APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel THE FLORETTA

THE FLORETTA

Kehidupan Floretta Wedsey hancur akibat tragedi kelam yang membuatnya membenci sang ayah dan mengasingkan diri ke luar negeri. Di tengah keputusasaan, putri dari keluarga terpandang ini dipertemukan dengan Almero Manuelson Gredragh. Hubungan mereka diuji saat rahasia masa lalu terungkap bahwa Almero adalah anak dari musuh masa lalu ayah Floretta. Meski Almero berjuang demi cinta mereka, sanggupkah Floretta menerima kenyataan pahit tersebut?
Bab
Bagikan

Bab 2

Floretta memasang wajah datar untuk membalas sapaan hangat dari perempuan itu.

“Tidak usah sok baik padaku,” desis Floretta masih dengan wajah datarnya.

Perempuan itu memasang wajah kaget dan merespon desisan Floretta dengan lebay menurup Floretta.

“Ya ampun, ternyata seorang Floretta Wedsey pendendam ya,” ucapnya.

Floretta memutar bola mata malas. Dia bersedekap dada sembari menatap malas pada lawan bicaranya.

“Ada hal yang perlu kau sampaikan lagi? Kalau tidak aku akan pergi,” ujar Floretta.

Floretta ingin secepatnya pergi dari sini. Dia sangat malas meladeni perempuan seperti lawan bicaranya itu. Terlalu banyak drama!

“Apa kau sesibuk itu Flo? Tap—ups aku baru ingat kalau kau pengangguran. Pasti kau memiliki banyak waktu luang kan?”

Floretta tidak merespon satupun ocehan lawan bicaranya. Dia membiarkan lawan bicaranya puas dengan ocehannya.

“Dasar anak daddy. Sampai usia sekarang pun tidak ingin bekerja. Cih, pemalas, manja, anak durhaka.” lanjut perempuan itu.

Floretta menatap tajam pada lawan bicaranya. Terlihat wajah senang dari sang lawan bicara saat emosinya mulai naik.

“Sabar Flo. Kalau kau tidak bisa menahan emosi maka dia akan semkain senang,” batin Floretta.

“Flo yang sekarang masih sama seperti Flo yang dulu ya,” celetuk perempuan itu agar emosi Floretta semakin naik.

Floretta tetap diam dan kembali menatap datar pada lawan bicaranya.

“Oh ya, apa kau tahu kabar Matthew?”

Matthew. Nama itu kembali terlintas dalam pikirannya. Matthew adalah mantan kekasihnya yang direbut oleh mantan sahabatnya. Sahabat makan sahabat.

Floretta menaikkan sebelah alisnya. “Percuma kau menjelaskan tentang Matthew, karena aku tidak akan mendengarnya.”

“Oh ya? Tapi maaf nona Wedsey aku tidak akan percaya pada ucapanmu. Pasti saat di rumah nanti, kau akan menangis meraung-raung ketika mengingat Matthew dan aku. Iya kan?”

Floretta menghela napas. Dia harus segera pergi dari sini. Bukan untuk menghindari topik pembicaraan itu. Melainkan ingin segera tiba ke taman dan melihat anak-anak kecil yang sedang bermain di sana, dengan catatan kalau ada.

“Buat apa aku membuang-buang waktu untuk menangisi kalian yang sangat tidak penting, lagipula aku tidak akan membuang waktuku untuk menangisi sebutir debu yang tidak bermanfaat,” balas Floretta kemudian berjalan meninggalkan perempuan itu.

Perempuan itu menganga dengan balasan Floretta. Pandangannya terus tertuju pada tubuh Floretta yang semakin menjauh.

“Lihat saja, akan aku balas. Aku tidak akan membiarkanmu bahagia sedetikpun, Floretta Wedsey,” ucap perempuan itu dengan kilatan dendam.

“Floretta Wedsey, kau terlalu meremehkan Denaya. Matthew mantan kekasihmu saja bisa aku rebut, apalagi kebahagiaan yang sekarang sedang kau rasakan.”

***

Floretta menutup kedua matanya untuk menikmati semilir angin yang menyejukkan jiwa. Suara daun jatuh terdengar samar. Suara anak kecil yang tengah bermain pun juga terdengar, meski tidak terlalu jelas.

Floretta membuka kedua mata. Kembali melihat suasana fresh karena banyaknya pohon, rumput, dan tanaman yang dominan berwarna hijau.

Suasana siang ini lumayan sepi. Hanya ada beberapa anak-anak yang sedang bermain dan beberap orang yang sedang menikmati suasana di taman ini.

“Kenapa aku harus bertemu Denaya lagi?” gumamnya dengan pandangan lurus.

Helaan napas keluar dari mulutnya. “Denaya dan Matthew. Lagi-lagi mereka harus masuk lagi ke dalam list orang yang harus aku hindari.”

Dulu Floretta dan Denaya bersahabat. Keduanya bagaikan bunga dan lebah yang tidak bisa terpisahkan. Bahkan usia persahabatan keduanya memasuki yahun keempat.

Persahabatan keduanya terjalin sangat baik, sampai datang seorang pria bernama Matthew. Matthew adalah kekasih Floretta. Karena Floretta memiliki kekasih, Denaya merasa iri karena sahabatnya selalu mendapatkan apapun yang diinginkan. Mendapatkan kasih sayang seorang ayah, keluarga yang hangat, memiliki kekasih yang menyayanginya, dan apa yang diinginkannya langsung dibelikan oleh sang ayah.

Denaya tidak pernah merasakan hal itu. Karena dia saja tidak tahu dimana ayahnya. Setiap kali dia bertanya pada ibunya, ibunya selalu diam dan selalu mengalihkan topik pembicaraan. Selain itu juga, dia selalu gagal dalam hal percintaan. Setiap kali dia menyukai murid laki-laki, pasti bertepuk sebelah tangan. Tetapi jika Floretta, semua murid laki-laki langsung memujinya dan menyukainya.

Denaya ingin mencari ayahnya, tapi tidak bisa. Harapan satu-satunya hanya nama keluarganya yang ada di nama belakangnya. Tapi sayang, nama belakangnya adalah nama keluarga ibunya. Denaya Agustien.

Denaya mulai mendekati Matthew dan merebut hatinya. Hingga akhirnya keduanya menjalani hubungan diam-diam dibelakang Floretta. Entah kenapa saat itu Matthew mau bersamanya.

“Hallo Matthew, ini aku Denaya.”

“…”

“Bisakah sore ini kita bertemu? Ada hal yang ingin aku sampaikan.”

“…”

“Hanya ngobrol-ngobrol saja.”

“…”

“Ya, tidak sampai malam. Aku tahu kesibukanmu, Math.”

“…”

“Oke, aku tunggu di kafe Glosery jam 4 sore. See you, Math.”

“…”

Bip

Denaya tersenyum smirk.

“Floretta Wedesy, tunggu pembalasanku.”

***

“Semoga kerjasama kita berjalan dengan baik,” ucap rekan kerja Reagan sembari menjabat tangan pemilik kantor ini.

Reagan mengangguk dengan senyum menawannya. “Saya pun berharap demikian.”

“Tuan Wedesy, apakah setelah ini Anda sibuk?”

Reagan terdiam sejenak. Kalau ditanya sibuk, dia pasti sibuk. Apalagi ada putrinya yang sedang menunggu di ruangannya. Sudah 3,5 jam dia meninggalkan putrinya di dalam sana.

Ya, Reagan belum tahu kalau Floretta tidak ada di ruangannya. Kalau Reagan tahu putrinya tidak ada di sana, maka senam jantung akan menemaninya.

“Kalau boleh tahu ada apa, Tuan Raghfo?” tanya balik Reagan ingin memastikan sesuatu.

“Ada hal yang ingin Saya bicarakan. Ya sedikit berhubungan dengan urusan kerjasama kali ini. Apakah Tuan Wedsey bisa datang?”

“Ini tidak bersifat formal, Tuan. Karena rencana Saya ingin membahas ini di luar kantor,” sambung tuan Raghfo.

Reagan berpikir sejenak. Tidak ada salahnya dia mengiyakan karena semakin cepat mereka membahas, semakin cepat pula projek itu dimulai.

Reagan mengangguk. “Bisa, Tuan Raghfo."

“Apakah bisa sekarang?”

Reagan hanya mengangguk.

“Baik, alamatnya akan dikirim oleh sekretaris Saya ke sekretaris anda. Sampai bertemu di sana, Tuan Wedsey,” ucap tuan Raghfo sembari menjabat tangan Reagan.

Reagan melanjutkan langkahnya setelah tuan Raghfo berjalan menuju lift khusus tamu kantor. Reagan hanya perlu menaiki lift dua lantai ke atas untuk tiba di lantai ruangannya. Lift yang digunakannya pun beda dengan lift yang digunakan oleh karyawan dan lift khusus tamu kantor.

Reagan hendak menekan handle pintu ruangannya, tapi getaran dari dalam kantong celananya membuatnya mengurungkan niat untuk menekan handle pintu itu.

“Ya, baik-baik, Saya akan segera ke sana. Ini Saya sedang dalam perjalanan.”

Reagan segera melangkah lebar menuju lift yang akan membawanya ke lantai dasar. Ada urusan mendadak yang sang penting hingga dia mengurungkan niatnya untuk mengecek keadaan sang putri. Yang ada dipikirannya saat ini adalah Floretta sedang tertidur pulas di runagan pribadinya yang terdapat kasur.

***

Hoam

Floretta menutup mulutnya yang refleks menguap. Dia menatap sekitar dengan linglung. Tubuhnya terasa pegal-pegal karena ketiduran dengan posisi duduk.

Floretta melihat smart watch untuk melihat jam berapa sekarang. Jam 4.50 sore.

Floretta melotot saat melihat angkat yang tertera di layar smart watch-nya.

“Astaga, aku ketiduran 2 jam. Aku harus cepat-cepat kembali ke kantor agar daddy tidak khawatir,” ucap Floretta.

Dengan cepat, dia meninggalkan bangku taman dan berjalan menuju kantor sang ayah. Waktu yang harus dia tempuh untuk mengikis jarak sekitar 5 menit.

Ingin memesan taksi online, tapi tidak memungkinkan. Karena jalanan yang padat membuat mobil taksi kesulitan untuk bergerak di tengah padatnya kendaraan. Pasti menunggu sopir taksi datang akan memakan waktu yang cukup lama. Lagipula berjalan 5 menit dan berdesakan dengan lautan manusia yang pulang bekerja, tidak masalah. Yang terpenting baginya adalah cepat sampai di kantor ayahnya.

Floretta menatap penuh keyakinan kalau dia bisa menerobos kerumunan orang yang ingin cepat-cepat pulang ke rumah.

Floretta menghela napas lega saat tiba di depan pintu lobby kantor ayahnya.

“Akhirnya sampai juga,” ucapnya dengan lega setelah tadi melewati banyak orang di trotoar untuk bisa sampai ke sini dengan cepat.

Saat hendak masuk, seseorang memanggil namanya dan dengan refleks dia menatap orang yang sudah memanggil namanya.

“Nona Wedsey ingin menemui tuan Wedsey?” tanya seorang satpam yang sering jaga saat malam.

“Ya tuan, ada apa?”

Sang satpam tersenyum malu-malu. “Ah jangan panggil Saya tuan, Saya ‘kan hanya seorang satpam dan nona adalah putri dari orang yang menggaji saja. Rasanya tidak pantas Nona memanggil Saya dengan embel-embel tuan.”

Floretta balas tersenyum setelah mendengar penjelasan dari sang satpam. “Tidak akan menjadi masalah, tuan. Kalau Saya memanggil tuan hanya dengan nama saja, itu artinya saya tidak memiliki sopan santun.”

“Tap-”

“Tidak perlu memperpanjang hal itu lagi, tuan. Oh iya, ada apa memanggil Saya?”

“Astaga, Saya sampai lupa mengatakannya.”

Floretta diam dan menunggu sang satpam mengatakan tujuan dari memanggil namanya.

“Apakah Nona ingin ke ruangan tuan Reagan?” Floretta mengangguk sebagai jawaban.

“Saya ingin memberitahu kalau tuan Reagan belum kembali ke kantor sejak tadi,” terang sang satpam karena tadi jam 3 siang, dia melihat sang bos keluar kantor dengan terburu-buru.

“Kira-kira daddy kemana ya,” gumam Floretta.

“Saya kurang tahu, sepertinya urusan pekerjaan, Nona,” sahut sang satpam yang mendengar gumaman Floretta.

Floretta mengangguk.

Floretta mengucapkan terima kasih pada sang satpam yang sudah mengatakan hal ini padanya. Kalau saja sang satpam tidak mengatakannya, maka dia akan kelelahan karena berjalan ke ruangan sang ayah.

“Nona, Saya pamit undur diri karena ada beberapa pekerjaan yang harus Saya lakukan,” ucao sang satpam.

“Baik, semangat Paman,” ujar Floretta dengan tersenyum.

Sang satpam mengangguk dan berjalan masuk ke dalan kantor.

Floretta membuka ponselnya dan ada chat dari sang ayah.

‘Flo sayang, daddy pergi keluar dulu ya karena ada sedikit masalah di lapangan’

Chat pertama dikirim sekitar jam 3.29

Sedangkan masih ada satu chat lagi yang dikirim 25 menit kemudian.

‘Flo, daddy belum bisa ke kantor karena langsung menemui pertemuan dengan rekan bisnis daddy, tidak apa ‘kan daddy tinggal lebih lama?’

Floretta mengetikkan balasan chat untuk sang ayah. Setelah chat itu terkirim, Floretta memesan taksi online. Beruntung jalanan di depan kantor ayahnya tidak sepadat jalanan yang ada di dekat perempatan

Sembari menunggu taksi online-nya tiba, Floretta ingin menghubungi ayahnya. Tapi dia mengurungkan niatnya karena takut mengganggu ayahnya. Apalagi tadi ayahnya mengatakan kalau ingin menemui rekan bisnis. Sudah pasti tidak bisa diganggu.

Floretta mendapat notifikasi live dari Denaya. Dia mendengus melihat notifikasi itu.

“Sial, aku lupa memblokir akunnya,” maki Floretta.

Saat ingin menghapus notifikasi itu, tanpa disengaja dia malah masuk ke dalam live Denaya.

Floretta mengerutkan keningnya saat melihat seorang pria yang ada di layar ponselnya. Pria itu adalah ….

“Math?” tebak Floretta dengan ragu.

Floretta mengamati lagi pria itu. Dia sedikit tidak yakin kalau pria itu adalah Matthew. Mungkin karena sedikit perubahan pada Matthew membuatnya ragu apakah itu benar Matthew atau orang lain yang mirip dengannya.

“Math.”

Floretta mengangguk. Ternyata benar. Pria itu adalah Matthew.

“Oh coba lihat, Floretta melihat kita.”

“Hai, Flo,” sapa Denaya disusul dengan emoticon melambai.

Floretta melotot. Astaga dia lupa kalau masih berada di live orang yang sangat dia hindari hanya karena ingin memastikan pria itu benar Matthew atau bukan.

Tanpa membalas sapaan Denaya, Floretta langsung keluar dari live wanita itu.

Tin

Suara klakson mobil membuat Floretta mendongak.

“Ah ternyata sudah sampai,” ucapnya kemudian menghampiri mobil yang merupakan taksi online.

Sang sopir membuka kaca jendela dna memastikan apakah benar dia yang memesan atau bukan.

“Dengan Nona Floretta?”

Floretta mengangguk. “Ya, itu Saya."

Sang sopir balas tersenyum dengan ramah.

“Silakan masuk Nona.”

Floretta mengangguk dan segera masuk ke dalam mobil.

Setelah Floretta duduk nyaman di bangku belakang, sang sopir kembali mengeluarkan suaranya.

“Alamat tujuan sesuai aplikasi ya Nona.”

Floretta mengiyakan.

Sang sopir taksi online segera melajukan mobilnya meninggalkan area kantor yang tidak bisa dipandang sebelah mata.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Can You See Me?
8.6
Di balik statusnya sebagai siswi populer yang selalu ceria di SMA Grand Nusa, Rallin Natasha menyimpan kepedihan mendalam. Ia harus menanggung kebencian keluarganya atas kesalahan yang tidak pernah ia lakukan. Beban hidupnya kian berat karena kehilangan sosok yang sangat berharga serta perjuangan cintanya yang bertepuk sebelah tangan. Di tengah penderitaan batin yang ia sembunyikan rapat-rapat dari dunia luar, Rallin merasa sangat lelah dan mulai berharap bisa segera pulang ke pelukan Tuhan.
Sampul Novel Canda Cinta Kirana
8.2
Hidup teratur Kirana hancur seketika saat Zayn menyebut wanita lain sebagai belahan jiwanya di hari pernikahan mereka. Kisah ini membawa kita kembali ke masa sekolah, momen di mana Kirana yang pintar bertemu Zayn, si penerima beasiswa usil dengan luka batin mendalam. Di tengah canda dan rahasia, dua dunia mereka saling bertaut. Ketika perpisahan datang, mampukah kepercayaan kembali tumbuh, ataukah perbedaan besar akan memisahkan mereka selamanya dalam duka?
Sampul Novel Harga Diri Seorang Suami
9.0
Kehilangan jabatan kepala pengawas pabrik membuat hidup Gunawan runtuh. Nasibnya kian tragis saat sang istri tega menggugat cerai dan mengusirnya begitu saja. Meski terpuruk dan harga dirinya diinjak-injak, Gunawan menolak menyerah pada kenyataan pahit ini. Ia bertekad bangkit dari kehancuran untuk membuktikan kekuatan sejatinya, sekaligus membalaskan dendam kepada setiap orang yang dahulu pernah meremehkan dan merendahkannya.
Sampul Novel Hati Seorang Perempuan
9.3
Senjahari Semesta Alam dengan ikhlas merelakan dirinya diceraikan oleh suaminya sendiri demi menikahi Mega Mentari--anak perempuan pemilik perusahaan yang mengaku dihamili oleh suaminya sendiri, Abimanyu Wicaksana. Sementara itu Halilintar Sabda Alam-- kakak sulung Mega Mentari. Pemilik beberapa perusahaan properti raksasa negeri ini, jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Senja, yang diperkenalkan oleh mertuanya sebagai adik bungsu Abimanyu. Abimanyu yang merasa dijebak sebagai kambing hitam dalam masalah hamilnya Tari, terus berusaha mencari kebenaran yang sesungguhnya agar bisa meraih kembali hati Senja. Sementara Sabda yang awalnya jatuh cinta pada Senja, menjadi salah faham saat secara tidak sengaja memergoki Abimanyu memesrai Senja bukan seperti seorang kakak terhadap adiknya, melainkan seperti seorang laki-laki yang tengah mabuk asmara. Sabda yang gelap mata malah akhirnya menjebak Senja dan menanamkan benihnya dirahim Senja. "Saya mohon, jangan memperlakukan Saya seperti ini. Saya punya salah apa pada Bapak? Laki-laki sejati tidak akan menggunakan kekuatannya untuk memaksakan dirinya terhadap seorang perempuan. Saya mohon jangan mengotori saya. Demi Allah saya bersumpah, saya tidak seperti apa yang ada dalam pemikiran, Bapak." (Senjahari Semesta Alam) "Salah kamu adalah, karena kamu telah menjadi duri dalam daging dalam rumah tangga adik saya! Kamu fikir saya tidak tahu akan hubungan terlarang kamu dengan Abimanyu? Kalian berdua itu incest, dan itu amat sangat menjijikkan! Kita lihat saja, setelah ini kamu masih bisa memandang dunia dengan kepala tegak, atau kamu akan melata seperti ular di kaki Saya!" (Halilintar Sabda Alam)
Sampul Novel Ketika Suamiku Tak Mencintaiku Lagi
8.2
Pasca kecelakaan tragis yang membutakannya selama empat tahun, Bella akhirnya menjalani operasi pembukaan perban mata. Di usianya yang menginjak dua puluh tujuh tahun, ia sangat mendambakan untuk kembali melihat dunia, terutama wajah Galas, sang suami tercinta. Namun, kebahagiaan Bella langsung sirna dan berganti menjadi kebingungan yang mendalam. Tepat ketika penglihatannya telah kembali pulih, sosok suaminya justru lenyap secara misterius tanpa jejak.
Sampul Novel Kisah Cnta Pembantu Sexy
7.8
Kehidupan Alfarezi yang religius dan berpegang teguh pada prinsip mendadak terusik. Semua berubah sejak kehadiran Aruna, seorang model majalah dewasa berpenampilan seksi, yang kini bekerja sebagai asisten rumah tangganya. Perbedaan kepribadian yang kontras tidak menghalangi munculnya getaran asmara di hati Alfarezi setiap kali mereka berdekatan. Akankah keteguhan iman Alfarezi runtuh oleh godaan sang asisten, atau justru pesonanya yang akan membawa perubahan bagi Aruna?