APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel THE MAFIA: MARIJUANA

THE MAFIA: MARIJUANA

Daphne Madison bertekad membalas dendam pada Edgar David Ruthen yang telah menghabisi nyawa kembarannya. Demi memuluskan misinya, ia menemui Casillas Rodriguez untuk menawarkan diri sebagai mata-mata ganda. Walau sempat diancam senjata, Casillas akhirnya luluh setelah Daphne menyerahkan segalanya demi mendapat jaminan keselamatan. Kerja sama rahasia pun terjalin, tetapi keduanya justru terperangkap dalam obsesi yang rumit. Casillas menolak melepas Daphne walau hubungan itu terasa salah.
Bab
Bagikan

Bab 1

***

Las Vegas, Nevada, 19.41 PDT

Dor! Dor!

Telinga Daphne berdenging saat mendengar dua buah peluru terlepas dan menembus jantung seorang wanita berambut cokelat kemerahan yang langsung tersungkur bersimbah darah. Suasana di ruangan itu langsung sepi, tanpa suara.

“Daphne,” panggil seorang pria berambut hitam sembari menyerahkan pistol jenis Desert Eagle. Dia Edgar David Ruthen. Salah satu mafia dari dua mafia berpengaruh di Las Vegas, bahkan namanya telah terkenal di dunia mafia yang gelap.

“Ya, Tuan.” Gadis yang dipanggil namanya itu langsung melangkah dan mengambil pistol yang dipakai untuk menembak saudari kembarnya itu.

“Fabian,” panggil Edgar lagi.

“Ya, Tuan.” Pria berusia empat puluh satu tahun yang berada satu langkah di belakang Edgar itu pun mengangguk.

“Bereskan dia. Terserah kau mau membuang atau menguburnya. Pastikan dia benar-benar mati. Well, pasti sudah mati, karena aku menembaknya tepat di jantung,” ujar Edgar dengan seringai lebar, membuat orang-orang yang ada di sana bergidik ngeri, kecuali satu orang yang tampak tak tergoyahkan. “Daphne,” panggil Edgar dengan suara lembut.

“Ya, Tuan.” Daphne mengangguk kecil.

“Aku telah menembak saudari kembar mu. Dia merepotkan, tak sepertimu.”

“... ya, Tuan. Maaf dan terima kasih,” ucap Daphne hampir tanpa emosi. Bagi orang normal, ini bukan saat yang tepat untuk mengucapkan maaf dan terima kasih. Namun, inilah Daphne Madison.

Edgar menatapnya dengan rinci. “Kau tidak menangis?”

“Tidak, Tuan.” Daphne balas menatap Edgar dengan berani. “Tidak ada alasan bagi saya untuk menangis,” tambahnya membuat pria berambut cokelat itu tertawa terbahak-bahak, merasa puas dengannya.

Edgar menepuk bahu Daphne dengan bangga dan tak lupa, seringainya.

“Kau luar biasa, Daphne. Kau tak gentar bahkan setelah aku menembak mati saudari kembar mu,” ujar Edgar masih dengan sisa-sisa tawanya, lalu dia berdeham singkat. “Karena aku baik hati, ku izinkan kau mengantar jalang itu untuk terakhir kalinya.”

Daphne terdiam. Memandang tubuh bersimbah darah itu tanpa berkedip. Sejujurnya, dia sedang berusaha sangat keras untuk tak menunjukkan kesedihan ataupun kemarahannya di hadapan Edgar. Dan itu cukup sulit, mengingat Edgar telah membunuh satu-satunya keluarga yang dia punya tepat di depan matanya. Gadis itu menatap Edgar yang memegang dagunya.

“Jawab aku, Daphne.” Edgar mengintimidasi.

“Ya, Tuan. Terima kasih,” ujar Daphne mengangguk pelan.

Sudah cukup dengan jawaban Daphne yang memuaskannya, Edgar melepaskan dagu Daphne dan berjalan melewati gadis itu, namun Daphne sama sekali tak menoleh. Suara sepatu yang bergesekan dengan lantai pun terdengar menyayat hati. Satu per satu orang di sana pergi dengan perasaan takut dan segan pada Edgar yang bisa membunuh anak buahnya kapanpun dan di mana pun ketika dirasanya salah dan mengganggu.

Daphne memandang mayat saudari kembarnya di depan sana, kemudian menghela napas panjang ketika pintu besi ditutup, menyisakan dirinya dan Fabian di ruangan berbau anyir itu.

“Daphne,” panggil Fabian pelan.

“Aku tahu, Fabian. Aku sudah tahu kalau ini akan terjadi karena Stephanie mengharapkan hal yang bodoh. Aku sudah memperingatinya berulang kali.” Daphne menghampiri saudari kembarnya dan berjongkok di sana. “Bagaimana bisa dia dengan bodohnya berharap pada Edgar? Dia hanya melakukan hal yang sia-sia. Dia dan bayi di perutnya, mati begitu saja. Bahkan sampai detik akhir pun, dia masih bodoh.”

‘Dan lebih bodohnya lagi, aku tak bisa menyelamatkan kalian,’ batin Daphne melanjutkan.

Fabian mengerutkan alis. Di matanya, Daphne terlihat seperti seorang gadis yang tak berperasaan, tetapi mempesona di saat bersamaan. Dia menggeram gusar menahan hasrat ingin mencabuli tubuh seksi yang keras kepala itu, setidaknya sekali.

“Kau ingin menguburnya?” tanya Fabian menghampiri.

“Tidak.” Daphne membalikkan tubuh Stephanie yang tersungkur. Dia menyentuh dada kanan saudarinya yang memiliki dua buah peluru dan bersimbah darah dengan tatapan membara. “Danau Powell akan menjadi tempat yang indah untuk Stephanie dan bayinya.”

***

Tidak ada kata merepotkan untuk membuang mayat di Danau Powell bagian hulu untuk Daphne dan Fabian. Itu sudah menjadi salah satu tugas mereka karena kebiasaan Edgar yang brutal.

“Bantu aku memasukkan Stephanie ke dalam tong, Fabian,” ujar Daphne membuka pintu penumpang, mengeluarkan saudari kembarnya yang tak lagi bernapas dari dalam sana. Sementara Fabian pergi ke mobilnya lebih dahulu dan mengambil tong yang telah disiapkan olehnya dan Daphne sebelum berangkat ke Danau Powell.

“Kau serius, Daphne?” tanya Fabian sembari membawa tong berukuran besar.

“Serius.” Daphne menarik Stephanie yang cukup berat. “Cepat bantu aku. Kita tak punya banyak waktu,” tambahnya.

“Baiklah.” Fabian membantu Daphne memasukkan Stephanie ke dalam tong yang ditutup rapat setelahnya. “Ku pikir kau akan mengubur atau mengkremasinya. Bukankah itu lebih baik untuk Stephanie?”

“Kau tahu dengan pasti, Fabian. Hasilnya akan sama.” Daphne bersandar pada tong yang sudah dalam posisi berdiri. “Kalau aku menguburnya, Edgar bisa saja akan memintamu atau orang lain untuk menggali kuburan dan membuang mayat Stephanie, atau yang lebih parah, tubuhnya akan dicincang untuk makanan anjing kesayangannya. Kalau dikremasi, hanya akan menarik perhatian orang-orang di sekitar. Selain itu, bau dari tubuh yang terbakar pasti akan tercium. Jadi, untuk apa bekerja dua kali?”

“Er, baiklah.” Sudut bibir Fabian berkedut. Daphne mengatakannya dengan sangat mudah. “Terima kasih?” ujarnya ragu-ragu.

Daphne merotasikan mata. “Tidak sepertimu,” ujarnya. Tanpa basa-basi lagi, dia langsung mendorong tong tersebut ke danau dan menatapnya dengan sayu. “Beristirahatlah dengan tenang, Stephanie, Baby.”

“Hanya seperti itu?” tanya Fabian mengerutkan kening. “Seingatku, kau dekat dengan Stephanie. Tidak ada ucapan perpisahan yang hangat?”

“Mengharap apa kau dariku?” celetuk Daphne mendengus kasar. “Kalau kau mau, lakukan saja sendiri,” sambungnya berjalan menyusuri tepi danau.

“Daphne, kau mau ke mana?” tanya Fabian sedikit berteriak.

“Jalan-jalan,” jawab Daphne.

“Dengan pakaian seperti itu?” tanya Fabian mengkhawatirkan Daphne. Gadis cantik itu hanya menggunakan kemeja berwarna putih yang telah bersimbah darah dan celana pendek hitam dengan rambut yang diikat tinggi.

“Tidak usah mengkhawatirkanku. Kalau sudah selesai mengucapkan perpisahan hangat dengan Stephanie, pulanglah ke markas. Sampaikan pada Edgar kalau aku sedang memata-matai pergerakan Rodriguez.”

“Rodriguez bergerak lagi?” tanya Fabian tak jadi mendoakan ketenangan Stephanie. Dia lebih tertarik pada pergerakan Rodriguez yang dikatakan Daphne.

“Memangnya kapan dia pernah berhenti?” Daphne berbalik menghadap pria yang masih lajang itu. “Tidak jadi?”

“Apanya?” tanya Fabian dengan sudut alis yang terangkat sebelah.

“Perpisahan hangat yang kau katakan itu,” jawab Daphne segera.

Fabian menoleh ke arah danau yang permukaannya tak tenang karena tertiup oleh angin. “Dia sudah cukup mendapatkannya darimu.”

“Lalu, pulanglah,” ujar Daphne menunjuk mobil Fabian dengan dagunya. “Aku tak butuh kau, Fabian.”

Pria itu mendengus kasar dengan tangan yang berkacak di pinggang menunjukkan rasa congkaknya. Namun, itu tidak cukup karena seluruh mafia di Las Vegas pun tahu kalau Daphne lebih congkak daripadanya. “Kau memang luar biasa, Daphne.”

“Aku tahu. Pergilah! Wajahmu memuakkan,” ketus Daphne berdecak kecil. “Tuhan pun malas melihatnya.”

“Bicara apa kau? Tuhan sudah tak melihat kita lagi. Terlalu banyak pekerjaan buruk yang kita lakukan,” sahut Fabian tertawa miris.

“Banyak omong. Ku bilang, pergi!” seru Daphne mendelik tajam.

“Suasana hatimu sangat buruk, Daphne. Inikah sisi aslimu?” tanya Fabian melangkah maju. Membelai helaian rambut Daphne yang tak ikut terikat.

Daphne seketika merinding. Dia melirik tangan yang memegang helaian rambutnya itu dengan dingin.

“Mau ku patahkan tanganmu, Fabian? Aku lebih daripada mampu,” ujar Daphne sangat tak bersahabat.

“Astaga ... baiklah,” putus Fabian menyerah, lalu mundur beberapa langkah. Pria itu masih sayang pada dirinya dan dia tersenyum lebar. “Aku akan melaporkannya pada Edgar sesuai dengan yang kau katakan.”

Daphne menjawab dengan anggukan singkat. Dia menarik napas panjang dan menatap lurus pada Fabian.

“Jangan berjalan-jalan terlalu lama. Kau bisa sakit.”

“Bukan urusanmu, Fabian.”

Pria itu tertawa masam. Dia melihat ke danau sekali lagi. “Semoga Stephanie tenang di sana,” ujarnya pada akhirnya.

Napas Daphne tercekat. Rasa panas menggelitik tenggorokannya. Dia mengangguk pelan sebagai jawaban.

“Kalau begitu, aku pergi,” ujar Fabian melangkah ke mobil yang terparkir tepat di depan mobil Daphne.

Dan Daphne memperhatikan kepergian Fabian, hingga hanya tersisa dirinya di tepi Danau Powell.

Tubuh Daphne langsung meluruh di tepi danau. Dia meringkuk, memeluk dirinya yang kesepian dan dilingkupi emosi buruk dalam dinginnya malam.

“Stephanie bodoh! Sudah ku katakan, jangan pernah memberikan hatimu pada Edgar! Kau berbohong! Kau ingkar janji! Kau meninggalkanku sendirian di dunia ini!” seru Daphne melampiaskan semua kekecewaannya. Namun, di balik itu, dia lebih kecewa dan marah pada dirinya sendiri karena gagal melindungi satu-satunya keluarga yang dia miliki.

Daphne menelungkupkan wajah dan menangis terisak-isak. “Kalau kau mendengarkan ku untuk kabur, kau takkan berakhir seperti ini, Stephanie ... kau membuatku menjadi kakak dan bibi yang sangat buruk,” ujarnya sendu, penuh penyesalan di tepi danau.

———

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bos Mafia yang Kejam Ingin Aku Kembali
9.8
Eleanor, mantan pewaris angkuh, dulu kerap meremehkan Andreas yang hidup menumpang di rumahnya. Delapan tahun berselang, situasi berbalik sepenuhnya. Andreas kini menjelma sebagai bos besar yang berkuasa, sedangkan Eleanor jatuh miskin dan menderita. Pertemuan kembali membawa ketegangan karena Andreas masih menyimpan dendam lama. Ia menekankan bahwa rasa benci atas penghinaan Eleanor di masa lalu menjadi bahan bakar utamanya untuk meraih kejayaan saat ini.
Sampul Novel DALAM CENGKERAMAN SANG MAFIA
8.3
Dominic Rodrigues, seorang mafia keji yang dikuasai dendam masa lalu, bertekad menghancurkan keluarga Amanda. Demi melindungi sang suami dari ancaman mutilasi yang mengerikan, Amanda terpaksa tunduk pada hasrat dan keangkuhan Dom. Terjebak dalam jerat utang dan rasa benci, sanggupkah Amanda yang tegar menghadapi dominasi sang mafia? Kisah romansa dewasa penuh misteri ini menyajikan intrik tajam serta gejolak emosi yang tak terduga.
Sampul Novel Istri Pelunas Hutang Mafia
8.0
Aurora terpaksa menikahi Lucian Moretti, seorang mafia kejam, demi melunasi utang sang paman. Siapa sangka, Lucian rupanya telah lama memendam cinta padanya. Di saat asmara mulai bersemi, rahasia masa lalu mendadak terbongkar dan menguji hubungan mereka. Situasi kian rumit ketika musuh mengintai dan Aurora menyembunyikan penyakit mematikan dari suaminya. Lucian kini harus bertaruh nyawa demi menyelamatkan wanita yang sangat dicintainya itu.
Sampul Novel Mafia In The Night
8.0
Demi ambisi besarnya, William, putra seorang bos mafia kejam, siap melakukan apa saja. Namun, sebuah pengkhianatan merenggut nyawa sang ayah, Ferdinand. Rosemary yang merupakan istri Ferdinand akhirnya mulai menyadari sisi gelap suaminya yang selama ini tersembunyi. Di tengah duka, William bertekad membalas dendam sekaligus membersihkan nama ayahnya dari fitnah. Meski jalannya dihalangi oleh seorang polisi wanita, William takkan mundur hingga peluru terakhir menyelesaikan segalanya.
Sampul Novel Saat Aku Bukan Lagi Pilihanmu
8.8
Setelah sepuluh tahun menderita dalam pernikahan dingin bersama Bram akibat jebakan obat bius saudara tirinya, sang protagonis mendapat kesempatan kedua setelah sebuah tragedi banjir merenggut nyawanya. Terbangun kembali di masa lalu, tepat di hari ia dikurung bersama Bram yang sedang menderita, ia kini bertekad untuk tidak lagi menjadi obat penawar bagi pria tersebut demi mengubah takdir tragis mereka di masa depan.
Sampul Novel TN MAFIA PLEASE SAVE ME
9.3
Alexzno, bos mafia kejam yang membenci pengkhianatan, membiarkan Robert hidup setelah dikhianati. Keputusan ini diambil karena ia terpikat oleh kecantikan Alinda, putri Robert yang bermata biru indah. Ketertarikan pada pandangan pertama itu berubah menjadi obsesi ekstrem. Demi mengklaim Alinda dan mencegahnya kabur, Alexzno bahkan tega memasang chip pelacak di tubuhnya. Simak ketegangan kisah asmara penuh obsesi dan bahaya ini.