APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Teror Berdarah

Teror Berdarah

Yonna semula menjalani hidup damai bersama Luther dan sahabat dekatnya. Namun, situasi berubah mencekam saat kasus bunuh diri misterius beruntun terjadi di sekitar mereka, di tengah sikap dingin kedua orang tuanya. Keadaan kian menegangkan ketika pesta Halloween tiba, memicu misteri tentang murid baru serta lambang warna merah. Yonna pun mulai curiga jika segala teror nyata ini berkaitan erat dengan mimpi buruk yang terus menghantuinya.
Bab
Bagikan

Bab 3

"Halo, Petunia, saya Akia Baqiya. Salam kenal, ya," sapa Akia.

Bertepatan dengan guru yang keluar, Malilah langsung meminta kedua sahabatnya mendekati Petunia, berkenalan.

"Aku Yonna."

"Se-senang bertemu ka-kalian." Petunia memerhatikan tiga orang yang mengelilinginya.

"Kami juga. Em, Kau mau bareng kami ke kantin, 'kan?" Malilah menunggu jawaban Petunia.

Dengan pelan, murid pindahan tersebut mengangguk.

"Ayo!" ajak Yonna.

"Cie, ada personil baru," seru Rasia.

"Iya, dong. Biar pas." Malilah memasang nada sombong.

"Hati-hati, biasanya yang pendiam itu menghanyutkan," tambah Poli.

"Yon, jaga Luther, siapa tahu cewek pindahan itu peletnya kuat."

Rasia dan Poli tertawa terbahak-bahak mendengar kalimat Gisel barusan.

Yonna melihat wajah Petunia berubah murung. "Sudah, mereka memang gitu, ayo!"

"Em, boleh aku tanya sesuatu?"

Sesampainya di meja kantin, Malilah bertanya kepada Petunia.

"Bo-boleh."

"Aku dengar, tadi malam ada yang bunuh diri lagi di sekolah lamamu, betul?"

Melihat wajah Petunia memucat, Akia berucap, "Kami tidak memaksamu bercerita sekarang."

"Ti-tidak, saya han-hanya merasa takut sa-ja."

"Jadi, kabar itu betul?" Yonna memajukan tubuhnya sejengkal.

"I-iya."

"Alasannya bunuh diri?" Clovis menyeruput minuman kemasan Malilah.

"Apa keluarga kalian mendadak miskin? Berhenti meminum minumanku!"

"Jangan pelit, Mak Lilah."

"Ish, diam dulu. Petunia, kau tahu alasannya?" tanya Yonna lagi.

"Sepupu sa-saya bilang, di-dia bunuh diri karena meras-sa tertekan."

"Tertekan?"

"Di-dia selalu dijauhi ka-karena sering sakit, te-tetapi kabar yang ter-tersebar karena roh Vas-sya mem-meminta bayaran."

"Roh Vasya?" Malilah mencoba mengingat nama tersebut. "Oh! Itu nama siswi yang bunuh diri di halaman belakang, 'kan?"

"I-iya."

"Apa yang kamu maksud dengan bayaran?"

"Sa-saya tidak tahu ka-kalian akan percaya atau ti-tidak. Du-dulu perempuan i-itu yang menggoda pa-pacarnya, ja-jadi hubungan Vasya ber-rakhir. Untuk ba-balas dendam, rohnya me-memancing agar perempuan itu me-melopat," jelas Petunia.

"Berarti roh nya gentayangan." Malilah jadi merinding sendiri.

"Terus, kenapa kau pindah? Si Vasya-Vasya itu pasti sudah pergi, dendamnya sudah terbalaskan."

Mendapat pertanyaan dari Dovis, Petunia langsung menjawab, "Pa-papi saya men-mendapat penglihatan da-dari peramal, kalau r-roh Vasya masih te-te-terus mencari nya-nyawa lain sebagai jem-jembatan agar di-dia bisa pergi ke at-tas. Mang-mangka-kanya  Papi min-minta saya pindah se-sekolah, Vasya bi-bisa mengambil nya-nyawa si-siapa saja."

"Seru, ya, ceritanya. Sampai lupa kalau bel sudah bunyi," Luther berbicara.

"Apa?!" pekik para perempuan di sana—kecuali Petunia.

"Kenapa nggak bilang, sih, Luther!" kesal Yonna.

Sejurus kemudian, Yonna berdiri dan meraup pergelangan Petunia, mengajak berlari.

"Sial," serapah Dovis melihat guru sudah mulai mengajar di kelas.

"Kalian dari mana saja?" tanya Ibu Nana santai.

"Kantin, Bu," jawab mereka jujur.

"Memangnya waktu yang diberikan sekolah tidak cukup?"

"Cukup, Bu."

"Terus kenapa masih telat? Kamu anak pindahan, baru masuk sudah berani telat. Kalian keliling lapangan sepuluh kali."

"Yah. Jangan sepuluh kali, Bu," keluh Malilah.

"Siapa suruh telat? Atau mau Ibu tambah?!"

"Nggak, Bu."

Dengan pasrah, lima murid itu berlari mengelilingi lapangan basket. Di sana, terdapat anak kelas 12-IPA 1 yang kebetulan jadwalnya olahraga.

"Pantes Clove sama Luther santai, mereka jam olahraga," kesal Dovis.

"Petunia, kami minta maaf. Gara-gara keasikan mengajak ngobrol, kau jadi ikutan dihukum," sesal Yonna.

"Iya, sepertinya pembahasan hari ini terlalu menarik perhatian kami semua, sampai-sampai lalai begini," timpal Akia.

"Ti-tidak apa-apa, kok. Sa-saya senang karena me-mengenal kalian." Senyum Petunia mengembang cerah.

/////

Malam ini, Yonna berniat membuat video cover lagu dari penyanyi internasional versi YouTuber yang Yonna sukai. YouTuber itu selalu menggunakan versi lembut untuk segala jenis genre musik, dan hal tersebut yang membuat Yonna menyukainya. Nadanya sangat sesuai untuk jenis suara Yonna, keahlian memetik ukulele dan tema musik yang selalu mellow.

Yonna menyiapkan kamera dan mikrofon. Setelah dirasa siap, ia mulai menekan tombol rekam. Perlahan, jari-jari lentiknya memetik senar ukulele pemberian Kakeknya sebelum meninggal, itulah mengapa Yonna menjaga ukulele itu dengan sangat baik.

Bait demi bait ia melantunkan lagu, penuh rasa, penghayatan dan emosi. Lagu tersebut menceritakan tentang seorang perempuan yang masih mengingat dengan jelas perhatian dari lelaki pujaan hatinya, tetapi sayangnya lelaki itu sejak awal tidak pernah menganggap hubungan mereka lebih dari yang dipikirkan. Justru sang pujaan sudah memilih hati lain, dan orang itu ialah sahabatnya sendiri.

Usai bernyanyi, Yonna langsung memindahkan rekaman tadi ke dalam laptop, melakukan beberapa penyuntingan sebelum akhirnya dibagikan ke akun YouTube dan Instagram pribadi. Yonna cukup terkenal di kedua aplikasi itu sebagai peng-cover musik mellow.

Sebelum turun ke bawah, Yonna memeriksa akun YouTuber favoritnya. Sudah lebih dari enam bulan YouTuber dengan nama akun @Pertez_bee atau biasa dipanggil Bee itu tidak memperbaharui kirimannya, bahkan tidak pernah aktif di Instagram.

Hingga saat ini, Yonna belum pernah melihat bagaimana wajah asli Bee, karena perempuan tersebut selalu menutup bagian wajahnya, dan pada setiap video yang dibagikan hanya daerah mulut ke bawah saja yang terekam. Benar-benar misterius.

/////

"Kenapa kamu belum tidur?"

Yonna terkekeh mendengar kalimat pertama di panggilan suara mereka.

"Kenapa ketawa?"

"Aku masih belum terbiasa kau sebut pakai kamu."

"Mulai sekarang kamu harus membiasakan diri."

"Lebay, ah."

"Ck, kalau kamu nggak mau, biar aku aja."

"Hehe, nggak. Besok jadi, kan?"

"Pasar malam?"

"Iya, aku mau naik kapal bajak laut."

"Nanti kita duduk paling belakang."

"Yeay! Jangan muntah, ya?!"

"Kamu itu yang muntah."

"Nggak!"

"Iya, deh, cantikku."

"Okay! Sudah, aku mau tidur."

"Jangan ngomongnya tidur, tapi malah asik main hp."

"Nggak kebalik, pacar?"

"Nggak, tidur! Satu, dua, tiga!"

Yonna terkekeh, lalu mengucapkan selamat malam dan memutus panggilan.

/////

Usai mengirim pesan kepada Yulissa kalau ia akan pergi keluar jam tujuh nanti bersama Luther bersama yang lain, Yonna mulai bersiap-siap. Ia mengenakan A-line dress putih yang dipadukan dengan jaket jin over size berwarna biru pudar, outfit itu pun diperkuat dengan penggunaan ankle boots. Rambutnya yang lurus dibiarkan terurai begitu saja.

Menjelang jam tujuh, Yonna duduk menunggu Luther di luar. Sesekali ia menggambil gambar diri, kemudian membagikannya ke akun media sosial pribadinya. Saat ingin membuat video, Luther sampai lebih dahulu.

"Aku takut kamu nggak mau ninggalin motor besar kesayanganmu di rumah." Yonna memasang helm andalannya.

"Nggak, lah. Waktu kamu bilang pakai dress gini, aku langsung mutusin pakai skuter aja."

Yonna memeluk pinggang Luther, "Hehe, kamu itu yang terbaik. Ayo, berangkat!"

Meski motor yang dikendarai Luther adalah motor tua, kelakuan motor itu tidak selambat yang orang pikirkan. Dengan kecepatan yang terbilang cukup cepat untuk motor tua, Luther berhasil sampai ke lokasi pasar malam dilakukan tepat waktu. Bersamaan dengan teman-temannya yang juga datang.

"Woi, lah, tahu yang pacaran. Nggak usah pakai acara couple-an segala," seru Dovis malas melihat sepasang kekasih itu.

"Loh? Eh, iya!" Yonna baru sadar ternyata pakaian yang ia kenakan senada dengan Luther. Pacarnya itu juga memakai jaket jin biru muda dengan kaus polos putih di dalamnya, sedangkan celananya berwarna hitam.

"Nggak sengaja tahu, aku nggak ada janjian sama Luther," kilah Yonna.

"Kalau kamu janjian juga tidak apa-apa, Yon. Sama pacar sendiri juga," ucap Akia mendukung sahabatnya.

"Clovis juga pakai jaket jin, loh," tambah Malilah.

"Beda warna," sahut Dovis lagi.

"Tapi, kok, yang sana lebih terasa couple-nya?"

Lima murid SMA tersebut menoleh ke arah di mana Malilah menatap. Di sana, terlihat Petunia berjalan dengan otufit yang sangat mirip dengan pakaian Luther. Seolah yang couple adalah Petunia dan Luther, sedangkan Yonna hanya kebetulan mirip.

Luther menatap tak suka, dia langsung menukar jaketnya dengan yang dikenakan Clovis.  Paham perasaan sahabatnya, Clovis menuruti.

"Waduh! Panas, nih," pancing Dovis.

"Apaan, Dove. Nggak sengaja itu," Malilah menyahut.

Tidak ingin berpikiran aneh, Yonna mencoba mengabaikan.

"Aku aja bisa secara nggak sengaja samaan bareng Luther, jadi orang lain juga bisa, dong."

"Kan, ini beda. Luther pacarmu, bisa aja ikatan batin atau gimana. Lah, itu?" Dovis menunjuk Petunia yang semakin dekat dengan dagu.

"Ish, jangan bikin Yonna overthinking kali, Dove!" Malilah mencubit perut Dovis. Membuat korban mengaduh kesakitan.

"Ha-halo, maaf sa-saya terlambat," sapa Petunia seraya mengatur deru napasnya.

"Nggak papa, kita juga baru sampai, kok," balas Yonna.

Melupakan insiden couple dadakan itu, Malilah langsung saja mengajak mereka semua memasuki pasar malam.

Sesampainya di dalam, seluruh mata dimanjakan dengan berpuluh-puluh stan makanan dan pakaian, serta banyak arena yang menyenangkan.

"Kita mau ke mana dulu, nih?" tanya Malilah seraya mengedarkan pandangan.

"Kita keliling saja dulu, habis itu baru naik wahana," saran Akia.

"Ayo!" pekik Yonna dan Malilah heboh.

Teriakan demi teriakan histeris menggelegar di setiap ayunan kapal bajak laut tersebut semakin cepat. Bahkan Dovis yang awalnya sok berani, pun turut berteriak histeris merasakan gelitikan aneh di perutnya, antara takut juga menikmati.

Sedangkan yang paling santai di antara mereka hanyalah Luther dan Clovis, dua orang itu seakan sedang menaiki komedi putar. Hanya Luther yang sesekali tersenyum manis menyaksikan Yonna yang sangat gembira menikmati wahana.

Setelah ayunannya melambat, Malilah mulai merasakan seisi perutnya tengah memberontak ingin keluar. Ia menepuk-nepuk pundak Yonna, agar bisa segera membantunya turun. Luther menahan kapal agar tidak bergerak, membantu Yonna membawa Malilah keluar dari kapal.

Saat ingin turun, lengan Luther ditarik oleh seseorang. Raut wajah Luther berubah seketika saat tahu siapa itu.

"Luther, jangan tinggalkan Petunia. Dia pasti merasa pusing juga," teriak Yonna dari tangga.

Lagi-lagi Luther mendesis tak suka, jika bukan Yonna yang meminta, Luther pasti membiarkan perempuan itu muntah di atas kapal.

Clovis membawa dua botol air mineral. Gadis berambut lurus itu menyerahkan botol yang sudah ia buka tutupnya kepada Malilah, sedangkan Clovis membukakan satu untuk Yonna.

"Kenapa kamu biarin Luther membantu Petunia?" tanya Clovis pelan.

Sambil mengurut tengkuk Malilah, Yonna menjawab, "Aku mau minta tolong Dovis, tapi dia sudah keburu lompat ke bawah. Kasihan ngebiarin Petunia di atas gitu aja."

"Kita baru kenal dia, Yon."

"Aku tahu, Clove, tapi nggak ada salahnya percaya. Dia nggak kelihatan jahat."

"Kamu harus hati-hati," bisik Clovis.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Anak Untuk Kakak Iparku
9.1
Kinan mengambil langkah nekat dengan menjadi istri kedua Yuan, kakak iparnya, demi membongkar rahasia mendiang suaminya. Keputusan ini akhirnya mengungkap alasan mengapa mendiang suaminya dahulu selalu mengabaikan dirinya dan jarang pulang ke rumah. Di tengah pencarian jawabannya, Kinan justru menemukan cinta sejati pada diri Yuan. Kini, ia bertekad untuk memiliki anak demi menuntaskan rasa penasarannya, mempertaruhkan segalanya demi satu tujuan besar.
Sampul Novel Cinta Terlarang: "Ayah Angkatku" yang Mencuri Hatiku
8.5
Kebahagiaan Cathleen Kirby di hari ulang tahunnya saat bersama Jerald Dobson, sahabat sang ayah, hancur seketika akibat kebakaran hebat yang menewaskan keluarganya. Hanya Cathleen dan kakaknya, Gabriel, yang selamat. Di tengah ancaman kerabat yang tamak akan warisan mereka, Jerald hadir menyelamatkan mereka. Ia mengirim Gabriel ke luar negeri dan merawat Cathleen sendirian. Kini, sosok Jerald telah menjadi satu-satunya sandaran dan pusat kehidupan bagi Cathleen.
Sampul Novel Godaan kakak iparku
9.5
Aku terjebak dalam situasi rumit akibat sikap posesif kakak iparku yang bersikap layaknya kekasih. Perhatiannya kepadaku bahkan melampaui kepedulian terhadap istrinya sendiri. Di balik perlakuan tidak wajar dan melampaui batas ini, ada sebuah rahasia gelap yang menyelimuti hubungan kami. Kini, aku berada di tengah misteri besar yang memicu keraguan mendalam untuk memercayai kenyataan yang ada.
Sampul Novel Goyangan Pohon Beringin
8.2
Hubungan erat Adrian dan Wandi kini renggang sejak kemunculan Hesta. Gadis penuh misteri itu begitu memikat Adrian, tetapi Wandi justru melihat sosok mengerikan dalam dirinya. Wandi berjuang keras memperingatkan sahabatnya bahwa Hesta bukanlah manusia. Sejak mereka mengunjungi beringin tua yang angker, teror mistis mulai membayangi. Di tengah ancaman bahaya, sanggupkah Adrian menyadari kenyataan? Apakah asmara beda alam ini akan terwujud, atau malah berujung pada kehancuran?
Sampul Novel Influencer Licik Berkedok Pembantu
8.1
Kembali ke masa lalu setelah tewas diracun oleh penggemar fanatik pembantunya, sang nyonya rumah kini bertekad membalas dendam. Dalam kehidupan pertamanya, pembantu yang mengaku sebagai simbol wanita mandiri itu ternyata seorang influencer licik. Ia mencuri barang mewah, membuat video fitnah bertema melatih istri manja, hingga memicu perundungan daring. Kini, berbekal pengetahuan masa depan tentang akun jutaan pengikut milik sang pembantu, ia siap membongkar kedok palsu tersebut di depan publik.
Sampul Novel Kabar Buruk Kehamilanku
9.7
Kebahagiaan Rike atas kehamilannya hancur setelah muncul kabar mengejutkan yang menyebut dirinya hamil sebelum menikah. Akibat berita itu, sang ibu sangat kecewa dan langsung menuduh Rike telah berzina. Di tengah duka, Rike harus berjuang keras demi mengembalikan kepercayaan ibunya. Namun, apakah tuduhan menyakitkan tersebut memang benar adanya? Ikuti kisah perjuangan Rike dalam mengungkap kebenaran yang sesungguhnya di balik misteri ini.