APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel THE FLORETTA

THE FLORETTA

Kehidupan Floretta Wedsey hancur akibat tragedi kelam yang membuatnya membenci sang ayah dan mengasingkan diri ke luar negeri. Di tengah keputusasaan, putri dari keluarga terpandang ini dipertemukan dengan Almero Manuelson Gredragh. Hubungan mereka diuji saat rahasia masa lalu terungkap bahwa Almero adalah anak dari musuh masa lalu ayah Floretta. Meski Almero berjuang demi cinta mereka, sanggupkah Floretta menerima kenyataan pahit tersebut?
Bab
Bagikan

Bab 1

Floretta sayang,” panggil seorang pria yang usianya setengah baya.

“Ya Dad, ada apa?”

Floretta bertanya sambil terus melangkahkan kakinya ke arah sang ayah yang tadi memanggilnya. Di sebelah tangan Floretta, terdapat camilan kesukaannya.

“Kemari, Daddy ingin bicara.”

Floretta mendudukan tubuhnya di sofa sebelah ayahnya. Kemudian dia menaruh camilan di atas meja.

“Ada apa Dad?”

“Ayo kita ke makam mommy,” ajak Reagan Wedsey yang merupakan ayah kandung Floretta.

Floretta mengangguk dengan semangat. “Ayo Dad, sebentar ya aku akan siap-siap dulu.”

Setelah mendapat anggukan dari sang ayah, Floretta segera berlari menuju tangga dengan semangat yang membara.

“Hati-hati Sayang,” teriak Reagan karena takut putrinya tersandung anak tangga.

Reagan menggeleng melihat kelakuan putri semata wayangnya. Dia mengambil camilan yang dibawa oleh Floretta dan memakannya.

“Emily, tunggu sebentar ya, kami akan datang ke sana,” gumamanya dengan pandangan kosong.

***

“Oke, sudah sampai,” ujar Reagan setelah memarkirkan mobil kesayangan istrinya di parkiran pemakaman elit.

Floretta melihat sekitar. Ada beberapa mobil yang terparkir di sini, tapi tidak ada orang satupun.

Pandangan Floretta terhenti pada ayahnya yang sedang tersenyum sembari mengusap sesuatu di dalam dompetnya.

Floretta memicingkan matanya untuk mengisi rasa penasaran pada apa yang membuat sang ayah tersenyum sembari mengusap-usap sesuatu.

Floretta terdiam kala melihat benda yang diusap oleh sang ayah. Itu adalah foto terakhir sebelum ibunya pergi ke tempat yang indah. Foto itu diambil saat keluarga kecil mereka bermain ke pantai dan Floretta masih berusia 10 tahun.

Floretta mengalihkan pandangannya agar bulir-bulir halus tidak menetes. Dia tidak ingin memperlihatkan air mata saat akan mengunjungi ibunya.

“Dad, ayo. Mommy pasti sudah menunggu,” ajak Floretta agar sang ayah tidak terlarut dalam kenangan masa lalu.

“Ah ya, ayo.”

Reagan seperti orang gelagapan. Setelah putrinya mengajak untuk segera masuk, dia langsung memasukkan foto itu ke dalam dompet dan keluar dari mobil bersamaan dengan Floretta.

Keduanya berjalan beriringan di jalan yang lumayan besar dan diapit oleh deretan makam.

Floretta menghela napas lega saat melihat beberap orang sedang berziarah. Jujur, dia lumayan takut saat berjalan menuju makam ibunya. Tapi setelah berziarah, dia merasa lebih lega dan tiba-tiba saja rasa takut itu hilang.

Floretta tersenyum dan duduk di tanah. Dia mengusap-usap batu nisan dengan sayang.

“Mom, Flo datang. Maaf ya Mom, Flo akhir-akhir ini jarang mengunjungi Mommy. Tapi Flo janji, Flo akan rajin mengunjungi Mommy dan curhat ke Mommy. Mommy yang tenang ya di sana. Tunggu Flo dan daddy ya. Supaya kita bisa bersama lagi.”

Floretta mengusap bulir bening yang meluncur bebas. Dia menoleh pada ayahnya yang sedang mengusap-usap nisan sambil menatap gundukan tanah yang telah ditutupi rumput.

Reagan menebarkan bunga di atas makam istrinya. Begitupula dengan Floretta. Setelah menebar bunga, Floretta menyiraminya dengan air wewangian.

Floretta menatap ke langit. Tidak ada lagi awan mendung yang menghias langit. Kini langit sedang menunjukkan keceriaannya.

“Flo sudah?”

Floretta mengangguk.

“Ayo pulang,” ajak Reagan setelah melihat ke pergelangan tangannya.

Floretta yang paham kalau ayahnya habis ini masih ada kegiatan pun memilih untuk mengiyakan. Padahal dia ingin berlama-lama di sini dan menceritakan apa yang sudah terjadi akhir-akhir ini pada ibunya.

“Ya, Dad.”

Floretta menatap makam ibunya dan berucap. “Mom, Flo pulang dulu ya. Nanti Flo datang ke sini lagi. Istirahat yang tenang ya Mom.”

“Sayang, aku pergi dulu ya. Lusa aku akan ke sini lagi. Sampai ketemu lusa, Sayang,” ujar Reagan sembari memberi kecupan di nisan sang istri.

Floretta pun memberikan kecupan pada nisan ibunya dan memeluknya sebentar.

“Goodbye Mom, aku pergi dulu,” ucapnya dengan pelan.

Reagan berdiri dan diikuti oleh Floretta. Keduanya kembali berjalan beriringan menuju pintu keluar.

Saat mereka hampir keluar dari gerbang tiba-tiba saja ada yang memanggil nama Reagan.

“Tuan Wedsey.”

Reagan tersenyum pada pemuda yang menyapanya.

“Selamat siang Tuan Wedsey dan Nona Floretta,” sapanya lagi.

“Siang,” balas Floretta setelah tahu kalau pria itu adalah orang yang lumayan dekat dengan ayahnya.

“Biar Saya tebak, pasti kalian habis mengunjungi makam nyonya Emily,” tebak pria itu sebagai basa-basi.

Sebenarnya itu bukan basa-basi, memang orangnya seperti itu.

“Ya, apakah kau juga ingin mengunjungi makam istrimu?”

“Tentu Tuan Wedsey, sudah sebulan Saya tidak mengunjunginya.”

Reagan manggut-manggut.

“Kalau begitu Saya ke sana dulu ya Tuan, Nona. Semoga harimu baik dan selalu dalam lindungan Tuhan,” ucap pria itu.

Reagan mengangguk dan mengucapkan hal yang sama pada pria itu.

Reagan dan Floretta kembali melanjutkan langkahnya yang terhenti.

“Dad, apakah Daddy sibuk?” tanya Floretta setelah mobil yang dikendarai Reagan keluar dari area pemakaman.

Reagan menoleh pada sang putri. “Ada apa hm?”

Bukannya menjawab, Reagan malah balik bertanya.

Reagan sengaja seperti itu karena ingin tahu apa yang diinginkan oleh putrinya. Kalau dia sanggup memenuhinya, maka urusannya akan dia kesampingkan dan mengutamakan putri semata wayangnya.

Floretta menggeleng. “Tidak, aku hanya bertanya saja, Dad.”

Reagan tahu kalau Floretta sedang berbohong padanya. Dia pun tahu kalau Floretta ingin mengajaknya ke suatu tempat.

“Katakan saja, Sayang. Kalau memungkinkan Daddy akan meluangkan waktu Daddy untukmu.”

“Aku ingin makan siang dengan Daddy,” ungkap Floretta tanpa menatap ayahnya.

Reagan terkekeh. “Baiklah. Kita akan makan bersama siang ini. Apakah kamu punya rekomendasi restoran, Flo?”

“Ada! Aku yakin Daddy pasti menyukai makanannya. Oiya, lagipula restorannya tidak terlalu jauh dari kantor Daddy,” ucap Floretta dengan semangat.

Reagan melirik putrinya. Dia mengangkat kedua sudut bibirnya. Lagi-lagi sikap dan perilaku Floretta mengingatkannya pada Emily, mendiang istrinya.

“Sudah cukup lama Emily pergi, tapi rasanya aku belum benar-benar bisa mengikhlaskan kepergiannya,” batin Reagan.

Setiap hari, ada saja sikap Floretta yang sangat mirip dengan Emily. Hal itu menjadi salah satu penyebab dia merindukan kehadiran istrinya. Mau menampik tapi tidak bisa. Wajah Floretta adalah versi wajah Emily saat muda.

“Dad, alamatnya ada di jalan Emerlad 3A,” ucap Floretta membuat Reagan tersadar.

“Oke, kita dalam perjalanan.”

***

Floretta menaruh tisu yang sudah terpakai. Dia menatap sang ayah yang sedang menikmati minumannya.

“Bagaimana Dad? Tidak salah ‘kan pilihanku,” ucap Floretta memuji dirinya sendiri.

Reagan terkekeh. “Ya, ya, pilihanmu tidak pernah salah, Flo.”

Floretta semakin tersenyum bangga saat ayahnya mengiyakan ucapannya tadi.

“Habis ini Daddy ada rapat?”

Reagan mengangguk. “Daddy ada rapat dengan perusahaan Giolevs dan rapat internal saja. Ada apa Flo? Ada sesuatu yang kamu inginkan hm?”

Floretta menggeleng. “Tidak Dad. Apa Daddy tidak lelah menjalani semuanya di usia Daddy yang sekarang?”

“Kamu pikir Daddy sudah tua, hah?” tanya balik Reagan sembari menaikkan sebelah alisnya.

“Menurutku ya. Ayahnya Bruno sudah mengambil pensiun, Dad.”

“Oh, pantas saja pertemuan dua hari lalu yang datang hanya Bruno,” gumam Reagan yang masih bisa di dengar oleh Floretta.

Floretta menaikkan kedua alisnya. Dia sedikit tidak percaya pada apa yang diucapkan oleh ayahnya. Bagaimana bisa seorang Bruno yang dulu kerjaannya hanya bermalas-malasan memimpin sebuah perusahaan?

Bukannya Floretta meragukan kemampuan Bruno. Hanya saja hal ini sedikit sulit untuk dicerna.

“Mungkin hanya pensiun seminggu,” celetuk Reagan.

Floretta mengangguk setuju. “Bisa jadi. Mungkin juga ayahnya Bruno sedang berlibur ke luar negeri.”

“Dad, aku ingin ke kantor,” ucap Floretta.

Reagan menatap tidak percaya pada sang putri. Biasanya putrinya sangat anti dengan yang namanya urusan kantor. Tapi dibalik rasa kagetnya, dia merasa senang, akhirnya Floretta ingin datang ke kantor.

“K-kamu yakin Flo?” tanyanya terbata karena saking kagetnya.

Floretta mengangguk mantap. “Ya Dad, sudah lama aku tidak ke kantor. Rasanya aku merindukan suasana kantor,” terang Floretta.

Reagan mengangguk. “Oke, setelah ini Daddy akan ke kantor dan kamu ikut bersama Daddy. Perlu membeli sesuatu?”

Floretta menggeleng. Ayahnya masih saja sama seperti dulu.

“Tidak perlu Dad. Kalau nanti saat di kantor tiba-tiba aku pengen makan sesuatu, aku akan membelinya.”

Reagan mengangguk. Dia melirik pada jam yang ada di layar ponselnya.

“Ayo ke kantor sekarang, rapatnya akan dimulai 15 menit lagi.”

***

Floretta menatap sekeliling. Saat ini dia berada di dalam ruangan ayahnya. Sedangkan sang ayah langsung pergi ke ruang rapat setelah tiba di gedung ini.

“Masih sama,” gumam Floretta sembari terus menatap sekeliling.

Furniture, warna cat dinding, dan sofa masih sama seperti terkahir kali Floretta datang kemari. Sekitar dua tahun yang lalu.

Pandangan perempuan bermanik coklat terang itu tertuju pada figura besar yang berada di sebelah kanan tubuhnya.

Tanpa sadar kedua sudut bibirnya tertarik ke atas.

Figura itu masih ada di sana. Foto keluarga yang diambil 11 tahun lalu, masih menempel kokoh di situ.

“11 tahun lalu atau 12 tahun yang lalu ya. Astaga aku melupakannya,” gumam Floretta sembari mengingat-ingat kapan foto itu diambil.

Floretta melangkah menuju meja kerja sang ayah dengan kursi kebesarannya yang gagah dan elegan.

Lagi dan lagi, pandangan Floretta terkunci. Pandangannya terkunci pada tiga figura kecil yang ada di atas meja.

Foto keluarga, foto pernikahan orangtuanya, dan kolase foto saat dirinya digendong ayah dan ibunya.

‘My lovely daughter right now and forever’

Floretta terharu dengan tulisan singkat itu.

“Daddy,” rengeknya sambil mengusap sudut mata yang berair.

Reagan adalah tipe pria yang sangat menyayangi keluarganya. Meskipun masa kecilnya yang didik keras oleh sang ayah tidak membuatnya untuk melakukan hal demikian dalam pola didik. Dia ingin sang anak merasakan kehangatan keluarga yang sebenarnya tanpa ada paksaan, kekerasan, dan jarak diantara dirinya dan sang anak.

Floretta mengeluarkan ponselnya dari dalam tas dan memotret ketiga figura yang saling berdekatan itu. Dia meninggalkan area meja dan kursi kebesaran sang ayah.

Langkah kakinya membawa Floretta pada sofa di ruangan itu. Dia menjatuhkan tubuhnya di atas sofa yang sangat nyaman itu.

Floretta memainkan ponselnya untuk mengusir rasa ngantuk yang tiba-tiba saja datang agar saat ayahnya masuk ke ruangan ini tidak melihat dirinya tertidur pulas di sofa.

Setelah hampir dua jam lamanya dia bermain ponsel, Floretta ingin pergi keluar untuk melihat-lihat apa saja yang menarik di sekitar kantor ayahnya.

Tanpa banyak pertimbangan, dia langsung pergi keluar ruangan ayahnya dengan hanya membawa ponsel saja.

Terik matahari yang lumayan menyengat langsung menyapa kulit Floretta. Floretta berada di trotoar yang hanya berjarak belasan meter dari gedung kantor ayahnya.

Kendaraan roda empat berlalu lalang di sebelahnya. Suara klakson mobil pun tidak bisa dihindari karena siang ini jalanan yang padat kendaraan. Lokasi gedung kantor ayahnya berada di area khusus bisnis, yang mana area ini akan selalu sibuk dan orang-orang akan saling mengejar waktu.

Floretta terus melangkah sampai ke perempatan jalan. Dia bergabung dengan beberapa pejalan kaki yang sedang menunggu lampu hijau untuk pejalan kaki.

Lampu hijau khusus pejalan kaki menyala. Kini gantian mereka yang memakai jalan setelah kendaraan-kendaraan itu.

Floretta melangkah menuju taman kecil yang ada di area ini. Langkahnya tiba-tiba saja terhenti saat dia menangkap tubuh seseorang yang sangat dia kenali.

Merasa sedang ditatap, seseorang yang dilihat oleh Floretta menatap balik pada sang empu.

“Bukankah itu Flo,” gumamnya.

Seseorang itu mengerutkan kening dan melangkah menuju Floretta.

“Oh astaga, kenapa aku harus bertemu dengannya! Merusak hariku saja!” batin Floretta dengan kesal.

Pasalnya saat ini dia hanya ingin menikmati siang yang cerah dengan hembusan angin sejuk ini dengan tenang. Tanpa ada gangguan dari luar. Termasuk seseorang yang sedang melangkah menuju dirinya. Dia salah satu dari perusak suasana hati seorang Floretta.

Angin sejuk membuat rambut brunette seseorang itu menari yang membuatnya terlihat sangat cantik. Tapi tidak dengan Floretta yang rasa kesal masih saja menyelimutinya setelah beberapa tahun.

Tanpa disadari seseorang itu sudah ada di depannya dan menyapa Floretta dengan ramah.

“Halo Floretta, apa kabar? Lama tidak melihatmu,” sapa wanita itu dengan senyuman.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Can You See Me?
8.6
Di balik statusnya sebagai siswi populer yang selalu ceria di SMA Grand Nusa, Rallin Natasha menyimpan kepedihan mendalam. Ia harus menanggung kebencian keluarganya atas kesalahan yang tidak pernah ia lakukan. Beban hidupnya kian berat karena kehilangan sosok yang sangat berharga serta perjuangan cintanya yang bertepuk sebelah tangan. Di tengah penderitaan batin yang ia sembunyikan rapat-rapat dari dunia luar, Rallin merasa sangat lelah dan mulai berharap bisa segera pulang ke pelukan Tuhan.
Sampul Novel Canda Cinta Kirana
8.2
Hidup teratur Kirana hancur seketika saat Zayn menyebut wanita lain sebagai belahan jiwanya di hari pernikahan mereka. Kisah ini membawa kita kembali ke masa sekolah, momen di mana Kirana yang pintar bertemu Zayn, si penerima beasiswa usil dengan luka batin mendalam. Di tengah canda dan rahasia, dua dunia mereka saling bertaut. Ketika perpisahan datang, mampukah kepercayaan kembali tumbuh, ataukah perbedaan besar akan memisahkan mereka selamanya dalam duka?
Sampul Novel Harga Diri Seorang Suami
9.0
Kehilangan jabatan kepala pengawas pabrik membuat hidup Gunawan runtuh. Nasibnya kian tragis saat sang istri tega menggugat cerai dan mengusirnya begitu saja. Meski terpuruk dan harga dirinya diinjak-injak, Gunawan menolak menyerah pada kenyataan pahit ini. Ia bertekad bangkit dari kehancuran untuk membuktikan kekuatan sejatinya, sekaligus membalaskan dendam kepada setiap orang yang dahulu pernah meremehkan dan merendahkannya.
Sampul Novel Hati Seorang Perempuan
9.3
Senjahari Semesta Alam dengan ikhlas merelakan dirinya diceraikan oleh suaminya sendiri demi menikahi Mega Mentari--anak perempuan pemilik perusahaan yang mengaku dihamili oleh suaminya sendiri, Abimanyu Wicaksana. Sementara itu Halilintar Sabda Alam-- kakak sulung Mega Mentari. Pemilik beberapa perusahaan properti raksasa negeri ini, jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Senja, yang diperkenalkan oleh mertuanya sebagai adik bungsu Abimanyu. Abimanyu yang merasa dijebak sebagai kambing hitam dalam masalah hamilnya Tari, terus berusaha mencari kebenaran yang sesungguhnya agar bisa meraih kembali hati Senja. Sementara Sabda yang awalnya jatuh cinta pada Senja, menjadi salah faham saat secara tidak sengaja memergoki Abimanyu memesrai Senja bukan seperti seorang kakak terhadap adiknya, melainkan seperti seorang laki-laki yang tengah mabuk asmara. Sabda yang gelap mata malah akhirnya menjebak Senja dan menanamkan benihnya dirahim Senja. "Saya mohon, jangan memperlakukan Saya seperti ini. Saya punya salah apa pada Bapak? Laki-laki sejati tidak akan menggunakan kekuatannya untuk memaksakan dirinya terhadap seorang perempuan. Saya mohon jangan mengotori saya. Demi Allah saya bersumpah, saya tidak seperti apa yang ada dalam pemikiran, Bapak." (Senjahari Semesta Alam) "Salah kamu adalah, karena kamu telah menjadi duri dalam daging dalam rumah tangga adik saya! Kamu fikir saya tidak tahu akan hubungan terlarang kamu dengan Abimanyu? Kalian berdua itu incest, dan itu amat sangat menjijikkan! Kita lihat saja, setelah ini kamu masih bisa memandang dunia dengan kepala tegak, atau kamu akan melata seperti ular di kaki Saya!" (Halilintar Sabda Alam)
Sampul Novel Ketika Suamiku Tak Mencintaiku Lagi
8.2
Pasca kecelakaan tragis yang membutakannya selama empat tahun, Bella akhirnya menjalani operasi pembukaan perban mata. Di usianya yang menginjak dua puluh tujuh tahun, ia sangat mendambakan untuk kembali melihat dunia, terutama wajah Galas, sang suami tercinta. Namun, kebahagiaan Bella langsung sirna dan berganti menjadi kebingungan yang mendalam. Tepat ketika penglihatannya telah kembali pulih, sosok suaminya justru lenyap secara misterius tanpa jejak.
Sampul Novel Kisah Cnta Pembantu Sexy
7.8
Kehidupan Alfarezi yang religius dan berpegang teguh pada prinsip mendadak terusik. Semua berubah sejak kehadiran Aruna, seorang model majalah dewasa berpenampilan seksi, yang kini bekerja sebagai asisten rumah tangganya. Perbedaan kepribadian yang kontras tidak menghalangi munculnya getaran asmara di hati Alfarezi setiap kali mereka berdekatan. Akankah keteguhan iman Alfarezi runtuh oleh godaan sang asisten, atau justru pesonanya yang akan membawa perubahan bagi Aruna?