
Tak Ada Istri, Mertua dan Ipar pun Jadi
Bab 3
Meminta Bantuan Mama
Mayang tidak langsung menjawab. Wanita itu hanya tertegun sejenak, menatap lekat ke dalam manik matanya. Sebuah senyum tipis—hampir tak terlihat—terukir di bibirnya yang dipulas lipstik merah.
“Mama tahu kamu pasti akan mengambil keputusan ini, Bimo,” bisik Mayang membuat sekujur tubuh Bimo merinding saat merasakan helaan nafasnya.“Mama tidak tega melihatmu terus-terusan dihina oleh Sella. Tapi ingat, apa yang akan kita lakukan malam ini harus tetap menjadi rahasia kita berdua saja.”
Mayang duduk tepat di sebelah Bimo hingga aroma parfum mawar yang menguar dari tubuhnya menyengat indra penciuman Bimo. “Sella tidak boleh tahu kalau Mama turun tangan untuk urusan ranjang kalian. Kalau dia tahu Mama ikut campur, dia pasti akan semakin merendahkanmu. Biarlah dia tahu hasilnya saja nanti saat kamu sudah sembuh. Mengerti?”
Bimo mengangguk pelan, pasrah dengan keadaan. Hanya ini satu-satunya jalan untuk mempertahankan rumah tangganya.
Bayangan Sella yang lebih memilih benda plastik daripada dirinya benar-benar menghancurkan harga dirinya.
“Sekarang, kembalilah ke kamar. Tanggalkan semua pakaianmu dan pakailah sarung saja tanpa celana dalam agar aliran darahmu tidak terhambat saat Mama pijat nanti. Pijatan tradisional ini butuh kontak langsung yang maksimal agar minyak yang Mama gunakan bisa meresap sempurna ke saraf vitalmu,” perintah Mayang.
Bimo melangkah masuk ke kamarnya dengan jantung yang berdegup kencang.
Di dalam kegelapan kamar, ia bisa melihat gundukan tubuh Sella di balik selimut yang membelakanginya. Nafas istrinya terdengar teratur, pertanda wanita itu sudah terlelap setelah meluapkan amarahnya. Bimo berdiri mematung di sisi ranjang, menatap punggung istrinya dengan rasa bersalah.
”Maafkan aku, Sella. Aku melakukan ini agar aku bisa membahagiakanmu lagi,” batinnya pedih.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, Bimo mulai menanggalkan pakaian kerjanya satu per satu. Ia kemudian mengambil kain sarung kotak-kotak dari dalam lemari dan melilitkannya di pinggang.
Ia melangkah keluar kamar dan menutup rapat pintunya dengan pelan agar tidak membangunkan Sella. Setiap langkahnya membuat keperkasaannya yang menegang bergesekan dengan kain sarung.
“Bisa-bisanya aku merasa tegang di situasi yang salah seperti ini!” batinnya merutuki diri sendiri.
Begitu tiba di depan kamar Mayang yang tertutup rapat di ujung lorong, ia menarik nafas panjang, mencoba menenangkan debar jantungnya yang kian berdegup kencang. Dengan tangan berkeringat dingin, dia mengetuk pelan pintu kamarnya.
Tok tok tok
Pintu itu terbuka seketika, seolah Mayang memang sudah berdiri tepat di baliknya menunggu kedatangannya.
“Nak Bimo, ayo silahkan masuk,” ucap Mayang dengan suara mendayu.
“Baik, Ma,” sahut Bimo gugup.
Begitu ia melangkah masuk, tercium wangi minyak zaitun dan aromaterapi mawar memenuhi ruangan. Lampu utama dipadamkan, hanya menyisakan lampu tidur berwarna kekuningan yang memperlihatkan siluet mereka pada dinding kamar.
Bimo berdiri mematung di tengah ruangan, merasa sangat canggung dengan hanya balutan sarung. Mayang menatapnya dari atas sampai bawah, sebuah tatapan yang sulit diartikan namun membuat darah Bimo berdesir.
“Jangan takut, Nak Bimo. Mama tahu apa yang harus mama lakukan,” ucap Mayang seolah bisa membaca pikiran liar Bimo. “Dulu, Mama juga pernah melakukan pijatan pada ketiga mantan suami Mama agar keperkasaan mereka lebih panjang dan tahan lama. Pijatan ini akan Mama lakukan secara rutin agar hasilnya maksimal.”
Bimo menelan ludah kasar. Kalimat itu terdengar seperti godaan di telinganya. Ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa Mayang adalah sosok yang baik,perhatian,dan keibuan. Jadi mana mungkin mama mertuanya itu berbuat yang tidak-tidak terhadap dirinya.
“Ayo berbaringlah di ranjang, Bimo. Kita tidak punya banyak waktu sebelum pagi tiba,” suruh Mama Mayang lembut seraya berjalan mendekati Bimo.
Anda Mungkin Juga Suka





