APKDock Logo
Sampul Novel The Fate That Bind Us

The Fate That Bind Us

9.0 / 10.0
Pengkhianatan sang kekasih merusak rencana liburan romantis Freya ke Venesia. Meski terluka, ia memilih tetap pergi untuk memulihkan diri. Tak disangka, insiden tumpahan kopi mempertemukannya dengan seorang pria asing yang menarik. Lewat percakapan mendalam tentang rasa kehilangan, Freya belajar merelakan masa lalu dan mengobati hatinya. Di tengah keindahan kota kanal tersebut, ia kini dihadapkan pada pilihan sulit: membuka hati untuk cinta yang baru atau fokus menyayangi dirinya sendiri.

The Fate That Bind Us Bab 1

Bruuuk!

"Oh tidak!" Freya tersentak, merasa kaget saat cairan cokelat pekat itu terciprat mengenai bajunya. Tanpa berpikir panjang, ia buru-buru mengusap noda itu dengan tisu yang ada di tangannya. Namun, seperti yang sudah bisa ia duga, usaha itu sia-sia belaka. Noda itu masih tetap tampak jelas di atas blus putihnya.

"Maafkan saya, Nona," suara berat seorang pria terdengar dari depan, memecah kebingungannya.

Freya mendongak, dan di depannya berdiri seorang pria tinggi, mengenakan setelan jas yang tampak pas di tubuhnya, dengan wajah yang seakan diukir sempurna. Mata cokelat terang pria itu menatapnya penuh rasa bersalah. Rambut cokelat gelapnya yang sedikit berantakan justru menambah pesona di wajahnya yang sudah tampan.

"Saya tidak sengaja," ucap pria itu, kali ini dalam bahasa Indonesia.

Freya terkejut, matanya membelalak. Ia berada di Venezia, di tengah keramaian Piazza San Marco yang penuh dengan turis dari berbagai negara. Sejak ia tiba beberapa hari yang lalu, telinganya hanya dipenuhi dengan bahasa asing-Italia, Inggris, dan beberapa bahasa lainnya yang tidak ia mengerti. Namun, tiba-tiba mendengar bahasa Indonesia di tengah keramaian ini begitu mengejutkan, bahkan menghibur.

Namun, rasa terkejutnya segera sirna. Dengan sedikit gugup, ia menjawab, "Tidak apa-apa, Tuan. Saya juga kurang hati-hati."

Pria itu mengamati sejenak keadaan Freya yang tampak sedikit terkejut. Lalu matanya beralih ke noda kopi di bajunya, dan ia terlihat sedikit gelisah. Tanpa banyak bicara, ia melepas blazernya.

"Pakailah ini," katanya, sambil menyodorkan blazer tersebut.

Freya buru-buru menggelengkan kepala. "Tidak usah, Tuan. Saya punya jaket, kok," jawabnya, sambil menarik jaket tipis dari dalam tas. Ia tidak ingin terlihat merepotkan, meski sebenarnya tawaran pria itu cukup membuatnya terharu.

Pria itu tampak sedikit ragu, namun akhirnya mengenakan kembali blazernya. "Baiklah," ucapnya singkat. Namun, dari sorot matanya, Freya tahu bahwa ia masih merasa bersalah atas insiden tersebut.

"Eh, Tuan tidak apa-apa, kan? Apa ada yang kena?" tanya Freya sambil melirik pakaian pria itu, khawatir jika jasnya terkena noda kopi itu.

Matanya langsung membelalak saat melihat merek Armani yang tertera di jas pria itu. Dalam hati, ia mulai panik.

"Kalau dia minta ganti rugi, habislah aku! Tiket pulang saja sudah hampir habis, apalagi kalau harus mengganti jas semahal itu!" pikir Freya, mencoba menenangkan diri agar pria itu tidak mempermasalahkan insiden ini.

"Saya baik-baik saja," jawab pria itu dengan tenang. Ia melirik jam tangannya, terlihat sedikit terburu-buru.

Namun, sebelum pergi, pria itu mengeluarkan ponselnya dan mengetikkan sesuatu. Tidak lama kemudian, ponselnya berbunyi. "Itu nomor saya," katanya, sambil menyerahkan ponselnya kembali kepada Freya.

Freya mengerutkan kening, bingung dengan tindakan pria itu. Sebelum ia sempat bertanya, pria itu melanjutkan, "Kalau nanti ada yang perlu diganti atau saya perlu bertanggung jawab, hubungi saja nomor itu. Maaf saya harus pergi sekarang."

Tanpa menunggu jawaban, pria itu tersenyum tipis dan berbalik, meninggalkan Freya yang masih berdiri terpaku di tempatnya.

Freya menghela napas panjang. "Dia siapa, sih? Orang Indonesia? Tapi kenapa ada di Venezia?" gumamnya pelan, mencoba mencerna pertemuan yang baru saja terjadi.

***

Setelah berhasil membersihkan noda kopi di bajunya di toilet umum terdekat, Freya kembali ke penginapan kecil tempatnya menginap. Sambil merebahkan diri di atas tempat tidur, pikirannya kembali melayang ke insiden tadi.

"Kenapa aku malah memikirkan dia?" rutuk Freya pada dirinya sendiri. Ia mencoba mengalihkan pikirannya dengan memeriksa itinerary perjalanan yang sudah ia buat, namun bayangan pria itu terus mengganggunya.

"Apa dia benar-benar orang Indonesia?" gumamnya pelan. "Tapi kenapa dia ada di sini? Dan kenapa dia bisa semudah itu memberikan nomor teleponnya?"

Freya memutuskan untuk tidak terlalu memikirkan hal itu. Ia yakin, pertemuan tadi hanyalah sebuah kebetulan yang tidak akan terjadi lagi. Namun, di lubuk hatinya, ada rasa penasaran yang tak bisa ia abaikan.

***

Di sisi lain kota, Aideen duduk di sebuah ruang rapat hotel bintang lima. Di depannya terdapat beberapa rekan bisnis yang sedang membahas kontrak penting. Namun pikirannya terus melayang ke gadis yang tidak sengaja ia tabrak tadi.

Wajah gadis itu terbayang jelas di benaknya-ekspresinya yang bingung namun tetap ramah, serta caranya mencoba menghilangkan noda kopi dari bajunya. Aideen tersenyum tipis saat mengingatnya.

"Apa aku harus menghubunginya?" pikirnya. Namun ia segera menepis pikiran itu.

"Fokus, Aideen. Ini bukan waktunya memikirkan hal-hal yang tidak penting," gumamnya pelan, mencoba mengembalikan fokusnya pada pertemuan bisnis yang sedang berlangsung.

Namun, setelah pertemuan bisnis selesai, ia mendapati dirinya membuka daftar kontak di ponselnya. Nama yang baru saja ia masukkan tadi pagi terpampang di layar.

Ia ragu sejenak, namun akhirnya menekan tombol panggil.

***

Di penginapannya, Freya sedang mencoba memilih pakaian untuk dikenakan keesokan hari ketika ponselnya berbunyi. Ia mengambil ponsel itu dan melihat nomor asing yang menghubunginya.

"Halo?" jawab Freya, sedikit ragu.

"Halo, ini saya. Pria yang tadi menumpahkan kopi Anda," suara di ujung telepon terdengar hangat namun tetap formal.

Freya terkejut. "Oh, iya. Ada apa ya, Tuan?" tanyanya, berusaha terdengar santai.

"Saya hanya ingin memastikan bahwa Anda baik-baik saja," jawab pria itu. "Dan juga, saya ingin bertanya apakah ada sesuatu yang perlu saya ganti."

Freya tersenyum kecil. "Tidak, Tuan. Saya sudah membersihkannya, dan semuanya baik-baik saja," jawabnya, merasa lega.

"Bagus kalau begitu," kata pria itu. Namun, ada jeda singkat sebelum ia melanjutkan, "Tapi mungkin, jika Anda tidak keberatan, saya ingin mentraktir Anda makan malam sebagai permintaan maaf."

Freya terdiam, tidak tahu harus menjawab apa. Tawaran itu terdengar tidak biasa, terutama dari seseorang yang baru saja ia temui.

"Mungkin saya pikir-pikir dulu, ya," jawab Freya akhirnya.

"Baik. Kapan pun Anda siap, Anda bisa menghubungi saya," kata pria itu sebelum menutup telepon.

Setelah percakapan itu berakhir, Freya menatap ponselnya dengan campuran rasa bingung dan penasaran.

***

Di hotel, Aideen menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi. Ia tahu bahwa tindakannya tadi cukup spontan, bahkan mungkin sedikit aneh. Namun, ia merasa ada sesuatu tentang Freya yang membuatnya ingin tahu lebih banyak.

"Dia berbeda," gumamnya pelan, sambil menatap ke luar jendela.

Meskipun pertemuan mereka singkat, Aideen merasakan sesuatu yang unik dari Freya. Gadis itu tidak seperti wanita lain yang pernah ia temui-terlihat polos, sederhana, namun memiliki daya tarik yang sulit dijelaskan.

"Mungkin aku hanya penasaran," pikir Aideen, mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Namun di dalam hatinya, ia tahu bahwa ini lebih dari sekadar rasa penasaran. Ia merasa seperti ada ikatan yang tidak bisa dijelaskan antara dirinya dan Freya, meskipun mereka baru bertemu sebentar.

Aideen pun kembali teringat pada senyum Freya yang ramah meski ia sedang mengalami kekacauan kecil. Senyum itu tetap memancar hangat, dan hal itulah yang membuat Aideen merasa tergerak untuk lebih mengenalnya.

"Aku harus menghubunginya lagi," pikir Aideen, meskipun hatinya sedikit ragu. Tetapi, dalam pikirannya, suara itu terus menguat.

-To Be Continue-

Lanjut Membaca

Daftar Isi The Fate That Bind Us

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel Cahaya yang Tertunda
8.9
Usai masa nifas, Winda Baskoro mengunjungi Dinas Kependudukan untuk memasukkan bayinya, Alex Harto, ke kartu keluarga. Namun, petugas mengungkap bahwa nama Alex Harto telah terdaftar di bawah nama suaminya, Tama Harto. Saat Winda kebingungan, sebuah pesan masuk dari asisten suaminya, Sania Marsudi. Foto itu menampilkan Tama yang merangkul Sania dan menggendong bocah berusia lima tahun di depan TK, lengkap dengan papan nama bertuliskan Alex Harto.
Sampul Novel Ghost At School
9.0
Yui bersama sahabatnya berupaya menyelamatkan arwah-arwah yang terperangkap di area sekolah. Namun, sebuah petunjuk dari mimpi mengungkap kebenaran kelam bahwa korban perdana teror ini adalah teman dekat Yui. Investigasi mereka justru menyingkap rahasia keluarga, di mana salah satu anggota keluarga terbukti menjadi dalang demi membalas dendam masa lalu. Di bawah bayang-bayang ketakutan, sanggupkah mereka menghentikan kutukan tersebut?
Sampul Novel Harta Tahta Obsesi Gila
8.8
Paras menawan tidak menjamin kebahagiaan Arleta. Demi menghindari obsesi keji sang paman, Joshua, ia terpaksa hidup dalam kepedihan dan membangun benteng pertahanan diri yang kokoh. Trauma masa lalu membuatnya yakin bahwa cinta hanya kelemahan yang sia-sia. Kini, seorang fotografer bernama Arkana Sadewa harus berjuang ekstra keras demi meruntuhkan tembok perlindungan tersebut dan menyembuhkan luka di hati Arleta.
Sampul Novel KONTRAK CINTA DENGAN SAHABATKU
9.8
Pasca patah hati, Qeiza Noura dikejutkan oleh lamaran tak terduga dari sahabat kecilnya, Arlando. Pria itu menyodorkan kontrak pernikahan berdurasi satu tahun, dengan kebebasan bagi keduanya untuk tetap mencari cinta sejati. Namun, kesepakatan tertulis ini mulai diuji seiring berjalannya waktu. Apakah pernikahan formal ini akan berakhir sesuai rencana, atau justru memicu perasaan tulus yang sesungguhnya? Batas tipis persahabatan mereka kini dipertaruhkan.
Sampul Novel Menikahi Suami Sahabatku
8.0
Demi wasiat mendiang Kartika, Azriya Aurora bersedia menikahi Gavriel Erlando. Namun, keputusan ini membawanya ke dalam pusaran penderitaan. Ia harus mengasuh dua anak tiri yang mendakwanya sebagai pembunuh, sekaligus menghadapi kelicikan mertuanya. Puncaknya, Azriya diusir akibat fitnah keji. Di tengah keterpurukan, ia mengendus keterlibatan kakak iparnya dalam konspirasi gelap Keluarga Erlando. Sanggupkah Azriya bertahan mengungkap misteri ini, ataukah ia memilih menyerah?
Sampul Novel Perjanjian 100 Hari Menikah Dengan Om CEO
9.5
Akibat salah masuk mobil, Tiffania Almora terjebak dalam pusaran takdir bersama CEO terpandang, Elnathan Devandra. Pertemuan intens itu mendorong Devan melamar Fania secara nekat demi menghindari perjodohan keluarga. Fania menerima lamaran tersebut, tetapi mengajukan syarat pernikahan kontrak yang hanya berlangsung seratus hari. Akankah Devan menyetujuinya? Bagaimana kelanjutan hubungan mereka saat benih cinta mulai tumbuh dan rahasia kesepakatan itu terancam terbongkar?
Bab
Baca Sekarang
Bagikan