APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Tak Terduga

Tak Terduga

Sebuah peristiwa tragis mengubah total kehidupan Fiel. Kini, ia harus menerima kenyataan bahwa penampilan fisik dan usianya telah berganti sepenuhnya. Walau penyebab transformasi aneh ini masih diselimuti misteri, Fiel menolak untuk terpuruk dalam kesedihan. Sambil memandang keluar jendela rumah sakit, ia justru menyambut takdir barunya dengan senyuman penuh makna. Bagi Fiel, perubahan misterius ini adalah permulaan dari sebuah permainan baru yang sangat menantang.
Bab
Bagikan

Bab 3

5 hari sudah dia berada di rumah sakit, dokter bilang besok dia baru boleh pulang. Fiel hanya diam, mengangguk menerima penjelasan dokter. Sesudah mengalami hal mengagetkan kemarin Fiel tidak tau harus merespon apa, ia bingung dan kaget, jelas saja tiba-tiba menjadi korban kecelakaan sekarang jiwanya di tubuh orang asing.

 "Kalau begitu saya pamit dulu." Ucapan dokter mengalihkan pikiran Fiel, dia melihat dokter dan suster melangkah keluar ruangan, ada bi Marni yang mengucapkan terima kasih.

 Yang Fiel tau semenjak dia bangun, hanya bi Marni seorang yang menjenguknya, dia tidak melihat orang lain ataupun sanak keluarga tubuh ini.

 "Non mau makan buah? Atau sesuatu yang lain?"

 Fiel menggeleng.

 "Mmm non mau jalan-jalan ke taman rumah sakit?"

Pertanyaan bi Marni lagi-lagi di jawab gelengan kepala.

 "Atau non ada yang mau di tanyakan sama bibi ?"

Dari kemarin bi Marni telaten sekali merawatnya, ketika malam hari Fiel ingin ke kamar mandipun bi Marni sigap bangun untuk membantu.

 "Saya hanya bingung bu, saya seperti orang asing sekarang, siapa saya, kenapa saya disini, dan apa yang terjadi, itu membuat saya pusing." Fiel menjawab dengan pelan, kening di wajahnya mengerut dalam.

 "Non bisa mulai kenalan lagi dengan bibi, untuk memulai mengingat kenangan non, non juga bisa bertanya apa saja yang membuat non bingung, bibi siap menjawab." Bi Marni tersenyum melihat mata Fiel menunjukan rasa tertarik.

 "Kalau begitu di mulai dengan nama saya, dan hal-hal kecil tentang saya." Fiel menyandarkan punggunnya dengan nyaman, wajahnya tenang sorot matanya menajam.

"Nama lengkap non Alexa Putri Sagara, non anak bungsu dari 2 bersaudara, non punya satu kakak laki-laki yang berbeda 3 tahun dari non, namanya Damian Putra Sagara, non sekarang berusia 17 tahun, tanggal lahir non 18 April 2002, non bersekolah di SMA negri Harapan Bangsa, non udah kelas 3, tapi kalau untuk kelasnya bibi kurang tau non.. "Bi Marni tersenyum sambil menggaruk pipinya, Fiel mengangguk.

"Non suka sekali dengan berbelanja, biasanya non suka menghabiskan waktu bejam-jam di mall untuk belanja make up, dan non senang sekali dengan yang namanya berdandan, biasanya kalau non sudah belanja make up non sering jadiin bibi atau pembantu yang lain untuk uji coba, non selalu bilang begitu dan hasilnya sangat bagus, non bilang cita-cita non pingin jadi make up artis.." Bi Marni menjeda ceritanya dia memandangi raut wajah sang nona, tapi wajah itu hanya diam dengan bibir terkatup rapat.

"..Yang paling non suka itu cumi sambal ijo, non bilang itu masakan yang paling enak daripada spageti, non tidak terlalu kuat makan pedas, minuman kesukaan non itu boba capucino non juga sering beliin bibi minuman itu sepulang sekolah, non itu alergi kepiting dan lobster, dan non tidak bisa makan udang terlalu banyak karena biasanya rahang non suka tidak bisa di buka.."Bi Marni mengatakan itu sambil tertawa kecil, seolah-olah dia mengingat kejadian lucu.

"..Dari kecil non itu sangat periang, gadis kecil yang lucu dan cantik, sampai beranjak remaja non selalu tambah cantik.." bi Marni tersenyum dia mengusap pelan kepala Fiel. "Bibi memang sangat dekat dengan non sedari kecil, bibi bekerja di keluarga Sagara ketika kakak non berusia 1 tahun."

Bi Marni menyudahi ceritanya, dia menunggu respon sang nona. Wajah Fiel datar, dia sangat asing dengan cerita itu, dia bahkan tidak mengingat satupun kenangan tubuh ini, tapi ada kesamaan yang Fiel tau, ulang tahunnya sama dengan ulang tahun asli Fiel, 18 April hanya berbeda tahun, Fiel lahir di tahun 1995.

Jadi sekarang apa ?

Fiel menghela nafas, matanya ia alihkan pada jendela kamar inapnya, kalau jiwa Fiel disini bagaimana jiwa gadis yang ditempatinya, apakah jiwanya pindah pada tubuh Fiel? Apakah sekarang mereka sedang bertukar jiwa? Berpindah tubuh? Lalu kehidupannya bagaimana? Pekerjaan menumpuknya bagaimana? Apa Bastian sudah tahu? Apa dia sedang mencarinya? Dan apakah sekarang dia menjalani hidup gadis ini, kembali pada usia 17 tahun tingkat akhir sekolah?

Ahh, kepalanya berdenyut pusing lagi, dia benar-benar tidak mengerti, haruskah ia menerima semuanya? Atau dia saja yang langsung mendatangi Bastian menceritakan yang sedang terjadi, tapi apa asistennya itu mempercayai ucapannya, kalau sudah bercerita lalu apa? Apa dia akan mendatangi dukun atau paranormal untuk mengembalikan jiwanya? Atau kah harus dengan adegan kecelakaan lagi agar bisa kembali Tidak itu ide yang buruk, lagipula itupun kalau berhasil, kalau ternyata aku malah mati ?

Sialan oh sialan.

Fiel rasanya ingin mengumpat terus menerus sambil menangis, yang benar saja, lalu bagaimana dengan rencana yang telah ia susun dari dulu.

"Non baik - baik aja?" Bi Marni melihat raut wajah kesakitan itu khawatir, ternyata nonanya memang benar tidak ingat apapun, ia kira karena kemarin pertama kalinya nonanya bangun nonanya masih syok dengan kejadian kecelakaan makanya dia tidak ingat apapun.

Fiel kembali melihat bi Marni yang duduk di sebelah ranjangnya, wajah bi Marni benar-benar tulus dengan rasa khawatir di dalamnya, Fiel malah teringat bibinya yang mengasuhnya sejak kecil.

"Saya baik-baik aja bu, tenang aja, hanya saja saya masih belum ingat apa-apa." Fiel menenangkan.

"Non ga usah terburu-buru, bibi ga mau non malah sakit kalau dipaksakan."

Fiel mengangguk.

"Dari kemarin kenapa hanya ibu saja yang datang, apa keluarga saya tidak mau datang?"

Pertanyaan Fiel membuat bi Marni gelagapan, dia sekarang bingung menjawabnya, dia tidak mau membuat sakit hati nonanya, sering bi Marni memergoki nona mudanya menangis karena rindu pada orang tuanya, dan itu juga membuatnya sakit hati.

Fiel melihat itu dengan jelas, mata bi Marni melirik kesana kemari mencari jawaban, dan Fiel sudah tau tanpa perlu i jawab bi Marni.

"Tidak apa-apa jika ibu tidak bisa cerita." Fiel menyadarkan bi Marni yang masih bingung.

"B-bukan begitu non, hanya saja bibi ngga mau bikin non nangis, bibi ngga mau bikin non lebih sakit."

"Memangnya kenapa harus sampai menangis?" Fiel bertanya dengan tenang. Walapun ragu tapi bi Marni akhirnya mengatakan jawabannya.

"S-s-sebenarnya sewaktu pertama kali dengar kabar non kecelakaan bibi langsung telepon nyonya sama tuan, tapi mereka bilang tidak bisa pulang mendadak karna pekerjaan mereka masih terlalu banyak, nyonya bilang akan pulang setelah semuanya selesai, dan kalau untuk den Demian, kakak non sedang sibuk-sibuknya kuliah dia jarang sekali ada di rumah, tapi bibi udah kasih kabar kok non."

Orang tua yang hanya memikirkan pekerjaan dan kakak yang tidak dekat. Fiel mengangguk untuk mendengar jawaban bi Marni dan kesimpulannya sendiri. Jadi aku akan hidup di tubuh seorang gadis yang kesepian ? Fiel mendengus, apa sekarang hidupnya akan menjalani seperti misi tertentu ? Kenapa ini seperti lelucon.

"Non ingin makan siang dengan apa ? Bibi akan belikan, tadi non makan cuma sedikit." Bi Marni memecah keheningan, sedikit ada rasa tidak enak ketika menceritakan tentang tadi.

"Buatkan saya salad buah 2 porsi dan jus stroberi saja, bu."

"Kalau begitu bibi ijin ke rumah dulu ya non, sekalian bawa baju ganti untuk non, kata dokter non besok boleh pulang." Fiel hanya mengangguk, bi Marni bangkit dan segera melangkah keluar untuk pulang, rencananya dia akan kesini lagi setelah membersihkan kamar nona mudanya.

Kamar inap itu sekarang hening, Fiel merasakan jaitan pelipisnya berdenyut pelan, dia terlalu berpikir dengan keras, tubuh gadis yang sekarang di tempati ini kehidupannya monoton, klise sekali, anak yang kurang kasih sayang dari orang tua yang gila kerja, kakak laki-laki yang tidak akrab dengannya, dan dia dekat dengan pengasuhnya.

Kalau untuk bi Marni sebenarnya dari kemarin Fiel merasa kalau mereka benar-benar dekat, ada rasa nyaman ketika bi Marni menunjukkan kasih sayang atau perhatian-perhatian kecil lainnya.

Fiel hanya perlu mencari tahu tentang kehidupan anak ini di sekolahnya, apa menyenangkan atau sebaliknya. Oh aku baru sadar, apa anak ini tidak punya teman ? Hampir seminggu tidak masuk sekolah bukannya cukup untuk memberi tahu orang-orang kalau dia ini tidak baik-baik sajakan ? Oh dan sial lagi selain kurang kasih sayang anak ini tidak punya teman ternyata.

Fiel benar-benar mendengus dengan keras, wajahnya datar dengan tatapan tidak suka, jangan bilang anak ini bunuh diri dan kecelakaan kemarin itu rencananya. Kekanakan sekali.

"Baiklah, walaupun aku tidak mengerti kenapa ini terjadi padaku, tapi aku akan menerimanya.." Fiel menghela nafas, matanya ia edarkan kearah jendela besar kamar inapnya.

"Karena sepertinya ini menyenangkan." Smirk kecil tercipta di bibirnya.

***

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dikhianati Sahabat Kecil, Aku Menikahi CEO Mandul
8.9
Setelah tewas mengenaskan akibat dikhianati oleh kakaknya sendiri dan ditinggalkan oleh pria yang ia cintai, sang protagonis mendapatkan kesempatan kedua. Ia terbangun di hari penentuan pernikahan mereka kembali. Alih-alih memperebutkan Zony yang ternyata diam-diam mencintai kakaknya, ia memutuskan untuk mengambil langkah berbeda. Tanpa ragu, ia menerima lamaran Gunawan, seorang CEO yang dikenal tidak bisa memiliki keturunan. Keputusan ini mengubah segalanya, hingga membuat mantan kekasihnya bersujud memohon penyesalan.
Sampul Novel Legenda Sage Pengendara Phoenix
9.3
Kiran, pemuda asal Qingchang, terikat takdir dengan The Flame, Phoenix legendaris milik mendiang Sage Putih Alaric yang tewas di tangan Kaisar Warlock. Demi bertahan hidup, sang Phoenix melakukan penyatuan jiwa berbahaya dengan Kiran. Ingatan peristiwa ini terkunci hingga Kiran tumbuh menjadi jenius ilusi di Institut Magentum. Namun, ia dituduh sebagai pengkhianat dan pewaris Klan Phoenix Merah, memicu perburuan maut oleh Kekaisaran Hersen.
Sampul Novel Money Bowl ( Cara Cepat Kaya )
8.5
Moana menemukan mantra ajaib yang bisa mendatangkan kekayaan melimpah. Dengan ambisi mulia, ia berniat memakai kekuatan ini untuk memperbaiki ekonomi masyarakat. Namun, ketulusan Moana justru dimanfaatkan oleh pihak-pihak licik demi kepentingan pribadi yang kotor. Kini, ia harus berjuang keras meluruskan kembali tujuannya dan memastikan ilmu sakti tersebut digunakan pada jalan yang benar demi kebaikan bersama.
Sampul Novel Peace Hunter
7.9
Rid Archie, seorang pemuda desa, menyadari bahwa kedamaian di dunianya hanyalah ilusi. Di balik ketenangan semu tersebut, diskriminasi rasial serta perbudakan masih terus terjadi. Kondisi ini sebenarnya merupakan gencatan senjata rapuh antara ras Malaikat dan Iblis yang sewaktu-waktu dapat memicu perang besar. Didorong kenyataan pahit ini, Rid bertekad menciptakan keharmonisan yang nyata. Namun, sanggupkah ia menggapai mimpi besar tersebut di tengah dunia yang sarat konflik?
Sampul Novel Pedang Naga Siluman
9.5
Dibesarkan secara sederhana oleh Mbah Wiguna, Satya Wiguna tumbuh menjadi pemuda tangguh nan bersahaja. Bersama para sahabatnya, ia melakukan perjalanan lintas waktu ke masa lalu untuk menumpas kebatilan. Ketika kekuatannya berada di titik tertinggi, entitas alam gaib mengangkatnya sebagai panglima perang. Membawa kekuatan dahsyat Pedang Naga Siluman, Satya memikul tugas krusial demi menjaga dimensi moksa dan bumi dari ancaman invasi besar Raja Iblis yang haus kekuasaan.
Sampul Novel Suamiku Karakter Game
8.3
Kehidupan monoton Arabella, gadis dua puluh tahun yang hanya mengenal cinta lewat gim simulasi, mendadak berubah drastis. Karakter pria dambaannya tiba-tiba terwujud di dunia nyata dengan sosok yang begitu sempurna. Ara sangat terkejut saat pria fiksi tersebut menyapanya sebagai istri. Di tengah kebingungan antara ilusi kesepian atau keajaiban nyata, Ara kini hanya berharap agar lelaki impiannya itu terus bertahan di sisinya dan tidak pernah kembali ke dunia gim.