APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Tugas Tambahan untuk Ibu Susu

Tugas Tambahan untuk Ibu Susu

Bekerja sebagai ibu susu di kediaman bosnya, seorang wanita menghadapi situasi memalukan saat air susunya merembes hingga mengotori pakaian. Upaya membersihkan diri justru memperburuk keadaan di bawah tatapan intens sang majikan miliarder. Saat ia mencoba meredakan gejolak hasratnya yang membara di kamar mandi, sang bos tiba-tiba menyusul masuk. Pria itu menyentuh dadanya dan memutuskan untuk mengambil alih sisa ASI yang tidak habis dikonsumsi anaknya, membawa hubungan profesional mereka ke batas yang sangat intim.
Bab
Bagikan

Bab 1

Aku datang ke rumah bos untuk menjadi ibu susu. Namun, payudaraku yang merembeskan ASI malah membuat kemejaku berantakan.

Aku buru-buru mencoba membereskannya, tetapi keadaannya justru makin buruk. Seluruh tubuhku kini penuh dengan noda ASI dan bos sama sekali tidak bisa memalingkan pandangannya dariku.

Di bawah tatapan panasnya yang membara itu, aku merasa malu karena tubuhku justru mulai memberikan reaksi.

Saat aku berada di dalam kamar mandi dengan tubuh yang lemas tak berdaya, mencoba mengatasi gejolak hasratku, aku justru merasa gairahku makin menjadi kuat. Tiba-tiba, bos muncul di hadapanku dan menangkup lembut payudaraku.

"Anakku nggak bisa menghabiskan semuanya, jadi orang tuanya yang akan bertanggung jawab."

Setelah berkata seperti itu, dia pun mengulum putingku.

Aku adalah seorang ibu susu. Hari ini aku pergi ke rumah Pak Farid untuk menyusui putranya.

Lantaran payudaraku sedang membengkak karena ASI, belakangan ini aku jarang mengenakan bra. Jika tidak, tekanannya akan terlalu kencang dan selalu terasa nyeri yang samar.

Terlebih lagi, karena terus-menerus diisap dan dijilat oleh bayi, putingku menjadi begitu sensitif. Gesekan sekecil apa pun akan membuatnya menegang, lalu setelah itu ASI akan merembes keluar tanpa bisa dikendalikan.

Aku sudah terlalu sering mengalami situasi memalukan di luar saat bagian dadaku basah kuyup. Tatapan membara dari orang-orang di sekitar membuatku merasa malu sekaligus bergairah. Hal itu justru membuat dadaku makin tak terkendali, hingga akhirnya rembesan ASI menembus seluruh kemejaku.

Saat hendak keluar rumah, aku sengaja memilih kemeja berwarna abu-abu, sehingga meskipun basah, tidak akan sampai memperlihatkan tubuhku di depan umum seperti halnya jika aku memakai kemeja putih.

Siapa sangka cuaca tidak mendukung. Belum sampai di halte bus, hujan badai sudah turun dengan derasnya.

Saat aku tiba di rumah Pak Farid, pakaianku sudah hampir basah kuyup, benar-benar basah kuyup dari kepala hingga kaki.

Ketika aku berdiri di depan pintu rumah bos, aku melirik ke arah tubuhku sendiri dan dalam hati berseru, 'Gawat!'

Aku lupa bahwa ASI berwarna putih. Meskipun kemeja berwarna gelap tidak mudah memperlihatkan bentuk tubuh saat basah kuyup, putingku kini ternoda oleh bekas ASI. Bagian ujungnya tampak putih bersih, bahkan bisa terlihat cairan yang terus merembes keluar tanpa henti dari sana ….

Dengan sedikit panik, aku menggosok-gosok kain di bagian putingku dengan tangan. Namun, hal itu malah menyentuh titik sensitifku. Seketika aku tidak bisa menahan diri untuk tidak mengerang pelan di depan pintu. Kakiku terasa begitu lemas hingga hampir saja terjatuh.

Namun, tubuhku ditangkap oleh seseorang.

Aku mengangkat kepala, menatap ke arah depan dengan pandangan sedikit kosong.

Entah kapan pintu itu terbuka. Pak Farid sudah berdiri di sana. Dia mengulurkan tangannya untuk menopangku.

Pak Farid sempat terpaku sejenak melihat penampilanku yang kacau balau. Pandangannya terhenti saat menyapu bagian dadaku yang ternoda ASI. Namun, dia tetap tidak mengatakan apa pun dan memintaku masuk ke dalam.

Berjalan di belakangnya, aku merasa sedikit tidak enak hati. Kemudian, tanpa sadar aku menarik-narik bajuku.

Begitu melirik jam, sepertinya aku sudah terlambat cukup lama.

Aku pun menjelaskan situasiku pada Pak Farid dengan terbata-bata, sambil terus merasa cemas karena bagian dadaku masih terus membasahi kemeja. Akan tetapi, usahaku untuk menutupi dadaku dengan tangan justru membuatnya makin terlihat jelas, hingga memancing Pak Farid untuk terus menatap ke arah sana.

"Nggak apa-apa. Hujan di luar sangat deras, bisa dimengerti."

Pak Farid tersenyum dan memaafkan keterlambatanku. Namun, secara tidak sadar pandangannya tertuju ke arah dadaku.

Di tengah puncak musim kemarau, kemeja yang kukenakan begitu tipis. Pakaian yang basah itu melekat erat di tubuhku, membuat bentuk bulat dari kedua payudaraku terlihat begitu jelas. Pak Farid pasti juga menyadari bahwa aku tidak mengenakan bra.

Pada saat ini, noda ASI putih sudah merembes turun dari bagian putingku, mengalir mengikuti garis payudara dan membentuk lekukan tubuhku dengan jelas di atas kemeja yang berwarna gelap.

Aku merasa sangat malu dan segera menarik-narik bajuku untuk menutupi diri. Namun, anehnya tubuhku justru terasa sedikit panas.

Terus-menerus ditatapi oleh Pak Farid seperti itu membuatku merasa begitu malu hingga rasanya ingin menghilang ditelan bumi. Aku pun berkata dengan gugup, "Itu .… Mana Dodo? Aku mau menyusuinya."

"Nggak perlu buru-buru. Mandilah dulu. Jangan sampai kamu kedinginan dan jatuh sakit," ucap Pak Farid dengan nada penuh perhatian.

Pak Farid menatap kemejaku yang berantakan dengan penuh arti, lalu menambahkan, "Ganti juga baju yang kamu kenakan itu. Akan kucarikan yang baru untukmu."

Hatiku terasa hangat. Aku menatap Pak Farid dengan rasa terima kasih. Namun, aku tetap mengatakan tidak perlu.

Lagi pula, rumah mereka adalah apartemen mewah yang begitu luas dengan dekorasi yang begitu megah. Sebagai seorang wanita, aku merasa sangat sungkan jika harus mandi di rumah mereka.

Pak Farid sepertinya melihat keraguanku. Dia tersenyum dan kembali berkata, "Baiknya mandi dulu saja. Nggak enak juga kan kalau badan anakku jadi ikut basah waktu kamu menyusuinya, 'kan?"

Terdengar nada yang tidak menerima penolakan dalam suaranya, sehingga aku hanya bisa menganggukkan kepala.

Kamar mandi di rumah Pak Farid sangat besar. Luas area toiletnya saja sudah melebihi luas rumah yang aku dan suamiku sewa saat ini.

Aku melepaskan pakaianku yang basah kuyup, lalu berdiri di depan cermin besar yang ada di samping gantungan jubah mandi. Sambil menatap tubuh rampingku di dalam cermin serta bagian dadaku yang berisi dan membanggakan, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak mengulurkan kedua tangan untuk menopang dan meraba keduanya.

Bagian dadaku yang pada dasarnya memang masih merembeskan ASI menjadi makin tidak terkendali karena gerakanku tadi.

Dua gumpalan payudara yang berisi ini dahulu pernah memberiku kesulitan besar. Waktu masih sekolah dahulu, aku bahkan pernah diejek sebagai "sapi perah" oleh teman-teman sekelas. Tidak kusangka sekarang ini justru menjadi sarana bagiku untuk menyambung hidup, membuatku tidak tahu apakah harus merasa senang atau malah merasa miris.

Akan tetapi, saat teringat bagaimana Pak Farid menatap dadaku dengan mata yang berbinar tadi, jantungku pun tidak bisa berhenti berdegap kencang.

Tepat di saat aku sedang melamunkan hal yang tidak-tidak, pintu tiba-tiba terbuka. Tak disangka-sangka Pak Farid masuk ke dalam dengan membawa satu setel pakaian baru yang cantik di tangannya.

Aku menjerit kaget. Dalam kepanikan aku buru-buru menutupi tubuhku dengan tangan sambil berseru cemas, "Kamu … kenapa kamu masuk? Cepat keluar!"

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Diam-Diam Kuserahkan Surat Cerai
7.9
Selama lima tahun, seorang mahasiswi menjalani pernikahan rahasia dengan miliarder Tritan Wirajaya. Namun, kembalinya cinta pertama Tritan menyadarkannya bahwa hubungan mereka hampa. Ia pun menjebak Tritan untuk menandatangani surat cerai berkedok berkas kuliah. Setelah resmi berpisah dalam keadaan hamil, ia pergi sejauh mungkin demi membangun karier dan kemandiriannya sendiri. Saat Tritan akhirnya menyadari kehilangan besar ini dan memohonnya kembali, ia telah bertransformasi menjadi wanita dewasa yang tangguh.
Sampul Novel Drive Back To December
8.4
Tiga tahun bercerai, Gayatri Rumi Rahardjo tak menduga akan menikah lagi dengan William Alansyah. Demi rasa hormat pada mantan ibu mertuanya, ia bersedia membangun kembali rumah tangga bersama mantan suaminya tersebut. Namun, pernikahan kedua mereka langsung diuji oleh tuntutan memiliki anak. Di tengah situasi sulit ini, Gayatri mulai mengendus sebuah rahasia besar yang ditutupi oleh William. Akankah kebenaran pahit itu mendorong mereka ke jurang perceraian untuk kedua kalinya?
Sampul Novel Menantu Dari Kota
9.1
Dunia mewah Shafiyah runtuh setelah suaminya terkena PHK akibat skandal korupsi saham di tempat kerja. Kehilangan segalanya, mereka terpaksa memulai hidup baru dari nol di sebuah desa. Di sana, Shafiyah harus tinggal bersama mertua yang sangat kolot. Saat suaminya bekerja keras sebagai petani, ia pun berjuang keras menyesuaikan diri dengan kehidupan pedesaan yang sederhana. Sanggupkah Shafiyah bertahan melewati segala tekanan di lingkungan barunya ini?
Sampul Novel Oh Dania
9.8
Dania, seorang ibu muda berambisi tinggi, selalu ingin menjadi yang terbaik di lingkungannya. Namun, kedamaian hidupnya terusik seketika saat mengetahui Khamila tinggal di kompleks perumahan yang sama. Khamila adalah sosok dari masa lalu yang tega mengkhianatinya dengan merebut sang calon suami. Kini, Dania terpaksa berhadapan lagi dengan luka lama sekaligus persaingan sengit dalam drama bertetangga yang sarat akan ketegangan.
Sampul Novel Petani Sukses
9.3
Dikhianati sang kekasih, Amanda Santika memilih pulang ke desa dan merintis bisnis pertanian sukses bermodal kalung berlian. Namun, kedamaiannya terusik saat putranya menemukan pria kaya raya yang berwajah sangat mirip dengannya. Pria tampan itu terkejut melihat kembaran kecilnya, sementara sang balita justru menyeretnya pulang. Amanda pun dibuat syok ketika anaknya dengan polos memperkenalkan pria asing tersebut sebagai calon suami baru untuk ibunya.
Sampul Novel Terkubur di Crimson Tides
9.3
Suamiku tega menguburku di pasir pantai hingga menyerupai putri duyung, lalu pergi begitu saja demi menenangkan adik tiriku yang jatuh. Saat menatap punggungnya menjauh, aku hanya bisa pasrah ketika air laut yang pasang mulai menenggelamkan tubuhku. Di tengah keputusasaan sebelum kehilangan kesadaran sepenuhnya, sebuah pemikiran terakhir tiba-tiba terlintas di benakku.