APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Terjebak Cinta, CEO Arogan

Terjebak Cinta, CEO Arogan

Saat menghindari pria hidung belang pilihan pamannya, Zee tidak sengaja terlibat cinta satu malam dengan Nevan Aditama. CEO dingin tersebut menuduh Zee sebagai mata-mata musuh, memicu pengejaran yang memaksa Zee melarikan diri. Takdir kembali mempertemukan mereka saat Zee bekerja menjadi asisten pribadi Nevan. Kini, di hadapan sang miliarder yang kejam, ia harus berpura-pura dan menyembunyikan identitas aslinya agar rahasia masa lalu mereka tidak terbongkar.
Bab
Bagikan

Bab 3

Nevan menatap layar iPadnya yang sedang menampilkan video cctv depan ruangan hotel yang semalam ia pakai. Berulang kali ia memutar potongan video yang menunjukkan seorang gadis keluar dari ruangan itu saat masih pagi buta. Namun, cctv itu tak menangkap wajah sang gadis sehingga tidak bisa ia tunjukkan pada Irwan untuk diselidiki. Apa maksud dan tujuan gadis itu menyelinap ke kamarnya.

Sesekali Irwan melirik sang Bos Muda dari kaca spion yang menggantung di depannya. Ia tersenyum kecil melihat wajah sang Bos tampak tertarik dengan gadis dalam video itu. Hingga membuatnya tak bosan meskipun sudah diputar puluhan kali. 

"Gadis itu cantik ya, Pak?" tanya Irwan memecah keheningan. Nevan tersadar jika sedari tadi ia diperhatikan.

"Nggak! Biasa aja," balasnya dingin. Sambil mematikan benda pipih itu. 

"Oh, begitu," timpal Irwan dengan menahan senyum gelinya.

"Kenapa respon loe seperti itu?" tanya Nevan curiga. Ketika melihat ekspresi wajah Irwan dari spion.

"Oh, tidak, Pak. Tidak apa-apa. Ehms…. Apa sebaiknya kita ceritakan hal ini pada Nyonya Besar? Saya yakin pasti gadis itu bukan orang sembarangan." Irwan berusaha mengalihkan pembicaraan.

"Jangan!" ujar Nevan cepat. Sampai-sampai membuat Irwan meliriknya lagi. "Maksudnya. Kita jangan terburu-buru kasih tau Omah. Lebih baik kita telusuri dulu identitas gadis itu. Setelah kita tau dia benar-benar orang jahat. Kita atur strategi untuk menangkapnya. Baru kemudian kita laporkan sama Omah kalau keadaannya sudah aman. Gue nggak mau Omah ikut kepikiran atas kejadian ini."

Dera Kiswoyo Aditama adalah nenek Nevan yang sudah mengasuhnya sejak bayi. Kedua orang tua Nevan meninggal karena kecelakaan saat ia masih kecil. Sehingga mau tak mau ia harus tinggal bersama istri pendiri perusahaan Adiguna itu. Dan hal itu pula yang membuat Omah Dera sangat ketat menjaga Nevan. Sekaligus memberi pelajaran mengatur perusahaan sejak dini. Sehingga, Nevan kini mahir menjalankan raksasa bisnis ekspor sang Opah meskipun usianya masih tiga puluh tahun. Kembali pada percakapan Nevan dan Irwan di dalam mobil. 

"Tapi, gimana kalau ternyata gadis itu berniat menjebak anda, Pak?" balas Irwan sambil terus mengemudikan mobil bosnya. 

"Menjebak?"

"Iya. Dia mengambil foto-foto anda saat anda lengah. Lalu menggunakan foto-foto itu untuk kepentingannya sendiri atau bahkan memeras anda."

"Iya. Loe bener. Pokoknya secepatnya kita harus tangkap gadis itu. Bagaimana pun caranya!"

"Iya, Pak. Tapi, kita tidak memiliki ciri-ciri khusus gadis itu, Pak. Jadi, saya yakin misi ini akan cukup sulit."

"Benar juga." Keduanya berpikir sesaat. "Untuk sementara. Kita selidiki sendiri kasus ini. Karena kita belum tahu pasti siapa musuh kita sekarang. Satu-satunya kunci ada pada gadis itu. Setelah dia tertangkap. Gue yakin kita bisa mendapatkan informasi tentang peneror gue selama ini," tambahnya. Nevan sadar umurnya yang belum matang untuk mengisi posisi penting di perusahaan. Membuat seseorang iri dan sering mengirimkan teror untuk menekannya. 

"Baik, Pak. Saya sependapat." Irwan mengangguk setuju.

****

Di dalam bus yang mengantarnya ke Jakarta. Zee terus menatap selembar kertas yang terselip di antara lembaran uang seratus ribuan pemberian Bibinya. Di tengah kertas itu tertulis alamat rumah teman Bi Juwita yang bernama Narsih. Zee yang belum bisa melupakan kejadian beberapa saat yang lalu pun mendadak meneteskan air matanya. Ia sangat kenal kepribadian adik ibunya itu. Meskipun pekerjaannya tidak bisa disebut baik, tapi wanita itu selalu baik padanya. Ia hanya bernasib sial sehingga mencintai lelaki tak bermoral seperti Paman Gobar. Zee pun sering mendengar kalimat penyesalan keluar dari mulutnya dikala sedang menangis. Namun, walaupun begitu ia tetap patuh dan terus mengabdi dengan baik pada sang suami.

Hingga akhirnya kesabaran Bibi Juwita habis. Ketika ia berusaha untuk melindungi keponakannya dari kejahatan suami sendiri. Zee pun semakin sesegukan saat mengingat amarah Bibinya tadi. Ia sangat tau itu bukanlah sifat Bibinya yang sebenarnya. Sebab, ia tau betul Bibinya sangat penakut dan penurut. Untuk itu, Zee kini sangat khawatir. Bagaimana nasib Bibinya sekarang.

'Bagaimana kalau polisi tau dan Bibik dimasukkan ke dalam penjara? Maafkan Zee, Bik. Maafkan, Zee,' batin Zee sambil menyandarkan kepalanya di sandaran kursi. Ia terus menyalahkan dirinya sendiri. 

'Andai semalam gue tidak kabur. Mungkin hal ini tidak akan terjadi,' ujarnya dalam hati.

Mata Zee yang sembab serta tenaganya yang kian menguap sejak semalam. Membuat Zee yang tengah menangis sesenggukan pun akhirnya tertidur pulas karena kecapean. Tanpa Zee sadari seseorang yang duduk di sampingnya. Terus saja memandangi tas ransel yang ada di pangkuan Zee. Terutama pada kantong tempat Zee menyimpan kertas tadi.

Dua jam kemudian Zee dibangunkan oleh kondektur bus karena mereka sudah sampai tujuan.

"Neng! Neng bangun! Kita sudah sampai!" kata lelaki paruh baya itu sambil menepuk pundak Zee pelan. Zee segera terbangun.

"Kita udah sampai ya, Pak?" tanya Zee sembari mengumpulkan kembali nyawanya.

"Iya. Makanya cepat bayar! Tuh, semua orang juga sudah keluar!" Zee menatap ke tempat duduk lain dan memang sudah tidak ada orang lain selain mereka berdua di dalam sana.

"Oh, iya. Maaf saya ketiduran tadi, Pak."

"Ya, sudah. Cepat bayar saja! Setelah itu kamu silahkan pergi."

"Baik, Pak!" Zee merogoh kantong tas di bagian depan. Tempat ia meletakkan uangnya tadi. Namun, sesaat kemudian ia baru tersadar jika lembaran uang seratus ribuan itu tak ada lagi disana. Zee segera memeriksa kantong-kantong lain dan hasilnya pun sama. Pak Kondektur menatap Zee curiga.

"Bagaimana? Mana uangnya?"

"Sebentar ya, Pak. Saya cari dulu!" Zee kembali mengorek isi tasnya, tapi tetap tak menemukan apa yang dicarinya. "Ehms…. Maaf, Pak. Sepertinya ada orang yang mengambil uang saya. Saat saya ketiduran barusan."

"Lalu?!" sergah lelaki itu mulai kesal.

"Saya tidak bisa membayar ongkos, Bus," balas Zee dengan wajah ibanya. Lelaki itu menatap Zee dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan tatapan yang berbeda. Meskipun wajah Zee tampak sembab dan berantakan, tapi ia tetap terlihat cantik dengan kulit putih bersih. Sehingga lelaki itu menatap Zee dengan tatapan lain. Hingga Zee merasa risih dibuatnya. 

"Oh, begitu. Oke. Tidak masalah. Tapi, kamu harus bayar dengan tubuh kamu!" kata lelaki itu sambil mencolek dagu Zee. Tentu, gadis itu langsung menepis tangan kasar nan hitam terbakar sinar matahari itu.

"Jangan kurang aja ya, Pak! Atau saya teriak nih!" ancam Zee.

"Teriak saja! Semua orang disini adalah teman saya. Kalau mereka tau paling mereka akan datang dan bergabung dengan kesenangan kita. Jadi, teriak saja sesukamu, Manis!" balasnya menantang balik. Tangan lelaki itu kembali hendak menyentuh wajah Zee, tapi Zee buru-buru berpaling.

Cling!

Tiba-tiba Zee mendapatkan sebuah ide brilian.

"Ya, sudah. Jika itu memang keinginan Bapak. Tapi, pertama-tama. Izinkan saya membuka baju terlebih dahulu ya!" ujar Zee.

"Oh, ya. Tentu!" Lelaki itu mundur selangkah dengan tatapan penuh hasrat pada Zee yang beranjak dari duduknya. Bak seekor singa kelaparan ia tak sabar menantikan gadis itu yang mulai mengangkat ujung bawah kemejanya.

Zee melirik tajam pada lelaki itu. Ketika hitungannya sudah pas. Ia pun segera menendang lelaki itu dengan cukup kuat sehingga terjungkal ke belakang. Zee cepat-cepat meraih ranselnya. Kemudian berlari tunggang langgang dari dalam bus itu.

"Wei! Kurang ajar! Kembali kamu gadis jalang!" teriak lelaki itu tak tak digubris Zee sama sekali. Karena ia terus berlari secepat mungkin menjauh dari tempat itu.

"Hosh. Hosh. Hosh." Zee mengatur nafasnya lagi sembari beristirahat sejenak. Setelah ia berhasil kabur dari area terminal. Ia pun memutuskan duduk di emperan toko sembari mengingat kembali kejadian demi kejadian naas yang sudah menimpanya. "Hiks. Kenapa sih nasib gue sial terus? Hiks. Hiks." Air mata Zee kembali membasahi pipi mulusnya. 

Ia bingung harus bagaimana sekarang. Di tempat asing ini. Ia tak membawa uang sepeserpun. Hanya tersisa baju-baju dan alamat rumah teman Bibinya saja. Sementara, perutnya mulai meminta jatah makanan. 

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Gadis Ternoda
8.1
Diana dikhianati sahabatnya sendiri hingga terjebak dalam malam kelam bersama pria asing. Peristiwa itu menyisakan kehamilan tak terduga. Bertahun-tahun kemudian, ia kembali dipertemukan dengan ayah kandung anaknya. Keadaan kian pelik saat Diana mengetahui bahwa pria tersebut kini menjalin kasih dengan sepupunya. Kini, Diana dihadapkan pada pilihan sulit: membongkar rahasia darah daging mereka atau tetap diam demi keutuhan keluarganya.
Sampul Novel Gairah Nakal Remaja
9.2
Kedewasaan tak melulu soal usia, melainkan dibentuk oleh lingkungan dan pergaulan. Kisah romansa modern ini membawa kita menyusuri memori masa SMA hingga kuliah yang sarat gejolak cinta remaja. Dirancang untuk menghidupkan kembali kenangan indah masa lalu, alurnya menyajikan konflik emosional yang mendalam. Karena terdapat konten eksplisit dan adegan khusus dewasa di beberapa bagian, pembaca diharapkan bersikap bijak dan menyikapinya secara dewasa.
Sampul Novel "Gita Cinta dari Gadjah Mada"
8.1
Kisah cinta membara hadir di Universitas Gadjah Mada antara Gita, seorang mahasiswi berbakat, dan Mada yang penuh ambisi. Di tengah dinamika dunia perkuliahan yang padat, jalinan asmara mereka harus menghadapi berbagai tantangan nyata. Pembaca akan dibawa merasakan perjuangan emosional sepasang kekasih ini dalam mempertahankan hubungan mereka. Sebuah potret romansa masa muda yang berjuang bertahan melewati kerasnya rintangan di lingkungan akademis kampus.
Sampul Novel Mamaku yang Cantik dan Pengagum Misteriusnya
8.0
Dikhianati dan dijebak dalam cinta satu malam, Alisa pulang membawa anak kembar. Kini, ia bekerja untuk Marvin, CEO genius yang diam-diam menyamar sebagai Primus demi melindungi identitasnya. Situasi pelik terjadi ketika Alisa menyadari bahwa Primus adalah pria dari masa lalunya. Terjebak di antara dua persona dari pria yang sama, mampukah Alisa mengungkap rahasia Marvin? Bagaimana sang CEO akan bereaksi saat mengetahui keberadaan kedua anak kandungnya?
Sampul Novel Melayani Hasrat Mertua Dan Ipar
8.1
Kehadiran ibu mertua dan adik ipar yang ingin menumpang tinggal membuat Galang cemas. Rumahnya yang kecil memicu kekhawatiran akan konflik dan sempitnya ruang. Namun, penjelasan tulus dari Gaby mengenai nasib malang keluarganya di desa berhasil menyentuh hati Galang. Atas dasar cinta pada sang istri, ia pun memberi izin. Kini, Galang harus bersiap menghadapi babak baru yang menantang demi menjaga keharmonisan rumah tangga mereka.
Sampul Novel Wanita Penakluk Direktur Muda
8.0
Demi memulihkan harga dirinya, Raellyn nekat mengancam Arnav, direktur hiburan ternama, memakai pisau lipat. Ia menuntut pertanggungjawaban atas pengkhianatan adik Arnav, Arsene, yang membatalkan janji pernikahan mereka. Namun, Arnav tidak mudah diintimidasi. Melihat peluang untuk memenuhi tuntutan mencari istri, ia justru menawarkan pernikahan kepada Raellyn. Meski motifnya uang, Arnav bertekad mendapat kompensasi setimpal dari wanita itu.