APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Tergoda Sahabat Mama

Tergoda Sahabat Mama

Brian, pemuda berusia dua puluh tahun, jatuh hati pada Aurora, sahabat karib ibunya yang terpaut usia delapan belas tahun lebih tua. Walau sempat ditolak, kegigihan Brian berhasil meluluhkan hati Aurora hingga keduanya nekat menjalin hubungan asmara secara rahasia. Sialnya, hubungan tersembunyi ini akhirnya terbongkar dan memicu kemarahan besar sang ibu. Cinta beda generasi mereka kini berada di ujung tanduk karena mustahil mendapatkan restu dari keluarga.
Bab
Bagikan

Bab 1

Langkah kaki Aurora terdengar mantap menapaki marmer putih di lorong rumah mewahnya yang lapang.

Baru saja pulang dari kantor, penampilannya tetap rapi dan memesona, meski hari sudah menjelang sore.

Ia mengenakan blouse satin warna gading dengan potongan V-neck yang anggun namun cukup berani menampilkan sedikit belahan dada.

Blouse itu dimasukkan rapi ke dalam celana panjang high-waist berwarna navy, membentuk lekuk pinggangnya yang ramping dan mempertegas siluet tubuh semoknya.

Sepasang stiletto nude yang masih membungkus kakinya mengeluarkan suara halus setiap kali menyentuh lantai, seolah memberi tahu seluruh rumah bahwa sang pemilik baru saja kembali.

Rambut cokelat karamel sepanjang punggungnya dibiarkan terurai longgar, sedikit bergelombang karena aktivitas seharian.

Make-up-nya masih sempurna, lipstik nude glossy, eyeliner tajam, dan pipi dengan semburat blush tipis yang menambah kesan segar pada wajahnya yang awet muda.

Tas kerja kulit berwarna hitam dari brand ternama menggantung di lekukan lengannya, dan sebuah jam tangan perak melingkar manis di pergelangan tangan kirinya.

Sosoknya memancarkan aura berkelas sekaligus menggoda, seorang wanita yang tahu betul siapa dirinya, dan tidak meminta izin untuk menguasai ruangan.

"Len, kamu di mana?" panggilnya, suaranya lantang namun tetap terdengar elegan.

Matanya menelusuri tiap ruangan, mencari sahabatnya, Magdalena. Namun rumah besar itu sepi.

Aurora mendesah pelan, lalu mengarahkan langkahnya menuju bagian belakang rumah, tempat kolam renang pribadi berada, tempat yang kadang menjadi pelarian tenangnya setelah hari panjang yang melelahkan.

Seorang pria baru saja keluar dari kolam renang, mengibaskan rambut basahnya tanpa sadar, menciptakan percikan kecil yang menghiasi udara sekitarnya, tanpa menyadari kehadiran Aurora di sana.

Air masih menetes dari ujung rambutnya yang hitam legam, sebagian mengalir pelan menuruni garis rahangnya yang tegas hingga membasahi leher dan dada bidangnya.

Tubuhnya terpahat sempurna layaknya model sampul majalah kebugaran. Otot-ototnya kencang dan simetris, kulitnya kecokelatan, berkilau di bawah matahari sore yang mulai meredup.

Dia hanya mengenakan celana renang boxer hitam ketat yang menempel pas di pinggul, garis otot perutnya jelas terlihat, menciptakan siluet V yang mengundang pandangan liar siapa pun yang melihat.

Aurora berdiri beberapa meter darinya, setengah tersembunyi di balik tirai gazebo taman. Wanita itu berusia 38 tahun, tapi tubuhnya masih seindah saat ia berumur dua puluhan.

Pinggulnya padat dan berisi, lekuk tubuhnya terjaga, dan kulitnya halus terawat.

Saat pandangan Aurora tertumbuk pada tubuh pria yang basah dan nyaris telanjang, jantungnya berdetak tak karuan.

Aurora terpaku, napasnya tercekat sesaat.

"Ya Tuhan..." bisik batinnya.

"Itu... Brian?"

Jarang sekali ia dibuat terpana seperti ini. Biasanya, lelaki seusia pria yang tampak mentah dan polos.

Tapi yang satu ini... menggoda. Matang di tempat yang tepat. Membuat pikirannya melayang ke arah yang tak seharusnya.

Dan ketika lelaki itu menoleh, menatapnya tepat di mata, lalu tersenyum, senyum manis yang polos tapi menyimpan bara tersembunyi.

Senyuman hangat penuh keyakinan, seperti pria yang tahu betul daya tariknya.

Aurora merasakan gelombang panas merayap dari ujung kaki sampai tengkuknya. Senyum itu tak hanya membuatnya gugup, tapi juga berbahaya. Seolah pemuda itu tahu persis efek seperti apa yang ditimbulkannya.

Aurora buru-buru mengalihkan pandangan, jantungnya berdetak tak karuan.

Tapi langkah kaki si pemuda justru mendekat.

"Tante Aurora..." suara itu rendah, hangat, dan sedikit berat.

"Perasaan apa ini? Aku gak pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya," gumam Aurora dalam hati, gugup luar biasa.

"Tante apa kabar?" sapa Brian dengan nada santai namun penuh daya tarik.

"Makin cantik aja... nggak berubah sama sekali." pujinya, dengan mata berbinar.

Aurora menoleh dengan senyum malu-malu.

"Brian! Kamu bisa aja," katanya tersipu, bibirnya melengkung manis.

"Seperti yang kamu lihat, tante sehat dan happy." Suaranya terdengar berusaha tetap tenang, tapi pipinya merona samar.

Brian menyeka rambut basahnya ke belakang, lalu menatap Aurora dari ujung kaki hingga kepala, tanpa malu.

"Kalau aku nggak tahu umur tante, aku pasti pikir tante ini mahasiswa baru," godanya.

Aurora tertawa kecil, tapi matanya menyipit, menahan gejolak aneh yang mengusik.

"Kamu makin jago menggombal, ya." kata Aurora.

"Aku nggak gombal. Tante selalu tampak... luar biasa. Cantik, segar, dan jujur aja, lebih menggoda dari yang aku bayangkan selama ini."

Aurora menahan napas. Kalimat itu... terlalu jujur.

Aurora melangkah menjauh sedikit, berusaha mengendalikan detak jantungnya.

"Jangan muji tante terus, nanti tante bisa kegeeran, loh," ucap Aurora sambil tersenyum, mencoba bersikap santai walau dadanya berdebar tak karuan.

Brian tertawa ringan, rambut basahnya masih menetes, menambah kesan liar dan alami dari sosoknya yang kini berdiri hanya beberapa langkah darinya.

"Aku nggak muji, aku cuma bilang kenyataan," balas Brian santai, lalu menatap Aurora dari kepala sampai kaki tanpa menyembunyikan kekagumannya.

"Tante makin terlihat segar dan berseri-seri banget. Lebih... padat, berisi, dan semok dari tiga tahun lalu."

Aurora tertawa kecil, tapi matanya melirik Brian sekilas, dan buru-buru berpaling saat mata mereka bertemu.

"Itu karena tante sekarang rajin hidup sehat," katanya sambil menegakkan bahu dan berusaha tidak terlihat gugup.

"Minum air putih, olahraga rutin, tidur cukup, makan buah dan sayur organik. Pokoknya, nikmatin hidup aja." sambungnya.

"Dan hasilnya luar biasa. Tante kelihatan kayak baru 25 tahun, serius." Brian mengangkat jempol, lalu menyandarkan satu tangannya di pagar kayu kolam renang, menatap Aurora tanpa berkedip.

"Kalau aku bukan kenal tante dari bayi... mungkin aku kira tante ini influencer cantik yang suka yoga dan traveling." kata Brian jujur.

Aurora menggeleng sambil tersenyum malu.

"Kamu dari dulu memang jago gombal ya, Brian." katanya.

"Dulu aku gombal karena suka main-main," bisik Brian, nadanya berubah lebih rendah.

"Tapi sekarang, aku serius." jawabnya.

Aurora tercekat. Senyum di wajahnya perlahan memudar, digantikan dengan ekspresi bingung... dan gugup.

Matanya menatap Brian, lelaki muda itu berdiri percaya diri dengan tubuh atletis, kulit kecokelatan yang sedikit basah, dan sorot mata yang tak main-main.

Ia ingat betul, terakhir kali melihat Brian, cowok itu masih remaja kurus dengan rambut acak-acakan dan suara yang kadang masih melengking. Tapi sekarang... Brian sudah menjadi pria.

Tingginya 187 meter, tubuh ramping tapi berotot, dada bidang, rahang tegas, dan senyum yang bisa membuat jantung wanita melambat satu detik.

Aurora menelan ludahnya perlahan, matanya tak bisa berpaling.

Untuk sesaat, dunia seakan diam. Hanya ada dia... dan Brian, makhluk muda yang mungkin lebih berbahaya daripada pria mana pun yang pernah singgah dalam hidupnya.

Dulu, ia sering memeluk Brian dengan hangat, mengusap rambutnya, bahkan membantunya belajar.

Tapi kini... pelukan itu terasa seperti kenangan dari dunia lain. Kini, hanya menatap Brian saja sudah membuat jari-jarinya gemetar.

"Aku kangen banget sama tante, tahu nggak?" ujar Brian, pelan, hampir seperti bisikan.

"Tiap kali tante kirim voice note atau video call, aku nungguin. Aku bahkan hafal suara tawa tante..." katanya.

Aurora menunduk, menyembunyikan rona merah di pipinya.

"Jangan kayak gitu, Brian... kita ini udah kayak keluarga sendiri." sebut Aurora.

"Tante anggap aku keluarga, ya?" tanya Brian mendekat setengah langkah, jarak mereka kini begitu sempit.

"Tapi aku nggak bisa anggap tante kayak itu. Dulu mungkin iya. Tapi sekarang? Nggak bisa." tegasnya.

Aurora membeku. Angin sore menerbangkan sedikit rambut di pelipis Aurora. Ia merasakan tatapan itu tajam, panas, jujur.

Dan untuk pertama kalinya... ia tidak ingin memalingkan wajah.

********

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel CEO Mesum
9.1
Alice Handerson, sekretaris berprinsip kokoh, selalu menghadapi sikap menggoda dari bosnya di tempat kerja. Di balik profesionalismenya, ia kerap terseret dalam ketegangan penuh sensasi di kantor. Ketika sebuah tawaran kontroversial datang dari sang atasan, Alice bimbang antara akal sehat dan gejolak batinnya. Hubungan penuh dinamika cinta dan benci ini menantang batas kekuasaan serta gairah mereka dalam kisah romansa modern yang berani.
Sampul Novel Dijodohin With Gus
8.8
Anindya Alisya Syahreza kerap memicu kemarahan guru akibat ulah nakalnya di sekolah. Bersama Lita dan Gilang, ia gemar membolos hingga merundung adik kelas. Khawatir dengan kenakalan tersebut, orang tua Anindya mengirimnya ke pondok pesantren milik sahabat sang ayah. Siapa sangka, keputusan itu justru membawa babak baru dalam hidupnya. Di lingkungan pesantren yang asing ini, Anindya malah terlibat dalam persaingan asmara dua Gus bersaudara yang sama-sama bertekad memikat hatinya.
Sampul Novel GADIS PENCURI VS TUAN MUDA
9.3
Nyawa seorang pencuri wanita andal terancam setelah ia jadi buronan bernilai jutaan Dolar. Di tengah ancaman maut dari para penguasa, Martin Jakovsky justru hadir melindunginya. Padahal, tuan muda kaya raya ini mengidap alergi aneh yang membuatnya tidak bisa menyentuh wanita. Mengapa Martin rela mempertaruhkan segalanya demi menyelamatkan sang gadis dari kejaran musuh? Temukan jawabannya dalam kisah penuh aksi dan romansa ini.
Sampul Novel GAGAL MENIKAH KARENA ORANG KETIGA
9.2
Kehidupan Yumna runtuh setelah Ilham membatalkan lamaran mereka secara sepihak tanpa alasan pasti. Akibat keputusan itu, ia harus menahan perih akibat cemoohan dan fitnah keji dari tetangga sekitar. Namun, di tengah penderitaan tersebut, sebuah kebenaran besar mulai terkuak. Alasan sebenarnya di balik tindakan Ilham ternyata berhubungan erat dengan sebuah peristiwa misterius delapan tahun lalu. Kini, Yumna dipaksa menghadapi kenyataan pahit yang selama ini tersembunyi.
Sampul Novel Kodrat (Menjadi Wanita)
8.0
Demi kebahagiaan dua sahabatnya, Reyna Anastasya yang tomboy rela berkorban apa saja. Gadis yang biasa dipanggil Rey ini harus menjalani kehidupan rahasia sebagai istri kedua tanpa diketahui oleh siapa pun. Namun lambat laun, posisi yang ia jalani justru menyeretnya ke dalam situasi rumit yang menekan batin. Di tengah badai konflik tak terduga yang terus menghantam, sanggupkah Rey tetap kuat dan bertahan menghadapi takdir hidupnya yang kian pelik?
Sampul Novel Menunggu Perceraian yang Dinantikan
9.0
Keputusan berpisah diambil sang istri setelah Navish, suaminya, lebih memilih mengantar obat flu untuk sang asisten saat dirinya terjebak di lift dalam kondisi klaustrofobia. Menganggap istrinya hanya merajuk karena sebatang kara, Navish menandatangani berkas cerai dengan penuh percaya diri, yakin masa tunggu 30 hari akan membuatnya memohon kembali. Di tengah pamer kemesraan Navish dengan asistennya di media sosial, sang istri justru diam-diam mengemasi barang dan bersiap terbang ke New York.