APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Tak Ada Istri, Mertua dan Ipar pun Jadi

Tak Ada Istri, Mertua dan Ipar pun Jadi

Dalam novel modern Tak Ada Istri, Mertua dan Ipar pun Jadi, Bimo menghadapi kehancuran harga diri karena terus dihina sang istri akibat performa ranjangnya yang buruk. Putus asa, ia menerima tawaran tak biasa dari mama mertuanya yang berjanji akan mengajarinya secara langsung demi memuaskan istrinya. Namun, situasi menjadi liar saat bantuan tersebut tidak hanya datang dari sang mertua, melainkan juga melibatkan kakak dan adik iparnya dalam pusaran rahasia keluarga yang tabu.
Bab
Bagikan

Bab 2

Harga Diri Yang Hancur

Bimo seketika terbelalak saat mendengarnya.

”Mama mau membantuku agar Sella puas di atas ranjang? Bantuan apa yang dimaksud? Jangan-jangan tidur dengannya?!”Bimo bertanya-tanya dengan jantung berdebar keras di dalam dadanya.

Suasana berubah menjadi semakin canggung. Bimo sengaja berdehem agak keras untuk mengusir rasa gugupnya.

Mayang melepaskan pijatannya di bahu Bimo lalu pijatannya berpindah ke area lehernya Bimo. Ia menaruh kedua ibu jarinya tepat di cekungan leher belakang. Ia menekannya perlahan, lalu memutarnya kecil. Bimo reflek memejamkan mata saat rasa kaku di kepalanya seolah ditarik keluar.

“Mama tidak sengaja dengar pertengkaran kalian tadi. Makanya mama menawarkan bantuan kepadamu. Mama punya teknik pijatan khusus supaya kamu bisa lebih perkasa dan tahan lama di ranjang. Gimana, kamu setuju?”Tanya Mayang membuat Bimo kembali membuka kedua matanya dengan ekspresi terkejut.

“Pijatan agar semakin perkasa dan bermain lama di atas ranjang?! A… apa itu artinya mama akan memijat keperkasaanku?”Pekik Bimo di dalam hatinya.

Jantungnya semakin berdetak tak karuan saat mendengarnya. Tidak… ini tidak benar. Mayang adalah mertuanya. Mana mungkin dia membiarkan Mayang melakukan pijatan pada keperkasaannya. Jadi tidak mungkin dia menerima bantuan dari Mayang.

​“Eh, itu, aku—Maaf, Ma, sepertinya itu tidak perlu. Aku akan mencoba cara lain saja,” Jawab Bimo terbata.

“Tenang saja, Mama tidak akan memaksamu menjawab sekarang,” kekeh Mayang pelan. Mayang melepaskan pijatannya lalu sedikit merunduk dan berbisik di telinga Bimo. “Pikirkan dulu saja secara matang.”

Seluruh tubuh Bimo seketika merinding merasakan helaan nafas Mayang menerpa telinganya. Ia hanya bisa menunduk, menatap layar laptopnya yang kini terasa buram. Ia merasa terlalu malu untuk melanjutkan percakapan yang begitu intim dengan mama mertuanya sendiri.

***

Pagi harinya, suasana di meja makan terasa begitu berat bagi Bimo. Ia duduk bersama Sella, Mayang, dan Tiara—adik iparnya yang masih kuliah semester akhir.

Sudah setahun lebih Bimo tinggal bersama dengan mereka dalam satu rumah yang sama. Rumah ini adalah rumah pribadi keluarga Sella.

Sebenarnya Bimo memiliki tabungan yang cukup untuk membangun sebuah rumah type 48 satu lantai. Hanya saja Sella menginginkan rumah yang jauh lebih besar dan memiliki kolam renang. Makanya mereka memilih menunda untuk memiliki rumah impian sampai tabungan mereka berdua benar-benar cukup.

Sesekali Bimo melirik ke arah istrinya yang terlihat acuh tak acuh padanya dan tidak menegurnya sama sekali.

“Kak Sella, semalam aku gak sengaja dengar suara ribut-ribut di kamar kalian. Kenapa sih kalian sering bertengkar setiap malam?” tanya Tiara penasaran, memecah kesunyian di antara mereka.

​Jantung Bimo mencelos saat mendengar pertanyaan Tiara.

“Nggak tau, tanya aja sama Bimo!” jawab Sella dengan nada jutek sambil mengaduk-aduk sarapannya tanpa selera.

​“Ah— itu bukan masalah serius kok. Kakakmu suka ngambek kalau kakak ngorok malem-malem,” jawab Bimo gugup seraya menggaruk kepalanya. Ia terpaksa berbohong. Mana mungkin ia berkata jujur di depan adik iparnya kalau istrinya tidak puas dengan permainannya di atas ranjang.

Tiba-tiba Mayang berdehem, seolah mencoba mencairkan suasana. “Bimo, ayo minum dulu kopinya. Mumpung masih hangat.”

“I… Iya, Ma,” jawab Bimo gagap.

Ia mengambil gelas kopinya dengan tangan yang sedikit gemetar. Tawaran pijat dari Mayang semalam kembali terngiang-ngiang di dalam pikirannya hingga membuatnya tidak fokus. Baru satu sesapan, lidahnya terasa terbakar karena kopi yang masih panas. Tanpa sengaja, kopi itu tumpah dan membasahi celananya.

“Ahkk!! Panas!!” seru Bimo kaget.

​“Kamu ceroboh banget, sih!” hardik Sella ketus dengan menatap Bimo dingin.

“​Nak Bimo, hati-hati!” Mayang reflek mengambil serbet yang ada di dekatnya lalu menunduk untuk mengelap celana Bimo yang basah akibat ketumpahan kopi panas.

Bimo terbelalak ketika melihat posisi Mayang yang berjongkok di antara kedua pahanya yang terbuka, ditambah lagi tangan Mayang terus bergerak mengelap celananya dari bawah dan perlahan naik ke atas.

Jika Mayang terus bergerak ke atas, Mayang bisa saja menyentuh keperkasaannya. Dia langsung menangkap tangan Mayang sebelum terjadi sesuatu yang tak diinginkan.

“Ma, tidak usah, Ma. Biar Bimo saja yang lap!” serunya panik, “Mama lanjutkan saja makannya. Aku mau ke kamar dulu,”

Bimo buru-buru bangkit dari kursinya lalu masuk ke kamar untuk mengganti celananya yang kotor karena ketumpahan kopi. Saat membuka celananya, dia dapat melihat kulit pahanya memerah.

Dia tidak punya banyak waktu untuk membalurkan krim luka bakar karena sebentar lagi dia harus berangkat ke kantor. Jalanan ibu kota sangat macet, jadi dia harus pergi lebih awal agar tidak datang terlambat. Telat 5 menit saja gajinya bisa dipotong oleh Bos.

​Begitu Bimo kembali keluar dari kamarnya, dia hanya melihat Mayang sedang membereskan dan merapikan meja makan. Sella dan Tiara sudah tidak terlihat lagi di sana. Sepertinya Sella sudah berangkat ke tokonya.

Selama ini, Sella memiliki toko kosmetik di daerah Mangga Dua. Usahanya terbilang cukup maju. Sella pernah memintanya untuk berhenti bekerja dan membantunya di toko, tapi dia menolak karena karirnya juga terbilang cukup bagus dan sebentar lagi ada promosi jabatan di perusahaannya.

“Eh, Bimo, baru saja tadi Sella dan Tiara berangkat. Gimana pahamu, Nak? Apa kamu sudah mengoleskan krim luka bakar? Mama takut nantinya berbekas dan infeksi,” tanya Mayang cemas.

​“Udah, ma, mama tidak perlu khawatir. Bimo berangkat dulu ya, ma,” jawab Bimo terpaksa berbohong seraya melirik arloji merk Rolex yang melingkar di pergelangan tangannya. Arloji itu adalah hadiah ulang tahunnya yang diberikan oleh Sella, istrinya, beberapa bulan yang lalu.

Sebelum Bimo melangkah keluar rumah, Mayang kembali memanggilnya dan sedikit berlarian hingga membuat kedua bukit ranumnya berguncang ke atas dan ke bawah seperti bola basket.

“Nak Bimo, tunggu! Ini kotak bekalmu. Ambillah,” Mayang menyerahkan tas yang berisi kotak bekal dan botol tumbler di dalamnya.

Selama satu tahun ini, Mayang selalu membuatkan sarapan dan bekal makan siang untuknya. Bukannya Sella tidak mau melakukannya, istrinya itu sangat sibuk di toko makanya kadang-kadang mereka lebih memilih order makanan di luar.

Tapi Mayang khawatir jika mereka terus order makan di luar malah tidak baik untuk kesehatan mereka. Maka dari itu, Bimo dan Sella sepakat memberikan uang bulanan untuk keperluan dapur dan rumah tangga kepada Mayang.

​Bimo menerima tas bekal itu.Tak sengaja, tangan mereka bersentuhan dan Bimo bisa merasakan tangan Mayang terasa sangat halus dan lembut.“Wah, hampir saja Bimo lupa. Makasih banyak ya, ma, udah ingetin Bimo.”

​Mayang tersenyum simpul—terlihat lesung pipit di kedua pipinya yang menambah kesan manis di wajahnya. “Iya, sama-sama, Nak. Hari ini Mama masak semur jengkol dan ayam goreng lengkuas kesukaan kamu. Habisin ya.”

​“Iya, Ma, kalau begitu Bimo berangkat dulu,” Bimo mencium tangan Mayang dengan perasaan grogi sebelum berangkat kerja ke kantor.

Setelah itu, dia keluar dari rumah dan masuk ke dalam mobilnya. Terlihat Mayang tengah berdiri di halaman rumah.

​“Hati-hati di jalan ya, Bimo,” ucap Mayang sambil melambaikan tangannya.

​“Iya, Ma,” sahut Bimo sebelum melajukan mobilnya.

​Malam harinya, Bimo pulang dengan suasana hati yang sudah membaik. Namun, saat ia masuk ke kamar, matanya terbelalak melihat istrinya sedang berbaring di atas ranjang dengan tubuh polos tanpa sehelai benangpun.

Suara desahan lolos dari bibir istrinya itu dan tangannya terus bergerak memasukkan sebuah benda panjang yang dapat bergetar dan bergerak di dalam lembah kenikmatannya.

“Se… Sella?! A… apa yang kamu lakukan?! “ Kaki Bimo seolah kehilangan fungsinya, ia mematung melihat Sella tengah memainkan benda itu tanpa memperdulikan kehadirannya.

Sella tidak langsung menjawab dan menghiraukannya. Bimo melihat seluruh tubuh istrinya itu tiba-tiba bergetar hebat sebagai tanda pelepasannya sudah mulai datang. Sella menyeringai dengan tatapan mengejek ke arahnya.

​“Malam kemarin kamu cuma bertahan selama 3 menit, Mas! Kamu sangat payah dibanding suami teman-temanku! Makanya jangan salahkan jika aku membeli benda ini, karena aku nggak bisa mengandalkan kamu lagi untuk memberikan aku kepuasan!” seru Sella kembali menghinanya.

​“Sella, kamu lebih milih benda plastik itu daripada suamimu sendiri?” suara Bimo bergetar.

​“Habisnya mau gimana lagi? Kalau kamu nggak bisa memuaskan aku, lebih baik kita cerai saja!” ancam Sella.

Bimo meremas rambutnya dengan frustasi. Kata cerai itu menghantamnya telak. Ia benar-benar telah tergantikan oleh mesin. Ia keluar dari kamar dengan langkah limbung, mencari ketenangan di luar.

Di ruang tamu yang sunyi, ia kembali bertemu dengan Mayang. Mayang datang menghampirinya sambil membawa secangkir kopi di tangannya seperti biasa.

Bimo menatap Mayang dengan tatapan yang sangat lelah. “Ma… apakah tawaran pijat semalam… masih berlaku?”

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel BERBEDA KEYAKINAN
8.0
Alif dan Nurul saling jatuh cinta, tetapi jalan mereka tidak mudah. Ketika hubungan kian serius, Khairunnisa dari masa lalu Alif kembali datang membawa pernyataan cinta. Alif juga harus berjuang demi mendapatkan restu dari ayah Nurul, Pak Handoko, yang enggan melepas putrinya. Di tengah perjuangan itu, sikap Nurul mendadak berubah setelah pulang dari Surabaya. Alif terus meyakinkannya, tanpa tahu bahwa Nurul menyimpan sebuah rahasia besar yang jauh lebih rumit dari masalah restu.
Sampul Novel Cintaku Terhenti Di Kamu
9.1
Kepergian Elena Nugroho secara tiba-tiba demi menyembunyikan perbedaan status sosial membuat Putra Prayoga patah hati. Putra pun berubah menjadi sosok dingin yang kerap mempermainkan perasaan wanita. Setelah lima tahun berlalu, takdir kembali mempertemukan mereka. Sayangnya, cinta Putra kini telah berubah menjadi rasa benci yang mendalam. Elena pun didera kebimbangan besar antara harus membongkar kebohongan masa lalunya atau tetap memendam rapat perasaan cintanya.
Sampul Novel Dari Abu: Kesempatan Kedua
8.2
Cinta tulusku pada Bima Wijoyo berakhir tragis saat ia membiarkanku terpanggang di studio seni yang terbakar demi menyelamatkan Clara, kakak tiriku. Namun, takdir memberiku kesempatan kedua. Aku terbangun di masa lalu, tepat sebelum rapat dewan keluarga berlangsung. Dengan memori kelam tentang kobaran api dan pengkhianatan mereka, kini aku berdiri kokoh untuk membatalkan pertunangan kami. Aku bersumpah tidak akan membiarkan diriku hancur untuk kedua kalinya.
Sampul Novel KEMBALI DALAM SENJA
9.7
Pernikahan tanpa cinta membuat seorang istri terjebak dalam kepedihan mendalam. Meski selalu berusaha bertahan dan menghormati suaminya, Mas Fairuz justru bersikap dingin serta tidak peduli. Setiap pertanyaan tulus yang ia ajukan selalu dibalas dengan ucapan kasar yang menyayat hati. Hal ini menegaskan bahwa ikatan pernikahan mereka hanyalah beban tanpa kebahagiaan. Di tengah sikap abai sang suami, ia pun harus berjuang sendirian menghadapi kenyataan hidup yang menyesakkan.
Sampul Novel KUMPULAN KISAH
8.7
Antologi ini menghadirkan rangkaian kisah cinta yang menyentuh hati dan penuh inspirasi. Sorotan utama tertuju pada jalinan hubungan antara Alex dan Maya. Sebagai dua orang yang sudah lama bersahabat erat, mereka kini harus menghadapi situasi tak terduga saat perasaan cinta mulai tumbuh di antara keduanya. Apakah asmara ini akan mengubah persahabatan mereka selamanya? Simak perjuangan emosional mereka dalam menghadapi perubahan perasaan yang begitu mendalam.
Sampul Novel Maria
9.3
Masa lalu yang kelam merenggut seluruh impian Maria. Usai dikhianati oleh sang kekasih, ia harus menanggung beban berat karena mengandung tanpa pertanggungjawaban. Penderitaannya kian mendalam ketika kedua orang tuanya meninggal dunia, tak mampu bertahan di tengah cemoohan publik yang menghancurkan kehormatan keluarga mereka. Kini, Maria harus berjuang sendirian dalam kepedihan, menghadapi kenyataan pahit akibat kesalahan fatal yang telah merusak hidupnya.