
Usir Mantan Suami, Dia Dapat 6 Adik!
Bab 2
Raut wajah Yelena berubah seketika. “Perkataan Dokter Sanjaya itu tidak tepat. Aku tidak sama denganmu. Aku bisa menjadi istri resmi, sedangkan kamu... paling kamu hanya akan terikat karena harta.”
Aku menurunkan tatapanku. Perkataannya itu tidak salah. Di kehidupan yang lalu, pembantu muda itu juga pada akhirnya hanya diberi kompensasi saja. Akan tetapi, aku tidak sama dengan pembantu itu. Rahimku sangat subur dan mudah hamil. Itu juga sebabnya aku bisa diterima di dalam Keluarga Hartono.
Aku memberi tatapan panjang pada pakaian yang dikenakan Yelena. “Lebih baik Nona Candika menjaga diri baik-baik.”
Saat aku berkata demikian, Simon keluar dari kamarnya. Dia memeluk Yelena dan bertanya dengan lembut, “Yelena, kamu baik-baik saja? Kenapa kamu tidak istirahat sebentar lagi?”
Yelena menunduk dengan malu. “Aku masih harus kerja, tidak bisa bolos terus.”
Yelena melirik ke arahku dengan penuh arti. “Bagaimanapun aku tidak seperti Dokter Sanjaya yang bisa begitu santai.”
Simon mendengus dingin. “Dia juga hanya seorang dokter keluarga.”
“Sayang, bukannya aku juga sudah bilang, aku akan bertanggung jawab padamu?” lanjut Simon kepada Yelena.
Simon menoleh ke arahku dan berkata dengan ketus, “Kemarin aku dengar kamu yang menyuruh Pak Lana memanggil Yelena. Kamu cukup pengertian. Tapi sebaiknya kamu tidak berpikir macam-macam.”
Ucapannya itu bagaikan sebilah pisau yang menancap di hatiku. Ternyata selama ini dia tahu bahwa aku menyukainya.
Di kehidupan sebelumnya, aku tahu bahwa perkataan dari Simon-lah yang membuat Keluarga Hartono mensponsori kuliahku sampai selesai. Oleh karena itu, aku merasa berhutang budi padanya. Kemudian, aku sengaja bekerja sebagai dokter Keluarga Hartono demi bisa lebih dekat dengan Simon. Setelah menikah, aku pernah bertanya apakah dia bersedia menikahiku.
Dia menjawab dengan jelas, “Siapa saja tidak masalah. Jangan berpikir macam-macam. Kamu hanya perlu menjadi Nyonya Hartono saja.”
Setelah dia mengamankan posisinya sebagai penerus Keluarga Hartono, dia mulai tidak menganggapku ada. Simon hanyalah seorang munafik. Aku hanya bisa menjawab semuanya dengan “iya”.
Di kehidupan kali ini, aku ingin melihat sejauh apa hasil yang akan mereka capai tanpa bantuanku.
Saat aku baru saja berbalik untuk pergi, Simon tiba-tiba menarik pergelangan tanganku sampai aku terpekik kesakitan. Sorot matanya mengarah ke leherku yang terekspos, di mana ada setitik bekas ciuman merah.
“Apa ini?” Suara Simon sedingin es. “Kenapa kamu sangat murahan?!”
Tubuhku terasa sakit karena kekasarannya, saat ini aku bahkan merasa tulang-tulangku nyaris patah. Namun aku tetap menahan rasa sakit itu dan balas menatapnya dengan dingin. “Bukan urusanmu, Tuan Muda Simon.”
Wajahnya tampak memucat dan ada sekilat tatapan yang tidak bisa kupahami di matanya. “Siapa dia? Apa pembantu di rumah ini? Kamu juga pasti hanya bisa begitu.”
Dia menatapku dengan remeh, ucapannya terdengar sangat sinis.
Sebelum aku sempat menyahutnya, tiba-tiba terdengar suara manja Yelena. “Sakit sekali...”
Simon langsung melepaskanku dan berpaling ke arah Yelena. Yelena bersandar di dinding, dia tampak tidak berdaya. “Kakiku sakit sekali...”
Simon tidak berkata apa pun dan langsung menggendongnya. Yelena pun mengalungkan tangan ke leher Simon dan bersandar ke dadanya. Dia lalu menatap ke arahku dengan tatapan mengejek.
Di kehidupan yang lalu, Yelena hanya selalu mengarah pada harta dan kekuasaan, dia bertingkah lemah untuk memenangkan hati Simon. Ketika melihat aku akan menikah dengan Simon, dia kembali menggoda beberapa pria kaya lainnya untuk membuat Simon marah. Pada akhirnya, dia kecanduan narkoba. Saat dia kambuh, tanpa sadar dia masuk ke jalan yang sibuk, mengalami kecelakaan mobil, dan akhirnya meninggal dunia.
Lucunya, Simon masih mengira Yelena sangat mencintainya.
Aku menyentuh perutku, merasakan aliran hangat di dalam yang lebih kuat dari yang kurasakan ketika hamil di kehidupan sebelumnya.
Anda Mungkin Juga Suka





