APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel TEROR KOS BU TEJO

TEROR KOS BU TEJO

Keputusan Rengganis menetap di sebuah kos di Pulau Jawa membawa petaka mengerikan bagi semua penghuninya. Setiap malam, ia didera teror gaib yang perlahan mengungkap misteri pembunuhan tragis di masa lalu. Demi bertahan hidup, Rengganis dan para penghuni kos lainnya bersatu untuk menguak rahasia kelam yang tersembunyi di sana. Mampukah mereka membongkar dalang di balik kekejaman ini, atau justru mereka yang akan menjadi korban berikutnya?
Bab
Bagikan

Bab 2

Matanya perlahan terbuka. Rasa sakit di kepala membuat Rengganis melenguh pelan. Meringis seraya memegang kepala, denyutan itu seolah menari-nari di dalam kepalanya.

"Aku kenapa ya? Kok kepalaku tiba-tiba nyut-nyutan gini?" Rengganis semakin bingung ketika pandangannya malah ikutan memburam.

Tangan gadis itu terulur meraih ponsel di atas nakas. Satu pesan masuk dari Riko. Sekelebat pertanyaan dilayangkan Riko kepada Rengganis mengapa ia terus-terusan menolak panggilannya.

Aneh.

Detik itu juga Rengganis menelepon balik si empu. Namun yang ada panggilannya sama sekali tak dijawab.

"Mana mungkin aku nolak panggilan dia, kalaupun dia nelpon, aku pasti jawab."

Rengganis turun dari ranjang, dengan langkah tergopoh-gopoh ia masuk ke dalam kamar mandi. Tampangnya sebelas dua belas seperti gembel, gadis itu mengernyit heran terhadap dirinya sendiri.

"Mukaku kok kayak orang sakit ya?," ganjilnya seraya memejam mata menetralisir rasa pusing.

Sejenak Rengganis memilih untuk menggosok gigi dan mencuci muka. Sejurus kemudian kegiatannya terhenti tatkala mencium aroma  tak biasa, aneh dan asing.

Spontan ia menghirup aroma pada tubuhnya, mengerutkan dahi dengan sekelebat pertanyaan di kepala.

"Sejak kapan kamar mandiku jadi ada aroma cowok?" tanyanya.

Mata gadis itu menyorot tajam ke sekitar, harap-harap menemukan sarang keganjilan, namun yang ada hasilnya nihil. Tak ada satupun indikasi yang menunjukkan asal aroma maskulin tersebut.

Usai berbenah, Rengganis lekas bersiap ke kampus. Kala tangan itu meraih gagang pintu, keanehan kembali menggerogoti jiwa gadis tersebut. Matanya terbelalak ketika sebercak minyak melengket di telapak tangannya.

"Ih jorok banget!" serunya dengan raut penuh jijik. Ia mengeluarkan selembar tisu sembari membersihkan tangan beserta gagang pintu itu.

Pertanyaan besar tiba-tiba muncul dibenak Rengganis. Siapa yang melakukannya? Seingat Rengganis, selama ia tinggal, tak ada sekalipun tangan gadis itu dalam keadaan berminyak seperti itu.

Rengganis segera menemui Riko yang sudah menunggunya di pinggir jalan. Pria berperawakan jangkung itu lekas turun dari motor sesaat mendapati keberadaan Rengganis.

"Nis, kamu harus tau berita ini," lontar Riko dengan raut wajah serius menatap Rengganis penuh resah.

"Ada apa, Rik?" Gadis itu mengerjap pelan, jantungnya tanpa sadar memompa cepat, menyadari ada sesuatu tak biasa yang akan diucapkan oleh Riko.

Sekejap Riko menarik napas, lalu menghembuskannya pelan.

"Tukang service yang kita temuin kemarin... subuh tadi ditemukan meninggal, Nis."

Spontan seluruh otot tubuh Rengganis berubah kaku, detak jantungnya berpacu cepat, napasnya terasa sesak sesaat mencerna ucapan Riko.

Dengan tangan gemetar ia menutup mulut tak percaya.

"Kamu... kamu pasti bohong, Rik," cicitnya pelan.

Riko menggeleng seraya memperlihatkan judul berita dari ponselnya.

"Kasusnya viral, Nis. Gimana nggak, tubuhnya dimutilasi jadi sembilan bagian," beber Riko.

Netra Rengganis membelalak, mulutnya terbuka, syok berat.

"Ajal beneran ndak ada yang tahu. Yang aku heranin itu kenapa bisa ada toko service di dalam bangunan bekas penyimpanan mayat. Maksudku, apa itu nggak aneh?" tanya Riko dilanjutkan dengan kernyitan tipis di keningnya.

"Apa udah ada yang dicurigain sebagai pembunuhnya?" sahut Rengganis penasaran.

"Katanya bakalan sulit, Nis. Kamu tahu? Semua CCTV di dalam dan di luar TKP tiba-tiba rusak. Pembunuhnya ngerusakin CCTV pake benda tajam, CCTV itu hancur nggak berbentuk," jelas Riko.

Rengganis kembali menggigit bibir dalamnya, entah kenapa perasaan resah menyambar jiwa gadis itu.

Wajah Rengganis berubah pucat seiring napasnya ikut tersengal.

"Rik, kok perasaanku ndak enak, ya?"

***

Satu jam sebelum azan maghrib berkumandang, Rengganis tiba di kos Bu Tejo. Ia mengerutkan dahi sesaat mendapati Bu Tejo beserta dua anak kos lainnya berada di luar sembari memampang wajah penuh cemas.

"Bu, ini kenapa pada di luar?" tanyanya.

Rengganis melirik kilas dua orang lelaki di sebelah Bu Tejo. Menebak bahwa keduanya adalah Joko dan Wisnu, penghuni kamar lainnya yang diceritakan Bu Tejo tempo hari.

"Mbak Trisna Nis ...," jeda Bu Tejo dengan guratan risau di wajah.

"Mbak Trisna kenapa, Bu?" imbuh Rengganis menautkan sebelah alis, tak mengerti.

"Dari siang sampai sekarang, Mbak Trisna ndak kelihatan keluar kamar, kamarnya dikunci dari dalam, kami udah berusaha panggil tapi Mbak Trisna nggak nyahut-nyahut," jelas lelaki berkacamata yang Rengganis yakini adalah Joko.

"Mungkin Mbak Trisna ketiduran?" tebak Rengganis.

"Ndak mungkin, kamarnya udah kita gedor-gedor tapi ndak membuahkan hasil," sahut Wisnu.

"Duh, saya kok jadi gelisah gini. Biasanya Mbak Trisna itu kalo siang keluar ambil jemuran, tuh liat sampai sekarang jemurannya masih dijemur." Bu Tejo ikut menengahi.

Melihat ekspresi orang kos, entah kenapa Rengganis tiba-tiba diserang rasa gelisah. Ia Mengingat terakhir kali bertemu dengan Mbak Trisna tadi pagi, hendak menyapanya ketika pergi kampus.

"Nu, ndak ada cara lain, bantu saya dobrak pintunya," pinta Joko pada Wisnu.

"Bu, ini ndak apa?" izin Wisnu pada Bu Tejo yang langsung diberi anggukan.

Joko dan Wisnu buru-buru masuk diikuti Rengganis dan Bu Tejo dari belakang. Sesampainya di depan kamar Mbak Trisna, Joko memberi aba-aba singkat pada Wisnu.

"Barengan ya Nu, satu... dua... tiga!"

Punggung mereka menghantam pintu kamar Mbak Trisna hanya dengan sekali percobaan. Rengganis sedikit tersentak tatkala pintu itu ikut menghantam dinding di sebelahnya.

Gelap. Itulah pemandangan pertama Rengganis tatkala pintu itu berhasil dibuka. Mereka tak dapat melihat apapun di dalam sana, benar-benar tidak ada satupun penerang.

"Jangan masuk!" lerai Joko sesaat Wisnu dan Bu Tejo hendak memasuki kamar Mbak Trisna.

Rengganis tersentak ketika Joko menepuk pundaknya. Degup jantung gadis itu berdetak dua kali lipat.

"Nyalain senternya," pintanya kemudian.

Dengan tangan gemeter Rengganis mengeluarkan ponsel dari balik saku, mulai menyalakan senter dan mengarakan benda itu ke arah kasur.

Kompak mata itu membelalak, sekujur tubuh mereka berubah kaku mandapati pemandangan mengerikan di depan sana.

"Mbak Trisna!" pekik Bu Tejo histeris.

Lidah Rengganis terasa keluh, ponsel di tangannya jatuh menghantam lantai. Kedua kakinya tak sanggup menopang beban tubuh, hingga kemudian ia terperosot jatuh ke lantai.

"Nggak mungkin, ini pasti hanya mimpi!" cecar Rengganis sambil menggeleng seolah tak terima.

Air mata tanpa sadar jatuh membasahi pipi Rengganis, ia terisak seraya menutup mulut dengan tangan gemetar.

Rengganis masih tak percaya, ia kembali menatap tubuh Mbak Trisna yang terkulai lemas di atas kasur. Dari mulutnya keluar cairan putih, mata wanita itu terpejam, bibirnya pucat pasi.

"Wisnu, cepetan panggil ambulance!" Suara Bu Tejo menggelegar, tangisan wanita itu menghiasi suasana kos yang kian temaram.

Kala azan maghrib berkumandang, sorot mata Rengganis tertuju pada benda kecil di sudut pintu.

Ia mengambil benda itu dengan ragu. Namun belum sampai sedetik, Rengganis spontan berteriak histeris.

"Haaaahhh!!!"

Bersambung...

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel BRIDE OF THE MAFIA
8.1
Vicenzo, bos mafia kejam yang menguasai Milan, mendadak lenyap setelah misinya gagal. Bertahun-tahun berlalu, ia kembali untuk mencari Jill, seniman tunanetra yang kehilangan penglihatan akibat peluru nyasarnya. Pertemuan tak terduga di kota kecil membawa mereka masuk dalam pusaran cinta sekaligus dendam. Sembari melindungi Jill dari incaran musuh lama, Vicenzo harus menghadapi masa lalunya demi penebusan, sementara Jill berjuang memaafkan pria tersebut.
Sampul Novel Dendam Sang Pelukis: Cinta yang Ditebus
8.6
Alana Maheswari menderita di pernikahan ketiganya. Damian, sang tunangan, tega menyiksanya demi Elina. Setelah karier melukisnya hancur dan dirinya dibuang terluka di hutan, Alana enggan menyerah. Demi menyelamatkan keluarga serta bisnisnya, ia menghubungi pria misterius dari masa lalunya. Alana pun merelakan semua asetnya demi menjalani pernikahan kontrak sebagai jalan keluar untuk membalas dendam.
Sampul Novel Jodohnya yang Tak Diinginkan, Sihirnya yang Terlarang
9.2
Lima tahun mengabdi sebagai pendamping Alpha Bram, kesetiaanku dibalas pengkhianatan kejam. Saat lampu gantung jatuh, Bram menjadikanku tameng hidup demi menyelamatkan Bella, selingkuhannya. Akibatnya, tubuhku hancur dan serigalaku lumpuh. Tak cukup sampai di situ, Bram tega memutuskan ikatan suci kami secara paksa. Rasa sakit luar biasa itu merenggut nyawaku, tepat ketika rahasia bahwa aku mengandung ahli warisnya terungkap. Kini, penyesalan Bram sia-sia.
Sampul Novel Ketika Anak Kami Melompat, Saya Memutuskan Ikatan Kami
8.8
Demi selingkuhannya, Alpha Damien tega mengabaikan hari lahir putrinya. Noah yang mengalami gangguan jiwa merasa terbuang hingga nekat mengakhiri hidupnya. Di tengah duka yang hancur, Damien justru melindungi Omega lain alih-alih mendampingi sang istri. Kecewa atas pengkhianatan ini, sang istri nekat melakukan Ritual Penolakan di hadapan seluruh kawanan. Kini ikatan takdir mereka telah terputus selamanya, menyisakan penyesalan Damien yang sia-sia memohon ampun.
Sampul Novel Mr. Reagan
8.2
Miliarder menawan Reagan Adam menyembunyikan sisi gelap sebagai pembunuh berantai yang meneror kota London. Rencana kejamnya berubah haluan saat ia bertemu Clara, seorang gadis periang dari toko bunga. Meski awalnya diincar sebagai korban berikutnya, Clara justru memicu obsesi mendalam dalam diri Reagan untuk memilikinya. Kini, Clara terperangkap dalam jerat sang monster berparas tampan yang mengklaim hidupnya. Akankah ia menyerah pada takdir bersama pria berbahaya tersebut?
Sampul Novel Pelukan Cinta yang Membara dan Sabar
8.4
Tiga tahun lamanya aku bertahan dengan sikap dingin Marco, sang Alpha yang selalu beralasan ingin melindungiku yang lemah. Namun, di hari jadi kami, ia justru meninggalkanku sendirian di tengah jalanan gelap berbadai demi mengejar Sarah, serigala betina yang disebutnya sebagai cinta sejati. Di saat aku hancur dan terpuruk, hadirlah sesosok Alpha misterius yang sangat kuat. Melalui tatapan mata peraknya yang tajam, ia langsung mengklaim diriku sebagai miliknya dengan geraman penuh proteksi.