
Tak Kunjung Dinikahi, Aku Memilih Pergi
Bab 4
Sejak hari itu, aku benar-benar memutus semua kontak dengan Rafli. Nomor telepon dan akun media sosialnya sudah lama aku hapus.
Selama beberapa kali teman-teman mengajakku keluar, aku selalu memastikan terlebih dahulu apakah Rafli akan hadir atau tidak. Lama kelamaan, teman-teman pun jadi tahu diri dan setiap ada acara kumpul-kumpul, mereka hanya akan mengundang salah satu dari kami.
Tak terasa, tibalah hari sebelum reuni akbar kampus. Sahabatku sudah lebih dulu menelepon, mengajakku ikut acara reuni itu. Sebagai salah satu alumni berprestasi, aku juga menerima undangan resmi dari pihak kampus.
Aku tidak menyangka, Rafli ternyata juga hadir dalam reuni tersebut. Namun ya, wajar saja. Semasa kuliah, nilai-nilainya selalu di peringkat atas. Setelah lulus, dia juga sempat membantu kampus menyediakan program kerja sama lapangan kerja. Mengundangnya menghadiri acara tersebut memang masuk akal.
Saat aku dan sahabatku, Melani, tiba di kampus, suasananya sudah sangat ramai. Dalam brosur acara yang diberikan panitia, aku langsung melihat nama Rafli tercantum. Dia akan tampil di acara urutan ketujuh.
Saat aku dan Melani menonton hingga acara keenam, aku pun mencari alasan untuk pergi. Ketika berjalan keluar dari aula, samar-samar kudengar seseorang memanggilku dari belakang. Namun, aku tidak menoleh.
Tak lama kemudian, masuk pesan dari dosen pembimbing semasa kuliah.
[ Dinda, kenapa buru-buru sekali? Aku sudah berkali-kali manggil kamu, tapi kamu nggak dengar. Selanjutnya ini acara pacarmu, lho. Kamu nggak mau nonton? ]
[ Terima kasih, Pak. Saya ada urusan mendadak, jadi harus pergi dulu. Lalu, say aini masih jomlo, nggak punya pacar! ]
Setelah membalas pesan itu, aku hanya bisa menggeleng pelan. Hubungan kami waktu kuliah memang terlalu mencolok, sampai-sampai dosen pun tahu soal aku dan Rafli.
Tanpa kuketahui, dosen itu sedang bersama Rafli sekarang. Dia sempat memperlihatkan isi pesanku pada Rafli.
Di bawah lampu aula yang remang, tatapan Rafli berubah rumit.
Usai dari kampus, aku langsung pergi ke kantor. Tadi saat buru-buru ke reuni, aku bahkan lupa membawa tas.
Begitu sampai di kantor, aku baru tahu bahwa salah satu proyek perusahaan ternyata sudah memiliki proposal kerja sama yang lengkap. Yang lebih mengejutkan lagi, nama perusahaan Rafli tercantum sebagai mitra kerja sama.
Aku langsung menelepon atasan untuk mengonfirmasi. Begitu semuanya jelas, tanpa ragu aku langsung mengajukan surat pengunduran diri.
"Pak, saya ingin mengundurkan diri karena alasan pribadi."
"Dinda, ini terlalu mendadak. Saya tadinya berencana menjadikan kamu sebagai penanggung jawab komunikasi dengan pihak rekanan proyek ini."
"Terima kasih, Pak, tapi nggak perlu. Saya nggak bisa kerja sama dengan perusahaan itu."
Setelah menutup telepon, aku langsung menyalakan komputer kantor dan menulis surat pengunduran diri. Kalau perusahaan memang ingin bekerja sama dengan Rafli, maka satu-satunya cara untuk menghindarinya adalah mundur.
Begitu surat itu kusimpan di meja kerja, aku langsung keluar dari kantor.
Saat tiba di kontrakan, aku mendapati bahwa lampu lorong sedang menyala. Tempatku ini hanya dihuni dua unit per lantai dan unit sebelah sudah lama kosong. Jadi, lampu lorong nyaris tidak pernah menyala terang.
Baru berjalan beberapa langkah, aku melihat Rafli sedang duduk merokok di dekat tangga. Sepertinya dia sudah menunggu lama, lantai di sekitarnya penuh dengan puntung rokok.
Untung aku cukup berhati-hati sehingga Rafli tidak menyadari kehadiranku. Aku segera berbalik dan menekan tombol lift.
Begitu Rafli melangkah keluar dari area tangga, pintu lift hampir menutup sempurna. Dari balik pintu yang hampir tertutup, samar-samar aku masih bisa mendengar teriakannya, "Dinda, itu kamu, 'kan? Kamu sudah pulang, kamu ada di dalam lift, bukan?"
Setelah lift turun, agar Rafli tidak bisa langsung mengejarku, aku menekan semua tombol lantai dalam lift, lalu membiarkan lift naik sendiri.
Meskipun tindakan itu agak keterlaluan, tapi ampuh.
Berhubung kontrakan sudah ditunggui oleh Rafli, aku pun memutuskan menyewa kamar hotel yang berada tidak jauh dari sana, setidaknya untuk menghindar semalam saja.
Namun, baru saja aku menyelesaikan proses check-in dan hendak naik ke lantai atas, Rafli tiba-tiba muncul sambil berlari tergesa-gesa.
Dia terengah-engah dengan keringat yang mengalir dari dahinya. Wajahnya memerah karena kelelahan. Dengan nada mendesak, dia berkata pada resepsionis, "Tadi ada tamu yang baru check-in, 'kan? Namanya Dinda, dia tinggal di sini, 'kan?!"
"Jawab aku! Cepat jawab aku!"
Anda Mungkin Juga Suka





