APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Ternyata Jodoh Selalu di Sampingku

Ternyata Jodoh Selalu di Sampingku

Tiga tahun setelah malam penuh gairah dengan seorang penguasa elite Kota Persy yang memanggilnya "Putri Kecil", sang protagonis harus menghadapi kenyataan pahit. Ketika ia menyatakan cintanya pada Farel, Nia Candra kembali. Demi cinta pertamanya itu, Farel tega membiarkannya ditabrak mobil, merusak peninggalan ibunya, hingga menjebloskannya ke penjara. Kecewa dan menyerah, ia memutuskan pergi ke Kota Appia untuk menikah dengan pria lain, membuat Farel panik mencarinya ke penjuru kota.
Bab
Bagikan

Bab 7

Lelang resmi dimulai.

Aku menatap erat-erat papan penawaran di tangan, menunggu giliran barang nomor 47.

Akhirnya juru lelang mengangkat kalung mutiara itu.

“Barang nomor 47, kalung mutiara. Dilelang mulai dari 10 miliar," ucap juru lelang.

Aku langsung mengangkat papan dan berkata, "10 miliar."

"20 miliar," ucap Nia dari samping.

Aku menoleh dan melihat Nia sedang tersenyum manis sambil mengangkat papan.

Aku mencoba menawar lagi, "30 miliar."

"40 juta," ucap Nia lagi tanpa ragu.

Harga meroket tinggi.

60 miliar, 100 miliar, 160 miliar ….

Tanganku berkeringat dingin. Pengacara bilang semua asetku jika dijual kira-kira bisa dapat 200 miliar, tetapi kini angka di papan hampir menembus 220 miliar.

"220 miliar," ucap Nia sambil mengangkat papan itu dengan santai, seolah menyebut angka kecil.

Juru lelang menatapku: "Nyonya, masih mau lanjut?"

Tanganku gemetar; aku tidak mampu lagi mengangkat papan.

Uangku tidak cukup.

Semua mata tertuju padaku, termasuk Farel.

Aku menurunkan semua martabat yang tersisa dan menatap Farel dengan putus asa.

"Farel, tolong pinjamkan aku uang, Kumohon, ini kalung ibuku. Ini satu-satunya peninggalannya," ucapku dengan suara gemetar.

Farel menatapku, ada kilatan emosi yang rumit dalam matanya. Saat dia hampir mengeluarkan kartu kredit eksklusifnya untukku ….

Nia juga menoleh padanya, lalu berkata dengan suara manja, "Kak Farel, sejak dulu aku nggak punya apa-apa. Ini pertama kali ada kalung yang kusukai. Tolong minta Kak Alisa mengalah padaku, ya?"

Dia menarik lengan baju Farel dan menatapnya dengan penuh harap.

Farel menimbang beberapa detik antara aku dan Nia.

Detik-detik itu terasa panjang bagiku, seolah satu abad telah berlalu.

"Mengalahlah pada Nia," ucap Farel. Dia akhirnya berkata dengan suara tenang. Ucapannya dingin sampai membuat punggungku merinding.

Harapanku seakan runtuh.

"220 miliar, sekali!" teriak juru lelang.

"220 miliar, dua kali!"

Aku ingin memohon pada Farel lagi, tetapi kata-kata yang ingin kukatakan tersumbat di tenggorokan.

"220 miliar, tiga kali! Terjual!" teriak juru lelang pada akhirnya.

Ketika palu diketuk, hatiku benar-benar terasa mati.

Nia bertepuk tangan dengan girang, lalu menoleh padaku dan berkata, "Kak Alisa, terima kasih, ya!"

Rasa puas di wajahnya tidak disembunyikan sama sekali.

Setelah lelang berakhir, Farel pergi mengambil obat karena Nia bilang kepalanya sakit.

Aku duduk sendiri di sofa ruang tunggu, menyaksikan staf merapikan barang-barang.

Sepuluh menit kemudian, Nia kembali ke belakang panggung dan melangkah mendekat ke arahku.

Aku berdiri, berjalan menghampirinya.

"Nia, bolehkah aku tukar barang lain dengan kalungmu?" tanyaku pelan.

"Dengan apa?" tanya Nia sambil mengangkat alis.

"Aku punya sebuah Ferrari dan beberapa jam tangan bermerek. Totalnya ngak sampai 220 miliar, tapi kalau kamu beri aku waktu, aku akan melunasinya. Asal kamu mau memberiku kalung itu," ucapku. Aku mencoba terdengar tenang.

Nia menggeleng dan berkata, "Aku nggak butuh barang-barang itu."

"Lalu, apa yang kamu mau?" tanyaku lagi.

Dia berpikir sejenak, lalu tersenyum. "Aku mau kamu berlutut dan memohon padaku," ucap Nia.

"Apa?" seruku.

"Aku mau kamu sujud, lalu minta maaf sambil memohonku memberikan kalung ini padamu," ucap Nia. Tatapannya berubah menjadi tajam. "Dulu kamu memperlakukanku seperti itu. Sekarang giliranmu memohon padaku," lanjut Nia.

Aku menatapnya sambil mengepalkan tanganku.

Namun, mengingat kalung ibu, akhirnya aku perlahan menekukkan lututku.

"Bagus sekali. Sekarang biar kutunjukkan di mana kalung itu," ucap Nia sambil tersenyum puas dan mengeluarkan ponsel.

Dia memutar sebuah video dan menunjukkan layar ke arahku.

Di layar itu, seekor anjing jalanan kotor sedang menggoyangkan ekornya. Di lehernya tergantung sebuah kalung mutiara.

Itu kalung ibuku.

"Lihatlah, sekarang kalung itu ada di sini. Menurutku, cocok sekali dipakai olehnya. Barang wanita murahan memang cocok dipakai anjing," ucap Nia sambil tersenyum manis.

Darahku terasa berhenti mengalir.

"Apa katamu?" tanyaku.

"Aku bilang barang wanita murahan cocok dipakai anjing," ucap Nia sambil menyimpan ponsel dengan santai. "Ibumu wanita murahan, 'kan? Pantas saja dia kena tabrak. Sekarang peninggalannya dipakai anjing, bukankah itu cocok sekali?" lanjut Nia.

Suaraku hampir tidak terdengar saat aku bertanya, "Tangan mana yang kamu pakai untuk memasang kalung itu pada anjing?"

"Tangan kanan. Kenapa?" ucap Nia sambil masih tertawa.

Sesaat berikutnya aku meraih pisau makan di atas meja, lalu menancapkannya dengan sekuat tenaga ke telapak tangan kanannya.

Darah seketika muncrat, Nia mengeluarkan jeritan histeris yang tajam.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel A.M.O.R.E.G.A
8.3
Pertemuan tak terduga kerap hadir karena waktu, tetapi mengapa perpisahan selalu menjadi teka-teki yang sulit dimengerti? Kehilangan mengajarkan kita untuk menghargai arti kehadiran seseorang yang sangat berharga bagi jiwa. Walau rasa sakit akibat perpisahan itu perlahan pulih, goresan lukanya akan menetap abadi di dalam hati. Sesuatu yang terlanjur hancur takkan bisa kembali sempurna, mengukir kisah emosional yang sarat makna mendalam.
Sampul Novel Bodyguard I'm In Love
9.7
Sejak pandangan pertama, Jhon Christy langsung terobsesi pada Aleta Louison hingga perasaan itu berubah menjadi obsesi yang gelap. Dia bahkan rela meninggalkan kehidupan lamanya yang bergelimang harta demi menjadi pengawal pribadi Aleta di Rusia. Bagi Jhon, tujuan utamanya hanyalah berada di dekat gadis itu. Dia bertekad menyembuhkan sisi psikopat dalam diri Aleta dan menuntunnya agar bisa kembali menjalani kehidupan normal seperti wanita lainnya.
Sampul Novel En-PD158
8.7
Demi menyembuhkan putra kandungnya dengan Lin Yanran yang terkena leukemia, Zhou Yu'an mendadak meminta cerai setelah tiga tahun menikah. Ia memohon kepada istrinya agar diizinkan memiliki anak lagi dengan sang mantan pacar demi mendapatkan sel pengobatan, berjanji akan kembali setelah semuanya usai. Namun, di balik tangis pilu suaminya, sang istri justru menemukan pesan provokatif dari Yanran yang menuntut Yu'an untuk menghamilinya malam itu juga.
Sampul Novel Hasrat Terlarang dengan Atasan
8.8
Satu malam intim dengan bosnya, Erlangga Krisdiantoro, menjungkirbalikkan hidup Venina Anastasya. Meski tahu Erlangga sudah berkomitmen dengan perempuan lain, Venina terlanjur terpikat dan sulit melepaskan diri dari hubungan penuh hasrat yang berisiko memicu skandal ini. Sementara itu, Erlangga didera kebimbangan antara Venina dan kekasih masa lalunya yang hadir kembali. Akankah Venina selamanya menjadi pelampiasan sesaat tanpa pernah mendapatkan cinta tulus dari Erlangga?
Sampul Novel Jerat Cinta Tuan Mafia Salvatore
8.4
Felix Salvatore didera dendam kesumat kepada Veronica Reager. Ia menuduh putri musuhnya itu sebagai dalang atas tewasnya sang ibu. Lewat ancaman mati, Felix memaksa Veronica untuk menikahinya. Meski berniat menyiksa sang istri, pertahanan Felix goyah saat perasaan cinta perlahan tumbuh di antara mereka. Akankah kebenaran tentang kesalahpahaman masa lalu terungkap sebelum amarah Felix telanjur menghancurkan segalanya?
Sampul Novel Tuan muda
8.7
Dalam dingin yang membekukan, Qin Shu yang hampir kehilangan kesadaran mendadak tersadar karena pelukan hangat dan tangisan pilu seseorang. Begitu membuka matanya yang sembap, ia terkejut mendapati Fu Tingyu berada sangat dekat dengannya. Pria tampan itu tampak begitu hancur dengan mata memerah dan air mata yang terus mengalir. Pemandangan langka ini membuat Qin Shu sangat terpukul, sebab ia sama sekali belum pernah melihat Fu Tingyu menangis histeris seperti itu.