APKDock Logo
Sampul Novel Tidak Percaya Cinta

Tidak Percaya Cinta

8.6 / 10.0
Bagi Fahri, cinta sejati tidak pernah ada. Ia meyakini bahwa semua wanita yang mendekatinya hanya tergoda oleh kekayaan dan status sosialnya saja. Trauma mendalam dari masa lalu membuatnya menutup rapat hati dan enggan terlibat dalam hubungan asmara. Namun, keyakinan kokoh tersebut mulai goyah setelah ia mengalami sebuah pertemuan tidak terduga pada suatu malam. Kehadiran sosok perempuan misterius itu perlahan mulai mengusik prinsip hidup yang selama ini ia pegang teguh.

Tidak Percaya Cinta Bab 1

Fahri duduk seorang diri di sebuah bar mewah di pusat kota, mengenakan setelan jas hitam yang serasi dengan suasana malam itu. Suasana restoran bergaya klasik ini dipenuhi dengan cahaya redup dan musik jazz lembut yang mengalun di latar belakang. Semua hal ini tidak menghalangi perasaan kosong yang menggerogoti dadanya. Pikirannya, seperti biasanya, penuh dengan penolakan terhadap segala sesuatu yang berhubungan dengan perasaan dan emosi.

Ia mengangkat gelas wiski yang telah setengah habis, menatap cairan cokelat kemerahan itu dengan mata kosong, seolah mencari jawaban dalam setiap tetesnya. Baginya, cinta hanyalah ilusi, sebuah konsep yang diciptakan untuk menipu orang-orang yang terlalu naif untuk menyadari kenyataan. Wanita, khususnya, tidak lebih dari sekadar makhluk yang mencari keuntungan dari pria kaya seperti dirinya. Setelah mengalami pahitnya patah hati di masa lalu, ia menutup hatinya rapat-rapat. Cinta tidak ada tempat di dalam hidupnya, dan ia tidak berniat memberinya tempat.

"Satu lagi, Fahri?" kata seorang bartender muda dengan wajah ramah, memecah lamunannya.

Fahri hanya mengangguk tanpa berkata sepatah kata pun. Bartender itu mengisi ulang gelasnya, lalu melangkah pergi, meninggalkannya kembali dalam kesendirian yang menjadi sahabatnya sejak lama. Di sekelilingnya, suara obrolan para tamu lainnya terasa begitu jauh, seperti gema yang hanya memantul tanpa memberi arti. Ia merasa asing di dunia ini, seperti seseorang yang terjebak di tempat yang salah, dikelilingi oleh orang-orang yang tidak pernah bisa memahami dirinya.

Namun, tiba-tiba, langkah kaki yang mantap dan ringan terdengar semakin dekat. Fahri menoleh tanpa banyak berharap, tetapi matanya langsung terkunci pada sosok wanita yang baru saja memasuki ruangannya. Wanita itu mengenakan gaun hitam elegan yang memancarkan aura misterius dan penuh percaya diri. Setiap gerakannya seolah terukur, penuh keanggunan yang membuat para pria di sekitarnya melirik dengan penasaran.

Wanita itu berhenti beberapa langkah di depannya dan menatap kursi kosong yang ada di meja Fahri. Tanpa ragu, ia melangkah maju, duduk dengan anggun, dan meletakkan tas kecil di sampingnya. Dengan gerakan lembut, ia mengatur posisi tubuhnya dan memandang Fahri dengan mata yang penuh dengan ketenangan yang kontras dengan kegelisahan yang sedang dirasakannya.

"Apakah tempat ini kosong?" tanya wanita itu dengan suara yang lembut namun tegas, seolah meminta izin, tetapi di saat yang sama seakan menunjukkan bahwa ia sudah tahu jawabannya.

Fahri menatapnya sebentar, merasa ada sesuatu yang berbeda tentang wanita ini. Biasanya, wanita sepertinya akan duduk dengan malu-malu atau lebih cerewet, tapi wanita ini tidak. Dia hanya duduk dengan tenang, menatap sekeliling dengan pandangan yang hampir tenang dan penuh pemahaman.

"Ya, silakan," jawab Fahri, akhirnya membiarkan wanita itu duduk di hadapannya. Ia merasa aneh, karena tidak pernah merasa begitu tertarik pada seseorang hanya dengan sekilas pandang seperti ini.

Wanita itu tersenyum kecil, senyuman yang tampaknya menyimpan banyak rahasia. "Terima kasih," katanya, kemudian melirik ke arah bartender yang lewat. "Aku akan pesan satu gelas anggur putih."

Setelah bartender pergi, suasana kembali hening di antara mereka. Fahri menyandarkan tubuhnya di kursi, menatap wanita itu dengan rasa ingin tahu yang tak terduga. Ia tidak tahu mengapa, tapi ada sesuatu yang membuatnya merasa ingin tahu lebih banyak tentang wanita ini, tentang siapa dia, dan mengapa ia duduk di sana, menemani kesendirian Fahri malam itu.

Akhirnya, setelah beberapa detik yang terasa lama, Fahri membuka percakapan, meskipun ia sebenarnya tidak terlalu tertarik untuk berbicara. "Nama saya Fahri," katanya, sambil sedikit tersenyum tanpa semangat. "Dan kamu?"

Wanita itu menatapnya sejenak, lalu menjawab, "Lia."

Fahri mengangguk, mencoba untuk tetap menjaga sikapnya yang biasa-dingin dan tak terpengaruh. "Kamu sering ke sini?" tanyanya, walaupun ia tidak berharap banyak dari jawaban tersebut. Sebuah pertanyaan basa-basi, seperti yang selalu ia lakukan saat berbicara dengan orang lain.

Lia tersenyum, sedikit lebih lebar kali ini, seolah mengerti maksud di balik pertanyaan tersebut. "Baru pertama kali," jawabnya, matanya tidak berpaling sedikit pun dari Fahri. "Aku suka mencari tempat yang bisa memberikan ketenangan."

Ketenangan. Kata-kata itu langsung mengingatkan Fahri pada dirinya sendiri, pada kesunyian yang selalu dia pilih. Namun, dia juga merasa aneh, seperti ada sebuah dinding tak terlihat yang menghalangi dia untuk benar-benar memahami maksud wanita ini.

"Ketika orang seperti kamu mencari ketenangan di tempat seperti ini," Fahri berkata, mencoba tetap terdengar skeptis, "apakah itu benar-benar ketenangan, atau hanya cara untuk melupakan sesuatu?"

Lia menatapnya dalam-dalam, seolah membaca setiap kata yang keluar dari mulutnya. "Mungkin keduanya," jawabnya, suaranya tenang. "Tapi kadang, ketenangan bukan berarti melupakan, Fahri. Kadang, itu hanya berarti menerima."

Fahri merasa sedikit terkejut dengan jawabannya, namun ia tetap mempertahankan ekspresinya yang tidak terpengaruh. "Menerima?" ia mengulang, suaranya sedikit lebih rendah. "Menerima kenyataan bahwa semua wanita pada dasarnya sama. Mereka hanya tertarik pada uang. Tidak lebih."

Lia hanya diam sejenak, seolah mencerna kata-kata Fahri. "Kamu benar," jawabnya akhirnya, suara lembutnya tidak kehilangan ketegasan. "Tapi mungkin, kamu belum bertemu dengan wanita yang bisa menunjukkan padamu bahwa ada hal lain selain uang yang bisa membuat seseorang merasa hidup."

Fahri tidak bisa menahan diri untuk tidak merasa tertarik. Kata-kata Lia, meskipun terdengar seperti sebuah tantangan, juga menyentuh sesuatu yang dalam dalam dirinya. "Mungkin kamu benar," katanya, lebih untuk dirinya sendiri daripada untuk Lia. "Tapi sampai sekarang, aku belum pernah melihatnya."

Lia tersenyum lagi, kali ini dengan senyum yang lebih lembut, lebih penuh makna. "Jangan terlalu cepat menilai, Fahri," katanya, seolah memberi petunjuk tentang sebuah rahasia yang hanya bisa dipahami setelah waktu berjalan.

Malam itu, mereka duduk dalam keheningan yang penuh arti, sementara Fahri mulai merasakan getaran yang tidak bisa dijelaskan. Sesuatu tentang Lia membuatnya merasa seperti ada bagian dari dirinya yang telah lama terkunci, yang perlahan mulai terbangun kembali. Sesuatu yang selama ini ia sembunyikan di balik tembok skeptisisme dan kekecewaan.

Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Fahri merasa sedikit tidak pasti.

Lanjut Membaca

Daftar Isi Tidak Percaya Cinta

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel Another Maze
9.6
Uji coba mesin waktu memicu ledakan bola misterius akibat sentuhan Robert Hans. Insiden ini menghancurkan laboratorium dan menyisakan ilmuwan Zora sebagai satu-satunya penyintas. Demi menyelamatkan Hans yang tak sadarkan diri, Zora nekat melintasi ruang waktu tanpa arah jelas. Di dimensi lain, Dewi Penjaga Waktu memberi tahu bahwa mereka hanya bisa pulang jika berhasil mengumpulkan serpihan Air Mata Aldebran di berbagai alam asing sebagai kunci penyelamat.
Sampul Novel ISTRI KEDUA TUAN KAIRO
8.0
Farah Maharani, gadis desa berumur 25 tahun, terdesak keadaan hingga bersedia menyewakan rahimnya pada pengusaha Kairo Juang. Hal ini terjadi karena Salsa, istri Kairo, kerap mendapat hinaan mandul dari sekitarnya. Agar suaminya punya keturunan, Salsa pun mengizinkan Kairo beristri lagi. Kesepakatan mereka awalnya berjalan mulus tanpa hambatan berarti. Namun, sebuah petaka besar mendadak muncul dan mengancam kelangsungan hidup mereka semua.
Sampul Novel Kuserahkan Suamiku Kepada Pelakor
8.6
Mengetahui suaminya berkhianat, seorang istri memilih langkah berani untuk menyudahi hubungan. Tanpa bimbang, ia menyerahkan lelaki itu kepada selingkuhannya secara langsung. Baginya, suami yang tidak setia hanyalah sampah yang tak pantas dipertahankan. Inilah kisah ketegasan seorang wanita dalam membuang masa lalu kelam demi menjaga harga diri, sekaligus merelakan pria pengkhianat tersebut jatuh ke tangan sang pelakor.
Sampul Novel Love And Mystery
7.8
Harry Borison, CEO Rank Group yang dingin, terikat takdir dengan karyawannya, Han Yura. Di balik kesehariannya, Yura memendam trauma masa lalu dan PTSD. Demi keselamatan dari ancaman wanita psikopat yang terobsesi pada Harry, mereka berdua terpaksa menyembunyikan pernikahan mereka. Kini, Yura harus berjuang meluluhkan hati keras Harry sekaligus bertahan hidup dari kejaran sang penguntit yang mengincar nyawanya.
Sampul Novel Mantan Istri Genius yang Diidamkan Dunia
8.6
Tiga tahun Bella bertahan dalam pernikahan tanpa cinta demi Laskar, sebelum akhirnya tahu ia hanya dimanfaatkan sebagai tameng medis bagi kekasih suaminya. Setelah memilih bercerai dan pergi, Bella kembali sebagai sosok baru yang sukses menjadi pianis ternama sekaligus ahli bedah jenius. Laskar yang kini didera penyesalan mendalam, berusaha mengejarnya di bawah guyuran hujan, memohon kesempatan kedua dari mantan istri yang dulu ia sia-siakan.
Sampul Novel Terpisah Antara Dua Dunia
8.6
Semua orang mengira John adalah suami idaman yang sangat memuja istrinya, Talita. Namun, kebenaran pahit terungkap saat Talita mengetahui perselingkuhan John. Kecewa, Talita menghubungi sistem khusus untuk keluar dari dunia tersebut. Sistem memberinya waktu lima belas hari untuk mempersiapkan kematian palsu dengan melompat ke laut. Setelah rencana matang berhasil dieksekusi, Talita pun lenyap tanpa jejak. Kehilangan ini seketika menghancurkan dunia John, menyisakan penyesalan hebat dan pencarian tanpa arah yang membuatnya hampir gila.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan