
Terhimpit! Tante Tiri dan Pembantu Cantik
Bab 4
: Bingung Sendiri
Tok…tok…tok!
“Satria, kamu sudah pulang ya dari kampus?” terdengar suara dari Ajeng dari luar kamarnya, Satria dengan malas-malasan membuka dan si ART bertubuh penuh ini sudah berdiri di depan pintu kamarnya.
“Baru bangun tidur yaa?”
“Iya ka Ajeng, aku tadi di kampus kurang enak badan, makanya setelah pulang langsung bobok,” kata Satria berbohong pastinya.
“Hmm…gitukah?” Ajeng yang masih basah rambutnya terlihat sangsi dengan jawaban anak muda kurus ini, tapi saat menatap mata Satria yang agak merah, Ajeng pun percaya.
“Kamu….eee..ya..ya udahlah, aku mau beres-beres dulu,” sahut Ajeng lagi dan dengan lenggang kangkung perlihatkan pinggulnya yang tak kalah aduhainya dengan milik Tante Vega, si ART ini pun berlalu dari hadapan Satria.
“Amboii…pinggul itulah yang goyang koplo Om aku,” batin Satria menahan tawa.
Kini sebuah rahasia besar sudah dia ketahui di rumah ini, Om Brata sepupu ayahnya yang mantan tentara, tapi kini berkarir di pemerintahan, diam – diam memiliki skandal dengan…Ajeng sang ART.
Hanya yang bikin Satria heran, sejak dia tinggal di sini, Andrea sepupunya, yang juga anak Om Brata dengan mendiang istri pertamanya tak pernah terlihat di rumah besar dan mewah ini.
“Kemana dia ya, dulu Om Brata bilang Andrea baru lulus kuliah dan jadi asisten dosen?”
Tapi Satria tidak mau memusingkan itu berlebihan, kini dia kembali termenung, dua hari berturut-turut dirinya tak sengaja melihat pemandangan yang bikin otaknya konslet.
Walaupun nakal dan suka ngintip, Satria aslinya sampai kini masih perjaka, dia tak pernah macam – macam dengan wanita manapun.
Di Jakarta sini pun dia kuliah di Prodi Keguruan targetnya harus wisuda kurang dari 4 tahun.
Ia sudah niatkan di tahun 3 sudah persiapan skripsi. Otaknya encer dan sejak SD, hingga SMU, selalu jawara kelas, bahkan saat lulus SMU, dia terbaik se Kabupaten, sehingga dapat beasiswa dan kuliah di kampus bonafit di Indonesia ini.
Mengintip selalu menjadi satu-satunya kenakalan Satria, terutama jika ada pengantin baru di kampung mereka. Dan kini, kebiasaan buruk itu kembali kambuh di rumah Om-nya, menyeretnya masuk ke dalam rahasia kelam: skandal cinta antara Om Brata dan Ajeng, si ART.
Kebingungan pun mendera benaknya. "Kenapa aneh sekali? Mengapa Om Brata loyo saat dengan Tante Vega, tapi begitu perkasa saat bersama Ajeng? Apa sih rahasia yang membuat Om Brata bisa tampil beringas untuk Ajeng, namun mendadak lemah di hadapan istrinya sendiri?" Satria tak habis pikir.
Satria tambah mumet sendiri, sebab di matanya, bini kedua Om-nya ini sangatlah sempurna, berkulit putih bak wanita blasteran dan memiliki body aduhai.
Apalagi dulu seingatnya, sebelum menikah dengan Om-nya Tante Vega ini mantan model, sehingga memiliki tubuh yang tinggi.
Sedangkan Ajeng…hanya seorang ART, lulusan pun hanya SMU Paket C! Walaupun Ajeng biarpun agak sintal, juga tak kalah aduhainya dan bibir tebalnya sangatlah menggoda.
Malamnya…di meja makan,
"Satria, Om besok harus terbang ke luar negeri. Ada kunjungan kerja sangat penting untuk mengurus negosiasi kontrak strategis yang harus Om tangani langsung. Perjalanannya akan memakan waktu lama, Om akan mampir ke dua benua, dan Om mungkin sulit dihubungi. Om pesan, jaga rumah dan Tante kamu baik-baik. Pulang kuliah kalau tak ada kegiatan yang nggak perlu, langsung pulang yaa. Kamu kan pintar beladiri silat, kalau ada apa-apa, kamu bisa diandalkan," pesan Om Brata.
“Si-siap Om, aku akan patuhi pesan Om!” sahut Satria cepat. Satria sudah tak aneh, Om Brata jarang lama ada di rumah, selalu sibuk dengan urusan kantor.
Tanpa Satria sadari, saat Om-nya berkata begitu, Tante Vega terlihat keluarkan seutas senyuman.
“Makan yang banyak Satria, masa udah 2 bulanan di sini badan kamu masih kurus begitu, kayak kurang gizi saja,” sela Tante Vega. Om Brata diam saja dengan ucapan istrinya, dia malah menatap tubuh kurus Satria.
“Hmm…benar juga, ayoo tambah nasi.” Om Brata sodorkan nasi tambah dan mau tak mau Satria pun makan hingga 1,5 piring porsi penuh.
Tak ada kejadian aneh malam ini, karena Satria usai makan langsung kembali ke kamarnya dan sibuk belajar, Satria memang selalu mengulang pelajaran yang diberikan dosen, inilah kebiasaan sejak SD yang bikin dia jenius dan mudah paham.
Tapi gangguan justru datang dari…Ajeng.
“Lagi belajar ya, nih aku buatin kopi jahe, kan kamu bilang badan kurang enak tadi sore, minum ini biar segar badannya!”
Ajeng yang sebelumnya tahu kamar Satria tak dikunci nyelonong masuk sambil letakan kopi jahe panas di samping buku-buku Satria, anehnya Ajeng bukannya menjauh, dia tetap berdiri di samping meja belajar Satria.
“Makasih ka Ajeng!”
“Sama-sama Ganteng…!” sahut Ajeng kenes.
Ajeng mengangguk dalam hati, menyetujui penilaian Tante Vega.
Andai saja Satria mau menggemukkan badan, si jangkung kurus ini pasti akan sangat tampan, bahkan macho, pikirnya.
Bulu-bulu halus yang mulai tumbuh di pipinya sudah menjadi daya tarik tersendiri.
Pandangan Ajeng kemudian turun, mendarat dan terpaku pada paha Satria yang saat itu hanya dibalut celana pendek.
Seketika, matanya berkilat tajam. Ada sesuatu yang terbentuk jelas, memberontak di balik bahan celana pendek itu...!!
**
Makin penasaran ya, lanjut lagi…
Anda Mungkin Juga Suka





