APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel TAWANAN CEO KEJAM

TAWANAN CEO KEJAM

Di hadapan Kaisar yang berhati dingin, Adelia bersimpuh tanpa daya memohon kebebasan. Dendam membara akibat kecelakaan tragis sang adik telah mengubah Kaisar menjadi sosok kejam yang terobsesi mencari sang pelaku. Kini, Adelia terperangkap dalam sangkar emas tanpa jalan keluar. Kaisar bersumpah tidak akan pernah melepaskannya, menjadikan gadis malang itu sebagai tawanan utama untuk menuntaskan amarahnya yang tak berkesudahan.
Bab
Bagikan

Bab 1

Tap tap tap!

Suara derap langkah kaki terdengar di lobi perusahaan KR Group, perusahaan besar yang telah memiliki cabang di beberapa kota dan di luar Negeri.

Para karyawan yang berada di lobi serentak membungkukkan setengah badan mereka pada sosok yang tengah berjalan mendekati lift dengan beberapa orang mengikut di belakang.

Siapa lagi, jika bukan sang pemilik perusahaan.

Kaisar Argantara.

Pria dengan tinggi 189cm, memiliki wajah tampan dan rupawan yang menarik perhatian para kaum hawa hingga rela menjadi selingkuhan dari sosok tersebut. Sayangnya, pria itu tak suka dengan wanita. Kabarnya seperti itu, hingga kini telah tersebar di perusahaan membuat para karyawan wanita menghentikan niat mereka sebelum memulai.

Putra sulung dari Revan Argantara dan Rania Alexander dengan watak dingin, warisan dari bapaknya.

Kini pria tampan itu melangkahkan kakinya mendekati lift bersama dengan dua bodyguard yang mengekor di belakangnya dan satu lagi adalah sekretaris sekaligus tangan kanannya.

Hanya anggukan pelan yang ia berikan kala mendengar sapaan selamat pagi sepanjang jalan menuju lift. Tak terlalu mengeluarkan suara dari mulutnya.

Kenapa sifat dingin bapaknya itu harus turun pada Pria tampan ini?

Perlahan empat orang itu memasuki lift khusus untuk Direktur perusahaan. Sosok pria berkacamata sekaligus sekretaris Kaisar terlihat memencet tombol lift, hingga perlahan tertutup dan membawa mereka ke lantai paling atas bangunan pencakar langit itu. Lantai lima puluh.

“Bram.” Suara berat nan dingin terdengar memenuhi lift.

“Ya, Tuan.” Sahut pria berkacamata itu, sedikit melirik ke belakang.

Kaisar terdiam sesaat, lalu membalas tatapan datar Sekretarisnya.

“Apa saja jadwalku hari ini?” tanyanya singkat.

Bram, pria itu mengalihkan pandangannya pada tablet yang ia bawa sejak tadi. Melihat beberapa catatan tentang jadwal sang Bos hari ini.

“Ada rapat dengan dewan perusahaan, Tuan. Setelah itu, tidak ada lagi hal penting yang harus Anda lakukan.” Jelas Bram, kemudian merapikan letak kacamatanya.

Kaisar menganggukkan kepala beberapa kali.

Segera melangkah keluar lebih dulu dari lift, saat telah tiba di lantai 50 bangunan tersebut.

Dua bodyguard dan Bram segera mengikuti langkah kaki bos mereka itu, mendekat pada pintu besar sebuah yang merupakan ruangan dari Kaisar.

Sedang sosok yang berjalan di depan tiga orang itu terlihat melamun, memikirkan hal yang akan ia lakukan setelah menyelesaikan rapatnya siang ini.

‘Aku bisa pergi ke rumah sakit setelah menyelesaikan rapat.’ Batin Kaisar. Segera memasuki ruangannya saat dua bodyguard telah membuka pintu untuknya.

“Bram,” panggil Kaisar lagi. Sesaat menghentikan langkahnya tidak jauh dari ambang pintu.

“Ya, Tuan?” sahut Bram.

Kepala Kaisar menoleh ke belakang, menatap dengan tatapan tajam pada sekretaris itu.

“Apa kau sudah menyelesaikan apa yang aku perintahkan semalam?” tanya Kaisar dingin.

Glek!

Bram menelan kasar ludahnya sebelum menganggukkan kepalanya, “seperti yang Anda katakan, Tuan. Saya akan memberi informasi terbaru, jika orang-orang kita telah menelepon nanti.” Ujar Bram, sedikit menunduk.

“Baiklah. Aku percayakan padamu,” ucap Kaisar, memberi isyarat menggunakan tangan kanannya agar dua bodyguard itu menutup pintu.

Suara pintu tertutup rapat terdengar. Kini hanya kesunyian di dalam ruangan besar itu.

Namun, hal tersebut tak menjadi masalah bagi Kaisar. Dengan santai pria itu melangkahkan kakinya mendekati kursi kebesarannya, mendudukkan diri dan menegakkan punggungnya dengan raut wajah datar yang tidak berubah sejak tadi.

Sebuah bingkai foto berukuran kecil menarik pandangan Kaisar, hingga fokus menatap sosok gadis cantik yang ada di dalam foto tersebut.

Senyum kecil terbit di bibir Kaisar. Senyum yang hanya terlihat di hadapan keluarganya dan adik kecilnya yang kini terbaring koma di rumah sakit.

“Shit!” Kaisar mengumpat. Menyandarkan punggungnya dengan kasar pada sandaran kursi kebesarannya. Kedua matanya terpejam, menandakan jika ia tengah berusaha menahan amarah yang ingin meluap.

Ketika mengingat kecelakaan besar yang menimpa adiknya, hal itu bagaikan sebuah tombol pemicu yang akan meledakkan amarah dalam dirinya. Ditambah lagi, sosok pelaku bahkan tak bisa ia temukan walau telah mengobrak-abrik hampir seluruh Indonesia hanya untuk mencari pelaku dari kecelakaan itu.

Secercah informasi tetap tak bisa Kaisar temukan, meski telah mengerahkan seluruh tenaga dan bahkan menggunakan koneksinya. Hasilnya nihil, bagai kecelakaan itu tak pernah terjadi. Bukti, pelaku menghilang bagai ditelan bumi.

Seolah hal itu tak boleh Kaisar ketahui.

Kaisar mengetukkan jari telunjuknya beberapa kali di atas meja. Pikirannya menerawang pada beberapa kemungkinan yang telah ia pikirkan sejak tiga bulan lalu. Ya, sejak kecelakaan itu terjadi.

“Orang-orang sialan itu, tidak akan bisa menghindari hal ini. Lihat saja, hukuman berat akan aku berikan padamu. Bersembunyi selagi bisa,” ucap Kaisar. Kalimat terpanjang yang pernah ia ucapkan dari bibir kakunya.

***

Pukul 16:30 WIB.

Helaan napas pelan keluar dari bibir Kaisar, membuat sosok Bram yang duduk di samping kemudi melirik sekilas ke belakang.

“Anda baik-baik saja, Tuan?” tanya Bram. Walau jarang mengeluarkan suara, tetapi Kaisar tetaplah bosnya yang tegas dan ... Kejam. Sifat yang tidak diketahui oleh orang lain, hanya dirinya dan beberapa orang yang pernah melihat sifat tak berperikemanusiaan dari Sosok Kaisar Argantara. Dan, Bram berjanji tak ingin melihat hal itu lagi.

“Ya,” jawab Kaisar singkat, “aku pikir akan cepat ke rumah sakit. Ternyata berkas dan dokumen penting sangat banyak,” guman Kaisar di akhir ucapannya.

“Anda mengatakan sesuatu, Tuan?” tanya Bram mendapat gelengan kepala dari lawan bicaranya itu.

“Tidak,” ucap Kaisar mengalihkan pandangan ke luar jendela.

Mobil berhenti tepat saat lampu merah. Kaisar menunggu dengan sabar dengan masih menatap keluar jendela, mengerakkan tangannya untuk sedikit melonggarkan dasi yang terasa mencekik lehernya.

“Kenapa hari ini terasa lebih panas dari biasanya?” guman Kaisar pada dirinya sendiri. Mengalihkan pandangan ke arah jendela mobil lainnya, hingga tubuhnya menegang kala tanpa sengaja iris mata biru laut itu menangkap sesuatu yang berdiri tidak jauh dari Lampu merah.

Tiba-tiba bayangan kejadian kecelakaan malam itu melintas di benak Kaisar.

***

Tiga bulan yang lalu.

Sepasang manusia tengah berjalan di trotoar jalan di bawah gelapnya langit malam yang dipenuhi bintang.

"Kak, ke sana yuk." ucap gadis itu sambil menarik pelan lengan baju kakaknya.

Kaisar menoleh ke arah sebuah pasar malam di seberang jalan.

"Kamu sudah besar. Jangan melakukan hal aneh."

Wanita itu mengerucutkan bibirnya kesal. Berjalan mendahului kakaknya sambil menghentakkan kaki ke tanah mendekat pada sebuah kafe.

Pria itu hanya menggeleng melihat tingkah adiknya yang berbeda usia beberapa tahun darinya itu.

Tiba-tiba, wanita itu berbalik dengan tatapan kesal.

"Kak Kaisar menyebalkan." ucap kesal gadis itu sambil berjalan menjauh dari sosok kakaknya.

Saat ini Kaisar tengah menemani adiknya berjalan santai malam hari. Guna untuk menepati janjinya untuk ke kafe bersama dengan adik perempuannya itu.

Kaisar menghentikan langkahnya secara tiba-tiba saat merasakan getaran di saku jaket yang ia kenakan. Pria itu berhenti sejenak, lalu mengangkat panggilan tersebut.

"Ya, ada apa?" tanya Kaisar to the point pada sosok sekretarisnya di seberang telepon.

"Begini, Tuan—“

Belum selesai sang sekretaris berucap.

Tiba-tiba terdengar suara decitan dan teriakan orang-orang di sekitar. Sontak Kaisar mendongak dan membelalakkan mata saat melihat kejadian di depan matanya.

"RAILA!" teriak Kaisar menjatuhkan ponselnya dan segera menghampiri tubuh adiknya yang bersimbah darah.

Kaisar segera berlari menghampiri adiknya dengan deru napas memburu. Saat ia mendekat, mobil yang tadinya berhenti kini melaju dengan cepat untuk meninggalkannya lokasi kejadian.

Sekilas Kaisar dapat melihat siluet wajah dari pengemudi mobil itu. Wajah sosok wanita yang kini berkeringat dingin melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu.

Kaisar segera berlari mendekati adiknya. Mengabaikan sesaat sosok pelaku kecelakaan yang telah menabrak adiknya.

***

Sekarang siluet wajah yang ia lihat tiga bulan yang lalu tepat berada di depan matanya. Sosok itu tersenyum pada orang-orang, sedang adiknya masih terbaring koma di atas brankar rumah sakit.

“Brengsek!” umpat Kaisar. Kedua tangannya terkepal kuat dengan wajah merah padam. Hawa membunuh yang dipancarkan oleh Kaisar membuat dua orang dalam mobil itu merinding tanpa sebab.

“Aku tidak akan melepaskanmu, wanita Sialan!” umpat Kaisar. Bersumpah pada dirinya. Saat itu juga, ia takkan melepaskan sosok yang ada di depan matanya. Akan ia pastikan, sosok itu menerima hukuman yang luar biasa kejam melebih derita adiknya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Crazy Marriage (Pernikahan Paksaan)
9.2
Di usia 19 tahun, Vintari terpaksa mengubur mimpinya demi pernikahan kontrak akibat perjodohan orang tua. Bersanding dengan Zeus Ducan yang jauh lebih dewasa terasa bagai siksaan, sementara Zeus hanya menganggapnya gadis ceroboh yang merepotkan. Namun, ketika rasa nyaman mulai hadir, sebuah kenyataan pahit terbongkar. Zayn, lelaki yang selama ini dicintai Vintari, rupanya adik tiri dari suaminya sendiri. Kini, ia terjebak dilema rumit antara Zeus dan cinta masa lalunya.
Sampul Novel En-PD158
8.7
Demi menyembuhkan putra kandungnya dengan Lin Yanran yang terkena leukemia, Zhou Yu'an mendadak meminta cerai setelah tiga tahun menikah. Ia memohon kepada istrinya agar diizinkan memiliki anak lagi dengan sang mantan pacar demi mendapatkan sel pengobatan, berjanji akan kembali setelah semuanya usai. Namun, di balik tangis pilu suaminya, sang istri justru menemukan pesan provokatif dari Yanran yang menuntut Yu'an untuk menghamilinya malam itu juga.
Sampul Novel Menikahi Bu Manajer
9.3
Pertemuan tak sengaja dengan Erika Hana di trotoar mengubah total garis hidup Prastu. Siapa sangka, sang manajer sukses di bidang kuliner itu adalah sosok yang dijodohkan dengannya. Terikat oleh janji masa lalu kedua orang tua mereka, Prastu dan Erika kini terpaksa menjalani pertunangan tanpa rasa cinta. Di tengah peliknya dinamika dunia modern, mereka harus bertahan dalam hubungan formal ini demi menuntaskan wasiat keluarga.
Sampul Novel Penyesalan Mantan Suami di Depan Makamku
9.6
Kepulangan Rina Januar memicu keretakan rumah tangga sang protagonis. Setelah mendapati bukti kedekatan suaminya, Galih Gunawan, lewat unggahan foto di media sosial Rina, sang istri langsung dihadapkan pada tuntutan cerai. Galih mendesaknya melepaskan status Nyonya Gunawan demi menyerahkannya kepada Rina. Menyadari sisa hidupnya tidak lama lagi, ia merelakan segalanya hingga ajal menjemput. Kepergiannya meninggalkan luka mendalam bagi Galih, yang kini menangis penuh penyesalan di depan makamnya dan berjanji tidak akan pernah menggenggam tangan wanita lain.
Sampul Novel Penyesalan Setelah Diriku Tiada
7.9
Divonis mengidap lupus eritematosus sistemik stadium akhir dengan sisa hidup tiga hari, seorang wanita justru menghadapi kekejaman dari orang terdekatnya. Setelah ratusan panggilannya diabaikan, sang suami yang bekerja sebagai pengacara menuduhnya memalsukan penyakit demi bersaing dengan Penny. Kakak kandungnya yang berprofesi dokter pun turut mencemooh diagnosis tersebut. Kecewa dan kesakitan, ia memutuskan untuk mendatangi kantor pelayanan akhir hayat demi mendaftarkan proses kremasinya sendiri tanpa melibatkan keluarga yang telah membuangnya.
Sampul Novel Saat Lilin Menyala, Cinta Padam
8.7
Memasuki tahun keenam pernikahan, kehangatan sirna setelah sang suami tidak menyentuh istrinya selama tiga bulan dengan alasan lelah bekerja. Kepercayaan sang istri runtuh di hari ulang tahunnya saat mendengar suaminya berbicara dalam bahasa asing dengan temannya. Sang suami mengaku berselingkuh dengan wanita bernama Sallie yang kini hamil, dan berencana mengirimnya ke luar negeri. Menahan kepedihan mendalam karena memahami bahasa tersebut, sang istri hanya bisa menangis dalam diam sambil berpura-pura terharu.