APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Teror Berdarah

Teror Berdarah

Yonna semula menjalani hidup damai bersama Luther dan sahabat dekatnya. Namun, situasi berubah mencekam saat kasus bunuh diri misterius beruntun terjadi di sekitar mereka, di tengah sikap dingin kedua orang tuanya. Keadaan kian menegangkan ketika pesta Halloween tiba, memicu misteri tentang murid baru serta lambang warna merah. Yonna pun mulai curiga jika segala teror nyata ini berkaitan erat dengan mimpi buruk yang terus menghantuinya.
Bab
Bagikan

Bab 2

Keesokannya, Yonna terbangun dini hari karena mimpi yang selalu menggerayanginya selama tidur. Sungguh ia merasa lelah, tak tahu harus berbuat apa, ia hanya ingin mimpi aneh itu berhenti datang.

"Apa arti semua ini?" Helaaan napas panjang terbit dari bibirnya.

Merasakan serak di tenggorokan, Yonna pergi ke dapur. Dahinya mengernyit saat matanya menangkap cahaya terang dari sana, biasanya lampu dapur sengaja dibuat redup ketika mereka tidur.

"Mama?"

Yuliisa tersentak di tempat, kaget mendengar suara dari belakang tubuhnya.

"Yonna? Kamu mengejutkan Mama."

"Maaf, Ma. Mama sedang apa di dapur Jam segini?" Bunyi air yang mengisi gelas terdengar.

"Mama tidak bisa tidur, kamu kenapa bangun sepagi ini?"

"Tiba-tiba kebangun aja, Ma."

Yulissa membuang napasnya kasar. "Kamu sudah dengar kabar penembakan malam tadi?"

Pupil mata Yonna mengecil mendengar ucapan Mamanya.

"Iya, aku dengar waktu diantar pulang sama Luther dari restoran tempat Akia kerja."

"Kamu lihat kejadiannya?" Yulissa memajukan tubuhnya merapati tepi meja.

"Nggak, soalnya jauh di belakang, tapi masih terdengar. Terus ada yang menjerit juga. Mama tahu dari mana?"

"Pas Mama pulang tadi, di sana masih ramai, banyak polisi. Karena penasaran, Mama tanya sama Bu Lika pemilik toko di persimpangan. Katanya, dia melihat dua remaja laki-laki bertemu dari arah berlawanan. Satu membawa cutter dan satunya lagi pistol. Awalnya Bu Lika tidak tahu kalau mereka membawa senjata, karena sebelumnya dua remaja itu terlihat biasa saja. Sampai tiba-tiba remaja yang membawa cutter menyerang lebih dulu, dia menyayat tepat di nadi leher dan menusuk bagian dada. Rupanya si pembawa pistol masih memiliki tenaga, jadi dia menekan pelatuk mengarah tepat ke tengah kepala lawannya. Naas, keduanya wafat di tempat."

Yonna masih diam mencerna apa yang baru ia dengar.

"Nggak ada yang membantu? Mungkin aja melerai atau bawa ke rumah sakit?"

"Semuanya terjadi tiba-tiba, Nak, siapa yang menduga kalau akan ada aksi saling bunuh seperti itu? Siapa yang berani mendekat? Mereka bersenjata, satu menggunakan pistol. Kamu bisa tertembak kapan saja. Kematian keduanya pun berlangsung cepat, meski sempat dibawa ke rumah sakit, Mama rasa tetap tidak selamat. Nyawa pasti terenggut di perjalanan menuju rumah sakit."

"Mama dengar apa motif dua orang itu?"

"Belum diketahui, tapi berdasarkan salah satu rekan mereka mengatakan kalau keduanya berteman dekat. Mungkin masalah pribadi di mana hanya dua remaja itu yang tahu."

Yonna terdiam, ia sungguh tidak tahu harus mengatakan apa. Ia juga tidak memiliki bayangan, banyak kata yang melayang-layang di pikirannya. Tetapi tidak ada satu pun kemungkinan yang masuk akal, siapa pun, waras atau tidak.

/////

"Siapa yang memilih membunuh teman sendiri di muka umum?" Akia heran setengah mati.

"Itu yang aku pertanyakan, jika benar mereka memilik hubungan pertemanan, kenapa saling bunuh?" Yonna meminum minuman yang ia pesan tadi.

"Mana di depan toko, berani sekali," Dovis menambahi.

"Dari buku yang aku baca, psikopat sekalipun pilih-pilih tempat buat bunuh korbannya. Tidak terbaca dan tak terdeteksi, tahu-tahu ada mayat tergeletak." Malilah menyuap baksonya.

"Kalaupun terdeteksi, misalnya nggak? Nggak pernah ada yang tahu kalau seseorang baru membunuh manusia lain secara ganas. Mungkin pihak kerabat mikirnya hilang atau diculik." Yonna menggeleng kuat saat membayangkan bagaimana aksi saling bunuh terjadi.

"Iya, ngeri."

"Meskipun tindakan itu salah, tetapi janggal sekali bila mereka melakukannya terlalu transparan. Seolah ingin menunjukkan apa yang terjadi kepada khalayak," Clovis menyampaikan pemikirannya.

"Masalah hati, mungkin? Cinta itu, kan, liar." Dovis berkedip nakal ke arah Malilah.

"Benar, saya rasa begitu. Mengingat siswi yang bunuh diri di belakang sekolah, bisa jadi dua orang itu juga menggunakan alasan yang sama, cinta. Berdasarkan pengamatan saya selama hidup, siapa saja bisa melakukan apa saja demi satu orang biasa, atas nama cinta." Akia menatap gelas di depannya datar.

"Aku antara setuju dan tidak. Cinta bisa segila itu apabila sudah mencapai tahap obsesif, bahkan yang terobsesi sekalipun masih bisa kembali pada kehidupan sebenarnya, keluar dari lingkaran hitam yang selama ini mengurung."

Akia menolehkan sedikit kepalanya, tanpa menatap pada Clovis.

"Buktinya, Luther dan Yonna. Perasaan yang hadir dalam diri mereka masih bisa terkendali, di batas wajar. Apabila menghadapi sebuah masalah, mereka pun masih dapat menemukan jalan keluar. Kita semua tahu, cinta seperti ini tidak liar dan gila."

"Ralat, setidaknya tidak segila sampai harus mencabut nyawa orang lain," ralat Yonna.

Secara pribadi, Yonna terkadang merasa seakan diombang-ambingkan oleh perasaan itu sendiri. Hampir setengah emosinya dipengaruhi oleh apa yang ia rasakan dari pasangannya—Luther. Yonna bisa tiba-tiba sedih, murung, bahkan mendadak bahagia karena pesan dari Luther.

Jika diperkirakan, ia berada di tengah-tengah pendapat Akia dan Clovis. Baginya, cinta itu tidak gila bagai obsesi tetapi bukan pula sesederhana seperti rasa suka biasa. Meski beberapa hal mengenai hal tersebut masih sulit dijelaskan secara teori.

Setiap individu memiliki rasa dan pengalaman masing-masing, sehingga hasil pikiran yang tertanam perihal cinta juga berbeda-beda.

Terlepas dari pendapat Yonna tentang cinta, ia justru dibuat heran dengan kejadian beberapa hari ini. Sebelumnya bunuh diri, dan semalam saling bunuh. Sepertinya aksi kriminal mulai bermunculan.

"Ayo, ke parkiran!" Luther mengait tangan Yonna.

Sebelum itu, Akia izin memisahkan diri. "Saya ke luar duluan, ya, sampai jumpa besok!"

"Tunggu, Ki. Kau hari ini dapat jam kerja sore lagi?"

"Tidak, Lil. Ada apa?"

"Pas! Sore ini belanja, yok? Bertiga!" Malilah menekankan kata 'bertiga' saat ia melihat Dovis ingin bicara.

"Yah, paham aja kalau aku mau ikut. Ther, kau nggak cemburu lihat pacarmu pergi bareng teman-temannya terus?" pancing Dovis.

"Nggak, kami kan pergi-pulang sekolah bareng. Kalau Yonna mau pergi sama teman-temannya aku nggak pernah permasalahkan, asal tujuannya jelas dan dia aman," jawab Luther santai.

Tidak lupa Luther menarik kecil hidung pacarnya, mendadak membuat kedua pipi gadisnya itu bersemu malu.

"Aduh, sudah aku bilang jangan tebar kemesraan di depanku. Bikin sesak aja," protes Malilah.

"Kau bisa, kan, Ki?"

"Iya, bisa. Kabarin aja waktu dan tempatnya."

"Nanti kalian berdua aku jemput!" Malilah mengeluarkan kunci mobilnya.

"Wah, sip!"

Setelah menyetujui rencana, mereka berpisah.

/////

"Yep, sudah sampai sahabatku." Malilah menarik rem tangan mobilnya.

"Mau ke mana dulu, nih? Atasan, bawahan, kakian?" tawar Yonna bercanda.

"Tidak jadi menonton?"

"Astaga, lupa! Ayo, cepat. Keburu mulai filmnya." Malilah menarik dua sahabatnya memasuki pusat perbelanjaan.

"Permisi, Mbak. Kami mau beli tiket film The Protectors." Malilah merogoh tasnya, mengambil uang.

"Mohon maaf, Kakak sekalian, penayangan film tersebut sudah usai dua jam yang lalu."

"Apa?" Yonna menatap Akia bingung.

"Loh? Bukannya baru mau mulai, ya, Mbak?"

"The Protectors dijadwalkan tayang pukul 14:00 p.m tadi, Kak."

"Lil, gimana, sih?"

"Jam dua siang, Mbak?" tanya Malilah memastikan.

"Benar, Kak."

"A-aduh, kayaknya aku salah baca jadwalnya, deh."

"Bisa-bisanya kau salah baca." Yonna tertawa.

"Ya, maaf."

"Nggak papa, santai. Jadi kau mau nonton yang lain atau gimana?"

"Jalan aja, yok? Aku cuma pengen film tadi, mangkanya ajak kemari. Eh, salah jadwal." Malilah menggaruk belakang telinganya.

"Lain kali, kamu harus lebih berhati-hati," peringat Akia.

"Iya, Ki. Sekarang ke toko baju aja, mau?"

Akia dan Yonna mengangguk pertanda setuju.

"Kami permisi dulu, Kak. Maaf merepotkan," ujar Yonna sebelum akhirnya mereka bertiga menelusuri setiap toko yang memikat pandangan.

"Berhenti," pinta Malilah, "itu Siri, kan?" sambungnya.

"Masa? Kok, peluk om-om?"

"Nah itu dia, katanya Siri nggak punya keluarga lagi."

"Perasaan, pagi tadi Siri izin libur karena sakit," ujar Akia.

"Tapi dilihat dari tingkahnya, nggak mirip Siri."

"Kebetulan serupa fisik, mungkin?" Akia berpikir positif.

"Iya, kembar tak serupa, kali. Lagian suratnya langsung dari rumah sakit, bakal rawat inap selama tiga hari. Nggak mungkin beberapa jam di rawat langsung keliling mal."

Keduanya membenarkan ucapan Yonna, lalu memilih untuk mengabaikan kejadian barusan dan melanjutkan acara belanja yang sempat tertunda.

/////

Yonna memasuki ruangan kelas, ternyata kelompok penggosip—Rasia, Poli, dan Gisel—membawa kabar terbaru.

"Dari sekolah mana?" tanya Malika, cowok yang memiliki suara emas dan juga menguasai banyak alat musik.

"SMA Merah Putih," jawab Razia. Bulu matanya yang panjang karena maskara, naik turun melambai-lambai.

"Kayaknya, dia takut jadi korban berikutnya," duga Gisel.

"Oi, korban apa nih?" Malilah yang baru datang langsung menyerobot masuk pembicaraan mereka.

"Apaan, sih. Ikut-ikut, aja," kesal Poli.

"Ye, jangan marah. Kan, aku juga mau tahu," ujar Malilah setelah menyimpan tasnya.

"Aku juga penasaran, korban apa?" tanya Dovis tiba-tiba.

"Hari ini, kita bakal kedatangan murid baru dari SMA Merah Putih."

"Oh, ya? Kalian tahu dari mana?"

"Kami kan, punya banyak narasumber," sombong Rasia.

"Hm. Iyalah, narasumber."

"Terus hubungannya sama takut jadi korban apa?" Dovis melipat kedua tangannya.

"Kayaknya kalian belum tahu berita terbaru dari sana."

Malilah menatap Poli bingung. "Berita apa memangnya?"

"Bunuh diri." Poli mencoba menebarkan kesan horor.

Yonna yang semula tidak begitu tertarik, langsung menajamkan pendengaran.

"Hah?! Ada lagi?" tanya Dovis histeris.

"Jam sepuluh malam tadi, ada anak kelas 12 yang lompat dari lantai empat sekolah."

"Terus, dia dikenal sebagai anak penyakitan. Dalam seminggu dia nggak pernah nggak sakit, kalau bukan anak orang kaya pasti sudah didepak. Banyak banget liburnya," Gisel melanjutkan penjelasan Rasia.

"Nyolot lagi," Poli berucap agak kesal.

"Nyolot gimana?" tanya Malika.

"Iya. Kalau dia ngomong nggak pernah disaring dulu, sudah tahu salah masih aja ngeyel. Jelek lagi, wajar banyak yang benci sama dia."

"Tidak baik berbicara seperti itu, Rasia," timpal Akia memperingati.

"Kesel aku," ujar Rasia.

"Bubar! Ibu Grase sudah di kelas sebelah," pinta ketua kelas.

Semua murid yang tidak berada di tempatnya, mulai berlari kembali ke kursi masing-masing. Sesaat kemudian, Ibu Grase yang juga wali kelas mereka masuk bersama gadis yang tampak seumuran dengan mereka.

"Selamat pagi, anak-anak."

"Selama pagi, Bu!"

"Hari ini kleas kita kedatangan murid pindahan. Nak, silahkan perkenalkan diri kamu," Ibu Grase mempersilahkan.

"Ha-hai!" sapanya canggung.

"Halo!"

"Pe-perkenalkan, nama say-ya Petunia Martin-nez. Saya pindahan da-dari SMA Me-merah Putih," ujarnya kaku dan terbata-bata.

"Santai, jangan gugup!" teriak Dovis dari belakang.

"Kenapa kau pindah sekolah?" celetuk Poli.

"E-em, saya han-nya mengikuti u-ucapan Papi, demi ke-keselamatan sa-saya."

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel 12 Wasiat Dari Ayah
8.6
Dira menjalani hidup yang berat bersama ibunya, seorang wanita penghibur dengan gangguan mental. Hubungan toksik itu memicu kebencian mendalam, membuat Dira merindukan ayahnya yang lama pergi. Saat kabar kematian sang ayah tiba, ia justru mendapati fakta pilu bahwa mereka tidak sedarah. Kini, berbekal buku merah berisi dua belas wasiat peninggalan almarhum, Dira harus menyelesaikan misi terakhirnya. Akankah petunjuk ini memulihkan hubungannya dengan sang ibu, atau malah membuka tabir misteri baru?
Sampul Novel ISABELLA: Dibelai Maut, Dicintai Takdir
9.2
Isabella terjerumus ke prostitusi kelas atas akibat pengkhianatan sang ayah. Saat menemukan cinta, duka justru menghampiri karena calon suaminya tewas misterius. Demi membalas dendam, ia menyelidiki kasus ini, hingga terungkap bahwa pembunuhnya adalah Ronald, pria pertama yang membelinya. Kini, Isabella terjebak pusaran konspirasi antar-keluarga yang mengancam nyawanya, sembari berjuang mengungkap rahasia jati diri aslinya.
Sampul Novel Jejak Cinta di Kota Hujan
9.7
Naya, seorang penulis yang kehilangan inspirasi, memutuskan pergi ke kota kecil yang selalu diguyur hujan. Di sana, ia terpikat oleh Arga, seorang barista misterius dengan rahasia besar. Ketika hubungan mereka semakin dekat, Naya mengetahui bahwa Arga sebenarnya adalah penulis terkenal yang bersembunyi dari skandal masa lalunya. Kini, Naya dihadapkan pada pilihan sulit: membongkar identitas asli Arga demi kebenaran, atau melindungi rahasia pria yang dicintainya.
Sampul Novel Mengubah Cinta Lampau Yang Menyakitkan
9.8
Mengubah Cinta Lampau Yang Menyakitkan mengisahkan kesempatan kedua seorang wanita untuk lolos dari takdir kelam. Di kehidupan lalu, ia menolong Luna, sahabat tunangannya, namun tindakan itu berujung pada kesalahpahaman, tragedi bunuh diri, hingga penyiksaan kejam oleh tunangannya sendiri saat ia hamil. Terbangun kembali di masa lalu tepat di depan bar tempat Luna tak sadarkan diri, kali ini ia memilih pergi demi menyelamatkan hidupnya sendiri dari kehancuran.
Sampul Novel SALAH KIRIM KADO
9.5
Akibat kado yang salah kirim, Sarah mengetahui pernikahan siri suaminya, Indra, dengan Siska. Kecewa dan marah, Sarah merancang rencana mempermalukan mereka sebelum mengajukan cerai. Saat menghadapi badai hidup ini, Dareen muncul dan mengungkapkan perasaan cintanya yang telah lama disimpan. Ketika Indra bangkrut, Siska yang materialistis mulai menyebar fitnah untuk memisahkan Sarah dan Dareen. Mampukah Sarah meraih kebahagiaannya, atau ia akan hancur oleh dendam Siska?
Sampul Novel Target Cinta Sang Pewaris
9.7
Demi wasiat orang tua dan tekanan paman serta bibinya, Ardila terpaksa menikahi pria asing. Setelah menikah, ia mendapati suaminya sudah beristri. Meski dikhianati, Ardila bertahan demi amanah mendiang orang tuanya. Namun, keluarga suaminya malah bertindak semena-mena demi merebut hartanya. Curiga dengan motif mereka, Ardila mulai menyelidiki hingga berhasil membongkar sebuah rahasia gelap yang ternyata melibatkan keluarganya sendiri.