APKDock Logo
Sampul Novel Istri Untuk Warisan

Istri Untuk Warisan

9.7 / 10.0
Launa sangat menantikan perceraian, namun suaminya justru menolak keras perpisahan itu. Pernikahan hambar selama tiga tahun yang minim kebersamaan kini di ambang batas baru. Rahasia besar Launa akhirnya terkuak saat sang suami mengetahui kehamilan yang selama ini ia sembunyikan. Tak ingin membiarkan Launa berjuang sendirian, suaminya melarangnya pergi. Pelarian Launa pun terhenti karena sang suami bertekad mencegahnya membawa calon anak mereka pergi menjauh.

Istri Untuk Warisan Bab 1

"Kamu sudah yakin akan hal ini?"

Pria bersnelli putih di hadapannya tersenyum, lalu mengangguk mantap.

"Aku mendapatkannya dari Dokter Attiyah. Dia adalah rekanku di rumah sakit, jadi kami punya kontak. Istrimu tiga hari lalu menemuinya dan positif."

Arham menarik napasnya panjang, lalu membuangnya kemudian. Dia benar-benar tak menyangka. Diambang kegundahan yang dia rasakan setahun terakhir, akhirnya punya alasan untuk bertahan.

Di sambarnya amplop dari rumah sakit itu, lalu membuka laci dan mengambil sebuah surat.

"Terima kasih atas bantuanmu, Alzam . Aku pulang dulu, ya?" ujarnya sambil memukul bahu dokter pria itu. "Nanti uangnya kutransfer."

"Oke." Alzam tersenyum, melihatnya yang beranjak keluar.

Sepanjang jalan di lobby perusahaan, Arham menimbang-nimbang keputusannya agar lebih matang. Dia akan melakukan banyak hal agar tidak jadi mendapatkan apa yang ibunya mau. Di bukanya pintu mobil, lalu segera memasukinya dan berpacu meninggalkan pekarangan perusahaan.

***

"Aku sudah tahu kedatanganmu untuk apa." Launa tersenyum, sambil meletakkan kopi untuk suaminya yang tampak menegang di sofa.

Arham Afsanur Rumman. Pria yang menikahinya akibat kontrak. Pria ini sudah hampir tiga bulan tak mendatanginya dan dia tahu karena adanya sang tunangan yang sudah membahagiakannya.

"Selamat, ya? Atas pertunanganmu dengan Felina. Kalian cocok sekali, kuharap kau bisa bahagia dengannya."

Arham menarik napasnya, menunjukkan rasa tak senang akibat ungkapan istrinya. Dia memandang wajah lonjong itu. Putih bersih dengan dress kuning telur yang sangat kontras dengan kulit putihnya.

Launa Amsya Lathira. Namanya sama cantik dengan orangnya. Launa adalah istrinya dalam tiga tahun terakhir. Istri yang dia nikahi demi menghalangi niat ibu tiri yang akan merebut harta ayahnya, juga istri yang terpaksa harus menandatangani surat kontrak dengannya agar wanita berkepala ular itu bisa mati kutu. Pasalnya, wanita itu amat berbisa. Mulutnya seakan banyak cabangnya dan bisa membuat siapa saja teracuni.

"Ekhm." Launa memperbaiki posisi duduknya, mulai tahu diri karena tetap mengakrabkan diri dengan Arham yang justru tak bersuara apa-apa sejak datang tadi. "Ini sudah tanggal delapan belas bulan dua," gumamnya sambil menunduk sedikit. "Kau membawa surat perceraiannya, 'kan? Berikan padaku."

Arham menggeleng, baru kali ini merespons dan tidak mengenakkan bagi Launa.

"Aku tidak bisa bercerai denganmu."

Deg!

"Kenapa? Bukankah sudah jatuh tempo? Mau berapa kali lagi kamu akan mengundur? Ingatlah, kamu sebentar lagi akan menikah, Arham. Felina tidak mungkin kamu gantung-"

"Felina itu tidak sungguh-sungguh kucintai, Launa." Arham memalingkan wajah. "Aku tidak sungguh-sungguh bertunangan dengannya. Aku hanya ingin mengecoh ibuku."

"Tidak begitu caranya, Arham." Launa menggigit bibirnya. "Kau tidak harus mempermainkan wanita lagi. Cukup hanya aku.".

Arham tertunduk sedikit. "Ya, cukup hanya kau. Tidak lagi."

Launa menatapnya yang sudah mengangkat kepala dan mengambil tas. Dia mengeluarkan surat perceraian, hingga Launa tersenyum melihatnya.

Itu yang dia inginkan!

Segera di ambilnya bolpen dari balik vas bunga di meja itu. Lalu menatap Arham yang ternyata menangkap ulahnya.

"Kemarikan, biar aku tandatangani," pintanya bersemangat, tapi Arham malah tersenyum dan meletakkan surat perceraian itu di meja.

Dia sendiri bangkit, lalu duduk di sebelah istrinya. "Aku tidak mau bercerai," ujarnya lagi, mengatakan kalimat yang sama.

"Bagaimana mungkin-"

"Tidak akan ada perceraian di antara kita." Arham bicara lagi, kali ini wajahnya di bubuhi senyum hingga terlihat lebih baik. "Apakah yang kau kejar dengan perceraian, Launa? Kenapa kau se-excited itu?"

Launa terdiam. Tangannya perlahan naik, lalu hinggap di perutnya. Arham menangkap gerakan itu, hingga bibirnya tersenyum dan mengambil tangan Launa yang tengah mengusap perutnya itu.

Launa sampai tersentak. Namun, saat melihat Arham hanya menggenggam tangannya, dia mencoba mengembalikan raut wajahnya.

"Arham ..., bukankah ini yang kau inginkan? Kau akan menceraikanku, tapi mengapa sekarang tidak jadi?" tanya Launa lembut, seraya membalas genggaman tangan Arham yang lebar. "Kebersamaan kita tidak ada yang indah, Arham. Kau tidak harus menyayangkannya."

Arham menarik napasnya perlahan. "Bukan aku menyayangkannya, Launa ...."

Launa menatapnya penuh perhatian. "Lalu?"

Arham menggeleng. "Aku tidak bisa melepaskanmu setelah apa yang kita lalui bersama tiga tahun ini-"

"Itu tidak benar." Launa menggeleng pelan. "Kau bahkan menghabiskan waktu kurang lebih hanya sembilan bulan denganku dalam tiga tahun ini. Tidak ada yang spesial."

"Ada," tegasnya membuat Launa menelan ludah. "Mau kau bawa kemana kehamilanmu? Kau mau terus merahasiakannya dariku? Lalu pergi dari rumah ini dan mengandungnya susah payah seorang diri? Tidak, Launa! Tidak akan kubiarkan!"

Wajah Launa langsung memucat mendengar ucapan itu. Segera di tariknya tangan dari genggaman itu, lalu mundur ke belakang dan menyentuh perutnya sendiri.

Arham memandangnya dalam, melihat dengan jelas bagaimana gugupnya Launa akibat ketahuan.

"Ak-aku tidak hamil-"

"Masih mau membantah?" Arham mengerutkan dahinya. "Aku ingat malam itu, Launa. Berhentilah menolak kenyataan kalau kau sedang mengandung anakku sekarang ini."

Launa sudah payah menelan ludahnya. Dia menggeleng tegas, tidak mengakui kehamilannya karena hal itu akan membuatnya merasa sakit sendiri. Arham bisa menungguinya melahirkan, lalu mengambil anaknya sebagai pewaris yang diinginkan oleh ayah mertuanya.

Bagaimanapun tujuan Arham menikahinya dalam kontrak adalah hal itu. Dia mengelabui ayahnya yang termakan hasutan ibu tiri. Perusahaan dan kekayaan ayahnya akan jatuh menjadi milik istri keduanya jika Arham tidak segera memberikan cucu. Begitu, 'kan?

"A-aku tidak hamil, Arham. Salah paham ...," ujarnya dengan tangis tersendat. "Maafkan aku karena malam itu. Please, tidak ada kehamilan, Arham. Kau salah paham .... Darimana kau tahu kabar palsu itu? Ayolah, jangan percayai. Bisa saja itu kehamilan orang lain yang ingin menghancurkan kebahagiaan pertunanganmu."

Arham melihatnya yang tampak sesenggukan takut. Ucapan dan kegugupan wanita itu justru membuatnya melihat sisi lainnya. Launa hamil akibat jebakannya sendiri. Dia yang membuatnya meminum obat malam itu hingga akhirnya mereka menghabiskan malam bersama.

"Aku tidak hamil. Kau bisa ceraikan aku sekarang." Masih melanjutkan, Launa tampak amat sangat berharap dengan tatapan memelasnya. "Aku tahu aku salah malam itu karena sudah menjebakmu. Namun, aku tidak-"

"Berhentilah menangis." Arham tersenyum melihatnya. "Kau tidak harus sampai menangis mengatakannya. Aku tidak bodoh, Launa. Meski malam itu kau mempengaruhiku dengan obat. Aku tahu apa tujuanmu melakukannya."

Launa menggeleng hingga Arham terkekeh melihatnya yang amat sangat keras kepala. Pria itu beringsut mendekat, lalu meraih tangan halus Launa dan menatap matanya.

"Tidak perlu memaksakan dirimu," ujarnya pelan membuat Launa makin terisak. "Aku juga tidak akan memaksakan diriku. Ada banyak hal rahasia yang tersembunyi di antara kita karena memang kita tidak pernah terbuka. Tetapi aku akan menyelaminya perlahan hingga kau benar-benar kukenali dengan baik. Dan selama itu, kumohon ..., jangan tutupi kehamilanmu dariku. Karena aku akan bertanggung jawab atasmu dan dia."

Lanjut Membaca

Daftar Isi Istri Untuk Warisan

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel Cinta Untuk Nadia
9.3
Hari pernikahan Nadia berubah menjadi mimpi buruk saat calon suaminya mendadak batal hadir. Demi menyelamatkan nasib sang putri di tengah situasi kacau tersebut, Abah Yai mengambil langkah nekat. Beliau memohon kepada seorang pria lain untuk bersedia menggantikan posisi mempelai lelaki yang kabur. Keputusan darurat ini tidak hanya mengubah garis hidup mereka seketika, tetapi juga memicu pergulatan batin yang hebat antara tanggung jawab dan perasaan cinta.
Sampul Novel Dia, Yang Mudah Dihibur
8.6
Setelah diabaikan lagi di hari Idul Adha demi cinta sejati Brian yang meminta bantuan memperbaiki lampu, sang protagonis memilih melepaskan hubungan mereka. Lewat sebuah unggahan media sosial yang memperlihatkan keintiman Brian dengan wanita tersebut, ia tidak lagi marah melainkan langsung meminta putus. Brian yang terlalu percaya diri mengira pacarnya hanya sedang merajuk dan akan kembali luluh seperti biasa. Namun, ia tidak menyadari bahwa kepatuhan itu kini telah sirna sepenuhnya.
Sampul Novel Dicampakkan Suami dalam Kebakaran Rumah
8.6
Dua saudara perempuan menikah di hari yang sama dengan sepasang sahabat: kapten pemadam kebakaran dan polisi. Mereka hidup bertetangga di lantai apartemen yang sama hingga bencana kebakaran melanda. Di tengah kepungan api, panggilan darurat mereka diabaikan oleh para suami. Tragedi ini menyebabkan satu bayi lahir mati dan yang lain keguguran. Menghadapi kenyataan pahit dan pengkhianatan ini, kedua saudara tersebut sepakat mengambil langkah tegas untuk menceraikan suami mereka.
Sampul Novel Gairah Liar Pembantu Lugu
7.9
Pasca-perceraian akibat hasrat yang tak terpenuhi, Valdi menjalani hidup yang terasa kosong. Kehadiran Mayang, gadis lugu anak mendiang pelayannya, menjadi celah bagi muslihat Valdi. Dengan memanfaatkan kepolosan Mayang, pria berpengalaman ini berniat memuaskan gairah terpendamnya. Mayang yang naif kini terjebak dalam manipulasi dan permainan dewasa yang penuh risiko. Akankah ia sanggup menyelamatkan diri, atau justru selamanya terbelenggu dalam jerat kendali Valdi?
Sampul Novel Gairah Terpendam Suami Kontrak
8.4
Kavita rela menikahi bosnya, Ezra, secara kontrak selama setahun demi melunasi utang Deryl, suaminya. Namun, pengorbanan itu sia-sia setelah Deryl diam-diam berkhianat dan menikahi Yura. Kecewa, Kavita memperpanjang masa kontrak dengan Ezra untuk menghancurkan Deryl dan merebut seluruh kekayaannya. Saat misi balas dendamnya sukses dan masa perjanjian habis, Ezra justru enggan melepaskan Kavita dari dekapannya.
Sampul Novel Lebih Baik Kejam daripada Penuh Kasih Sayang
8.9
Shanon mengambil keputusan mengejutkan untuk mengaktifkan proses pelepasan program sistem demi bisa pulang dalam waktu setengah bulan. Meskipun sistem mempertanyakan alasannya pergi meninggalkan suami yang menyayanginya serta putra yang selalu membelanya, Shanon tetap bergeming. Kisah fantasi modern ini menyoroti keraguan Shanon saat menatap televisi ketika kata keluarga diucapkan, mengungkap konflik batin mendalam di balik kehidupan domestik yang terlihat sempurna.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan