
Topan Melanda, Sahabat Putriku Menginap di Rumahku
Bab 3
Sensasi nikmat yang luar biasa mulai merangsangku secara gila-gilaan.
Seluruh tulangku terasa gemetar dan aku tidak bisa duduk diam.
Pori-poriku seolah meledak, aku hanya bisa menegang kuat-kuat agar putriku tidak menyadari keanehan ini.
Erika tidak berhenti, malah mulai menarik celanaku.
Karena aku memakai celana pendek yang longgar, dia dengan mudah menurunkannya.
"Senjata" besarku pun langsung melompat keluar.
Putriku masih asyik makan di sampingku, perasaan ini sungguh sangat memalukan sekaligus mendebarkan.
Aku mencoba mendorong Erika untuk menjauhkannya, tetapi dia justru semakin kuat mencengkeram milikku!
Tangannya sangat lembut, membuat pembuluh darah di sekujur tubuhku terasa mendidih.
Dia bahkan mulai menggerakkan tangannya naik-turun.
Seketika, stimulasi yang sangat kuat membungkusku, sel-sel tubuhku rasanya meledak.
Sudah bertahun-tahun aku tidak menyentuh wanita, dan tiba-tiba digenggam oleh seorang gadis muda.
Sensasi itu langsung membuatku pening. Sumpit di tanganku jatuh berdenting di atas meja.
Putriku menatapku dengan wajah bingung.
"Ayah, kenapa? Apa Ayah nggak enak badan?"
Aku berusaha menahan suaraku agar tidak terdengar aneh.
"Nggak apa-apa, ayo lanjutkan makan."
Putriku hanya bergumam "oh", lalu berkata lagi, "Eh? Kenapa Erika lama sekali ambil sumpit? Biar kulihat jatuhnya di mana."
Saat dia hendak menunduk ke bawah meja, Erika dengan cepat melepaskanku dan muncul dari bawah meja sambil memegang sumpit.
"Huh! Sumpitnya nggak tahu jatuh ke mana, susah sekali mencarinya."
Aku segera menaikkan celanaku saat itu juga, untungnya putriku tidak melihat keanehan.
"Sumpitnya kotor kalau jatuh ke lantai, biar kuambilkan yang baru," kata putriku sambil pergi ke dapur.
Erika menatapku dengan tatapan penuh makna, "Paman, bagaimana? Rasanya enak?"
Gadis ini benar-benar berani. Sebagai pria dewasa, wajahku sampai memerah padam karena ulahnya.
Sepertinya hasrat Erika memang sangat besar dan tak pernah terpuaskan, dia selalu mencari sensasi baru.
Malam harinya, aku berbaring di tempat tidur sambil membaca berita di ponsel.
Erika mendorong pintu kamarku, masih memakai baju tidur ketat yang memperlihatkan dua tonjolan kecilnya.
Dengan wajah penuh damba, dia bertanya, "Paman, apa di rumah ada mentimun? Aku agak lapar, mau mengganjal perut."
Aku tentu tahu apa yang ingin dia lakukan dengan mentimun itu. Kejadian semalam dan tadi siang membuatnya merasa "nanggung" karena terpotong oleh panggilan putriku.
Sedangkan aku sendiri sudah sangat terangsang sejak tadi siang. Melihat wanita cantik menyerahkan diri seperti ini, jika tidak bergerak, apa aku masih bisa disebut pria?
Jadi, aku sengaja menurunkan celanaku dan menunjukkan milikku tepat di depan wajahnya.
"Apa enaknya mentimun?"
"Paman punya sesuatu yang jauh lebih enak di sini, mau mencicipinya?"
Begitu melihatnya, tubuh Erika langsung lemas. Dia segera mengunci pintu kamar dan merangkak naik ke tempat tidurku.
"Paman, apa benar-benar boleh kumakan?"
Dia menunggingkan bokongnya yang sintal, bersujud di antara kedua kakiku dengan mata penuh rasa haus.
Wajahnya sangat dekat, hembusan napasnya terasa hangat mengenai milikku.
Aku tidak tahan lagi. Aku meremas dadanya yang lembut, mengubah-ubah bentuknya dalam genggamanku.
Sensasi yang sudah bertahun-tahun tidak kurasakan ini sungguh luar biasa nikmat.
Melihat wajahnya yang kemerahan, aku sengaja menggodanya, "Kenapa hasratmu besar sekali? Apa semalam kamu diam-diam berbuat nakal dengan dalamanku?"
Dia membalas sambil menggenggam milikku, "Ini salahmu karena mengotori celana dalamku. Begitu aku mencium aromanya, bagian bawahku jadi sangat gatal dan nggak bisa berhenti."
"Paman harus membantuku mengobati rasa gatal ini!"
Aku menekan bagian belakang kepalanya, mendorongnya kuat ke arah milikku.
"Kalau begitu, Paman akan memuaskanmu sampai sepuas-puasnya."
Anda Mungkin Juga Suka





