “Kau memiliki perasaan yang sama denganku, Mia. Aku bisa merasakan hal itu.”

Sambil meringis, sang sekretaris menggeleng samar. “Tolong jangan mengada-ada, Tuan.”

“Aku berkata apa adanya. Kau memang mencintaiku, Mia. Apa kau lupa bagaimana paniknya dirimu saat aku diserang oleh penjahat dulu? Apa kau tidak sadar sebesar apa perhatian yang selalu kau berikan untukku?”

“Itu karena saya adalah sekretaris sekaligus asisten pribadi Anda, Tuan. Tolong jangan salah paham,” kilah Mia sambil berusaha melepaskan diri dari cengkeraman sang CEO.

Tiba-tiba, Julian merapatkan pandangan, meneliti bola mata sang gadis dengan saksama.

“Sekarang, katakan kepadaku. Apa yang membuatmu selalu menghindar dariku? Aku sudah memikirkan segala jenis kemungkinan. Yang terburuk adalah kau diam-diam menyimpan cinta kepada Max. Namun nyatanya, itu tidak benar. Lalu, apa?” selidik sang pria dengan suara lambat dan penuh penekanan.

Melihat keseriusan sang pria, Mia bergeming dengan rahang terkatup rapat. Mata gadis itu kini bergetar hebat. Namun, bibirnya sama sekali tidak bergerak. Dengan raut sedingin itu, Julian tidak akan sanggup menembus pertahanannya.

“Kau tidak ingin bicara? Kau tega membuatku penasaran seumur hidup?” desak Julian sembari melebarkan pandangan, berharap Mia akan tersentuh oleh kebulatan tekadnya.

Akan tetapi, beberapa detik berlalu, sang sekretaris masih kukuh dengan mulut dan hati yang terkunci rapat. Mengetahui usahanya gagal lagi, Julian akhirnya tertunduk dan memejamkan mata. Sembari mendesah, ia meratapi nasib cintanya yang menyedihkan.

“Kenapa kau selalu saja diam, Mia? Setidaknya, katakanlah alasan kau menolakku. Aku bisa memperbaiki diri, atau ... mencari solusi. Tapi jangan gantungkan aku seperti ini,” bisik sang pria sebelum kembali menegakkan kepala dan menampakkan mata merahnya. Ia benar-benar frustrasi menghadapi sang cinta.

Selang keheningan sejenak, bibir Mia akhirnya mulai membuka. Secercah harapan otomatis mencerahkan wajah sang pria.

“Apakah sekarang aku boleh pergi?” tanyanya membuat Julian kembali terpejam dan menarik napas panjang. Benih-benih harapan telah musnah sebelum sempat bertunas.

Dengan berat hati, pria itu akhirnya melepaskan lengan sang sekretaris. “Ya,” desahnya dengan anggukan miris.

Dengan wajah kaku, Mia melangkah mundur. Tanpa mengucapkan maaf ataupun permisi, gadis itu keluar dari ruangan, meninggalkan Julian dengan perasaan kacau.

“Gadis itu ... teganya dia membiarkanku menderita begini? Apakah dia sengaja? Dia pasti ingin memberi hukuman atas kejahatan yang dulu kulakukan,” pikir Julian sebelum mengacak rambut dan membanting diri di sofa. Tubuhnya terasa lemas dan tidak bertenaga.

Setelah bergeming meresapi keheningan, sang CEO akhirnya meraih ponsel. Begitu alat itu menempel di telinga, ia mendongak, membiarkan kepalanya beristirahat pada puncak sandaran sofa.

“Ada apa, Julian?” tanya seorang wanita tanpa sempat mengucapkan salam.

“Laporan ke-136, usahaku lagi-lagi gagal. Mia hanya diam dan menatapku dengan raut datar,” ujarnya dengan nada rendah.

“Memangnya apa yang kau lakukan? Apakah ada yang berbeda dari cara yang biasa?”

Mendapat pertanyaan semacam itu, sang CEO sontak meringis. Ia baru sadar bahwa emosinya telah mengacaukan rencana. “Tidak ada. Aku hendak memancingnya untuk memberi pendapat tentang diriku. Tapi, aku gagal.”

“Dasar gegabah,” celetuk wanita di seberang ponsel.

Sedetik kemudian, ocehan bayi terdengar seolah menyambung ucapan ibunya. “Yayayaya ....”

“Dengarlah, bahkan keponakanmu setuju denganku.”

Selang satu embusan napas cepat, Julian mengangguk samar. “Benar. Aku memang gegabah.”

“Nanti, cobalah dengan lebih tenang. Jika terus gagal mengendalikan emosi, kau tidak akan pernah mendapat kejelasan darinya. Wanita tidak suka didesak, Julian. Buatlah Mia bicara tanpa tekanan ataupun paksaan.”

Sambil menarik napas panjang, mengumpulkan asa, Julian kembali menegakkan badan. “Baiklah. Aku akan mencobanya lagi.”

“Ingat! Jangan sampai emosimu meledak lagi! Aku tidak mau menerima laporan ke-1000,” tegas Gabriella, sukses mewarnai wajah Julian dengan kengerian.

“Jika itu sampai terjadi, sepertinya ... kau harus segera mengirimku ke rumah sakit jiwa.”

Lanjut Membaca

Daftar Isi Jadilah Milikku, Nona Sekretaris

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel En-PD153
8.9
Kekasih lama yang kusangka sudah mati tiba-tiba kembali bersama seorang wanita hamil yang katanya telah menolongnya. Dengan lancang, dia menyuruhku tinggal bersama mereka dan menjanjikan pesta pernikahan formal sebagai ganti atas keputusannya menikahi perempuan itu. Statusku sebagai putri bangsawan dan menantu konglomerat membuatku menolak keras menjadi simpanan. Jika dia memilih melepaskan kemewahan, aku akan membuat hidupnya hancur hingga dia jatuh miskin.
Sampul Novel Kaka Iparku Brengsek
8.7
Nadia Pamungkas menghadapi petaka setelah memilih menetap di kediaman kakaknya, Tasya, di Jakarta. Kesibukan Tasya membuat Nadia sering berinteraksi dengan kakak iparnya, Aldo. Pria blasteran yang semula bersikap ramah itu lambat laun menunjukkan ketertarikan tak wajar pada Nadia. Keduanya pun terjebak dalam hubungan terlarang hingga melakukan kekhilafan fatal. Kini, keutuhan keluarga mereka berada di ambang kehancuran. Akankah skandal gelap ini terbongkar?
Sampul Novel Kembaran Obsesinya
8.5
Baskara Adinata menyewa jasaku, tetapi ketulusanku dibalas pengkhianatan. Dia memakai teknologi deepfake demi mengubah wajahku mirip kakak tiriku, Karininia, yang dia gila-gilaan puja. Saat Karininia memfitnahku, Baskara membiarkanku disiksa sampai tanganku hancur lalu menjeboskanku ke penjara. Demi warisan ibu, aku menerima tawaran ayah tiri untuk menikahi pria asing bernama Keenan Adiwijaya. Aku pun pergi jauh demi memulihkan hidup dari pria yang menjadikanku mainan.
Sampul Novel My Bule Husband
8.1
Demi membalas budi, Naina yang sederhana terpaksa menikahi seorang miliarder asal Jerman. Ekspetasi pernikahan yang tenang sirna saat ia mendapati kenyataan pahit tanpa cinta. Suami bulenya yang dingin menganggap Naina tak lebih dari pengasuh bagi anaknya yang berumur tujuh tahun. Tak hanya itu, Steven, sang putra sambung, juga bersikap acuh dan menolak kehadirannya. Kini, Naina harus berjuang bertahan menghadapi perlakuan kasar dari dua sosok kaku tersebut.
Sampul Novel Rahasia Inang-inang Internesyenel
8.7
Kenes Kalyani, anak penjual es kelapa, sempat merasakan jadi istri miliarder sebelum hidupnya hancur total. Mertuanya celaka, suaminya dimutilasi, dan putranya diculik hingga ia jatuh miskin. Demi menemukan sang anak dan merebut haknya, Kalya bangkit menjadi Executive Courier International. Meski kehilangan Dimi, pria yang sangat mencintainya, Kalya bertransformasi menjadi sosok tangguh yang siap menerjang badai demi mengungkap kebenaran.
Sampul Novel SOUL TRANSMIGRATION
9.0
Terbangun di tepi danau asing membuat Xio panik, terutama saat melihat wajah orang lain di pantulan air. Sadar ini nyata, ia justru ditangkap sekelompok pria yang memanggilnya Shiro dan menuduhnya berpura-pura mati. Kini, Xio terkurung di kamar megah layaknya istana. Meski merasa cantik di balik pakaian lusuhnya, ia sangat kebingungan dengan identitas Shiro serta tuduhan sandiwara yang diarahkan kepadanya.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan