APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Wanita Buangan Milyarder

Wanita Buangan Milyarder

Bening menjadi korban salah sasaran dari dendam Kevin, hingga sebuah rahasia besar memaksanya pergi untuk memulihkan diri. Walau sempat merasakan cinta baru bersama bosnya, takdir terus menguji hubungan mereka dengan rintangan yang menyakitkan. Di tengah perjuangan tersebut, masa lalu kembali mengusik hidupnya. Kevin yang didera penyesalan akhirnya mengakui kesalahannya, membuat Bening dilematis antara memperjuangkan bahagia atau mundur demi mengakhiri luka.
Bab
Bagikan

Bab 2

Bening membuang napas kasar lantaran Kevin tak mengangkat panggilan darinya, padahal baru saja nomor lelaki itu masih aktif. Akan tetapi tiba-tiba saja menjadi tak bisa dihubungi.

"Mungkin baterai ponselnya habis," gumamnya berusaha menghibur diri sendiri.

Perlahan tangan gadis itu mendarat di perut, lalu bergerak mengusap naik turun. Hingga detik ini, Bening masih tak percaya telah ada janin yang sedang berkembang di rahimnya saat ini. Seingatnya dulu ia sama sekali tak memiliki perasaan apa-apa pada Kevin selain hanya menganggapnya sebagai seorang kakak. Bening bahkan menangis ketakutan setelah Kevin berhasil mengambil harta berharganya lantaran pria itu terus memaksa.

Diperkosa?

Rasanya kalimat itu terlalu berlebihan bagi Bening mengingat status mereka walaupun kejadian itu diawali dengan sebuah paksaan.

Namun, semuanya telah berubah. Rasa takut kehilangan lelaki itu kini begitu mendominasi. Terlebih dengan adanya kesalahan yang mengatasnamakan cinta hingga menumbuhkan kehidupan baru di rahim Bening. Gadis itu takut jika Kevin akan lari dari tanggung jawabnya, meski baru saja Kevin memberikan pernyataan kalau pria itu akan segera menikahinya.

Ada setitik rasa haru bercampur sesal yang membuat Bening serasa sulit bernapas. Sulit baginya untuk melepaskan mimpinya mengenyam pendidikan lalu memulai karirnya untuk memajukan perusahaan sang papa. Kesibukannya yang akan menjadi seorang ibu membuat Bening harus berpikir ulang untuk itu. Semuanya benar-benar telah berubah.

"Bening."

Gadis itu menoleh ke arah daun pintu saat bersamaan dengan suara ketukan pintu yang terdengar. Wanita paruh baya berambut sebahu muncul tak lama setelah daun pintu terkuak.

"Iya, Ma?"

"Makan dulu Sayang, papa sama kakakmu sudah nungguin dari tadi."

Bening mengangguk kemudian mensejajarkan langkahnya dengan sang ibu. Melihat bagaimana cara Maura menatapnya membuat Bening didera perasaan bersalah. Bening tak sanggup membayangkan reaksi keluarganya jika sampai mereka tahu jika dirinya tengah hamil tanpa adanya ikatan pernikahan. Harapannya hanya ada pada Kevin. Bening berdoa Kevin dan kedua orang tuanya segera datang agar dia tak lagi harus menyembunyikan keberadaan janin dalam kandungannya.

"Kamu sakit, Sayang?"

Pertanyaan Gunawan membelah keheningan di ruang makan yang sejak tadi hanya diiringi denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring. Fokus semua orang tertuju pada Bening.

"Coba periksa anak gadis kita, Ma. Papa perhatikan mukanya sangat pucat." Lelaki paruh baya berkacamata itu kembali menyuara.

Maura yang memang duduk di samping Bening reflek menaruh telapak tangannya di dahi gadis itu.

"Aku nggak apa-apa Ma, Pa. Mungkin cuma kecapekan karena akhir-akhir ini banyak tugas kuliah yang harus aku kerjakan," dalih Bening seraya meraih tangan ibunya lalu menciumnya.

"Tapi benar apa yang dikatakan papamu, mukamu sangat pucat." Maura meneliti wajah anak gadisnya dengan seksama.

Bening urung menjawab perkataan ibunya karena tiba-tiba saja perasaan tak nyaman pada perutnya kembali ia rasakan. Gadis itu membekap mulutnya dan berlari menuju kamar mandi terdekat dan memuntahkan isi perutnya di sana.

"Sayang." Maura yang panik telah berdiri di belakang Bening sembari memijat tengkuk putri bungsunya.

"Tolong ambilkan minyak kayu putih sama minta bibi buatkan teh untuk adikmu!" titah Gunawan pada putra sulungnya yang juga ikut menyusul Bening lantaran mengkhawatirkan kondisi gadis itu.

"Baik, Pa."

Biru merupakan kakak laki-laki Bening, keduanya terpaut usia yang cukup jauh. Meski seringkali Biru menjahili adiknya, tapi rasa sayangnya begitu besar pada Bening. Pria berusia dua puluh tujuh tahun itu tak kalah panik dibanding kedua orang tuanya.

Bening masih berdiri di depan wastafel hingga perutnya benar-benar kosong menyisakan rasa pahit di lidah dan tenggorokannya.

"Duduk dulu, Sayang." Gunawan membantu Bening kembali duduk di kursi kecil yang ada di sudut ruang makan.

"Mama panggil dokter dulu." Maura baru saja beranjak, tapi kemudian Bening berhasil menahan langkahnya.

"Enggak usah, Ma. Aku baik-baik saja, kok. Cuma pusing biasa," tolak Bening.

"Nanti biar Kakak bantu buat kerjain tugas kuliahnya. Kamu sakit begini pasti karena masuk angin keseringan begadang," ucap Biru menyodorkan secangkir teh madu untuk adiknya.

Bening mengangguk dengan mata terpejam. Maura membantu putrinya minum sambil sesekali mengoceh. Semua orang tampak begitu mengkhawatirkan Bening, dan hal itu membuat Bening semakin dibuat sesak karena merasa telah mengkhianati kepercayaan keluarganya. Tak terasa setitik kristal bening luruh tanpa permisi. Bening menyesal karena telah membohongi orang-orang yang begitu menyayanginya.

"Sayang, apa rasanya sangat sakit sampai kamu menangis? Papa panggilkan dokter saja, ya?" Gunawan ikut memijat kaki Bening, dan saat itulah tangis Bening kembali jatuh berderai.

'Mereka semua begitu menyayangiku, inikah balasanku atas cinta mereka padaku? Ya Tuhan.' batin Bening merintih pedih. Nasi telah menjadi bubur, Bening tak bisa mengembalikan keadaan seperti semula.

"Kalau Bening masih ngeyel, kita bawa ke rumah sakit saja, Pa," saran Biru.

"Nggak usah, Kak! Beneran aku nggak apa-apa, dibawa istirahat sebentar juga nanti sembuh kok."

Bening tak mau dibawa ke dokter, dia sengaja mengulur waktu setidaknya sampai Kevin dan orang tuanya datang. Bening tak mau keluarganya sampai tahu kalau dia tengah berbadan dua. Cepat atau lambat mereka memang akan tahu karena janin dalam kandungan Bening juga tak bisa terus menerus disembunyikan, tapi setidaknya tidak dengan cara seperti ini. Bening terlalu takut dan tak tahu harus bagaimana menceritakannya.

"Kamu tuh dari dulu ngeyel banget kalau dibilangin. Kamu masuk angin parah, kalau nggak segera diobati nanti penyakitnya akan semakin menjalar." Biru menjadi gemas karena Bening bersikeras menolak dibawa ke rumah sakit.

"Iya, sebaiknya kita ke dokter saja ya, Nak?" Maura ikut membujuk putrinya.

"Enggak usah, Ma. Aku mau tidur saja, besok pagi pasti sembuh," tolak Bening teguh dengan pendiriannya.

Gunawan menggendong putri bungsunya ke kamar, sementara Maura membalurkan minyak kayu putih di punggung, perut juga kaki Bening. Tangis gadis itu kembali pecah sepeninggal kakak dan orang tuanya dari ruangan itu. Bening tak henti menggumamkan kata maaf.

Bening berniat untuk kembali menghubungi Kevin, berharap dengan mencurahkan isi hatinya pada sang kekasih bisa sedikit mengurangi beban di hatinya.

Namun, ternyata nomor Kevin tak bisa dihubungi. Jadilah Bening menghabiskan waktunya dengan menangis, memeluk dinginnya malam berpadu dengan rasa gelisah yang kian menggerogotinya. Sampai kemudian tubuh ringkih itu berhasil dikalahkan rasa lelah dan terdampar di pulau mimpi.

Keesokan paginya. Bening merasakan nyeri di kepalanya semakin menjadi-jadi, pandangannya terlihat berputar-putar. Belum lagi perutnya yang terasa bergolak semakin melengkapi deritanya yang harus hamil tanpa didampingi suami. Terlebih di saat usianya yang masih terlalu muda.

"Hoek."

Rutinitas yang hampir setiap pagi dilalui Bening sejak sebulan lalu, tapi Bening merasa mual muntahnya menjadi semakin parah sejak beberapa hari ini, padahal awalnya dia masih bisa menahannya dan beraktivitas seperti biasa. Setelah mengeluarkan isi perutnya, Bening akan merasa tubuhnya menjadi sangat lemas. Sungguh hal itu membuatnya tersiksa.

"Sayang, muntah lagi?"

Tubuh Bening berjingkat saat tiba-tiba saja ia mendengar suara ibunya, ternyata Maura sudah ada di belakangnya. Bening hanya mengangguk pelan menanggapi ocehan Maura yang disisipi kekhawatiran. Ibu mana yang tak panik melihat buah hatinya sakit? Sedewasa apa pun anaknya, seorang ibu akan tetap mengganggap anaknya selayaknya anak kecil.

"Lebih baik ke dokter saja, biar Papa antar. Kebetulan Papa ada jam kosong pagi ini sebelum menghadiri rapat umum pemegang saham," cetus Gunawan.

Bening menggeleng. "Nggak usah, Pa. Aku beneran baik-baik saja, minum obat juga nanti sembuh." Lagi-lagi Bening menolak tegas usulan papanya. Apa pun yang terjadi, kehamilannya belum boleh diketahui oleh siapa pun. Bening ingin Kevin sendiri yang memberitahukan kabar itu pada keluarganya karena Bening tak memiliki cukup nyali.

"Sejak semalam kamu terus berkata begitu, tapi kenyataannya pagi ini malah penyakitmu semakin bertambah parah," tukas Gunawan. Tatapannya sedikit menajam pada putrinya yang ternyata sangat keras kepala.

"Mama rasa juga begitu, Pa. Kita ke dokter saja biar tahu apa sebenarnya penyakitmu." Maura menimpali.

"Iya, memangnya kamu mau terus-menerus muntah begitu? Seperti orang hamil saja," seloroh Biru.

Tawa pemuda itu perlahan menyurut saat Biru menyadari dirinya tengah disorot tajam oleh kedua orang tuanya.

"Sembarangan ngomong kamu," omel Maura. Wanita itu reflek memukul lengan putranya.

"Tapi memang Bening itu kelihatan kayak perempuan hamil, Ma. Mual muntah, pusing, keluar keringat dingin. Aku bisa tahu karena ada salah satu staf perempuanku di kantor yang juga sedang hamil," ucap Biru menjelaskan.

Bening pikir dia masih diberikan keberuntungan kali ini, apa lagi saat ibunya memarahi Biru dan membelanya. Akan tetapi tiba-tiba tubuh gadis itu menjadi bergetar saat kakaknya kembali menyebut kata 'hamil', terlebih saat semua orang menjadikannya sebagai pusat perhatian. Biar bagaimana pun, Maura itu seorang ibu. Dia yang pernah melahirkan jelas bisa membedakan mana yang hanya sakit biasa atau sakit karena adanya gejala awal kehamilan.

Bening meneguk ludahnya getir. Kedua tangannya saling meremas, ketakutan dalam dirinya membuat tubuhnya semakin gemetaran. Bagaimana jika sampai keluarganya tahu kalau dirinya sedang hamil, sebelum Kevin dan orang tuanya datang?

"Bening?"

Panggilan Maura terdengar sangat menakutkan bagi Bening. Gadis itu bahkan tak berani sekadar menatap ibunya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Black Eagle
9.0
Hidup Fattan yang hampa berubah total setelah mengagumi ambisi Cantika. Gadis pintar itu terancam kehilangan beasiswanya akibat masalah sang kakak. Meski awalnya saling membenci, benih cinta perlahan tumbuh di antara keduanya. Sayang, sebuah konspirasi jahat menghancurkan hubungan mereka dan menyisakan dendam di diri Cantika. Dalang konflik ini pun menyeret paksa sepasang kekasih tersebut ke dalam kejamnya dunia mafia yang penuh bahaya.
Sampul Novel Ikuti Saja Mau-Nya
9.5
Manusia kerap menganggap takdir Ilahi tidak adil. Namun, kisah romansa modern ini mengulas sudut pandang berbeda dari seorang hamba yang menjalani garis hidupnya tanpa mengeluh. Berbekal keyakinan penuh, ia percaya waktu akan menunjukkan bahwa keputusan Sang Pencipta adalah yang terbaik. Lewat kepatuhan serta kesabaran dalam berserah diri, ia membuktikan bahwa rencana Tuhan selalu menyimpan hikmah yang sangat mendalam bagi umat-Nya.
Sampul Novel Janda Tengil itu adalah mantan Istriku
8.8
Larissa sukses bangkit menjadi janda kaya raya yang memimpin perusahaan kosmetik raksasa. Masa lalunya hancur akibat pengkhianatan Nando, mantan suaminya yang berselingkuh dengan Reita. Namun, takdir berbalik saat Reita meninggalkan Nando demi lelaki lain. Kini hidup Nando dan Reita jatuh miskin. Tanpa disadari, kedua orang yang pernah mengkhianati Larissa tersebut justru melamar pekerjaan di perusahaan milik mantan istrinya yang kini telah sangat berjaya.
Sampul Novel Pendekar Sembilan Matahari
9.5
Demi berguru pada Empat Sesepuh, Chen Long rela bertahan dari segala penindasan di Perguruan Tong Lam Pai. Impian itu kandas saat ia ditolak, namun takdir mempertemukannya dengan seorang koki tua misterius yang mengangkatnya sebagai murid. Chen Long segera menyadari bahwa sang koki adalah sosok sakti mandraguna. Sayang, perjalanan cintanya dengan Xiao Liong Li penuh rintangan hingga memisahkan mereka selama lima belas tahun. Di tengah pencarian, kesetiaan Chen Long diuji oleh banyak wanita yang terpikat padanya.
Sampul Novel Suami yang Aku Nikahi Ingin Menghabisi Nyawaku
8.5
Pernikahan baru yang seharusnya indah berubah menjadi mimpi buruk mengerikan. Di balkon lantai dua puluh, sang suami justru memojokkan istrinya dengan sebilah pisau tajam. Tanpa ragu, senjata itu dihunjamkan langsung ke jantung sang istri sebelum tubuhnya didorong jatuh ke jurang maut. Namun, di balik aksi kejam tersebut, setitik air mata tampak jatuh dari sudut mata sang suami yang berbisik lirih melepas kepergian pasangannya, "Sehat selalu, kekasihku yang sempurna." Sebuah misteri kelam penuh tanda tanya.
Sampul Novel Usai Dimadu
9.0
Penyesalan mendalam kini menghantui hidupku akibat keputusan masa lalu yang keliru. Demi mengejar ambisi mulia menjadi istri saleha yang mendambakan surga, aku rela membiarkan suamiku mendua. Saat itu, aku percaya bahwa berbagi cinta adalah jalan ibadah yang membawa kedamaian akhirat. Namun, realitas yang kuhadapi justru sebaliknya. Menghadapi kenyataan bahwa kasih sayang suami harus terbagi ternyata menjadi ujian teramat perih yang mengoyak batin.