APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Ternyata Jodoh Selalu di Sampingku

Ternyata Jodoh Selalu di Sampingku

Tiga tahun setelah malam penuh gairah dengan seorang penguasa elite Kota Persy yang memanggilnya "Putri Kecil", sang protagonis harus menghadapi kenyataan pahit. Ketika ia menyatakan cintanya pada Farel, Nia Candra kembali. Demi cinta pertamanya itu, Farel tega membiarkannya ditabrak mobil, merusak peninggalan ibunya, hingga menjebloskannya ke penjara. Kecewa dan menyerah, ia memutuskan pergi ke Kota Appia untuk menikah dengan pria lain, membuat Farel panik mencarinya ke penjuru kota.
Bab
Bagikan

Bab 6

Ketika aku terbangun dari tidur yang berat, aku bisa merasakan rasa perih yang menusuk di lengan.

Begitu menunduk, aku melihat jarum infus sudah terbalik, darah merah segar memenuhi selang bening.

Aku menekan bel panggil di samping ranjang.

Seorang perawat masuk, alisnya berkerut melihat jarum yang sudah berdarah, lalu bertanya, "Kenapa nggak ada yang menjagamu? Pacarmu mana?"

"Dia bukan pacarku," jawabku dengan tenang. "Dia ada urusan, jadi sudah pergi," lanjutku.

"Sudah pergi berapa lama?" tanya perawat sambil mengganti jarum infus.

Aku melirik jam di dinding, sekarang sudah pukul dua subuh. Farel pergi pukul tujuh malam, itu berarti sudah berlalu tujuh jam.

"Sudah lama," jawabku pelan.

Perawat menggeleng sambil berkata, "Orang kaya memang begitu. Cuma pandai buat formalitas saja, tapi di saat penting, mereka nggak pernah ada."

Setelah jarum diganti, aku tidak bisa tidur lagi.

Saat fajar tiba, aku memutuskan turun dari ranjang untuk jalan-jalan.

Sambil menyeret tiang infus, aku melangkah ke koridor. Dari ujung koridor, terdengar bisikan dua perawat.

"Gadis di ruang VIP itu benar-benar beruntung. Pacarnya menyewa satu lantai penuh hanya untuknya."

"Aku dengar dia bahkan mendatangkan dokter dari luar negeri, dan dijaga 24 jam penuh."

"Tuan Muda Keluarga Keano benar-benar baik sekali padanya, dia bahkan nggak pernah meninggalkannya."

Langkahku terhenti.

Ruang VIP ada di lantai sepuluh, bangsal tempat aku tinggal hanya bangsal pasien biasa di lantai delapan.

Aku menekan tombol lift, naik ke lantai sepuluh.

Lantai ini memang sudah dipasangi pembatas. Hanya satu bangsal yang masih menyala lampunya.

Aku berjalan mendekat, menempelkan mata ke celah pintu untuk melihat ke dalam.

Di dalam sana, Farel duduk di tepi ranjang, dengan sabar menyuapi bubur ke bibir Nia.

Nia bersandar di bantal, wajahnya pucat tetapi tampak sehat.

"Masih sakit?" tanya Farel dengan lembut.

"Sudah jauh lebih baik," jawab Nia. Dia membuka mulut kecilnya untuk menerima suapan berikut. "Asal ada kamu, aku nggak takut apa pun," lanjut Nia.

Abbas yang duduk di sofa, tengah mengupas apel untuk Nia.

Begitu buburnya habis, dia langsung menyodorkan sepotong apel kecil ke arah Nia.

"Makan pelan-pelan, jangan sampai tersedak," ucap Abbas dengan suara penuh kasih.

"Paman Abbas baik sekali padaku," ujar Nia sambil tersenyum manis. "Seperti ayah kandungku sendiri," lanjut Nia.

"Mulai sekarang, kamu itu putriku. Rumah ini juga rumahmu," ucap Abbas sambil menepuk lembut tangan Nia.

Farel ikut tersenyum hangat, tangannya merapikan helai rambut Nia sambil bertanya, "Masih pusing?"

"Nggak, cuma agak lelah," jawab Nia.

"Kalau begitu, tidur lagi saja. Aku akan menjagamu di sini," ucap Farel sambil menarik tirai, lalu meredupkan lampu.

Adegan seharmonis itu bagaikan pisau yang menusuk hatiku dengan tajam.

Aku menggigit bibirku sekuat tenaga, memaksa diriku untuk tidak menangis.

Aku kemudian meninggalkan lantai VIP, dan kembali ke kamarku.

Tidak boleh menangis.

Alisa, kamu tidak boleh menangis.

Empat hari sebelum aku terbang ke Kota Appia untuk menikah, aku mengurus kepulangan dari rumah sakit.

Namun, ketika aku baru saja melangkah keluar gerbang rumah sakit, aku melihat Farel sedang menungguku sambil berdiri bersandar pada mobil hitam mewah.

"Masuk ke dalam mobil," ujar Farel.

"Aku bisa pesan taksi sendiri," ucapku.

"Masuk," kata Farel. Nada bicaranya tidak memberi ruang untuk menolak.

Aku menatap wajah Farel yang dingin, lalu akhirnya menyerah.

"Ke mana?" tanyaku.

"Jalan-jalan. Kamu sudah terlalu lama terkurung di rumah sakit," jawab Farel sambil menyalakan mobil.

Mobil melaju setengah jam sebelum berhenti di depan Pasar Lelang Sotebi di kawasan CBD.

Aku melihat poster di pintu masuk, lalu bertanya. "Pasar lelang?"

"Ya. Ada lelang barang seni hari ini. Bukankah kamu menyukai benda-benda itu?" ucap Farel sambil menuruni mobil.

Aku ingin menolak, tetapi saat menerima katalog yang Farel sodorkan, aku tiba-tiba melihat sebuah nama yang familier..

Nomor 47, sebuah kalung mutiara.

Tanganku mulai gemetar.

Aku sangat mengenal kalung itu. Itu peninggalan ibuku.

Farel menyadari perubahan ekspresiku, kemudian bertanya, "Ada apa?"

"Nggak ada apa-apa," jawabku sambil menggenggam katalog erat-erat. "Ayo masuk," lanjutku.

Di toilet, aku menelepon pengacara dengan tangan gemetar.

"Segera jual semua aset yang sudah kusiapkan. Sekarang juga," ucapku.

"Nona Alisa, bukankah itu untuk persiapan ke Kota Appia?" tanya pengacara.

"Aku berubah pikiran. Bisa dapat berapa kalau dijual?" tanyaku dengan cemas.

"Sekitar 200 miliar," jawab pengacara.

"Cukup," jawabku. Aku kemudian menutup telepon, lalu menarik napas panjang.

Aku harus mendapatkan kalung ibu kembali.

Setelah masuk ke pasar lelang, Farel membawaku duduk di barisan depan.

Ketika aku hendak duduk, tiba-tiba terdengar suara yang sangat familier.

"Kak Farel!" panggil Nia.

Nia berjalan masuk dengan gaun merah muda lembut, keningnya masih dibalut perban, tetapi dia tetap cantik mempesona.

Nia mendekat dan langsung menggandeng lengan Farel dengan manja.

"Kak Alisa juga ada di sini ya," ucap Nia sambil tersenyum manis padaku. "Aku bilang mau bertemumu dan minta maaf padamu di pasar lelang ini. Nggak kusangka, Kak Farel benar-benar membawamu kemari," lanjut Nia.

Saat itu juga, semuanya menjadi jelas.

Farel membawaku ke sini bukan untuk menghiburku, apalagi menemaniku.

Dia membawaku ke sini hanya karena Nia ingin minta maaf. Aku, hanyalah alat yang dibawa demi memuaskan keinginannya.

Aku menatap senyum puas Nia. Rasa sakit di hatiku lenyap begitu saja.

Aku sudah mati rasa, bahkan tidak merasakan perihnya lagi.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dendam Membara CEO Mesum
8.5
Kehidupan mapan Jent sebagai CEO terusik oleh konflik pernikahan karena belum memiliki anak. Didorong rasa curiga, ia membuntuti istrinya diam-diam dan memergokinya tengah berselingkuh dengan pria lain. Dikhianati dengan kejam, Jent enggan memilih jalan cerai biasa. Ia menyusun rencana pembalasan yang matang dan sadis untuk menghukum sang istri beserta kekasih gelapnya. Pengalaman pahit ini mengubah karakter Jent menjadi sosok yang dingin demi menuntut keadilan.
Sampul Novel Fatal
9.2
Esther harus membayar mahal kesalahan fatal di masa lalunya yang telah merenggut nyawa seseorang. Demi menebus dosa besar tersebut, ia terpaksa menjalani pernikahan penuh penderitaan bersama Felix. Sebagai kakak dari korban yang tewas, Felix diselimuti amarah dan bertekad menggunakan ikatan pernikahan ini sebagai alat balas dendam. Esther pun hanya bisa pasrah menerima segala siksaan dari suaminya di bawah bayang-bayang penyesalan mendalam.
Sampul Novel GAIRAH PRIA IMPOTEN
9.8
Mela, wanita malang yang diusir ibu tirinya dan menjadi korban pelecehan, terpaksa bekerja sebagai wanita penghibur. Di sana, ia mendapat misi khusus untuk memikat seorang pria impoten yang penuh misteri. Hubungan tak terduga ini justru membuat Mela hamil anak dari pria tersebut. Kini, ia terjebak dalam dilema besar mengenai masa depan janinnya, di tengah pusaran rahasia besar yang menyelimuti kehidupan mereka berdua.
Sampul Novel Ketika Suamiku Tak Mencintaiku Lagi
8.2
Pasca kecelakaan tragis yang membutakannya selama empat tahun, Bella akhirnya menjalani operasi pembukaan perban mata. Di usianya yang menginjak dua puluh tujuh tahun, ia sangat mendambakan untuk kembali melihat dunia, terutama wajah Galas, sang suami tercinta. Namun, kebahagiaan Bella langsung sirna dan berganti menjadi kebingungan yang mendalam. Tepat ketika penglihatannya telah kembali pulih, sosok suaminya justru lenyap secara misterius tanpa jejak.
Sampul Novel MR. AKSA
9.1
Demi berbakti, aku terpaksa setuju menikah muda dengan pria asing pilihan orang tua. Namun, duniaku seketika hancur saat mengetahui rahasia besar bahwa calon suamiku tidak menyukai perempuan. Aku tak habis pikir mengapa orang tuaku tega menjodohkanku dengannya. Kini aku terjebak dalam dilema yang menyiksa, meratapi nasib buruk ini sambil berharap ada jalan untuk melarikan diri. Aku sangat membutuhkan bantuan agar bisa lepas dari jeratan pernikahan yang tidak normal ini.
Sampul Novel Terpikat Pesona Tuan Remington
8.2
William yang trauma asmara membeli Sarah demi pelampiasan nafsu. Namun, kehamilan Sarah mengacaukan batinnya, membuatnya bimbang memilih antara Sarah atau Jessica, cinta pertamanya. Di sisi lain, Sarah yang melarikan diri dari sang ayah yang kejam justru terjerat komitmen rumit. Walau meragukan ketulusan William, Sarah enggan kehilangan pria itu dan calon bayinya. Akankah mereka menemukan jalan keluar dari pusaran konflik emosi ini?