APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Takdir Cinta Gigolo Kampung

Takdir Cinta Gigolo Kampung

Kisah perjuangan seorang pria penghibur asal desa yang berupaya keras lepas dari dunia hitam demi menebus masa lalunya. Langkah hijrahnya membawa ia pada sebuah cinta sejati yang ternyata sarat bahaya. Hubungan asmara ini tidak berjalan mulus, melainkan menjadi pertaruhan hidup dan mati yang membahayakan nyawa banyak orang. Dikemas penuh ketegangan dan emosi, drama romantis ini menyajikan kisah mendalam tentang arti pengorbanan dan pertobatan nyata.
Bab
Bagikan

Bab 2

Bukan OB Sembarangan (BOBS)

Empat bulan kemudian.

“Raf, hari Sabtu, awal bulan depan, lu ada acara gak?” tanya Jay pada Rafael.

“Awal bulan depan?” Rafael balik tanya sambil menyernyitkan dahinya, mengingat-ingat punya agenda apa awal bulan depan, di luar jam kerja.

“Gak ada, Bang. Kenapa?” lanjutnya.

“Hari Jum’at, tangal enam, lu ikut sama gua ya ke Puncak, Bogor. Kita berempat ke sana,” lanjut Jay, santai.

“Berempat? Sama siapa aja, Bang?” tanya Rafael makin serius, dahinya pun kembali mengernyit keras.

“Gua, elu, Pak Elkan, ama Pak Nathan,” jelas Jay masih tetap dalam mode cool and rilexs.

“Pak Elkan dan Pak Nathan yang….?” Rafael bertanya ragu, keningnya makin mengernyit, menduga-duga, benarkah dua orang hebat itu akan mengajaknya ke Puncak.

“Iya, pokoknya mereka yang kerja di kantor ini. Lu udah kenal kan sama mereka?” tanya Jay setengah berbisik.

“Kenal sih, Bang. Tapi….” Rafael juga menjawab setengah berbisik. Ekspresi wajah dan tatapannya sedikit kosong, masih tak mengerti dengan ajakan Jay, Sang Komandan Satpam.

“Oke, kalau gitu, lu mau ya ikut sama gua?” Jay kembali mendesak.

“Emang acara apaan?” Rafael ingin lebih memastikan.

“Pokoknya gua jamin, lu bakal happy and ketagihan, hehehehe.” Jay kembali menjawab santai dan terkekeh.

“Acara kantor bukan?” Rafael kian penasaran.

“Bukan lah. Ini acara khusus kita berempat,” sergah Jay.

“Loh, tapi kok hari Jumat. Kan saya masuk kerja, Bang? Kalau berangkat sore, nyampenya pasti subuh, macet tuh di jalannya, tahu sendiri weekend di jalur Puncak kaya gimana.” Rafael mengklarifikasi dan memprediksi.

“Ya, gak masalah. Kita kan mau nginep di villa, santai aja. Berangkat Jum’at sore, pulang Minggu sore. Lumayan kan bisa refreshing tiga hari dua malam.” Jay kembali menegaskan.

“Wah, lama amat? Pasti mahal tuh biayanya. Saya gak bisa, Bang. Jujur aja, saya lagi boke!” protes Rafael tanpa berpikir panjang lagi.

“Yeeee! Gak usah bayar juga kali, all very free. Alias segalanya serba gratis!” Jay menjawab mantap penuh keyakinan.

“Hah, gratis?” Rafael kembali melongo dalam mode kembali mengernyitkan dahinya.

“Yes, ini beneran gratis, kalau gak percaya, tanya aja sama Pak Elkan atau Pak Nathan.” Antusias Jay kian meningkat.

“Yoi, gratisan. Kamu cuma bawa badan aja, heheheh,” timpal Pak Elkan yang kebetulan sedang lewat di sana hendak ke toilet belakang kantor.

“Serius Pak?” Rafael masih tak percaya.

“Yoi!” balas Pak Elkan sambil mengacungkan sebelah jempolnya ke arah Rafael.

“Terus kita mau ngapain dua malam di sana berempat. Gapleh? Kalau cuma main gapleh di sini aja, Bang!” Rafael masih tidak paham. Sebelah matanya terpicing menatap wajah Jay penuh selidik.

“Ada lah. Entar juga lu tahu sendiri!” Jay mencoba terus meyakinkan Rafael. Celakanya hal itu justru kian membuat Rafael bimbangan dan penasaran.

“Wah, ini sangat mencurigakan. Walau gratis, saya tetap gak mau kalau acara gak jelas gitu,” tukas Rafael sambil ngeloyor membawa ember dan tongkat pel-nya.

“Entar kamu nyesel kalau gak ikut, Rafa.” Pak Elkan yang baru keluar lagi dari toilet, menimpali kembali dengan suara berwibawanya.

Rafael tak membalas lagi, dia terus melangkah menuju gudang.

Obrolan pagi menjelang siang itu, berakhir tanpa ada keputusan atau kelanjutannya hingga beberapa hari. Rafael menduga jika Jay hanya bercanda. Mana mungkin sekelasnya Pak Elkan dan Pak Nathan mau mengajak dirinya berlibur. ‘Memangnya gua siapa?’ sangkal Rafael dalam hati.

Jayadi Kusuma, semua orang memanggilnya Bang Jay, Komandan Satpam yang dituakan oleh semua pegawai rendahan di kantor tersebut, termasuk Rafael. Jay berusia 35 tahun, sudah menikah namun lebih bangga mengaku bujangan. Hal tersebut diperkuat dengan keadaannya yang tinggal sendiri di kostan, sementara istri dan keluarganya tinggal di kampung, demi penghematan.

Sepintas tidak ada yang istimewa dengan Jayadi. Wajahnya jauh dari kata ganteng ataupun good looking. Namun dia teramat dekat dengan hampir semua orang dari berbagai strata dan golongan. Terutama dengan makhluk yang bernama wanita. Jay, pandai bergaul, piawai membuat obrolan seru dengan candaan-candaan segar walau terkadang berbau mesum. Postur tubuhnya tinggi, besar gagah dan kekar, menyaingi perawakan Paspampres.

Rafael yang baru tiga bulan bekerja di sana pun dengan mudah bisa akrab dengan Jay. Bahkan dari semenjak pertama kenal pun Jay sudah mau membantu Rafael mencarikan tempat kost, walau tidak berhasil. Jay memang dikenal juga sebagai orang yang ringan tangan, alias gemar menolong sesama, walau orang yang baru dikenalnya. Terutama pertolongan yang bersifar lainnya.

“Gimana Raf, udah ada keputusan belum. Waktunya bentar lagi, nih!” Pada hari berikutnya Jay yang selalu terlihat gagah dengan seragam kebesarannya itu, kembali bertanya pada Rafael.

“Kagak Bang. Saya tetep gak bisa ikut kalau acaranya gak jelas!” Rafael pun tetap menolaknya dengan alasan yang sama.

“Pokoknya bakal sangat seru, mendebarkan and bikin nagih. Gratis pula. Kapan lagi kamu dapat kesempatan emas seperti itu? Kita tinggal menikmati acaranya tanpa harus memikirkan apapun, termasuk biayanya,” desak Jay, tak mau menyerah.

“Jadi beneran serba gratisan, Bang?” Rafael mulai sedikit melunak.

“Iya lah, emang lu gak percaya ama kantongnya Pak Elkan atau Pak Nathan?” serbu Jay.

“Oh, jadi mereka toh yang ngebiayainya?” Rafael manggut-manggut walau belum sepenuhnuya memahami.

“Ya, iyalah.” Jay menjawab sumringah merasa Rafael mulai melunak.

“Kalau gitu, saya pikir-pikir lagi deh, Bang. Masih satu minggu lagi kan?” Rafael akhirnya memberikan jawaban walau masih tetap menggantung.

“Tapi lu jangan bilang-bilang sama yang lain. Ini rahasia kita.”

“Siap, Bang!” jawab Rafael yang kian membuatnya malas untuk ikut.

“Oh iya, lu dipanggil sama Bu Yessy, disuruh ke ruangannya,” sambung Jay lagi.

“Hah? Bu Yessy, yang…...” Mimik Rafael seketika berubah tegang.

“Iya, Bu Yessy, Kepala Peronalia yang pake kacamata and kerudung cantik itu!”

“Ada apa, Bang? Kok tumben beliau manggil saya?” tanya Rafael dengan ekspresi wajah yang tampak kian tegang penuh kecemasan.

“Ya, lu ngerasa punya salah gak sama dia?” tantang Jay.

“Astagfirullah! Salah apa, Bang? Saya ketemu beliau juga jarang. Emang pernah masuk ke ruangannya dua kali, itu pun waktu awal-awal saya kerja di sini.” Suara Rafael mulai sedikit bergetar karena kian panik dan ketakutan.

“Ya, makanya jangan banyak tanya. Segera temui beliau. Kalau kelamaan, entar lu kena damprat kaya Mas Witan, baru tahu rasa!” sentak Jay pura-pura sedikit kesal.

“Eh, i… iya, Bang!” Rafael gelagapan.

“Jadi pegawai magang itu, jangan terlalu banyak gaya. Laksanakan aja semua perintah atasan, tanpa perlu banyak cingcong, oke!” tekan Jay menasihati.

“Eh, i… iya siaaap, Bang! Terima kasih sudah diingatkan. Maaf, saya permisi dulu mau ke ruangan Bu Yessy.” Rafael berpamitan sambil mundur, wajahnya pun masih pucat. Lalu dia tergopoh-gopoh mendatangi ruangan Bu Yessy dengan jantung yang mulai berdebar dag-dig-dug tak karuan.

Semua orang kantor sudah tahu bagaimana tegas dan tanpa komprominya wanita cantik beryusia 43 tahun hyang bernama lengkap Yessy Mailastri itu. Semua karyawan rendahan seperti Rafael, pasti akan berusaha untuk tidak berurusan apalagi sampai dipanggil ke ruangannya, yang mereka sebut sebagai ruang pengadilan super angker.

Semakin dekat dengan ruangan angker itu, jantung Rafael pun semakin meloncat-loncat membayangkan seesuatu yang mengerikan akan menimpanya, seperti yang pernah dialami Witan, Kepala Suku Dapur alias seniornya kaum Obe. Untung saja kala itu Vina turun tangan mengatasi segalanya.

Rafael pernah dua kali masuk ke ruangan angker nan mencekam itu. Saat interview lanjutan setelah dirinya sah diterima sebagai Obe, dan saat diminta mengantarkan Juice pesanan si Killer dari kantinnya Bu Yuyun. Kepala Personalia itu mendapat julukan si Killer dari sebagain besar karyawan kantor tersebut, terutama anak buahnya langsung.

Siapapun yang dipanggil Kepala Personalia super jutek itu, akan merasa seperti hendak di-BAP Polisi. Di antara semua karyawan kelas menengah ke bawah, hanya Jay yang sepertinya tetap merasa aman dan nyaman keluar masuk dan bahkan berlama-lama tinggal di ruangan Bu Yessy.

‘Ya Allah, selamatkan hamba-Mu yang lemah ini dari caci maki, hinaan atau kengeringan lainnya, Amiin!’ Doa Rafael, sesaat sebelum mengetuk pintu dan meminta izin masuk.

^*^

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Because of Mistake
9.6
Salah paham fatal membuat Eudora disiksa tanpa ampun oleh Legolas yang dendam. Penderitaan berat ini membuat Eudora putus asa dan mendambakan kematian. Saat fakta terungkap bahwa Eudoralah penyelamat hidup Legolas di masa lalu, penyesalan pun datang terlambat. Kini, hati Eudora telah dipenuhi kebencian dan kekecewaan yang mendalam. Akankah hubungan mereka berakhir menjadi musuh abadi, atau justru ada ruang bagi cinta untuk tumbuh kembali?
Sampul Novel Dosa Terindah Bersama Kakak Ipar (Cinta Yang Semu)
8.2
Pernikahan balas budi merenggut kebahagiaan Queenza Mikayla Anya, menyisakan derita fisik dan batin setiap hari. Namun, takdir mempertemukannya dalam satu malam tak terduga dengan sang kakak ipar. Peristiwa itu menumbuhkan rasa cinta yang rumit di hati Queenza. Kini, ia dihadapkan pada pilihan sulit: terus bertahan dalam hubungan yang menyiksa, atau melepaskan diri demi cinta sang kakak ipar yang selalu melindunginya.
Sampul Novel Hot Love - Birahi Anak Yakuza
8.2
Kenzo, pewaris tunggal pemimpin Yakuza, menolak dijodohkan demi mengejar perempuan Rusia misterius yang ditemuinya di kafe. Penolakan ini memicu konflik besar hingga Kenzo tertembak, lalu diselamatkan oleh Alena, wanita yang ia cintai. Namun, hilangnya Alena membuat Kenzo frustrasi dan mengacau di Hong Kong hingga menyulut perang gangster. Saat melarikan diri bersama kakak angkatnya, Sakura, Kenzo tak tahu bahwa Alena sebenarnya adalah anak dari calon mertuanya sendiri.
Sampul Novel Husband billionare
8.3
Pasca lolos dari upaya pembunuhan oleh pamannya, Wira, bos Grup Jason bernama Arkhana kehilangan ingatan. Ia diselamatkan Nina di sebuah desa hingga keduanya menikah. Begitu memorinya kembali, Arkha menyamar demi mengusut kejahatan Wira atas keluarganya. Usai dendamnya terbalas, Arkha mendapati rumah istrinya hancur akibat ulah istri Wira. Ia pun bergegas menyelamatkan Nina, mengungkap jati dirinya sebagai miliarder, lalu memboyongnya ke kota.
Sampul Novel Jodoh Pilihan Oma
8.5
Kehidupan Dion berbalik arah setelah menolong Kayla dari ancaman bahaya bersama Nenek Melati. Kagum akan ketegaran Kayla, sang nenek bertekad menjodohkan mereka. Rencana ini ditentang keras oleh Bu Ratna yang lebih memilih Amara, sosok ambisius pengejar status, untuk Dion. Demi menyingkirkan Kayla, Amara merancang intrik licik untuk membongkar masa lalu kelam sang rival. Kini, Dion harus berjuang menghadapi tekanan keluarga dan konspirasi jahat demi melindungi cintanya.
Sampul Novel Kesempatan Kedua, Luka Terakhir
9.3
Niat baik berujung petaka. Usai membelikan teh susu pesanan rekan kerja yang hamil, protagonis dituduh sengaja menggugurkan kandungan tersebut. Fitnah di rumah sakit ini memicu kemarahan keluarga korban yang memukulinya dan menuntut ganti rugi dua miliar rupiah. Demi keadilan, ia melaporkan kasus ini ke polisi dan bersiap menuntut balik. Namun, sebelum hukum bertindak, ia tewas mengenaskan setelah didorong oleh ibu mertua korban hingga dilindas truk.