APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Surga Terakhir yang Hilang

Surga Terakhir yang Hilang

Ava mengembuskan napas panjang lalu menanggalkan semua pakaiannya. Langkah ini menjadi cara dirinya membebaskan diri dari segala kepura-puraan yang selama ini membelenggunya. Sambil menutup mata erat-erat, ia menikmati belaian angin senja serta kesegaran air yang menyentuh tubuhnya. Di bawah langit sore yang meredup, Ava menemukan ketenangan batin yang luar biasa, seakan jiwanya melebur bersama alam sekitar tanpa ada lagi kebohongan yang perlu ditutupi.
Bab
Bagikan

Bab 2

Ufuk timur sudah benderang ketika Ava terbangun enggan dari tidurnya. Udara masih dingin dan kabut tipis masih melayang-layang di atas sawah, membuat sang pemuda brewok menuruni tangga kayu di depan kamarnya dengan malas sambil merenggangkan tübüh. Hari sudah berganti, namun pemuda itu tak bisa berhenti tersenyum membayangkan petualangan apa yang menantinya di tempat ini.

Sepasang mata Ava tertuju pada Pura kecil di pojok belakang rumah. Di sampingnya berdiri pohon kamboja, dahannya menjuntai ke udara serupa tangan-tangan ramping, menebarkan taksu ke sekujur bangunan batu bata merah di bawahnya.

"Hoi! Bengong saja! Ngelihatin cewek cantik! Beh, jam segini baru bangun.." kata Kadek saat selesai berdoa, di dahinya menempel beras putih.

"Hehehe.." Ava menggaruk-garuk kepala. Waktu kuliah, Ava memang biasa bangun jam segini.

"Besok dah senin, jam 7 pagi kita harus sudah ada di galeri.."

"Siap, kakak seperguruan."

"Haha.." kadek tertawa.

Di sudut lain, sebüȧh gerbang batu berdiri dengan misterius, ditutupi tanaman keladi yang rimbun.

"Eh Dek, itu pintu kemana?"

"Tuh ke sungai bawah.."

"Oh, bisa buat mandi juga?"

"Bisa."

"Boleh?"

"Boleh saja! Cuma masalahnya di sana tempat bertapanya tuan putri! Silahkan saja kalau kau ingin dimarahi, hahahaha!" Kadek tergelak lalu menuju dapur depan untuk membantu Mbok Ngah dan Mbok Tut menyiapkan sarapan.

Terdengar suara air dari kejauhan, Ava sudah bisa membayangkan bagaimana indahnya di bawah. Maka Ava segera menyambar handuk dan peralatan mandinya, dan segera berlari melewati tangga batu di belakang vila Pak De yang berujung pada...

(Suara air terdengar semakin bergemuruh)

Sungai di belakang villa Pak De lebih jernih, dengan air terjun kecil yang menimbulkan suara gemuruh. Air yang tercurah membentuk cekungan serupa kolam di bawahnya. Sementara tebing curam di sekitarnya ditumbuhi paku-pakuan dan keladi yang merambat menghijau, membuat tempat itu seperti ada di Indraloka.

Ava segera melepas seluruh pȧkȧïȧnnya, tėlȧnjȧng bulat, dan melompat ke air sedalam pinggang. Ia menyelam ke dalam dingin yang menyengat, membenamkan kepalanya di bawah air terjun, dan menïkmȧti ribuan galon air yang diguyurkan di atasnya.

Ava memejamkan mata, untuk sesaat Ava seperti tidak berada di bumi.

"Hey! Ini kan tempat mandiku!!!!" suara merdu menjerit dari arah tangga batu.

Seorang bidȧdȧri berdiri di atas batu didekatnya. Bidȧdȧri itu memainkan ujung rambutnya yang hitam kecoklatan, bibirnya yang mungil tampak cemberut.

= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =

Ava juga baru pertama kali bertemu dengannya tadi malam, saat dia duduk bengong di teras depan rumah. Waktu itu Ava sedang memainkan HP-nya untuk mengusir bosan. Dia membuka-buka facebook mantan pacarnya di Jogja, dan mengecek twit**ter.

Tiba-tiba terdengar suara deru mobil yang menyeruak keheningan. Mobil itu berhenti namun segera berlalu lagi. Sesaat kemudian seorang gadis cantik memasuki halaman.

Mata Ava terbelalak melihat siapa yang datang. Kadek benar, gadis itu jauh lebih cantik dari yang di foto, orang awam pun bisa tahu dengan sekali lihat bahwa ia adalah blasteran, rambutnya ikal panjang berwarna hitam kecoklatan dibiarkan tergerai, menutupi lehernya yang jenjang dan berwarna putih. Badannya montok dan rȧnüm -khas abg- terbalut hotpants hitam, dan sack dress warna putih. Kulitnya yang putih terlihat begitu segar ditimpa cahaya lampu neon.

Gadis itu agak heran melihat orang asing dengan brewok tebal -yaitu Ava - duduk di teras rumah sambil memandanginya. Ava menganggukkan kepala tanda sopan santun, namun ia berlalu seolah tidak melihat Ava.

Tentu saja tidak, ia tidak punya alasan untuk tersenyum kepada Ava, karena ia adalah seorang bidȧdȧri, dan Ava hanyalah seorang pelukis yang suka bermimpi.

= = = = = = = = = = = = = = = = = = = =

"Iiiih! Ini kan tempat mandi aku!" gadis itu -Indira- tampak cemberut.

"Ye, nggak ada tulisannya, kok!" belot si pemuda brewok.

"Hush... hush... pergi sana, aku lagi pengen sendiriiii!"

"Weee.. aku baru nyebur juga! Kalo mau, tungguin ampe aku selesai!"

"Nggak mau! Wek!" bidȧdȧri imut itu menjulurkan lidah, namun Ava seperti tidak ambil pusing malah menggaruk-garuk rambut, sehingga membuat Indira semakin bersungut-sungut sebal.

Indira sudah berada 3 meter dari tempat Ava berendam. Permukaan air yang beriak, menghalangi pandangan matanya dari ketėlȧnjȧngan Ava. Gadis itu berjalan mondar-mandir sambil sedikit-sedikit melongok ke dalam air. Idiiiih telanjaaaaang, batin Indira sambil bergidik, sedikit ngeri melihat bülü-bülü hitam yang membayang di bawah permukaan air.

"Mau sampai kapan nunggu di situ?" Ava mulai risih dengan kehadiran Indira yang berkeliaran di dekatnya.

"Ampe kamu selesai!" kata Indira sambil menjulurkan lidah.

"Balik aja dulu, ntar kalau udah beres kupanggil."

"Biar!"

"Hush! Hush!"

Giliran Ava mengusir Indira dengan menyiramkan air. Akibatnya sebüȧh batu melayang ke arah pemuda itu sebagai balasan.

"Jangan diliatin, napa? Aku nggak pakai apa-apa, nih!" kesabaran Ava agaknya mulai menipis.

"Nggak usah ge-er, deh! Udah biasa kali aku liat cowok bügïl!"

"Astaga!"

"Iiiih! Jangan mikir yang aneh-aneh! Aku tuh lahir dan besar di desa ini tauk!" Indira merepet seperti senapan mesin MG-42.

"Oh," dan hanya dijawab Ava pendek, membuat Indira semakin kesal.

"Udah biasa kali, aku mandi rame-rame!"

"Oh, yaudah bagus kalau begitu. Sini, ikutan mandi! Kita belajar berbagi!" Ava malah memasang senyum mesum sambil cengegesan tak jelas.

Menghadapi pemuda tengik yang mulutnya kurang ditatar itu, mau tak mau membuat Indira naik darah.

"Tuh kan! biasa deh orang baru, nggak bisa lihat cewek cantik! dasar mesum!" wajahnya cemberut, membuat si bidȧdȧri mungil semakin imut.

"Ye, emang situ merasa cantik?" ledek Ava.

Jawaban Ava bagaikan bensin yang disiram ke atas kompor. Indira mendelik dengan wajah merah padam.

Pemuda itu malah dengan santainya menggosok-gosok pȧntȧt di depan Indira. Berdiri bügïl di bawah naungan rerimbun daun pisang di sisi sungai yang satunya, Ava menggosok dȧdȧ dan sėlȧngkȧngȧnnya. Langit masih belum terang benar, tapi dari posisinya di atas undakan batu, Indira bisa melihat dengan jelas paha dan pȧntȧt Ava yang berotot, juga punggung bidang pemuda yang berdiri membelakanginya.

Indira memang pernah melihat tubuh lawan jenis, namun baru kali ini ia melihat tübüh tėlȧnjȧng si pemuda dalam pose sefrontal itu; paha yang dipenuhi bülü lebat... sepasang benda menakjubkan yang menggelayut di antara tungkai kokohnya... juga bėlȧhȧn pȧntȧt Ava yang dipenuhi buih...

Dȧdȧ Indira berdesir.

"Woi! Awas jangan lihat-lihat, nanti naksir!"

"Huuuu! Siapa yang naksir!"

Indira menunduk dengan wajah merah padam. Nyebeliiiiin! Siapa yang naksir kamu, begoooooo! Indira menggondok dalam hati. Dirinya memiliki cowok keren yang jadi pacarnya, dan ada segudang lagi yang rela mengantri hanya untuk makan malam dengannya. Bagaimana bisa cowok brewok itu berani-berani membuatnya ketar-ketir dan salah tingkah?!

Indira menggembungkan pipi.

Matanya menatap tajam.

Dirinya akan melakukan pembalasan!

Bersambung

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Boneka Suami, Kebenaran Pahit Terkuak
8.4
Demi membela diri dari pelecehan ayah mertuanya hingga koma, seorang istri justru terjebak tipu daya Rangga, suaminya yang berpura-pura menjadi pelindung. Sebuah pesan rahasia membongkar kenyataan pahit bahwa dirinya hanya dijadikan umpan demi warisan asuransi. Rangga sengaja memanfaatkan situasi tersebut agar sang ayah tersingkir tanpa mengotori tangannya sendiri. Kini, dendamnya membara; sang istri bertekad merebut segalanya dan menjebloskan Rangga ke dalam penjara.
Sampul Novel Calon Istriku Gadis Matre
8.8
Hubungan asmara Revan dan Nayla yang direstui orang tua kini siap menuju pernikahan. Namun, ketulusan Revan hancur seketika saat Nayla berkhianat, membuatnya nekat membatalkan rencana sakral tersebut. Di tengah keputusasaan, Nayla menangis tersedu-sedu dan memohon agar sang kekasih tidak pergi. Ia mengaku sedang hamil anak Revan, berharap janin di dalam kandungannya dapat melunakkan hati Revan agar tetap bersedia menikahinya.
Sampul Novel Di Bawah Rintik Hujan
8.9
Bahtera rumah tangga Juan Malvin dan Azalea tengah dilanda guncangan hebat yang mengancam pernikahan mereka. Keadaan kian pelik saat kehadiran Marissa, staf baru di kantor, mulai mengusik dan menjadi pihak ketiga di antara mereka. Di tengah badai konflik yang tiada habisnya, komitmen serta rasa percaya pasangan ini benar-benar diuji. Sanggupkah Juan dan Azalea menyelamatkan pernikahan mereka dari godaan luar dan rintangan yang terus mengintai?
Sampul Novel Gairah Baby Maker
9.1
Sesekali Aida melirik genit sambil memberi kode lewat gerakan alisnya. Dari posisi jongkoknya, daster tipis yang ia kenakan tak mampu menyembunyikan lekuk paha mulus serta detail pakaian dalamnya yang menerawang akibat sorotan cahaya matahari sore. Pemandangan menakjubkan itu seketika membuatku terpaku. Aku terpaksa menahan gejolak hasrat liar dan berulang kali menelan ludah, merasa sangat haus akan godaan nyata yang kini tersaji tepat di depan mataku.
Sampul Novel Gairah Liar Istri Kecilku
8.5
Nasib buruk menimpa Maia Vandini saat kencan butanya berubah menjadi jebakan berbahaya. Lulusan SMA ini diberi obat bius oleh teman kencannya, namun ia berhasil kabur demi menyelamatkan diri. Di tengah kondisi kritis dan kesadaran yang kian menipis, Maia bertemu seorang CEO asing. Demi bertahan, ia memohon pertolongan hingga memicu malam yang penuh gairah. Sang pria pun menegaskan bahwa Maia yang harus bertanggung jawab atas awal pertemuan tak terduga ini.
Sampul Novel Get Pregnant Please!
8.3
Nasib buruk terus membayangi Caca. Seorang peramal lalu menyarankannya untuk hamil agar takdirnya berubah. Masalahnya, sang suami misterius yang menikahinya setahun lalu tidak pernah pulang, meski Caca hidup bergelimang harta di rumah mewah. Mengira suaminya adalah lelaki tua berwajah buruk, Caca nekat pergi ke klub malam demi mencari pria tampan untuk menghamilinya. Siapa sangka, pria tampan yang menjadi targetnya malam itu ternyata adalah suaminya sendiri yang selama ini ia hindari.