APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Terjebak Pesona Seuami Tanteku

Terjebak Pesona Seuami Tanteku

Baru sebulan membina rumah tangga dengan Dion, Luna Valleryn justru didera kesepian akibat suaminya yang terlalu sibuk bekerja. Saat berkunjung dan menginap di kediaman tantenya, Maya, Luna merasa iri menyaksikan kehangatan hubungan sang tante dengan suaminya, Berend. Ia pun berharap bisa memiliki sosok suami seperti Berend. Tanpa diduga, Berend justru mulai mendekati dan menggoda Luna, hingga akhirnya membawa mereka terjerumus ke dalam jalinan perselingkuhan yang terlarang.
Bab
Bagikan

Bab 3

Om Berend melangkah masuk, sementara kakiku beringsut mundur. “Om … mau ngapain?” lirihku. Kuyakini wajahku pucat pasi saat itu.

“Aku ingin membantumu,” jawabnya. Om Berend menutup pintu, aku semakin gemetaran. Oh Tuhan, apa yang akan dilakukan suami tanteku ini?

Om Berend semakin mendekat. Tangannya mulai membelai leherku. Sialnya, bibirku spontan mengeluarkan desahan kecil. Untung saja aku cepat sadar. Aku pun menepis tangan Om Berend. “Jangan, Om. Tante Maya akan marah besar,” ucapku.

“Tantemu itu sudah tertidur pulas, Lun. Dia tidak akan terbangun sampai pagi. Sekarang giliran kamu yang kupuaskan hingga tertidur pulas juga,” balasnya setengah berbisik.

Apa? Dia ingin memuaskanku? Oh, aku memang sudah lama sekali ingin dipuaskan oleh seorang laki-laki, tapi suamiku tidak pernah memberikan itu. Lantas, apa aku harus mendapatkannya dari suami tanteku sendiri?

Tangan Om Berend semakin bergerak membuka kancing kemejaku satu per satu. Kepala dan hatiku sedang berperang. Nuraniku mengatakan bahwa hal ini terlarang, aku sama saja mengkhianati Tante Maya yang telah begitu baik padaku. Tapi logikaku justru mengatakan bahwa aku membutuhkan suami tanteku ini. Aku punya kebutuhan juga sebagai seorang wanita dewasa, dan ini adalah kesempatan yang belum tentu akan datang dua kali.

Aku masih sibuk dengan pikiranku. Tahu-tahu aku sudah berada dalam pelukan Om Berend. Pakaianku juga sudah jatuh ke lantai, entah kapan ia melucutinya. Om Berend memberikan cumbuan panas di bibir, sementara tangannya terus menjalar di tubuhku. Aku gelagapan menanggapi ciuman itu. Om Berend benar-benar buas. Ia seperti tidak ingin melewatkan satu inci pun dari tubuhku. Boro-boro berontak, aku justru hanyut dalam sentuhannya.

“Puaskan aku, Om!”

Shit! Aku mengumpat bibirku sendiri yang dengan biadapnya sudah mengatakan kalimat tersebut. Sadar Luna! Sadar! Laki-laki ini adalah suami tantemu! Tapi, bagaimana mungkin aku bisa sadar jika setiap sentuhan Om Berend terus membuatku melayang-layang.

Detik demi detik berlalu. Aku dan Om Berend menyatu di atas ranjang. Aku tidak tahu apa yang dilakukan oleh laki-laki itu, bahkan aku tidak sempat melihat seberapa besar keperkasaannya. Aku hanya merasakan kenikmatan yang dahsyat ketika benda itu menghujam goaku.

Aku berusaha menggigit sudut bibirku agar desahan-desahan itu tidak keluar. Jangan sampai Tante Maya terbangun dan melihatku apa yang aku lakukan dengan suaminya. Ah, tolol, kenapa juga aku harus terus-terusan memikirkan Tante Maya? Yang ada aku jadi tidak fokus menikmati permainan ini.

Om Berend semakin beringas saja. Aku semakin hilang kendali. Sekitar setengah jam berselang, aku mengerang. Om Berend berhasil membawaku ke puncak yang aku inginkan.

Kami berdua terengah-engah di atas ranjang itu. Aku menarik selimut dan memalingkan wajah. Perasaanku berkecamuk, antara malu, sedih, merasa bersalah, tapi juga merasa senang di saat yang bersamaan. Om Berend bangkit berdiri dan mengenakan kembali celana boxer pendeknya, setelah itu ia ke luar dari kamar tersebut.

***

“Nyenyak tidurnya semalam, Lun?” tegur Tante Maya ketika melihatku ke luar dari kamar.

Mukaku langsung berubah merah padam. Aku merasa malu bangun lebih siang dari pada tuan rumah, meski tuan rumah itu juga tanteku sendiri. Ya, tidurku tadi malam memang nyenyak sekali. Tapi, tahukan Tante Maya, aku bisa tidur nyenyak setelah dipuaskan oleh suaminya?

Aku tersenyum tipis dan menghampiri Tante Maya di dapur. Aku membantunya menyiapkan sarapan.

“Lain kali, kalau suamimu ke luar kota, kamu menginap di sini saja, Lun,” ujar Tante Maya.

“Ah, Mas Dion hampir setiap akhir pekan ke luar kota, Tan,” balasku.

“Oh ya? Berarti setiap akhir pekan juga kamu sendirian di rumah?”

“Hmmm, berdua dengan asisten rumah tangga.”

Tante Maya menatapku prihatin. “Suamimu sibuk banget ya, Lun?”

“Ya, begitulah, Tan.”

Tante Maya mengusap bahuku. “Sabar, ya. Iya sih, kita butuh uang untuk kebutuhan hidup. Tapi kita juga butuh waktu untuk menikmatinya, Lun. Coba deh kamu ajak suamimu bicara baik-baik untuk mengurangi kesibukannya, supaya punya waktu juga buat kalian berdua.”

“Iya, Tan. Makasi, ya, Tan.”

Tante Maya tersenyum menatapku. Seiring dengan itu Om Berend turun dari lantai dua. Ia mengenakan setelan olahraga, celana training dan baju kaos ketat. Om Berend terlihat gagah. Tapi aku tidak berani menatapnya lama-lama.

“Kamu mau fitness, Sayang?” tanya Tante Maya pada suaminya.

“Iya, Sayang. Aku kan selalu fitness setiap minggu pagi,” jawab Om Berend.

“Tapi kan aku mau pakai mobil untuk belanja bulanan, sementara mobil satu lagi masih di bengkel, kan? Kamu pakai taxi online aja, ya.”

“Hmmm, kamu bawa mobil kan, Lun?” tanya Om Berend padaku.

“Hah?” Aku masih bengong karena sedari tadi berusaha untuk tidak menyimak pembicaraan suami istri itu.

“Mobil silver yang di depan itu punya kamu, kan?” Om Berend memastikan.

“Iya, Om.”

“Nanti Om nebeng sampai tempat fitness ya,” pintanya.

Aku melirik Tante Maya. Bukannya tidak mengizinkan, aku hanya tidak nyaman lagi dengan Om Berend semenjak kejadian tadi malam.

“Memangnya kamu mau pulang pagi ini, Lun?” tanya Tante Maya padaku.

Aku bingung harus menjawab apa. Jika aku mengiyakan, maka tentu aku akan berangkat bersama Om Berend. Tapi jika aku menggeleng, aku juga tidak punya alasan untuk lebih lama di rumah itu.

“Iya, Tante,” jawabku akhirnya.

“Ya, sudah kalau gitu, kamu bareng Luna aja, Sayang,” ujar Tante Maya pada suaminya.

Mampus kamu, Lun! Aku mengumpat diri sendiri. Aku tidak bisa membayangkan apa lagi yang akan Om Berend lakukan padaku nanti. Tapi, tidak bisa dibohongi juga bahwa hati kecilku sebenarnya menantikan masa-masa berdua dengan Om Berend.

Usai sarapan, aku pun pamit pada Tante Maya. “Aku pulang dulu ya, Tante,” ujarku sambil memeluk tanteku itu.

“Nanti siang Tante akan nelpon kamu. Tante akan ngasih tips gimana caranya supaya suamimu betah di rumah,” balas Tante Maya, aku menanggapi dengan tawa lirih.

Setelah itu, aku dan Om Berend memasuki mobil. Om Berend yang menyetir, sementara aku duduk di sebelahnya.

“Kapan suamimu pulang dari luar kota, Lun?” tanya Om Berend memecah hening yang berlangsung cukup lama.

“Besok pagi, Om,” jawabku.

Om Berend langsung tersenyum arti. Firasatku mulai tidak enak. Om Berend menambah kecepatan mobil.

“Bukannya itu tempat fitness langganan Om?” tanyaku pada Om Berend ketika kami telah melewati sebuah tempat fitness.

“Aku ingin fitness di rumahmu saja, Lun,” jawabnya.

Aku kontan melotot. “Ma-maksud Om apa?”

Ia melirikku. “Kau menyukai olahraga seperti tadi malam, kan?”

Wajahku mendadak panas, pasti sudah persis kepiting rebus. “Jangan aneh-aneh lagi, Om. Cukup tadi malam saja,” tandasku.

Om Berend justru terkekeh. “Bagaimana mungkin kau mengatakan cukup sementara tadi malam saja kau selalu meminta lebih. Kau lupa, Lun? Tadi malam kau selalu mengatakan, ‘Om, jangan berhenti!’” Om Berend menirukan suaraku dalam desahan penuh gairah.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Amnesia Palsu, Tapi Melepaskannya Sungguh-sungguh
9.5
Niat awal berpura-pura amnesia setelah kecelakaan demi menggoda suami dan anaknya justru berujung pada kenyataan pahit bagi wanita ini. Saat ia melontarkan pertanyaan tentang identitas mereka, sang putra justru tampak gembira. Bocah itu segera membawa masuk seorang wanita asing yang menunggu di luar ruang perawatan, lalu memperkenalkannya sebagai bagian dari keluarga yang datang menjenguk. Sang suami hanya berdiri membisu, membiarkan kebohongan kejam itu terjadi di depan matanya.
Sampul Novel Ciuman Ular Berbisa: Balas Dendam Seorang Istri
8.6
Bramantyo lebih meratapi mobil klasiknya ketimbang nyawa Leo yang nyaris hangus terbakar. Di tengah kepedihan itu, sang istri menyadari bahwa pernikahan mereka hanyalah alat untuk membuat Saskia cemburu. Meski gugatan cerai telah diajukan, siksaan demi siksaan tetap menderanya. Puncaknya, perusahaannya dirampas dan ia hampir tewas akibat gigitan ular berbisa. Kini, ia bangkit dari kematian untuk membalas dendam pada suami dan saudara tirinya.
Sampul Novel Dendam Seorang Adik
8.6
Kematian tragis Danisa meninggalkan luka batin yang mendalam bagi Amara. Mengetahui sang kakak mengakhiri hidup akibat dikhianati keluarga Pramudya, Amara bersumpah menuntut balas. Berbekal pesona memikat, ia menyusup ke lingkaran mereka untuk menghancurkan reputasi serta kekayaan mantan suami, mertua, hingga ipar kakaknya. Namun, saat rencana penghancuran ini berjalan, muncul perasaan tak terduga yang mengancam misi utamanya. Mampukah Amara tetap menjaga hatinya agar tetap dingin?
Sampul Novel Dicintai Adik Ketemu Gede
9.1
Vivi, gadis berusia 17 tahun, memendam rasa pada Agam Permana, pria dewasa yang sudah sepuluh tahun dikenalnya. Walau hanya dianggap adik, Vivi berani melamar Agam begitu lulus sekolah. Rumitnya, Fadlan yang merupakan sahabat Agam juga menyukai Vivi. Agam kini bimbang antara menjaga pertemanan atau mengakui perasaan sendiri yang mulai berkembang. Mampukah hubungan beda usia ini terwujud tanpa menghancurkan persahabatan mereka?
Sampul Novel Pelakor Kesayangan CEO
8.2
Menyamar sebagai Aleena, Alisya kembali demi membalas dendam. Ia berhasil memikat Arfa, sang pewaris Arhadita Company, hingga dicap sebagai orang ketiga. Target utamanya adalah menghancurkan hidup Laura, istri sah Arfa. Namun, rencana Aleena goyah saat Laura hamil dan masa lalunya kembali membayangi. Di tengah terbongkarnya rahasia kelam dan prahara rumah tangga ini, mampukah Arfa merebut kembali hati Aleena yang kini diselimuti kemarahan?
Sampul Novel Suamiku CEO Posesif
8.8
Akibat luka masa lalu, Leah enggan berkomitmen. Namun, lamaran mendadak dari Nero mengubah segalanya. Tanpa Leah kenal, orang tuanya langsung menyetujui pernikahan tersebut. Di awal, sikap dingin Nero membuat hubungan mereka canggung. Begitu mereka mulai dekat, mantan kekasih Leah hadir kembali untuk merebutnya. Kini Leah terjebak di antara obsesi sang suami yang sangat posesif dan usahanya mengatasi gangguan masa lalu.