APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel The Letter I Wrote For You

The Letter I Wrote For You

Arshaka Januar memendam rasa cinta mendalam pada sahabatnya, Earlyta Camille, walau tahu perasaan itu salah dan tak berbalas. Namun, melihat Earlyta sangat menderita dalam pernikahan yang menyiksa memicu hasrat Arshaka untuk merebutnya. Meski yakin mampu memberikan kehidupan yang jauh lebih membahagiakan, Arshaka didera kenyataan pahit bahwa dirinya mungkin bukanlah sosok yang bisa menjadi sumber kebahagiaan sejati bagi wanita tersebut.
Bab
Bagikan

Bab 3

Earlyta perlahan membuka matanya dan langsung mengeryitkan dahinya dalam ketika merasakan banyak cahaya yang masuk ke matanya. Dia menghela napas panjang. Tanpa diberitahu pun, dia sudah sadar kalau dia berada di rumah sakit sekarang.

“Kondisinya sudah stabil. Tapi, saya tetap menghimbau untuk mengecek keadaannya secara berkala, terutama luka-lukanya yang belum sembuh sebagian. Saya sudah membuat resep untuk obat yang bisa dikonsumsi oleh pasien.” Sayup-sayup Earlyta mendengarkan penjelasan dokter yang—sepertinya—menanganinya pada seseorang. Earlyta membetulkan posisi badannya agar lebih nyaman dan kemudian menyesalinya karena kepalanya terasa pusing bukan main.

“Earlyta.”

Wanita itu melirik ke arah samping ranjang rumah sakitnya dan langsung menemukan jawaban dari pertanyaannya sebelumnya. Ternyata Arshaka Januar, sahabatnya, yang berbicara dengan dokternya. “Shaka.”

Arshaka terlihat marah—Earlyta bisa tahu hal itu karena dia sudah lama mengenal Arshaka. “Kamu kenapa?” Tangan Earlyta yang terbebas dari selang infus terulur untuk menyentuh lengan Arshaka.

Arshaka langsung menghela napasnya. Dia menyentuh tangan Earlyta dan menggenggamnya erat walaupun sebelumnya gerakannya ragu. “Kamu … kenapa kamu membahayakan diri kamu dengan menemui Gio sendirian, Earl?” Arshaka mungkin sudah akan menghajar Gio jika semalam dia berada di tempat kejadian.

Earlyta tersenyum kecil. “Kamu tahu kalau aku tidak bisa, bukan? Aku tidak ingin kamu terlibat, Arshaka.” Selama ini, Arshaka tahu semua permasalahan yang dihadapi oleh Eralyta. Tapi, dia tidak pernah bisa langsung mengekspresikan kekesalannya pada Gio. Bukan tanpa alasan, Earlyta yang melarangnya, karena sekali Arshaka melawan, Gio akan menjadikan Arshaka sebagai ancaman bagi Earlyta.

Lagipula, Arshaka berasal dari keluarga yang terpandang dan baik-baik. Tidak bijak jika nama mereka tercoreng hanya karena Arshaka membantu permasalahannya yang mungkin tidak seberapa dibandingkan nama baik keluarga Januar dan Wijaya.

“Earl, tapi aku tidak bisa membiarkan kamu tersiksa seperti ini dan aku hanya bisa diam.”

Earlyta lagi-lagi hanya tersenyum dan dia menggelengkan kepalanya pelan. “Tidak, kamu tidak diam saja. Kamu yang datang ke apartemen aku dan membawa aku ke rumah sakit sudah merupakan tindakan kamu yang begitu berarti bagi aku.” Earlyta tidak sungkan untuk menyentuh sisi wajah dari Arshaka. “Terima kasih, ya, kamu sudah mau menemani aku selalu.” Earlyta kadang heran, apa yang membuat Arshaka mau bertahan bersahabat dengannya? Masalahnya, dari segi manapun, Earlyta terlalu berbeda dengan Arshaka. Terlalu tidak berharga. Tapi, setiap kali Earlyta menanyakan hal itu, Arshaka langsung marah padanya.

“Jangan berterima kasih seperti itu, Earl. Ini sudah menjadi tanggung jawab aku sebagai sahabat kamu untuk selalu menemani kamu. Tolong jangan menganggap diri kamu beban atau menganggap kamu memiliki hutang budi padaku.” Arshaka memilih untuk mendekap Earlyta.

“Earlyta.”

“Hm?”

“Separah apapun keadaannya, aku minta tolong agar kamu tetap bertahan, ya. Untuk alasan sekecil apapun.”

Earlyta tersenyum, namun dia tidak mengangguk. “Terima kasih.”

***

Anne menemui Earlyta yang sudah pulang dari rumah sakit. Anne mendapatkan kabar dari Arshaka bahwa Earlyta dilarikan ke rumah sakit karena luka-luka. Arshaka tidak mengatakan apa yang membuat Earlyta sampai luka-luka, tapi Anne yang sudah menganggap Earlyta sebagai anaknya sendiri, tidak keberatan untuk menjenguk wanita muda itu.

“Earl, sudah makan?” tanya Anne setelah sebelumnya berbasa-basi dengan wanita itu.

Earlyta terlihat malu-malu ketika diperhatikan oleh Anne Januar. Dia selalu sungkan tiap kali berada di dekat wanita yang berasal dari keluarga terpandang itu—Anneliese Januar berasal dari keluarga Wijaya, keluarga yang menguasai bisnis di Indonesia—dan dia menikah dengan Sanjaya Januar, seorang pebisnis juga, yang namanya tak kalah terkenal.

Di antara keluarga yang sangat terpandang itu, Earlyta selalu takut karena merasa dirinya sangat kecil. “Sudah, Tante.”

Anne tersenyum. “Tante boleh menemani kamu, ‘kan?” Anne mengulurkan tangannya dan menyentuh punggung tangan Earlyta. “Tante sangat khawatir ketika Arshaka mengatakan kamu dirawat.”

Earlyta tertawa kecil. “Tidak apa, Tante. Aku baik-baik saja.”

Anne dapat melihat senyuman palsu untuk menutupi kesedihannya di wajah Earlyta. Anne pernah ada di posisi Earlyta, dan dia sangat tahu kalau hal itu sungguh menyiksa.

“Maaf, Earlyta, tapi apakah Tante boleh menanyakan sesuatu?”

Earlyta mengangguk. “Tentu saja, Tante.”

Anne sebenarnya ragu untuk menanyakan soal perceraian antara Earlyta dan Gio, tapi dia tidak tahu kapan lagi dia memiliki waktu berdua dengan Earlyta untuk menanyakan hal ini. “Apa benar kamu akan bercerai dengan Gio?”

Earlyta langsung memutus kontak matanya dengan Anne, dan memilih untuk menundukkan pandangannya. Dia tahu pasti Arshaka yang memberitahu Anne Januar—tidak, Earlyta tidak marah—tapi, dia hanya tidak tahu kalau akan sesungkan ini untuk menjawab jujur pada Anne.

“Benar, ya? Maaf, Earlyta, tapi Tante tidak memiliki maksud apapun dengan menanyakan ini pada kamu. Tante hanya ingin kamu tahu kalau Tante sungguh menyesal jika itu terjadi. Tante akan melakukan apapun agar kamu bisa tenang. Bagaimana?” Anne sudah mengetahui segala cerita Earlyta, dan dia selalu berusaha agar Earlyta tidak merasa sendiri, tapi sepertinya Earlyta masih saja membuat jarak di antara mereka.

“Iya, Tante. Benar.” Earlyta menghela napas. “Aku akan bercerai dengan Gio.”

Anne memilih untuk mendekap Earlyta. “Astaga, Tante turut bersedih mendengarnya, ya. Apa kamu butuh bantuan Tante? Tante bisa mengenalkan kamu dengan mediator pernikahan atau mungkin seorang pengacara.”

Earlyta sadar kalau dirinya cukup beruntung karena sudah dikelilingi oleh orang-orang yang sangat baik padanya dan begitu peduli padanya juga. Namun sayangnya, dia memilih untuk tidak selalu mengandalkan mereka. “Aku akan memberitahu Tante nanti. Terima kasih, Tante.” Earlyta sedari tadi hanya tersenyum saja. Mencoba memperlihatkan pada Anne bahwa dia baik-baik saja, walaupun tindakannya itu malah membuat dirinya semakin terlihat sedang menutupi sesuatu.

“Apa … kamu terluka begini karena dia juga?”

Earlyta kembali menundukkan kepalanya. “Terima kasih sudah peduli, Tante.” Dan Anne tahu, kalau dia tidak segera mengambil tindakan tegas pada suami Earlyta, mungkin Earlyta akan menjadi seperti dirinya di masa lalu.

***

“Jadi, di mana Earlyta?”

Arshaka setengah mati menahan dirinya untuk tidak menghajar pria di hadapannya ini. Siapa lagi kalau bukan Gio Jevarno, pria biadab yang sudah membuat sahabatnya menderita. Ketika Anne, ibunya, menggantikannya untuk menjaga Earlyta di rumah sakit, Arshaka memanfaatkan waktu itu untuk pergi ke apartemen Earlyta dan mengumpulkan bukti-bukti yang bisa membantu sahabatnya itu di pengadilan nanti.

Arshaka akan berjuang demi Earlyta.

Namun, tidak ia sangka bahwa kedatangannya bertepatan dengan Gio yang juga sedang mencari keberadaan wanita itu.

“Aku tidak tahu. Aku sudah mengatakannya pada kamu tadi, bukan?” Arshaka memasukkan ponselnya ke saku jasnya dan bersikap biasa saja—tidak ingin menunjukkan bahwa dia sedang menyusun rencana.

“Kamu sahabatnya, Kak Arshaka. Bagaimana mungkin kamu tidak tahu?” Gio tersenyum kecil. “Apa dia memberitahu sesuatu pada kamu?” Gio memincingkan matanya. Bisa gawat jika Arshaka tahu apa yang terjadi, pikirnya.

Arshaka menggeleng. “Tidak. Kenapa? Kamu melakukan sesuatu? Aku khawatir sejak melihat apartemen ini berantakan.”

Gio menengguk ludahnya gugup. “Tidak ada.”

“Kamu gugup, Gio. Ada apa?” Arshaka melangkahkan kakinya mendekat dan kini berdiri tepat di hadapan Gio. “Kamu tahu kalau aku akan membunuh kamu jika Earlyta kenapa-napa.” Walaupun pada kenyataannya aku sudah ingin membunuh kamu sejak dulu.

“Sure. Kamu bisa melakukannya, Kak. Sebagai bentuk balas dendam kamu juga karena yang pada akhirnya memiliki Lyta adalah aku, bukan?” Gio tersenyum miring sebelum akhirnya meninggalkan Arshaka dengan kegamangan yang nyata.

***

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Adhiti
9.6
Kehidupan tenang Adhiti terusik saat takdir mempertemukannya dengan seorang pria misterius yang menyimpan dendam mendalam. Tanpa disadari, pria penuh luka tersebut memegang kunci atas tragedi masa lalu yang selama ini disembunyikan rapat oleh ayah Adhiti. Ketika misteri kelam ini mulai terkuak, hubungan asmara yang baru terjalin di antara mereka langsung didera cobaan berat. Adhiti kini harus memikul konsekuensi dari rahasia kelam yang sebenarnya bukan kesalahannya.
Sampul Novel Bos, Jangan! Nanti Ketahuan
9.6
Hidup Selena sebagai ibu rumah tangga berubah total setelah Haris, bos suaminya, terpesona oleh penampilannya yang sederhana saat berkunjung. Haris menawarkan posisi sekretaris pribadi yang menjadi jalan keluar Selena dari kekangan rumah tangga. Namun, pekerjaan ini justru menyeretnya ke dalam perselingkuhan panas. Demi ambisi naik jabatan, sang suami memilih mengabaikan pengkhianatan tersebut. Kini, mereka semua terjebak dalam pusaran gairah dan tuntutan moral yang mengancam pernikahan mereka.
Sampul Novel BUKAN SUAMI RAHASIA
8.1
Dua tahun Ava dan Jay terjebak pernikahan paksa. Saat Jay asyik berselingkuh, Ava membalasnya lewat hubungan rahasia bersama pria kaya terpandang. Walau sama-sama ingin berpisah, perceraian mustahil dilakukan. Akhirnya, Jay mengizinkan Ava menjalin kasih dengan lelaki lain demi menjaga status mereka. Namun, mampukah rahasia besar ini terus tersimpan rapat? Akankah sandiwara pernikahan mereka bertahan selamanya tanpa pernah terbongkar?
Sampul Novel Bukan Wanita Kedua
8.2
Dulu dibutakan cinta, Aulia kini hancur karena pengkhianatan Dimas yang diam-diam menikah lagi. Tak hanya itu, ia didepak dan dihapus dari keluarga suaminya. Bertekad bangkit dari kepedihan, Aulia menemui Rina demi mencari pekerjaan baru. Ia lalu bekerja pada Sagas untuk membalas budi masa lalu. Meski hatinya sering goyah, dukungan para sahabat menguatkan Aulia agar tidak goyah kembali pada Dimas yang kejam. Sanggupkah ia tegar?
Sampul Novel Dendam Istri Muda
8.7
Duka Lita atas wafatnya sang anak kian perih saat tahu pelakunya adalah Jenni, pengasuh yang dahulu ia bantu. Liciknya, Jenni memanfaatkan momen ini untuk memikat Khalid hingga sukses menjadi istri muda. Di balik aksi itu, tersimpan dendam lama yang ingin Jenni tuntaskan. Kini, di tengah kehancuran rumah tangganya setelah sepuluh tahun bersama, Lita harus melawan musuh dalam selimut. Sanggupkah pernikahan Lita dan Khalid bertahan dari badai pengkhianatan ini?
Sampul Novel Dendam Putri Liar Sang CEO
9.3
Dikhianati sang ayah yang menjualnya pada CEO dingin, Fahreza Murni, wanita ini mengira telah menemukan cinta sejati. Namun, Fahreza justru memberikan pusaka ibunya kepada Elok, perempuan manipulatif yang menghina warisan itu. Setelah dipaksa masuk rehabilitasi, kasih sayang kini berubah jadi benci. Saat Fahreza datang memohon ampunan, ia menerima pria itu kembali demi satu tujuan: menghancurkan Murni Group dari dalam sebagai pembalasan dendamnya.