APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Tak Terduga

Tak Terduga

Sebuah peristiwa tragis mengubah total kehidupan Fiel. Kini, ia harus menerima kenyataan bahwa penampilan fisik dan usianya telah berganti sepenuhnya. Walau penyebab transformasi aneh ini masih diselimuti misteri, Fiel menolak untuk terpuruk dalam kesedihan. Sambil memandang keluar jendela rumah sakit, ia justru menyambut takdir barunya dengan senyuman penuh makna. Bagi Fiel, perubahan misterius ini adalah permulaan dari sebuah permainan baru yang sangat menantang.
Bab
Bagikan

Bab 2

Pertama kali yang kurasakan saat membuka mata adalah rasa sakit yang teramat di kepala, sedikit meringis ketika aku berusaha bangun dari tidur, kulihat sekeliling ruangan, ah, rumah sakit ternyata.

Ya, tentu karena seingatku kamarku tidak sekecil ini.

Aku melihat kedua tanganku, yang kiri terpasang infus yang kanan dililit perban, kurasakan juga kepalaku terpasang perban, sedikit agak kaku karena perbannya agak terlalu kencang. Ruangan ini sepi, tidak kulihat Bastian dimanapun, biasanya selama apapun aku tertidur dia selalu menunggu dengan sabar, mungkin dia sedang mengurus hal lain. Kulihat jam menunjukan pukul 02.35, Aku terbangun dini hari Tapi kenapa Bastian tidak menempatkanku di ruang VVIP, ruangan ini terlalu sempit untukku. Setelah berhasil duduk dengan benar, aku mulai berpikir hal terakhir apa yang membuatku masuk rumah sakit.

Aku menghela nafas ingatan tentang duduk ditaman, membantu mengambilkan balon seorang anak kecil, berjalan ketengah jalan, dan mobil putih yang menabrakku. Aku kecelakaan, klise sekali tapi ini sialan akan ku suruh Bastian mencari siapa yang menabrakku.

Kalau ku ingat bagaimana tubuhku tertabrak kencang oleh mobil putih itu, tidak mungkin hanya luka ini saja yang kudapatkan, setidaknya patah tulang atau jaitan luka di sana sini atau mungkin koma dan aku masih sangat ingat sakit yang teramat sangat di bahu kiri dan kepalaku. Kulihat lagi kedua tanganku, Sejak kapan aku mewarnai kuku ku. Warna merah terang yang mencolok, tidak aku tidak pernah mewarnai kuku ku.

Tanganku juga terlihat lebih kurus dan rasanya ini hanya tulang yang terbalut kulit. Tunggu, memang selama apa aku tertidur, apa itu artinya aku koma di waktu yang lama? Dan itu membuat badanku kurus seperti ini, apa kutek kuku ini juga Bastian yang mewarnainya. Sejak kapan Bastian berani melakukan hal yang aku tidak suka.

Haah apa benar selama itu aku tertidur?

Aku benci berkata ini, tapi rasanya hampa sekali. Aku rindu kalian.

***

Hari sudah siang, tirai jendela terbuka lebar pemandangan kota tersuguhkan disana. Pagi tadi ada seorang suster yang sedang mengecek infusan, karena baru tidur jam setengah 5 pagi, Fiel menghiraukan sang suster lalu lanjut terpejam.

Sekarang dia sedang duduk bersender di kepala ranjang, makanan khas rumah sakit berada di nakas sebelah kiri tidak ia lirik sekalipun, dia benar-benar tidak berselera untuk makan. Suara pintu mengalihkan atensinya, dia melihat seorang ibu tua dengan kedua tangan yang memegang kantong pelastik, matanya menunjukan keterkejutan, ibu tua itu diam beberapa saat sampai akhirnya dia sadar dan menghampiri sang pasien.

"Nona sudah sadar? Maaf bibi baru datang siang, non."

Tangannya agak bergetar melihat raut wajah datar majikannya, dia mengeluarkan beberapa buah dari kantong plastik hitam dan mengeluarkan bubur ayam dari kantong plastik putih.

"Bibi tau non pasti belum makan karena non gak pernah suka makanan rumah sakit, jadi bibi bawain bubur ayam langganan non, ini kesukaan non, non makan yah bibi suapin."

Tangannya cekatan membuka kotak bubur, bi Marni memang agak terkejut melihat nona mudanya sudah sadar, karena sudah 2 hari setelah kecelakaan nona mudanya dalam keadaan koma, hal yang di katakan dokter waktu itu. Ketika tangan keriput itu menyodorkan satu sendok bubur, nona mudanya bertanya hal yang mengejutkan.

"Anda siapa?"

Wajah bi Marni menunjukkan keterkejutan yang nyata, sendok bubur yang dia pegang hampir saja terjatuh.

"N-non tidak ingat bibi? Non benar tidak ingat bibi?" Bi Marni merasakan matanya memerah, dia berusaha untuk menahan tangis, sendok buburnya ia taruh kembali, fokusnya ia alihkan pada mata sang nona.

Nona mudanya hanya menampilkan ekspresi datar, tidak ada raut manja seperti biasanya ataupun mata yang sering melihat angkuh. Hanya tatapan tidak berminat.

"Non, ini bi Marni, bibi yang udah ngurus non sedari kecil, bibi udah ikut keluarga non 19 tahun. Bibi pengurus rumah tangga di keluarga Sagara." Jelasnya pelan.

Fiel mengangkat sebelah alisnya. Sagara? Dia tidak tau siapa itu keluarga Sagara, dan kenapa ibu tua ini bilang kalau dia adalah keluarga Sagara, sesudah kecelakaan keluarganya dulu dia langsung di asuh oleh adik dari mamanya.

"Aku tidak tau ibu ini siapa, dan saya bukan bagian keluarga Sagara, anda mungkin salah ruangan."

Masih dengan raut datar, Fiel menjawabnya tanpa berminat. "N-nona i-ini pasti ada yang salah, bibi panggilkan dokter dulu, ya."

Bi Marni berlalu dengan wajah ketakutan, dia tidak mau menyuarakan yang ada di pikirannya, salah ini pasti ada yang salah dengan nona mudanya.

Fiel berdecak tak suka, dia benar-benar ingin sendiri sekarang, lagipula kemana Bastian kenapa asistennya tidak datang-datang, kalaupun sedang pergi harusnya dia menyuruh bodyguard menjaga di luar ruangan, sangat tidak suka orang asing yang sok kenal begitu.

Tak berapa lama ibu tua yang menyebut dirinya bi Marni datang dengan seorang dokter dan dua suster di belakangnya.

"D-dokter tolong periksa nona Alexa dok, dia tidak ingat siapa saya dan dirinya sendiri." Bi Marni mengatakan itu sambil menangis, tanpa banyak kata dokter langsung memeriksanya.

"Apa yang kamu rasakan? Apa pusingnya masih ada?" Dokter itu bertanya dengan tenang.

"Ya, pusingnya masih sangat terasa sesekali."

Dokter mengangguk, dia menyuruh suster untuk menggantikan perban di kepala dan tangannya, suster lainnya sedang menulis sesuatu.

"Luka di tangan mu sudah mengering, tapi masih harus di perban untuk hari ini jika besok benar-benar sudah kering perbannya boleh di lepas, untuk luka di kepala karena lukamu di jahit masih belum boleh di lepas, ganti perbannya hanya boleh sekali sehari sampai benar kering, saya akan resepkan obat baru dan vitamin agar lukanya cepat menutup."

Fiel hanya mengangguk, dokter tersebut memeriksa infusan.

"Anda harus makan secara teratur agar cepat sembuh nona, jika 2 hari keadaannya semakin membaik nona alexa boleh segera pulang." Lanjutnya.

"Alexa? Siapa dia?" Fiel merasa dokter tersebut salah memanggil namanya.

"Tentu anda nona, nama anda nona Alexa."

"Saya Cassandra bukan Alexa."

Tangis bi Marni benar-benar pecah, pikiran buruknya sudah memenuhi kepalanya. "Apa anda ingat orang tua anda?"

"Ya, saya ingat, mereka sudah lama tiada." Fiel mengatakan itu dengan sorot mata dingin, dan itu tidak luput dari penglihatan sang dokter.

"Umur anda?"

"24 tahun."

"Dan tahun berapa sekarang?"

Fiel mengerutkan kening. "2019." Dia menjawab dengan pelan.

Dokter itu hanya mengangguk, dia mengalihkan pandangannya pada wanita tua yang memanggilnya tadi.

"Saya pikir karena syok dan benturan dikepalanya nona Alexa mengalami hilang ingatan sementara, ditambah beban pikiran yang menganggu sebelum kecelakaan terjadi. Itu membuat pikirannya membayangkan hal-hal yang tidak ia pikirkan sebelumnya, tapi ibu tenang saja ini hanya sementara setelah syoknya hilang ingatannya akan kembali lagi."

Bi Marni masih sesegukan setelah mendengar penjelasan dokter, dia masih merasa takut dengan semua ini, ada perasaan kasihan yang menelusup dalam hatinya, kenapa nonanya harus mendapat semua ini.

"Tapi dok semuanya akan baik-baik saja kan?"

"Semuanya baik-baik saja bu, coba ibu ingatkan hal yang berkaitan dengan nona Alexa secara perlahan siapa tau ini bisa mengembalikan ingatannya."

Dokter tersebut pamit undur diri setelah dirasa cukup. Ruangan itu kembali menyisakan dua orang dengan perasaan yang berbeda, bi Marni menguatkan hatinya agar tidak terlalu larut dalam menangis, sedangkan Fiel kepalanya berdenyut sakit, dia bingung sekali kenapa dokter bilang dia lupa ingatan, dia sama sekali tidak lupa dia ingat semua kenangan ketika anak-anak sampai dewasa bahkan detik-detik dia kecelakaan. Ada yang tidak beres. Bi Marni menyentuh pelan tangan Alexa, dia lalu duduk di kursi sebelah ranjang pasien.

"Non bibi minta maaf karena sore itu bibi ngga bisa cegah non pergi, kalau bibi tau non akan kecelakaan bibi pasti paksa non buat di rumah aja, apalagi non waktu itu belum makan." Ucap bi Marni pelan, sesekali air matanya turun.

"Tapi non tenang aja, sekarang bibi bakalan jagain non sampai non sembuh." Tangannya dengan cepat menyeka air mata .

Fiel melihat itu dalam diam, dia masih tidak bisa mencerna apa yang terjadi, dokter tadi pasti salah mendiagnosis keadaannya.

"Non makan dulu ya, bibi suapin." Sambil sesekali sesegukan bi Marni membawa kotak bubur kepangkuannya, bubur sudah dingin karena dibiarkan lama.

Fiel hanya diam, tapi dia menurut ketika di suruh untuk membuka mulut, keduanya tidak ada yang mengeluarkan suara, hening sampai bi Marni menyuapi Fiel sampai buburnya habis.

"Apa non ingin di kupaskan apel? Atau pier?" Fiel yang sedang minum hanya menggeleng.

"Bisa ibu ambilkan saya cermin?"

Dengan sigap bi Marni mencari cermin kecil, dia ingat menyimpannya di laci nakas kedua, setelah dapat dia menyerahkan pada nonanya.

Fiel menatap cermin itu dengan mata melotot, siapa gadis yang dia lihat, ini bukan dia, dia tidak punya rambut coklat begini, rambutnya hitam legam, panjang dan lurus, tapi rambut ini sedikit curly di bawahnya, dia benar-benar baru sadar sekarang, matanya kecil dengan tatapan sayu, bulu mata yang lentik, bibirnya tipis merah muda dan agak kering, hidung mungil yang tidak terlalu macung, wajahnya agak bulat, porsi yang pas. Kulit wajahnya putih tanpa jerawat ataupun masalah kulit lainnya. Wajah remaja yang lucu.

Wajah siapa ini? Ini bukan aku!!

Fiel kaget, sangat kaget, wajah ini asing, ini benar-benar bukan dia, mata, hidung, rambut, tangan, bahkan badannya bukan dia, ini badan milik orang lain. Siapa dan kenapa, bagaimana ini bisa terjadi, sebenarnya apa yang terjadi, pertanyaan itu terus berputar di kepalanya.

"I-ini wajah siapa?"

Bi Marni hanya tersenyum, nonanya mungkin tidak menyangka kalau wajahnya sendiri sangat cantik, apa seseorang yang amnesia lupa wajah sendiri?

"Itu wajahnya non, non Alexa tenang aja, luka gores di wajah non pasti sebentar lagi hilang, dan jaitan di pelipis non terhalang rambut." Bi Marni menjelaskan dengan tenang, pasalnya nona mudanya ini sangat menjaga wajahnya, ada satu jerawat saja hebohnya seperti sedang terjadi kebakaran.

Jaitan di pelipis Fiel berdenyut, dia meringis keras, bi Marni yang melihat itu panik, dia menyuruh Fiel untuk tidur, tidak tega melihat nonanya menahan sakit.

"Non tidur aja, bibi bakalan jagain non, sekalian bibi nebus resep obat yang baru, ya."

Fiel hanya mengangguk, kepalanya ikut-ikutan sakit, perihal hal baru yang terjadi dia akan memikirkannya nanti.

Aku harus cepat mencari tau apa yang sebenarnya terjadi. Ahh sialan ini sakit sekali.

***

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dunia Mimpi Para Jomblo
8.1
Pasca-kelulusan kuliahnya di Bandung, Rino Rahman sangat mendambakan kehadiran cinta yang belum pernah ia rasakan. Di tengah kesepian itu, muncul sosok misterius yang menawarkan bantuan untuk mewujudkan impian asmaranya lewat dunia mimpi. Apakah tawaran tersebut benar-benar membawa kebahagiaan nyata atau hanya sekadar janji manis tanpa bukti? Simak kisah unik perjuangan Rino dalam mengejar cinta sejati yang membentang di antara batas kenyataan dan alam khayalan.
Sampul Novel Putra Rahasia Jodoh Alfaku, Penolakan Terakhirku
8.9
Sebagai penerus Serigala Putih, aku dikhianati Alpha Kaelan yang punya keluarga rahasia. Orang tuaku sendiri tega mencuri dana kawanan demi wanita simpanannya. Aku cuma dijadikan alat pembuat anak sebelum dibuang. Saat mereka berniat membiusku di ulang tahun ke-18, aku pura-pura pingsan dan kabur. Namun, sebelum pergi jauh, aku mengirim kado berisi bukti kejahatan mereka demi menghancurkan semuanya.
Sampul Novel Suamiku Karakter Game
8.3
Kehidupan monoton Arabella, gadis dua puluh tahun yang hanya mengenal cinta lewat gim simulasi, mendadak berubah drastis. Karakter pria dambaannya tiba-tiba terwujud di dunia nyata dengan sosok yang begitu sempurna. Ara sangat terkejut saat pria fiksi tersebut menyapanya sebagai istri. Di tengah kebingungan antara ilusi kesepian atau keajaiban nyata, Ara kini hanya berharap agar lelaki impiannya itu terus bertahan di sisinya dan tidak pernah kembali ke dunia gim.
Sampul Novel Terjebak Jodoh Orang Lain
9.2
Jiwa Elena dan Sarah tertukar akibat sebuah insiden, memaksa mereka berjanji untuk menjaga pasangan masing-masing, Danang dan Riko. Namun, setelah Elena berhasil kembali ke raga aslinya, ia justru merasa hampa. Selama hidup sebagai Sarah, hatinya telah terpikat oleh sosok Danang. Kini Elena terjebak dalam dilema besar: haruskah ia mengejar cinta sejatinya pada Danang, atau menyerah demi menjaga komitmen pernikahan dengan tunangan mereka masing-masing?
Sampul Novel True Lord
8.9
Zelbert jatuh ke tangan Putri Erina usai Pangeran Ergo lenyap di medan laga. Sayangnya, takhta Erina diguncang kudeta oleh Duke Hamburgh. Meski telah bersuamikan Iraqis yang merupakan sepupunya sendiri, sang putri tetap digulingkan dari takhta. Berbekal wasiat mendiang sang ayah, Erina kabur ke luar wilayah kerajaan demi menghimpun kekuatan baru. Perjuangannya kini dimulai untuk merebut kembali haknya sekaligus membebaskan tanah air dari belenggu pengkhianat.
Sampul Novel Why Make Me The Antagonist?
9.1
Demi menghindari kematian tragis di tangan Raja Iblis, Sallyana Jung yang bereinkarnasi sebagai tokoh antagonis memilih menjalankan misi Ratu Naga untuk mencari pangeran yang hilang. Upayanya mendekati para karakter utama berhasil mengubah takdirnya. Namun, ketenangannya kembali terusik saat Pemimpin Suci mengangkatnya sebagai murid. Di tengah obsesi putra Duke dan perubahan sikap sang heroine, sebuah rahasia besar terungkap bahwa Sally sebenarnya adalah titisan Dewi dari masa lalu.