APKDock Logo
Sampul Novel Menunggu Perceraian yang Dinantikan

Menunggu Perceraian yang Dinantikan

9.0 / 10.0
Keputusan berpisah diambil sang istri setelah Navish, suaminya, lebih memilih mengantar obat flu untuk sang asisten saat dirinya terjebak di lift dalam kondisi klaustrofobia. Menganggap istrinya hanya merajuk karena sebatang kara, Navish menandatangani berkas cerai dengan penuh percaya diri, yakin masa tunggu 30 hari akan membuatnya memohon kembali. Di tengah pamer kemesraan Navish dengan asistennya di media sosial, sang istri justru diam-diam mengemasi barang dan bersiap terbang ke New York.

Menunggu Perceraian yang Dinantikan Bab 1

Ketika aku mengetahui bahwa Navish lebih memilih untuk mengantar obat flu untuk asistennya, sementara aku terjebak di lift dengan klaustrofobia, aku memutuskan untuk mengajukan cerai.

Navish dengan cepat menandatangani dokumen itu. Dia bahkan tertawa santai kepada temannya dan berkata, "Dia cuma ngambek. Lagian, orang tuanya sudah meninggal, dia nggak mungkin benar-benar menceraikan aku."

"Selain itu, bukankah ada masa tunggu 30 hari untuk perceraian? Kalau dia menyesal, aku bisa bermurah hati memaafkannya dan dia pasti akan kembali padaku," tambahnya sambil tersenyum percaya diri.

Keesokan harinya, dia memposting foto pasangan dengan asistennya di media sosial, lengkap dengan caption.

[ Merekam setiap momen malumu yang manis. ]

Aku menghitung hari-hari dengan tenang. Setelah memastikan semuanya sesuai rencana, aku mulai membereskan barang-barangku dan menelepon seseorang.

"Paman, tolong belikan aku tiket pesawat ke Nu York," kataku dengan suara tegas.

"Bagus sekali, Sasa. Bertahun-tahun kamu akhirnya mau kembali, Paman benar-benar senang," kata seorang pria paruh baya dengan nada riang di telepon.

Setelah aku menutup telepon, Navish membuka pintu kamar. Bersamaan dengan kehadirannya, tercium aroma parfum wanita yang asing.

"Kamu barusan telepon siapa?" tanyanya tanpa sedikit pun perhatian. Matanya tetap terpaku pada layar ponselnya, tidak melirikku sama sekali.

Aku baru hendak menjawab ketika ponselnya berdering. Dari sana, terdengar suara lembut seorang gadis, "Pak Navish, terima kasih banyak untuk obat flu yang kamu kirim beberapa hari lalu. Kalau bukan karena kamu, fluku pasti makin parah. Tanpa kamu, aku nggak tahu harus gimana!"

Navish tampaknya merasa kurang nyaman mendengarkan itu di depanku, jadi dia menurunkan volume teleponnya.

Aku diam saja, merasa percuma untuk berkata apa pun. Bukankah kami memang sudah berencana untuk bercerai? Aku menutup mulutku dan kembali mengemasi barang-barangku. Seperti biasa, aku membuatkan diriku segelas susu hangat.

Selesai berbicara di telepon, Navish duduk di sofa dengan santai sambil membaca koran keuangan seperti kebiasaannya setiap malam. Namun, dia tampak terganggu ketika tangannya tidak menemukan teh bunga yang biasa kubuatkan untuknya. Akhirnya, dia menatapku dan wajahnya menunjukkan ketidaksabaran.

"Cuma karena waktu itu aku nggak menyelamatkanmu saat lift rusak, kamu harus begini?" ucapnya dengan nada mengejek.

"Miya bilang, sepupunya seorang dokter, dan katanya klaustrofobia itu bukan masalah besar. Kamu jangan terlalu lebay."

"Lagi pula, kamu yang minta cerai, aku sudah setuju. Jadi, kenapa harus terus-terusan pasang wajah masam?"

Malam itu, aku pulang lembur sangat larut. Aku terjebak di lift yang mendadak mati listrik dengan ponsel yang hampir kehabisan daya. Klaustrofobiaku kambuh sehingga membuatku gemetar hebat. Dengan tangan gemetar, aku mencoba menelepon Navish untuk meminta bantuan.

Namun, dia hanya menjawab, "Kamu nggak bisa cari solusi sendiri? Aku lagi sibuk," sebelum menutup telepon.

Beberapa saat kemudian, ponselku mati dan aku kehilangan kesadaran.

Baru belakangan aku tahu bahwa asistennya, Miya, mendapat cuti selama beberapa hari. Rupanya, malam itu dia "sibuk" mengantar obat flu untuk Miya.

Itulah alasan aku memutuskan untuk mengajukan cerai.

"Nggak masalah. Setelah kita resmi bercerai, kamu nggak perlu lagi melihat wajah masamku," jawabku tanpa menghentikan pekerjaanku.

Aku pikir Navish akan senang mendengar itu, tetapi dia tiba-tiba menaikkan suaranya, "Jangan sampai kamu menyesal!"

Aku tetap fokus pada pekerjaanku, tidak peduli dengan emosinya. Navish akhirnya keluar rumah dengan membanting pintu.

Aku tidak ingin memikirkan suasana hatinya lebih jauh. Setelah menyelesaikan pekerjaanku, aku membuat segelas susu hangat, lalu mandi air panas sebelum bersiap tidur.

Namun, ponselku berbunyi. Pesan dari Navish masuk.

[ Aku mabuk. Datang jemput aku, sekalian bawa satu botol yogurt. ]

Aku tidak ingin pergi, tetapi pesan berikutnya langsung menyusul.

[ Kita belum resmi bercerai. Kamu masih punya kewajiban sebagai istriku. ]

Merasa lelah, aku akhirnya mempersiapkan diri dan berangkat. Ketika sampai di depan kelab tempat dia berada, suara tawa Navish dan Miya terdengar jelas dari dalam.

Pikiranku melayang ke malam saat aku pertama kali mengajukan cerai. Malam itu, Navish juga mabuk, dan salah seorang temannya bertanya, "Navish, kamu benar-benar tega menceraikan Sasa?"

Dengan nada meremehkan, dia menjawab, "Dia cuma ngambek. Orang tuanya sudah meninggal, mana mungkin dia benar-benar berani menceraikan aku?"

"Lagi pula, ada masa tunggu 30 hari untuk perceraian. Kalau Sasa menyesal, aku akan bermurah hati memaafkannya, dan dia pasti akan kembali padaku."

Dia pikir statusku sebagai yatim piatu membuatku tidak bisa meninggalkannya. Bukan karena cinta, dia hanya yakin aku tidak punya tempat untuk kembali.

Namun, dia salah besar. Aku sudah menghitung hari, dan masa penantianku hampir berakhir.

Lanjut Membaca

Daftar Isi Menunggu Perceraian yang Dinantikan

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3 Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel Air Mata Bintang, Akhir Pengabdianku
8.9
Dekade pengorbanan istri Daffa Prawirodirdjo sia-sia saat suaminya berpaling pada Leni, cinta masa lalunya. Puncak kepedihan terjadi ketika Daffa menelantarkan Bintang yang terluka di hari ulang tahun demi anak Leni. Enggan bertahan dalam pengkhianatan, sang istri membawa Bintang pergi, lalu bangkit menjadi seniman sukses. Tiga tahun berselang, Daffa datang memohon maaf, namun penyesalannya telah terlambat karena pintu hati sang mantan istri kini telah tertutup rapat.
Sampul Novel Gadis Kesayangan Tuan Denish
9.6
Seorang mahasiswi tak sengaja menyaksikan perbuatan intim dosennya di sebuah lorong kampus yang sepi. Pria tersebut adalah Heruon Danish, pengajar berparas menawan yang sangat terkenal di kalangan mahasiswa. Bukannya merasa canggung atau bersalah karena terpergok bersama mahasiswi lain, Danish justru menghampirinya dengan senyuman penuh godaan. Ia malah memberikan penawaran menantang yang mengajak gadis itu untuk menceburkan diri ke dalam dunia dewasanya yang penuh gairah.
Sampul Novel Goyangan Pohon Beringin
8.2
Hubungan erat Adrian dan Wandi kini renggang sejak kemunculan Hesta. Gadis penuh misteri itu begitu memikat Adrian, tetapi Wandi justru melihat sosok mengerikan dalam dirinya. Wandi berjuang keras memperingatkan sahabatnya bahwa Hesta bukanlah manusia. Sejak mereka mengunjungi beringin tua yang angker, teror mistis mulai membayangi. Di tengah ancaman bahaya, sanggupkah Adrian menyadari kenyataan? Apakah asmara beda alam ini akan terwujud, atau malah berujung pada kehancuran?
Sampul Novel Kim Nana
9.7
Demi sang adik, Kim Nana rela membuang masa mudanya setelah ditinggalkan begitu saja oleh orang tua mereka. Kini, meski sukses secara finansial, kepedihan masa lalu telah membentuknya menjadi wanita yang dingin dan kaku. Beratnya beban kehidupan membuat Nana mati rasa dan enggan membuka hati untuk cinta. Akankah ada pria yang mampu mencairkan hatinya yang beku? Bisakah Nana memaafkan masa lalu serta orang tuanya? Simak kelanjutan kisah perjuangannya.
Sampul Novel Mantan Istriku Hamil?!
9.4
Miliarder ibu kota bernama Lenny terjebak pernikahan hampa tanpa cinta. Demi menikahi wanita misterius dari cinta satu malamnya, ia memutuskan menceraikan sang istri. Namun beberapa bulan pasca-perceraian, Lenny sangat terkejut saat melihat mantan istrinya hamil tujuh bulan. Kecurigaan pun mulai menyelimuti benaknya, membuatnya bimbang apakah mantan istrinya itu telah berselingkuh dan mengkhianati komitmen pernikahan mereka selama ini.
Sampul Novel Sudah Terlambat, Mantan Pewaris Mafia
8.4
Tiga minggu sebelum pernikahan, tunanganku yang merupakan pewaris mafia memalsukan amnesia demi selingkuh dengan seorang influencer. Ia bahkan tega membuatku patah tulang demi melindungi selingkuhannya, lalu berniat mendepakku dari rumah. Baginya, aku tak lebih dari boneka mainan. Namun saat ia menanti kepulanganku, aku memilih lenyap. Kutinggalkan cincin dan pesan bahwa aku tahu semua kebohongannya. Sekarang, giliran diriku yang melupakannya.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan