APKDock Logo
Sampul Novel Cahaya Diujung Gerbang

Cahaya Diujung Gerbang

9.6 / 10.0
Dibuang sejak bayi di panti asuhan, Nayra dibesarkan oleh Ibu Marisa dengan penuh kesederhanaan. Meski kerap dicemooh, penderitaan terberatnya tiba saat tuduhan palsu memaksanya angkat kaki dari sana. Di tengah kerasnya jalanan, ia bertahan hidup lewat berbagai kerja serabutan demi menjaga harga dirinya. Lewat kegigihan yang tak tergoyahkan, Nayra akhirnya mampu bangkit dari keterpurukan dan meraih kesuksesan, membuktikan bahwa harapan selalu ada untuk mengalahkan takdir kelam.

Cahaya Diujung Gerbang Bab 1

Hujan turun deras malam itu, menghantam atap seng Panti Asuhan Pelita Jiwa seperti irama ketukan penuh beban. Angin menderu, membawa hawa dingin yang merayap ke setiap sudut bangunan sederhana itu. Di dalam kamar kecil yang remang, Ibu Marisa terbangun dengan dada berdebar. Bukan karena kilatan petir atau suara angin yang melolong-melainkan karena suara yang tak biasa. Tangisan. Tangisan bayi. Lirih, serak, memanggil-manggil dalam kesunyian.

Ia mengusap wajahnya, memastikan itu bukan bagian dari mimpi buruk. Namun suara itu kembali terdengar, lebih jelas-mendayu dalam hujan. Dengan langkah tergesa, wanita paruh baya itu menyambar jaket dan payung sebelum membuka pintu utama panti.

Di balik gerbang besi yang tertutup setengah, sesosok kecil tampak terbungkus kain flanel usang. Sebuah keranjang anyaman, basah kuyup, tergeletak di sana. Jantung Ibu Marisa seperti berhenti berdetak sesaat. Dengan tangan gemetar, ia membuka selimut itu.

Seorang bayi perempuan. Pucat. Tubuhnya menggigil. Tapi matanya-mata bening seperti kaca-menatap langit malam dengan tenang, seolah tak menangisi dirinya sendiri, tapi seluruh dunia.

Ada selembar kertas terselip di sudut keranjang, huruf-hurufnya tergesa: Maafkan aku. Aku tidak bisa merawatnya. Tolong... jangan biarkan dia sendiri.

Ibu Marisa terdiam sejenak, merasakan campuran antara kasihan, marah, dan iba. Lalu tanpa berkata apa-apa, ia mengangkat bayi itu ke pelukannya, mendekap erat dalam dekap hangat tubuhnya. Hujan masih mengguyur dunia, tapi di dada wanita tua itu, bayi kecil itu menemukan ketenangan.

Namanya adalah Nayra-nama yang dipilih Ibu Marisa karena artinya: cahaya di tengah kegelapan. Ia tumbuh di antara dua belas anak panti lainnya, menjadi yang paling sunyi tapi paling lembut. Sejak kecil, Nayra tahu dirinya berbeda. Ia tidak punya kenangan tentang ibu atau ayah. Tidak ada nama keluarga, tidak ada hari ulang tahun yang pasti. Yang ia tahu hanyalah, dirinya ditemukan di malam hujan, di depan gerbang yang dingin.

Namun Nayra bukan anak yang suka mengeluh. Ia belajar menyimpan luka dalam diam. Ia tidak cerewet seperti Sari, tidak nakal seperti Vano, dan tidak cengeng seperti Dito. Ia hanya... ada. Diam, tenang, dan selalu membantu saat dibutuhkan.

"Anak itu seperti air," kata Ibu Marisa suatu hari pada salah satu pengurus. "Tenang, jernih, tapi jika terlalu lama disakiti, bisa membanjiri apa pun yang ada di depannya."

Tapi dunia luar tak sebaik hati panti kecil itu.

Di sekolah, Nayra sering jadi bahan ejekan. Anak-anak lain memanggilnya dengan nama-nama kasar: "anak buangan," "bayi pembuangan," atau yang lebih kejam-"anak tak diinginkan."

Ia mencoba tak mendengarkan. Ia mencoba tetap kuat. Tapi kata-kata itu seperti duri, menancap pelan dan perlahan-lahan merobek kepercayaan dirinya. Tak jarang, ia menangis diam-diam di sudut kamar, saat semua anak panti sudah tertidur. Ia bertanya dalam hati, mengapa ibunya membuangnya? Apakah ia benar-benar tidak diinginkan oleh siapa pun?

Tapi ia tak pernah menanyakan itu kepada Ibu Marisa. Ia terlalu takut akan jawaban yang mungkin menyakitkan.

Suatu sore, ketika Nayra berusia lima belas tahun, badai datang bukan dari langit, tapi dari dalam panti sendiri.

Seorang anak baru bernama Jelita tiba. Cantik, kaya, dan menyimpan dendam terhadap Nayra entah kenapa. Mungkin karena Nayra terlalu disukai oleh para pengurus. Mungkin karena diamnya membuat orang penasaran.

Dan seperti api kecil yang disiram bensin, gosip pun menyebar.

"Nayra mencuri uang kas panti," bisik salah satu anak.

"Aku lihat dia masuk ke ruang Ibu Marisa malam-malam," ujar yang lain.

Tidak ada yang melihat Nayra melakukannya. Tidak ada bukti. Tapi tuduhan itu terus bergulir seperti bola salju. Bahkan Jelita dengan air mata buaya mengaku kehilangan kalung warisan ibunya, dan menuduh Nayra yang mengambilnya.

"Cukup!" bentak Ibu Marisa suatu malam. Semua anak dikumpulkan di aula.

Matanya menatap Nayra tajam, meskipun ia terlihat ragu. "Nayra, kau tahu, kami mempercayaimu selama ini. Tapi terlalu banyak yang terjadi. Kalung milik Jelita... uang yang hilang... jika benar kau tidak melakukannya, katakan sekarang."

Nayra berdiri, tubuhnya gemetar. Matanya basah.

"Aku... tidak mencuri, Bu," bisiknya lirih.

"Tapi kau tidak punya saksi. Tidak ada bukti mendukungmu."

"Tidak ada yang peduli mendengarkanku sejak awal..."

Kalimat itu seperti bisikan dari jurang dalam. Seisi ruangan terdiam. Tapi sunyi tak cukup kuat menahan fitnah yang telah terlanjur tumbuh. Dan keputusan pun dijatuhkan.

Ibu Marisa memandang Nayra, penuh luka yang tidak bisa ia tutupi.

"Untuk sementara, kau harus keluar dari panti. Sampai semua jelas..."

Suara itu memukul Nayra lebih keras dari semua ejekan yang pernah ia terima. Ia mematung. Napasnya tercekat.

"Ke mana aku harus pergi?" tanyanya pelan.

Tak ada yang menjawab.

Dan malam itu, dengan tas kecil berisi pakaian seadanya dan selembar selimut tua, Nayra melangkah keluar dari gerbang yang dulu menjadi tempat ia ditemukan.

Sendirian. Lagi.

Jakarta tak pernah benar-benar tidur. Tapi bagi Nayra, malam terasa lebih sunyi dari sebelumnya. Ia duduk di bangku taman yang basah, menyandarkan kepala ke ranselnya. Perutnya lapar, tubuhnya dingin. Tapi pikirannya lebih kacau dari segalanya.

Ia ingin marah. Ingin menangis. Tapi air matanya sudah habis.

Namun jauh di dasar hatinya, ada suara kecil yang tak mau mati. Suara yang berbisik: Jangan menyerah, Nayra. Jangan biarkan mereka menentukan siapa kamu.

Hari-hari berikutnya bukanlah hal yang mudah. Ia bekerja apa saja-membersihkan meja warung, mengangkat barang di pasar, bahkan memungut botol plastik untuk dijual kembali. Setiap sen yang ia kumpulkan adalah hasil dari keringat dan luka.

Orang-orang melihatnya sebagai gadis biasa. Mereka tak tahu bahwa ia pernah memiliki tempat untuk pulang. Mereka tak tahu bahwa ia bukan hanya sedang bertahan, tapi juga sedang membuktikan sesuatu: bahwa ia pantas hidup, pantas dihormati, meski dilahirkan tanpa nama, tanpa asal.

Dan saat ia menatap matahari terbit dari bawah jembatan tempatnya bernaung, ia berjanji dalam hati-suatu hari, dunia akan tahu siapa Nayra sebenarnya.

Bukan sebagai "anak buangan." Tapi sebagai seseorang yang membangun hidupnya sendiri, dari debu hingga jadi bintang.

Lanjut Membaca

Daftar Isi Cahaya Diujung Gerbang

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel Direndahkan Oleh Keluarga Suami
8.9
Jasmine Bintang, yang memiliki keterbatasan fisik sejak lahir, kerap mengecewakan sang ibu. Harapan indahnya untuk bahagia bersama Ardan Mahendra, suaminya yang sukses, sirna ketika keluarga Ardan terus merendahkannya. Kehadiran Anindya, mantan kekasih Ardan yang membongkar kepalsuan pernikahan mereka, kian memperparah penderitaan Jasmine. Saat Jasmine memilih bercerai demi harga dirinya, Ardan justru menolak keras dan mengancam tidak akan melepaskannya.
Sampul Novel Istri yang Dihancurkan Mereka
8.1
Demi menguji perasaanku, Bramantyo dan Bima tega menyiksaku lewat kehadiran Sandra. Puncaknya, mereka membiarkan tanganku hancur dalam sebuah kecelakaan demi menolong Sandra, hingga karier musikku hancur total. Mereka menanti kemarahanku, tetapi aku hanya diam, bahkan saat Sandra merusak liontin peninggalan ibuku. Di ranjang rumah sakit, pengabdianku sirna. Ini bukan cinta, melainkan siksaan kejam. Kini, aku bersiap melarikan diri dan membalas semua kehancuran ini.
Sampul Novel Misteri Hutan Gondoriyo: Perjalanan Malam yang Mencekam
8.5
Tersesat saat menjelajah, seorang pria terjebak dalam keanehan Hutan Gondoriyo setelah kendaraannya hilang secara misterius. Di sebuah pondok sunyi, sepasang lansia misterius memberinya peringatan keras. Meski sempat kembali dengan selamat, rasa penasaran menuntunnya kembali ke sana, namun hutan itu telah lenyap. Rahasia kelam tentang kecelakaan bus di jurang dan misteri hutan ini mulai terungkap, memaksanya bertaruh nyawa demi membongkar kebenaran yang meneror.
Sampul Novel MY LOVELY LITTLE WIFE
8.9
Yuki sangat geram setelah lamaran perjodohannya ditolak mentah-mentah. Alasan pria itu sungguh klasik, yaitu karena mereka belum saling mengenal. Sambil menggerutu dan mencap calon suaminya sebagai lelaki tua yang menjengkelkan, sebuah ide licik tiba-tiba muncul di benak Yuki. Senyum penuh arti pun tersungging di bibirnya. Ia kini menyusun sebuah rencana cerdik untuk memberi pelajaran berharga bagi pria sombong tersebut.
Sampul Novel Nafsu Kakak Tiriku
9.6
Nando memendam obsesi kelam pada Laily, adik tirinya yang santun. Suatu malam, ia nekat mencoba melecehkan Laily saat gadis itu hendak beribadah. Beruntung, Abdi yang sedang mabuk datang menolong. Namun nasib malang menimpa Abdi ketika ia justru difitnah sebagai pelaku asusila tersebut. Akibat salah paham yang berkembang, Abdi pun terpaksa menikahi Laily demi bertanggung jawab atas tuduhan keji yang menjerat dirinya.
Sampul Novel Penantian Yang Tak Kunjung Kembali
9.2
Enam tahun pernikahan rahasia dengan seorang direktur menyisakan luka bagi sang istri, terutama karena suaminya menolak dipanggil ayah oleh putra mereka. Ketika sang suami kembali mengabaikan ulang tahun anak mereka demi sekretaris wanitanya, ia memutuskan pergi membawa putranya dan mengajukan cerai. Kehilangan ini membuat sang suami yang biasanya tenang menjadi lepas kendali dan mencarinya ke mana-mana bagai orang gila. Namun, kali ini sang istri dan putranya benar-benar tidak akan pernah kembali lagi.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan