APKDock Logo
Sampul Novel WANITA UNTUK MANUSIA BUAS Kisah Anindira

WANITA UNTUK MANUSIA BUAS Kisah Anindira

8.9 / 10.0
Terdampar di dimensi asing, Anindira didera trauma mendalam setelah mengalami pemerkosaan hingga dirinya hamil. Di balik kepedihan itu, sang ayah biologis dari bayinya terus mengawasi dan berharap bisa menebus kesalahannya. Perjalanan hidup Anindira pun diwarnai hubungan poliandri bersama empat pria berbeda, yang terikat karena insiden hingga intrik politik. Saat takdirnya kian rumit dengan kehadiran dua pria lain, akankah sosok yang tulus mencintainya diberi kesempatan kedua?

WANITA UNTUK MANUSIA BUAS Kisah Anindira Bab 1

001 Menghilang

Di suatu waktu, di suatu tempat. Tampak sebuah keluarga yang sedang bertamasya. Mereka tengah asyik menikmati FAMILY TIME mereka di perairan sungai dangkal, di sebuah pegunungan.

''Mom, berikan padaku!'' seru Andra pada ibunya yang sedang sibuk mengeluarkan bahan makanan, ''Biar aku saja yang membersihkannya...''

Ibunya tersenyum sambil memberikan sebungkus ikan segar pada Andra untuk dibersihkan di pinggir sungai tidak jauh dari tempat mereka berkumpul.

''Lihat ada banyak udang galah!'' pekik Dira kegirangan.

''Banyak?'' tanya Raffa yang saat itu sedang membantu ayahnya mendirikan tenda, ''Aku ikut cari!''

Sang ayah yang sedang sibuk merakit tenda, dan ibu yang sedang fokus memasak di atas kayu bakar tapi mulutnya tidak berhenti bersenandung. Sepasang suami istri sedang bahagia menikmati waktu bebasnya setelah beberapa bulan terjebak dengan file dan dokumen.

''Raffa...'' panggil ayahnya, ''Bantu ayah dulu!''

''Ayolah ayah, hanya tinggal sedikit lagi saja. Aku mau cari udang, lumayan buat tambahan camilan...''

''Okay, aku lepaskan kau kali ini...'' jawab ayahnya, dia mengalah karena tidak tega melihat betapa ingin putranya mencari udang.

''Thank's ayah...'' sahut Raffa dengan riang.

Dengan segera Raffa segera ke sungai mengikuti adik perempuannya yang sudah lebih dulu mengutip udang-udang yang bersembunyi di balik batu.

''Mom, kayu bakarnya sepertinya kurang. Aku akan cari lagi...'' ujar Gavin, anak lelaki yang paling kecil dari tiga bersaudara.

''Jangan jauh-jauh Gavin!'' seru ibunya segera menghentikan senandungnya memberi peringatan pada putra bungsunya.

''Tidak Mom, hanya di situ,'' sahut Gavin sambil menunjukkannya pada ibunya, ''Lihat, itu ada rimbunan bambu. Kayu bambu lebih mudah terbakar meski basah...''

''Okay, hati-hati!''

''Siap, Mom!''

Mereka mengerjakan tugas masing-masing dengan riang gembira.

Mereka asyik bercengkrama dan bercanda ria tanpa meninggalkan tugas masing-masing, tapi, keceriaan mereka tiba-tiba teralihkan dengan teriakan Anindira, si bungsu.

"ARGH... KAKAK!" seru Anindira memekik, dia menjerit memanggil dengan suara yang terdengar histeris.

"AKH... BLR... URRPP..." jeritnya lagi dengan suara jeritan yang terus tertahan. Itu terjadi karena dia berulang kali menelan air, tangannya terlihat seperti terus menggapai-gapai berusaha mencari pegangan.

"Kamu ngapain sih Dir?" tanya ibunya tersengeh melihat kelakuan anak bungsunya yang dianggap sedang melawak sambil terus mengaduk-aduk masakan di panci. Tidak sedikit pun dia curiga dengan apa yang terjadi.

"Iseng tuh mom..." sahut Raffa kakaknya menjawab, yang sedang asyik cari udang sambil tertawa. Dia juga merasa kalau adik perempuannya itu tengah bermain-main dan hanya sedang usil ingin menjahili mereka.

"Pecicilan saja!" seru Andra yang sedang membersihkan ikan sambil geleng-geleng kepala menambahkan omelan untuk kelakuan Anindira. Seperti halnya yang lain, dia juga tidak menyadari ada keanehan dengan adik perempuannya, yang sedang berjuang untuk hidupnya.

Mereka semua mengacuhkan si bungsu sambil terkekeh geli, mengira kalau dia sedang senggang dan ingin menjahili keluarganya. Mereka sama sekali tidak menyangka, kalau si bungsu sedang berjuang sekuat tenaga untuk bisa naik ke permukaan air, karena tubuhnya tenggelam ditarik oleh sesuatu yang tidak terlihat.

Sungai di hadapan mereka semua sangat dangkal dengan alirannya yang tidak terlalu deras. Karenanya, meski mereka semua tahu jika Anindira tidak bisa berenang, mereka semua tidak merasa bahwa itu akan jadi masalah, apalagi untuk si tomboy Anindira.

''Dira!!!''

Di antara mereka semua, hanya Gavin, kakak kembar Anindira. Hanya dia, yang menyadari kalau Anindira sedang dalam masalah. Mungkin karena mereka berdua adalah anak kembar, koneksi diantara mereka begitu kuat.

Gavin segera berlari melesat ke arah Anindira dengan wajah panik.

"Tolong Dira, dia dalam masalah!" seru Gavin berteriak sambil berlari sekencang-kencangnya memberi tahu keluarganya yang lain.

Sempat terdiam karena terkejut tapi sesaat kemudian mereka semua segera melepaskan apa pun yang sedang di pegang dan ikut berlari menanggapi kepanikan Gavin yang seperti dikejar setan.

*****

Cahaya mentari yang terik mulai redup.

Perlahan matahari mulai turun dan akan segera digantikan dengan indahnya bulan purnama yang akan segera naik malam ini.

Polisi, Tim SAR, juga penduduk setempat telah dikerahkan.

Tapi apa daya?

Jangankan orang lain, mereka (keluarga Anindira) yang ada di situ, menyaksikan sendiri kejadiannya di depan mata. Tapi masih sulit untuk bisa mempercayainya.

Tepat di depan mata mereka semua. Satu-satunya anak perempuan keluarga itu, lenyap tak berbekas tanpa peringatan. Meninggalkan seribu tanya yang belum terjawab entah sampai kapan?

**********

**********

''Uhuk uhuk uhuk...'' Anindira tersedak air dalam keadaan panik hingga membuatnya terbatuk-batuk, ''UEKKK...'' tidak lama kemudian karena gejolak di dalam perutnya akhirnya dia memuntahkan air yang telah masuk sebagian ke dalam lambungnya.

''Huft huft huft...'' kejadian cepat membuatnya terengah-engah setelah puas memuntahkan air yang tertelan.

DEG DEG DEG DEG DEG

Degup jantung Anindra berdetak cepat.

Butuh waktu baginya untuk menenangkan diri.

''Hah!'' pekik Anindira terkejut melihat apa yang ada di sekitarnya, ''Mana sungainya?!''

''Aku yakin kalau aku hampir tenggelam di sungai barusan...'' tegas Anindira sambil berusaha mengingat kembali kejadian yang menimpanya. Anindira takut kalau dia melakukan kesalahan mengingat tempat yang sekarang dilihat olehnya sangat jauh berbeda.

Baru saja Anindira tenang, sekarang dia kembali panik.

''Apa ini?!''

Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri.

''Di mana ini?!''

Menoleh ke depan dan kebelakang.

''Bukan, aku tidak pernah ke sini...''

Dia juga bahkan mendongakkan kepalanya melihat ke atas dan ke bawah.

''Ini di mana?!''

Berulang kali dia menoleh ke sana kemari nyaris tanpa jeda.

''Aku tidak tahu tempat ini... aku tidak mengenal tempat ini!''

Beragam tanya dan argumen terucap beberapa kali mengiringi kegundahannya dalam menghadapi situasi.

''Enggak mungkin... pasti aku sedang bermimpi... mungkin aku masih dalam keadaan tidak sadar karena pingsan.''

Anindira diam memejamkan matanya beberapa saat berharap kalau dia sedang bermimpi dan akan segera terbangun.

''Enggak mungkin...'' keluh Anindira dengan suara bergetar karena setelah dia membuka matanya kembali dia masih di posisi yang sama.

Setelah berdiri terdiam, memejamkan mata kemudian membukanya. Beberapa kali dia mengulangnya, akhirnya dia menyerah karena situasinya tetap sama.

Antara ingatannya dan tempatnya berpijak sekarang sama sekali tidak ada kecocokkan.

Berdiri termangu dengan keadaan di sekitarnya membangkitkan kengerian pada dirinya. Awalnya dia panik dan sekuat tenaga berusaha menyelamatkan diri dari bayangan kematian yang sempat terbersit di benaknya sesaat lalu. Tapi sekarang, dia nyaris tidak bisa memikirkan apa pun kecuali perasaan ngeri karena hal yang tidak bisa di jelaskan.

Degup jantung yang sempat mereda setelah terengah-engah, perlahan tapi pasti kembali berpacu karena ketegangan perlahan tapi pasti mulai menghampiri Anindira. Dia bingung, bahkan hampir menangis mendapati pemandangan aneh di sekitarnya.

Lanjut Membaca

Daftar Isi WANITA UNTUK MANUSIA BUAS Kisah Anindira

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel Alpha Damon
9.5
Sejak kecil, Damon hidup dalam bayang-bayang kutukan misterius. Meski sang ayah mengisolasinya dari dunia luar, ia justru tumbuh menjadi pemburu yang sangat mematikan. Ketiadaan serigala batin membuatnya menjadi sosok brutal yang enggan memimpin kawanan. Namun, takdirnya berputar arah ketika seorang putri rupawan datang ke hidupnya. Demi keselamatan perempuan tersebut, Damon harus menerima takdir sebagai Alpha terkuat yang pernah ia benci demi melindunginya.
Sampul Novel Jangan Pernah Menyentuh Anakku
9.5
Demi masa depan sang putra, Aurora Elenna terpaksa menyetujui pernikahan kontrak dengan Kaelan Dirgantara. CEO dingin itu dahulu telah menghancurkan hidupnya, tanpa tahu bahwa Ravi adalah anak kandungnya sendiri. Kini, Aurora yang cerdas kembali memakai identitas baru untuk melawan ancaman Selina Pramudya. Di tengah intrik perebutan harta dan rahasia besar, ia dilema antara membalas dendam atau jujur saat Kaelan mulai mencurigai jati diri asli istri kontraknya.
Sampul Novel Mati Satu Tumbuh Seribu
8.6
Sehari sebelum pernikahan megahnya, Kiara mendapati aula acaranya dirusak oleh seorang wanita asing yang menuduhnya sebagai pelakor dan perebut suami orang. Fitnah kejam tersebut membuat kerumunan massa dan pihak hotel menghakimi Kiara hingga ia mengalami keguguran. Namun, fakta sebenarnya justru sebaliknya. Galang, sang tunangan, ternyata menggunakan kekayaan Kiara untuk berselingkuh di belakangnya. Menyadari pengkhianatan ini, sang miliarder wanita langsung membatalkan pernikahan dan bersiap menghancurkan hidup Galang beserta selingkuhannya tanpa ampun.
Sampul Novel Penolakan Sang Luna: Hancurnya Hati Alpha Vincent
8.5
Dijual oleh sang ayah, Sofia malah disiksa Alpha Vincent di gudang kumuh akibat fitnah kejam Isabel. Ia bahkan dijebloskan ke penjara perak hingga kulitnya melepuh, lalu kalung warisan ibunya dijadikan mainan anjing untuk Isabel. Di tengah penderitaan itu, Sofia bangkit sebagai White Wolf langka. Ia pun memutuskan ikatan Mate dengan Vincent, membiarkannya meraung kesakitan, lalu pergi mencari takdir baru bersama Pack yang jauh lebih kuat.
Sampul Novel Penyihir Terakhir
8.3
Sebagai satu-satunya penyihir yang selamat dari pembantaian seabad lalu, Zephyr hidup terasing di puing-puing Elzir setelah diselamatkan oleh sihir teleportasi sepupunya. Namun, ketenangannya hancur ketika prajurit Kerajaan Elde datang memburunya karena dianggap sebagai ancaman fatal. Kini, Zephyr dihadapkan pada pilihan sulit: membalas dendam dengan memusnahkan manusia atau memilih jalan damai. Langkah yang ia ambil akan menentukan masa depan hubungan manusia dan sihir.
Sampul Novel Rivalku, Harapan Satu-Satuku
9.2
Saat dipaksa sang ibu memilih tunangan, aku tegas menolak Alexander Adhitama. Aku tak akan lupa bagaimana dia memalsukan kematian demi wanita lain dan membiarkan rekannya menenggelamkanku hingga tewas. Di masa lalu, hanya rival masa kecilku, Darrian Kencana, yang tulus menangisi kematianku. Kini, setelah terlahir kembali ke masa lalu, aku bertekad mengubah takdir. Aku memilih Darrian, satu-satunya pria yang terbukti tulus mengasihi dan meratapi kepergianku.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan