APKDock Logo
Sampul Novel Tapal Batas

Tapal Batas

8.6 / 10.0
Effendik, pemuda desa yang didera takdir pahit sejak kecil, berjuang menemukan jati dirinya. Sepuluh tahun ia terpuruk akibat kegagalan cinta pertama, hingga akhirnya bertemu Chusnul yang dikira sebagai jawaban atas doa. Namun, kenyataan pahit kembali menerpa saat ia mengetahui bahwa Chusnul adalah sepupu jauhnya yang telah mendambakan pria lain. Ikuti kisah pilu perjuangan Effendik menghadapi patah hati yang teramat dalam di romansa penuh liku ini.

Tapal Batas Bab 1

Denting alam sore menjelang malam. Meniupkan syahdunya bebunyian angin yang masuk merambat melewati jendela ventilasi. Ruang dapur yang baru selesai di pugar selatan rumahku.

Dawai merdu suara bambu di belakang desa bersahut gemercik air kali mengalir kini terasa menyejukkan hati. Aku dan ruangan dapur seakan menyatu menari menjadi satu bersahutan dengan burung malam.

Sejenis burung hantu yang akrab di sebut warga desa burung dares atau sebuah burung mitologi pembawa pesan kematian berkoar menikmati suguhan orkestra yang dibuat oleh alam perdesaan desaku lalu tersentuh kalbu ini berbisik lembut pada sanubari damainya ciptaan Allah Taala.

Kuletek, kuletek,

Nyaring sendok mengaduk-aduk gelas bercampur dengan bubuk kopi dan gula menjadi satu kesatuan yang disebut seduhan terpaut wangi sari pati di tangan kananku. Perlahan kuhirup sajian yang disediakan alam teruntuk insani yang di cipta Illahi Rabi dan berucap Alhamdulillah di lidah dan hati.

Minggu 4 Juli 2021, hati sudah kembali tenang, otak sudah tak pernah meracau lagi seluruh badan mulai teratur mengikuti instruksi Kalbu untuk terus berucap Allahuma Shalli Ala Muhammad.

Segelas seduhan kopi hitam dengan wangi merebakku tenteng menuju ruang tamu. Sebungkus rokok bermerek gembok dan kunci kuraih sebatang serta kusulut saat menempel di muka bibir. Sekali hirup dan sekali hisap kembali terlontar asap membumbung dengan ikhlas kenikmatan yang di anugerahkan Gusti Illahi Rabi.

Lelah mengenang masa lalu aku ingin menyajikan kenyataan kali ini. Mataku sedang memandang masa depan yang mungkin terang, yang mungkin kelam entah yang pentung terus ikhtiar dan berdoa serta ratusan Shalawat terus aku lantunkan.

Bapak datang dari ruang tengah wajahnya sudah semringah alias bahagia kelegaan terpancar di sana. Guratan rasa puas sudah ada di tiap pori pipi. Sebab hari ini adikku Nuriva yang sudah sarjana kini sudah bekerja kemarin telah membantu ikut menutup hutang-hutang bapak jua. Sebab aku anak lanang, anak lelaki pertama sudah kembali bekerja seperti dahulu tukang rombeng yang penting halal dalam benaknya.

“Le, Tole, minta kopinya sedikit ya,” begitulah ucapan yang meluncur dari bibirnya yang semakin tua namun ada guratan bahagia di sana sudah.

Hanya ku sahut senyum mengembang dan mempersilahkan dengan anggukan perlahan. Ada raut kebanggaan dengan syukur Allah telah menghadirkan kebahagiaan kepada keluarga kami. Setelah bertahun-tahun kami berjuang dan kami masih terus berjuang tapi kali ini kami berjuang untuk memperbaiki ibadah kami.

Tak terbayang betapa sulitnya dahulu kami harus melangkah dengan penuh kehati-hatian. Dengan penuh perhitungan dan kepasrahan pada Sang Pencipta alam maya pada dan semesta.

Hari ini jalanku sedikit demi sedikit sudah menemukan titik terang menuju yang benar. Dan seorang guru kiai telah menerimaku sebagai santri ada cahaya harapan di langkahku kali ini. Kembali terus dan kuulang terus ada bercak rasa bahagia yang tiba-tiba rindu Sang Kuasa dan Rindu pada Sang terkasih Nabiyalah Muhammad SAW.

Walau sebuah pandemi luas dan global pada dunia atau yang ilmiahnya disebut Covid 19 masih terus berjalan dan entah kapan berhenti. Setidaknya kami masih diberi nikmat sehat dari keluarga kami semoga terus sehat dan Covid cepat berhenti.

Satu teguk kopi hitam agak pahit meluncur pada kerongkongan membasahi dahaga tenggorokan telah terlaksana sudah. Terlihat ibu sedang duduk bersimpuh di atas kursi panjang saksi bisu perpisahanku bersama Jingga enam tahun yang lalu. Dan ibu rupanya sudah tersenyum lagi sambil memegang jarum dan benang menjahit baju kerja bapak yang sudah robek di lengannya.

Walau kami sesederhana dalam masa sulitnya dunia kali ini akibat musim pandemi yang tak kunjung usai tapi kami bersyukur masih diberi senyum di setiap wajah kami. Setelah melalui setiap malam dengan kengerian yang begitu ngeri tak terbayang betapa dahsyatnya guncangan setahun yang lalu akibat sebuah penyakit hati iri dan dengki seorang kawan satu profesi dengan bapak.

Sampai-sampai mereka berkerumun satu keluarga bersiasat untuk membunuh kami. Mungkin akan kuceritakan nanti di kemudian hari.

Kini badan kusandarkan di kursi panjang teras rumah. Pas di depan dua buah daun jendela yang sama enam atau tujuh tahun yang lalu. Pernah jatuh saat keluarga Jingga baru saja duduk di rumah ini.

Ah ya sudahlah itu masa lalu dan hanya bisaku petik pelajaran berharga dari pengalaman kelam dan hitam yang tak selamanya menjadi sebuah sampah tapi terkadang bisa menjadi sebuah lembar buku yang kusimpan di rak otak sebelah pojok untuk kubuka lain waktuku ceritakan pada anak cucu.

Sejurus dengan waktu yang panjang sebuah penantian walau aku terus menunggu kembali sebuah kata jodoh sebenar-benarnya jodoh dari langit pilihan Gusti pinariyung jagat atau yang kami sembah dalam sujud Pencipta dari segala makhluk hidup.

Walau waktu penantian penungguan dari sang bidadari surga yang dipilihkan untukku belum jua kelihatan. Tetap aku terus bersabar karena itu memang sebuah sarat untuk menunggu sebuah hadiah dari Allah dengan sungguh-sungguh.

Kali ini sungguh hatiku begitu lapang tiada resah dalam penantian tiada bertepi walau tiada pasti tapi sungguh keyakinan di sanubari berkata aku akan terus menanti dengan menyediakan kesabaran tanpa batas.

Sebab aku memiliki sebuah pemahaman dari hasil pengalaman selama berjalan dalam pedih bertahun-tahun yakni bukan mencari yang baik agar ikut menjadi baik tapi mengubah diri menjadi baik agar mendapatkan yang terbaik.

Begitulah hukum alam yang tertera pada sebuah kalam wahyu Allah sang guru sejati. Aku yakin ada satu untukku wanita salihah yang di berikan untukku dalam penantian ini. Aku yakin suatu saat nanti aku di pertemukan sebuah gadis berhati bidadari menyebutku yang terkasih dari Allah lalu menatapnya dengan Bismilah sahaja bukan memandangnya dengan nafsu durjana.

Melihat senyum ibu aku jua melihat senyum-senyum kecil dari bibir kecil dan tangan mungil yang meraih peci bapak pada sebuah pigura foto yang terpasang rapi di atas ibu yang tengah menjahit di atas kursi ruang tamu.

Dia Si Effendik kecil dengan senyum tanpa batas dan belum mengerti kejamnya tipu-tipu dunia. Dia Si Effendik kecil yang dengan riang meraih peci bapak dengan tertawa senang di saat 32 tahun yang lalu.

Masa itu begitu terkenang semasa aku sebagai Si Bagus kecil masih dalam timang-timang ibu dan masih merengek minta ini dan itu bila ada seorang penjual mainan lewat depan rumah kami.

Betapa indahnya masa lalu yang satu ini sebuah masa lalu penuh arti awal cikal bakal Bagus Effendik terbentuk seperti sekarang ini dengan tegak menantang si batu karang. Penghalang jalan di mana lurusnya pada Allah

Tanpa pandang pilih bila sebuah penghalang menghalangi sebesar gunung jua akanku hantam jua bila itu menghadang di tengah jalanku saat ibadahku menuju Allah di halangi jua.

Akhirnya album kecil lama dan usang kuraih dengan membuka pintu almari kamarku. Meniup debu sedikit yang menempel pada gambar depan dan membalik satu halaman perlahan.

Di sana terpampang jelas seorang istri yang sedang hamil tua dan masih tampak ayu bernama Amanah dia ibuku. Bersanding dengan seorang lelaki gagah bergaya bak roma irama masa muda dengan baju kemeja rapi dimasukkan ke dalam celana ujung bawahnya terlipat rapi di pinggang dengan celana bermerek jin warna biru.

Pas berpadu padan dengan kemeja warna putih tulang begitu rupawan namanya Kasturi sedang menanti anak pertamanya terlahir dialah bapakku saat masih muda begitu rupawan. Kisah Si Effendik kecil ini di mulai saat Ibu tengah bermimpi tentang anak lelaki dan rembulan emas.

Lanjut Membaca

Daftar Isi Tapal Batas

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel CHRONOPHILE
8.2
Perjodohan dengan pria yang dulu pernah ditolaknya memicu dilema mendalam bagi sang wanita. Apakah pernikahan ini berjalan atas dasar cinta lama yang tersisa, ataukah sang suami tengah menyusun rencana balas dendam demi membalas luka masa lalunya? Di dunia Chronophile yang sangat menghargai waktu, pasangan suami istri ini harus berkomitmen di tengah bayang-bayang masa lalu. Kini, rahasia serta konflik mulai menguji kesetiaan dan keutuhan rumah tangga mereka.
Sampul Novel Derita Menantu Jelita
9.5
Kehidupan rumah tangga dalam novel modern "Derita Menantu Jelita" berubah drastis setelah sang suami mengalami kelumpuhan akibat kecelakaan tragis. Situasi kian rumit ketika ayah mertua memutuskan tinggal bersama mereka. Demi menjaga kelangsungan garis keturunan, sang suami nekat melakukan aksi ekstrem dengan diam-diam membius istri dan ayahnya sendiri. Keputusan tersebut memicu rangkaian peristiwa misteri yang tak terkendali dan mengubah nasib mereka selamanya.
Sampul Novel Diagnosis Kanker di Hari Ulang Tahun Pernikahan
9.3
Delapan tahun menikah, Jessica selalu memercayai alasan pekerjaan Rio Aditya setiap hari jadi pernikahan mereka. Namun, rahasia busuk terungkap saat ia mendengar rencana Rio untuk menceraikannya demi Nadia. Di tengah pengkhianatan tersebut, Jessica justru menerima diagnosis medis yang fatal: kanker ovarium stadium akhir. Menyadari suaminya tidak lagi mencintainya sejak ia keguguran, Jessica memutuskan untuk merelakan hubungan mereka dan pergi dalam damai tanpa pernah bertemu lagi.
Sampul Novel I Fall Endlessly
8.1
Kasih sayang mendalam sebagai ibu memaksa Neva Zetrix mengesampingkan harga dirinya demi melindungi sang anak yang tak berdosa. Setiap hari, ia harus tunduk dan bersikap rendah hati di hadapan Brian Anderson yang sangat dominan. Neva terpaksa bertahan hidup di tengah tekanan batin yang begitu menyiksa. Hubungan yang penuh ketimpangan ini menuntut pengorbanan luar biasa dari Neva, yang rela melakukan apa saja demi keselamatan buah hatinya tercinta.
Sampul Novel Misteri Ular Xaver
8.5
Sepulang dari Kota Xaver, ibu membawa patung dewa ular yang diklaim bisa membuatnya awet muda jika disembah dengan darah menstruasi perawan. Aku dipaksa menyerahkan darahku, bahkan rambutku dipotong untuk dililitkan di kepala patung itu. Ibu tidak tahu bahwa aku menyimpan rahasia pernah menginap dengan pacarku saat kuliah. Dua bulan kemudian, kebohongan ini berbuah petaka saat kulit ibu mulai dipenuhi bercak biru mirip sisik dan mulai mengelupas layaknya ular asli.
Sampul Novel Perceraian Aku dan Kakak Kembarku
8.5
Pernikahan dua pasang kembar dengan Leo sang hakim dan Sam sang dokter bedah berakhir tragis. Saat diculik dari rumah sakit, sang istri kehilangan bayinya karena disiksa setelah Sam mengabaikan puluhan panggilan telepon. Sang kakak yang menyelamatkannya juga diabaikan oleh Leo saat meminta bantuan. Setelah lolos dari maut akibat terjebak badai salju dan tanah longsor, kedua saudari yang terluka ini sepakat untuk mengajukan perceraian bersama begitu mereka tersadar di rumah sakit.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan