APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Tukar Istri

Tukar Istri

Rara dan Sasha, saudara kembar identik yang hanya berbeda penampilan hijabnya, merasa ayah mereka salah memilihkan jodoh. Terobsesi pada suami satu sama lain, mereka nekat bertukar peran seminggu setelah pernikahan. Rara menyamar sebagai pasangan Gasta, sedangkan Sasha menjadi istri Genta. Awalnya, rencana ini hanya untuk memuaskan hasrat sesaat. Namun, aksi berbahaya tersebut justru mulai mengubah perasaan Gasta dan Genta secara mendalam terhadap pasangan baru mereka.
Bab
Bagikan

Bab 2

Nafkah batin 

Rara menghembuskan nafas lega. Untung saja suami saudaranya itu percaya saat ia menjelaskan tentang warna rambutnya yang memang suka ia ubah-ubah. 

Kadang Hitam, juga kadang coklat, bahkan merah. Gasta yang memang terbiasa dengan gaya wanita yang menurutnya berlebihan demi bisa terlihat  cantik, ya percaya saja dengan penjelasan iparnya yang lagi cosplay jadi istrinya.

Meskipun sedikit tak percaya, sebab wanita model kayak Sasha yang berjilbab suka ganti warna rambut.

Malamnya, Rara menelpon Sasha. Ingin tahu keadaan di rumahnya.

"Gimana, aman?" tanya Rara begitu panggilan terhubung.

Sasha menghembuskan nafas lesu. "Aman, sih, untuk saat ini. Tapi untuk ke depannya aku gak yakin."

"Kenapa?"

"Takut ketahuan. Terus … gimana nanti tidurnya?'

"Ya tidur biasa. Kamu bisa tidur di sofa seperti biasa aku tidur. Sedang Mas Genta di ranjang."

"Hah! Jadi model tidur kalian selama seminggu gitu?" Sasha terheran-heran.

"Gak juga, sih, cuman dua kali. Pertama pas awal nikah Mas Genta nolak, kedua entah hari ke berapa. Sebenarnya Mas Genta tak terima, tapi bodo amat," kata Rara enteng.

"Percaya, kan kamu sejenis istri pembangkang gitu. Ha ha ha." Sasha tergelak dengan candaannya sendiri.

"Nanti gak lagi. Ini efek aku masih gak ada rasa mungkin. Kalau dah cinta mah—"

"Bakal minta tuk jemput pahala duluan," potong Sasha cepat. Membuat gelak tawa keduanya pecah.

Sesaat hening. Keduanya sama-sama terdiam.

"Eh, Ra, BTW, kita main-main gini  dosa, lho."

"Dosa apa? Kita kan gak melanggar hukum. Tidur pun terpisah, begitupun dengan suami kamu, dia tidur di sofa 'kan?" tanya Rara.

"Iya, sih, tapi—"

"Andaikan dosa, ya palingan dikitlah!" Rara nyengir di akhir kalimat.

"Iya, tapi tetep aja—"

"Ayolah, Sha … gak usah dibawa panik dan susah gitu. Masalah dosa, manusia gak akan luput dari yang namanya salah dan dosa, bukan?"

Sejenak Sasha terdiam, lalu menjawab, "Iya, sih."

"Nah itu dia. Kamu nikmati aja gimana rasanya jadi istri dari pria yang sefrekuensi kayak kamu. Sejalan dan …." Rara menggantung kata-kata terakhirnya, seolah ragu.

"Apa?" tanya Sasha.

"Sehati."

Sasha terdiam. Yang dikatakan saudara kembarnya itu memang benar. Tak sampai satu hari ia tinggal dengan Genta, ada rasa nyaman ia menjalani kegiatannya. Sebagai seorang istri. Entahlah, memang tak sama saat ia menjalani seorang istri untuk Gasta, padahal asli suaminya sendiri.

Genta dan Gasta, dua pria yang benar-benar memiliki karakter yang beda hampir bertolak belakang menurut pemikiran Sasha.

Karena alasan itu juga mungkin yang membuat ia tak menolak untuk tukar posisi sebagai istri dengan saudaranya.

Sadar juga, ia memang berjilbab, namun kalau untuk julukan wanita alim … rasanya jauh, ia gak begitu agamis. Ia hanya nyaman dengan berjilbab, tidak ada alasan lain. Bisa dikatakan belum lillahi ta'ala. 

Karenanya, ia butuh seorang imam yang bisa mendidiknya menjadi wanita yang benar-benar agamis sesuai jilbab yang ia pakai.

Namun … pria yang ia impikan malah berjodoh dengan saudaranya.

"Sha, kok diem. Berarti benar, ya?" Rara kembali bersuara.

"Apa?"

"Kamu sehati sama Mas Genta?"

"Ih, kok bisa?"

"Udah ngaku aja, aku sama suami kamu aja sehati."

"Eh, sehati apaan? Jangan macem-macem, ya!"

"Maksudnya?"

"Meskipun kamu sama Mas Gasta sehati, tetap gak boleh sentuh-sentuhan!"

"Memang kenapa? Kan yang penting gak tidur bareng."

"Duh,  Ingat, bukan muhrim. Kalau sampai Mas Gasta nyentuh kamu sebab dia gak tahu kalau kamu bukan istrinya, kan yang dosa aku di sini. Sudah nipu dia. Wah dosaku bakalan berlipat-lipat ganda kayaknya, nih," kata Sasha menggebu-gebu.

"Duh, iya, iya, entar aku usahain, deh, gimana caranya agar gak sampai sentuhan. Itu pun kalau akunya yang gak khilaf."

"Heh!" Sasha melotot.

"Hi hi hi … habis suami kamu ganteng banget, Sha, keren, gaul pokok semua ada. Idaman aku banget pokoknya." Antusias Rara saat mengucapkannya.

Sasha tak menjawab, hanya memutar bola mata malas.

"Ya sudah, aku mau nyiapin makan malam. Jangan lupa kamu siapin makan malam untuk suamiku. Kita saling jalani tugas istri kita masing-masing dengan sempurna. Biar gak banyak dosa," pesan Rara sambil cekikikan.

"Iya, aku juga udah masak kali. Ya sudah, titip suamiku, ya, jaga benar-benar. Jangan sampai ia keracunan karena masakanmu," pesan Sasha sambil menahan senyum.

"Gak lah, aku belikan. Gak masak, kasihan suami ganteng orang kalau sampai nyicipin masakan aku yang ala restoran bintang lima ini. Hi hi hi …." Rara kembali cekikikan, sedangkan Sasha hanya tersenyum.

"Oh ya, dia alergi udang. Jangan sampai dia makan itu, ya!" pesan Sasha, antusias.

"Idih, cie … yang katanya gak cinta, suami bukan tipenya, tapi diam-diam perhatian," goda Rara sambil menahan senyum.

"Gak Cinta bukan berarti gak ngabdi dan jaga suami 'kan. Kewajiban dan pengabdian itu tak harus dengan cinta."

"Siap, Bu Ustazah!" sahut Rara.

"Ustazah apaan?"

"Ya, sekarang kamu lagi jadi istri Mas Genta—pria yang sering jadi da'i di acara tebar dakwah," jawab Rara, sontak membuat Sasha terkekeh dengan sedikit rasa bangga. Padahal istri palsu. Gitu aja udah seneng.

***

Usai berteleponan dengan Sasha, Rara segera menyiapkan makan malam. Menata makanan yang tadi ia beli di piring dan meletakkannya di meja.

"Hei!"

"Eh, wanjir! Eh …!" Rara segera membekap mulutnya dengan kedua telapak tangan.

Saking terkejutnya, kebiasaan latahnya muncul di waktu yang sangat tidak tepat.

Pria di depan Rara, yaitu Gasta, mengernyitkan alis tebalnya. Menatap penuh keheranan. "Baru tahu aku kalau kamu latah," ucapanya masih dengan alis mengerut.

"Ya habis, Mas ngagetin, sih," kata Rara sambil menghirup nafas dalam-dalam.

"Ya habis sedari tadi  aku manggil kamu gak nyaut," timpal pria berkaos lengan pendek tersebut.  Menampakkan ototnya yang aduhai.

"Kapan panggil?"

"Tadi, barusan. Sasha. Shakira, Elsa Shakira. Tetap kamu gak nyaut. Yaudah aku tepuk pundak kamu."

Rara menepuk jidatnya sendiri. Ia tak sadar saat sedang pura-pura jadi Sasha. Jadi harus terbiasa dengan panggilan itu selama satu Minggu ini.

"Kenapa nepuk jidat?" tanya Gasta sambil melipat tangan di dada.

"Gapapa, tadi aku sedang ngelamun, makanya gak dengar. Ya udah, yok! Makan!" 

Rara segera duduk di kursi, begitupun dengan Gasta ikut duduk.

"Tumben," celetuk Gasta.

"Apa, Mas?"

"Kamu beli makanan. Bukannya kamu bilang gak suka makanan yang dibeli. Makanya sering masak."

Rara menelan ludah. Lupa kalau Sasha pintar masak, kebalikan dengan dirinya yang gak bisa masak sama sekali.

Sudah pasti selama satu Minggu ini dia memanjakan perut suaminya dengan masakannya.

"Anu, Mas, itu … aku lagi malas masak."

"Malas?" Kening Gasta semakin mengerut.

Lagi-lagi Rara menelan ludah. Lupa kalau untuk Sasha gak ada kata malas untuk masak. Wanita itu cita-citanya memang ingin jadi chef.

"Bukan, maksudku lagi ingin makan, makanan di luar."

Entah percaya atau gak pria di depannya, Rara gak peduli. Ya itulah, salah satu sifatnya, gak mau peduli dan ambil pusing.

Namun tampaknya percaya, buktinya pria itu mengangguk-anggukan kepala.

Acara makan malam  pun berlangsung dengan keheningan. Hingga Gasta bersuara menyingkirkan keheningan yang tercipta.

"Sha!"

"Iya, Mas?"

"Aku lihat tadi pas kamu keluar rumah, pergi ke minimarket seberang sana gak pakek jilbab." Gasta berucap sambil menyudahi makannya yang memang sudah habis.

"He he he, iya, Mas." Rara hanya nyengir sambil menyudahi makannya juga.

"Aku, sih, gapapa, sebab sebelum itu aku memang ada nyuruh kamu untuk lepas jilbab saja."

"Itu dia, Mas!" Rara segera menyahuti.

"Tapi … apa kamu melakukan ini supaya aku bisa memberikan nafkah batin untuk kamu?"

"Hah!" Mata Rara membulat secara sempurna.

***

"Tumben kamu masak?" tanya Genta yang baru saja tiba di meja makan.

Sasha tergeragap. Namun tak berlangsung lama, sebab ia sudah menyiapkan jawabannya. Setelah  bisa menebak selama satu Minggu, saudaranya menjadi istri dari pria di depannya tersebut memberikan makanan yang sudah pasti dibeli.

"Bukannya Mas menginginkan aku bisa masak?" Sasha berusaha lebih percaya diri, meniru gaya istri dari iparnya itu.

"Ah iya, benar. Tapi …." Genta tak meneruskan kata-katanya, seolah ragu.

"Apa?"

"Kenapa?"

"Apanya?" Sasha semakin bingung.

"Kenapa mendadak mau?"

Alis Sasha bertautan. "Mau apa?"

"Mau pakai jilbab dan mau belajar masak," kata Genta penuh selidik.

"Oh, itu karena aku—"

"Apa kamu tersinggung karena sikapku, Rara?" tanya Genta yang mengira Sasha adalah Rara.

"Eh, gak, kok, Mas!"

"Iya, kamu tersinggung karena aku tak menyentuhmu 'kan?"

"Bukan begit—"

"Baiklah, malam ini  juga aku memberikan apa yang kamu inginkan."

"Apa?"

"Nafkah batin!"

"Hah!" Sasha melongo kaget.

_______

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Beri Aku Kesempatan Kedua
9.2
Kehidupan Ishvara hancur setelah sang ayah tiada. Ia terperangkap dalam pernikahan tanpa cinta bersama Kalandra Ranjaya, pria yang telah memiliki tambatan hati lain. Kerap dihina sebagai wanita kuno yang menjemukan, Ishvara hanya bisa meratapi nasibnya. Namun, keadaan berbalik saat ia bertransformasi menjadi sosok menawan dan terlibat hubungan misterius dengan pria lain. Kalandra pun terbakar cemburu dan mulai peduli. Sayang, Ishvara memilih pergi dan menutup rapat hatinya demi menyudahi sandiwara.
Sampul Novel Cinta dari Pria yang Tak Terduga
9.1
Panggilan polisi seketika menghancurkan hidup Emily yang damai. Ia harus menghadapi kenyataan pahit bahwa Jaka Guntur, kekasihnya, berselingkuh dengan sahabatnya sendiri. Di tengah badai emosi tersebut, sebuah ketidaksengajaan membawa Emily ke dalam hubungan satu malam bersama Jacob, paman dari Jaka. Kini, ia terjebak di tengah konflik rumit dan dilema asmara antara sang mantan kekasih dengan pria berkuasa yang merupakan paman mantannya itu.
Sampul Novel Mantan Istri CEO Tampan
8.9
Alana terpaksa pergi menjauh selamanya demi membiayai operasi Andra. Ia rela meninggalkan suaminya itu meski dalam kondisi mengandung. Merasa dikhianati, Andra pun menyimpan dendam mendalam dan bertekad membalas sakit hatinya jika kelak bersua kembali. Tujuh tahun berlalu, takdir mempertemukan mereka lagi. Kini Alana telah memiliki seorang anak, sedangkan kebencian di hati Andra masih membara. Akankah cinta lama mereka bisa bersemi kembali?
Sampul Novel Penjara Cinta Tuan Billionare
8.7
Dominique Anastasia berjuang keras menjauh dari Haiden Aramgyan, mantan pacar yang menjadi mimpi buruknya. Walau dikenal sebagai miliarder sukses yang memikat banyak wanita, bagi Dominique, Haiden adalah sosok posesif yang sangat mendikte. Sebaliknya, kekayaan melimpah tidak menghentikan obsesi Haiden untuk terus memburu Dominique. Bagi pria itu, daya tarik manis sang mantan adalah segalanya, dan ia bertekad untuk kembali mengurung Dominique dalam genggamannya.
Sampul Novel Terpaksa Menikahi Tetangga
9.2
Key terpaksa menikahi Rey, tetangga dinginnya, demi menjadi pengantin pengganti. Pernikahan tanpa cinta ini diwarnai perselisihan tiada akhir. Hubungan mereka diuji oleh sikap Oma Rey yang meremehkan status sosial Key, serta kehadiran para mantan pacar Rey. Masalah kian rumit saat Key, yang menyembunyikan status pernikahannya, dituduh sebagai sugar baby. Akankah pernikahan penuh konflik ini dapat bertahan, atau justru berakhir dengan perceraian sebagai jalan keluar?
Sampul Novel THE LADIES
9.7
Arlyn, Zemi, dan Agnes merupakan tiga perempuan cerdas berprestasi yang memiliki karier cemerlang di Jakarta. Di balik kesuksesan tersebut, mereka justru kerap kali dikhianati dan ditipu dalam urusan asmara. Karena jengah terus terluka, ketiganya sepakat membuat komitmen 'No Man, No Cry' demi fokus pada masa depan tanpa lelaki. Namun, sanggupkah mereka mempertahankan ikrar tersebut saat cinta yang baru datang menguji keteguhan hati mereka?