APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Surga Terakhir yang Hilang

Surga Terakhir yang Hilang

Ava mengembuskan napas panjang lalu menanggalkan semua pakaiannya. Langkah ini menjadi cara dirinya membebaskan diri dari segala kepura-puraan yang selama ini membelenggunya. Sambil menutup mata erat-erat, ia menikmati belaian angin senja serta kesegaran air yang menyentuh tubuhnya. Di bawah langit sore yang meredup, Ava menemukan ketenangan batin yang luar biasa, seakan jiwanya melebur bersama alam sekitar tanpa ada lagi kebohongan yang perlu ditutupi.
Bab
Bagikan

Bab 3

Sebulan sudah Ava menjadi murid Gede Subrata, seorang pelukis terkenal tempatnya menimba ilmu, di desa kecil di pinggiran Ubud. Di tempat itulah Ava ngayah; mengabdikan diri sebagai balas budi atas pengalaman yang nantinya akan diturunkan Sang Maestro kepada muridnya.

Kehidupan di tempat barunya itu berlalu nyaris tanpa kesan berarti, -jika tak ingin dibilang monoton; bangun tidur, tidur lagi, bangun lagi, berebut tempat mandi dengan Indira, menjaga galeri, membantu Pak De melukis, disuruh ini-itu. Mungkin saja Ava bakal mati bosan jika tak ada Indira, putri semata wayang Pak De, karena tiap hari pasti ada saja yang mereka pertengkarkan.

Kehadiran Ava di rumahnya, sedikit banyak membuat kehidupan Indira yang tadinya monokrom menjadi lebih berwarna. Indira tak pernah mengerti, bagaimana bisa cowok gondrong brewokan yang tidak ada ganteng-gantengnya itu bisa selalu membuatnya mendongkol. Dirinya jadi sering uring-uringan, bahkan perang mulut dengan pemuda yang menurutnya tidak tahu sopan santun itu!

Namun terkadang, mau tak mau Indira dibuat tertawa juga oleh lelucon Ava, -yang meskipun menurutnya norak- tapi entah kenapa selalu bisa membuat perutnya sakit menahan tawa.

"Naik, naik apa yang dikejar telur?" kata Ava pada suatu hari pada Kadek dan Indira. "Naik becak, kan dikejar telur abang becaknya."

Kadek tertawa berguling-guling. Hanya Indira yang terpaksa pura-pura cemberut demi menjaga gengsinya.

"Jayus, ah!" ucap Indira sambil menggembungkan pipi, namun ekspresi seperti inilah yang membuat wajah Indira menjadi semakin imut, sehingga Ava rasanya ingin terus menggoda anak itu.

Indira yang kekanakan dan sok judes. Ava yang rusuh dan slenge'an seolah menjadi babak baru bagi opera sabun di keluarga itu.

Keduanya mungkin belum menyadari, namun Pak De, Kadek, maupun orang-orang di rumah itu tahu pasti: kehadiran Ava membuat Indira yang tadinya murung sepeninggal kakak dan ibunya, kini menjadi lebih ekspresif!

"Denger orang ngomong nggak, sih? Tempat ini tuh udah jadi kaya tempat pertapaan aku, tahu!" omel Indira dengan pinggang berkacak di atas tangga batu. Sebelah tangannya sudah menenteng peralatan mandi dan di lehernya sudah bergantung handuk.

Indira sebenarnya sudah bersiap mandi pagi ini. Gadis itu sengaja bangun pagi-pagi sekali, berharap Ava belum bangun sehingga ia bisa menguasai spot mandi favoritnya itu. Tapi apa lacur, di hadapannya kini terbentang pemandangan cowok brewok yang sedang menyabuni ketiak yang penuh bülü.

"Iye, Mbah..." jawab Ava asal. "Cari tempat bertapa yang lebih mbois, kek... Gua Selarong... Makam Keramat Mbah Jingkrak..."

"Bego! Buruan, gih! Aku juga mau mandi! Aku mau sekolah!"

"Sekarang kan hari Minggu."

"Bego!"

"Di atas kan udah ada kamar mandi dalam!"

"Udah aku bilangin berapa kali juga, beda tahu sensasinya!"

"Iye... iye... " Ava mejawab sekenanya.

Ava dan Indira sama-sama tahu, bahwa sungai kecil itu memang istimewa. Dikungkung tebing batu, rimbunan paku-pakuan, dan pohon tropis yang menaungi, ditambah dengan iringan ricik air dan decit burung-burung yang berkicau di sela dahan, membuat tempat itu tak ubahnya surga tersembunyi. Ada air terjun kecil di sana, dengan ceruk dalam dan jernih tempat Indira biasa mandi dan menyendiri, namun kali ini ia harus berbagi dengan makhluk menyebalkan yang sepertinya memang ditakdirkan untuk mengganggu hidupnya.

Indira tidak bisa diam saja, gengsinya sebagai cewek terkece di sekolah dipertaruhkan kini! Apalagi, Ava malah sengaja merayakan kemenangannya dengan menceburkan diri di ceruk batu di bawah air terjun -spot favorit Indira- dan tertawa puas setelah berhasil mengerjai gadis itu untuk kali kesekian.

"Dira jangan cemberut gitu, dong... Sini, ikutan mandi... Kita belajar berbagi, hahaha..." ledek Ava sambil berenang-renang di dalamnya.

Ini tidak bisa dibiarkan, batin Indira geram. Ia harus menunjukkan pada Ava, bahwa anak SMA seperti dirinya pun bisa melakukan tindakan radikal! Indira mengggembungkan pipi. Berpikir keras bagaimana cara membalas untuk menyamakan skor. Indira tak pernah tahu kapan saatnya dorongan primitif bernama ID yang bersemayam di dalam lubuk pikir membisikkan 'ide gila' yang sebelumnya tak pernah terpikirkan, bahkan untuk ukuran gadis 'senakal' Indira!

"Yaudah, kalau kamu nggak mau pergi, aku juga mau mandi!" balas Indira, sambil menahan senyum licik yang sudah tak sabar ingin menyungging begitu terbersit niat jahatnya untuk balik mengerjai titisan Wiro Sableng itu.

"Woy! kamu mau ngapain?!" Pemuda tengik yang dari tadi cengengesan kini dipaksa terperenyak ketika Indira mendȧdȧk melolosi baju barongnya, disüsül celana pendek bunga-bunga yang segera menggeletak di atas batu.

"Minggir! Aku juga mau mandi, wek!" Indira menjulurkan lidah.

"Eh, bocah! Jangan macam-macam, deh!" Ava berseru panik, namun belum sempat Ava mengajukan nota protes, penutup dȧdȧ Indira sudah keburu menyusul bergabung dengan rekan-rekannya yang sudah lebih dulu dilipat rapi. Indira membalik, mengikat rambut kecoklatannya dengan karet. Tangannya terangkat tinggi-tinggi, memberikan kesempatan bagi imajinasi Ava untuk menghayalkan apa yang terletak di balik punggung tėlȧnjȧng yang putih mulus itu.

Hanya dengan berbalut celana dalam hitam model bikini, remaja blasteran itu melangkah ke dalam bagian air yang dangkal. Kakinya yang tėlȧnjȧng merasakan dingin air dini hari, dan arus yang berlarian melewati jari-jemarinya. Indira mendengus, sebelah tangannya disilangkan erat-erat di depan dȧdȧ untuk menghalangi pandangan Ava dari sepasang pütïng berwarna merah hati. Meski tanpa itu pun sang pemuda sudah lebih dulu melotot disuguhi pemandangan lekuk tübüh rȧnüm Indira yang hanya dibalut secarik cawat kecil yang menutup area pübïs yang dibiarkan mulus tanpa bülü.

Indira balas menatap Ava, seolah memberi peringatan terakhir bagi si pemuda tengik agar segera menyingkir.

"Aku beneran masuk loh, tapi awas! jangan macam-macam! Nanti kubilangin Ajik sama Kadek biar burungmu disate!"

"Astaga! Ge-er banget sih! Kalau mau masuk, masuk sudah kalau berani! Biar tahu aja, Hidupku ini berasaskan Pancasila: ketuhanan yang maha esa, dan kemȧnüsiaan yang adil dan beradab! tahu!"

"Huh!" Indira menggembungkan pipinya lagi. Sebenarnya ia hanya ingin menggertak, membuat Ava risih dan segera keluar dari tempat itu. Melepas penutup terakhir tübühnya di depan pemuda yang baru dikenalnya sebulan, adalah tindakan yang benar-benar gila, bahkan untuk ukuran cewek 'senakal' Indira sekalipun.

Namun kali ini, di tempat sepi itu cuma ada mereka berdua. Bagaimana kalau Ava nekat dan dirinya dipėrkȯsȧ? Suara batin Indira terdengar saling berseteru. Tapi Indira sudah kepalang bȧsȧh, mundur teratur berarti mengaku kalah pada bedebah yang telah membuat dirinya gulana selama sebulan terakhir ini, dan untuk itu hanya diperlukan sedikit dorongan ėrȯtïs yang mengalir dėrȧs di dalam darah remajanya.

Indira mengaitkan jemari lentiknya di bagian elastis celana dalamnya, disüsül tungkai-tungkai jenjangnya yang berjingkat bergiliran saat melolosi penutup terakhir tübühnya. Terdengar dėsȧhan pelan dari bibir Indira, begitu menyadari tübüh rȧnümnya kini tinggal dibungkus oleh rona-rona merah yang mulai meruap dari kulitnya yang tėlȧnjȧng bulat. Tak ingin berada di udara terbuka terlalu lama, Indira segera melompat ke dalam ceruk kecil di bawah air terjun tak jauh dari tempat Ava berendam. Suara mencebur terdengar disüsül air yang bercipratan mengenai mata sang pemuda yang belum selesai terpana.

Ava menyeka mata, dan segera mendapati tübüh rȧnüm khas remaja dengan pïnggül montok dan pȧyüdȧrȧ yang sedang rȧnüm-rȧnümnya kini terbenam di bawah permukaan air. Ava memang pernah mendengar cerita tentang 7 bidȧdȧri yang mandi. Kali ini satu bidȧdȧri tertinggal di bumi, dan saat ini sang bidȧdȧri berdiri dengan malu-malu di hadapan Ava sambil menutupi dȧdȧ dan bagian bawah tübühnya.

"Apaan sih! Biasa aja kali liat cewek tėlȧnjȧng!" sambar Indira sewot, mulai jengah dengan tatapan Ava yang dirasanya semakin berani menjelajah ke arah daerah paling prïbȧdïnya.

"Aku sudah biasa lihat cewek bügïl! Tapi mau gimana lagi, yang ini bidȧdȧri!"

"Ada nggak sih, gombalan yang lebih norak? Hahahaha! Parah banget gombalanmu!" Indira terpaksa tertawa, menyemburkan air ke arah Ava yang cengegesan sambil menggaruk-garuk kepala.

"Yang lebih assoy banyak!" Ava menjawab asal, tersenyum sendiri melihat pipi Indira yang perlahan tersipu.

"Va, kamu tuh benernya lucu, tahu! Tapi lebih seringnya nyebelin, parah!" Indira lalu berkata, bahwa di antara murid-murid ayahnya terdahulu, Ava adalah orang yang paling berani mengganggu dirinya, padahal sebelumnya tak pernah ada satupun yang berani mengusik sang tuan puteri.

"Habisnya kamu tuh enak buat digangguin," jawab Ava tanpa merasa bersalah.

Pinggang Ava dicubit. "Ih kamu itu ya! Mirip banget kayak Bli Raka! Kerjanya gangguin aku aja!"

Ava menelan ludah. "Siapa Raka? Pacarmu?"

"Bukaaaaan! Pacarku namanya Dewa! Raka itu kakak aku yang udah nggak ada. Emang Kadek belum ngasih tahu?"

Ava menggeleng.

"Udahlah, nggak usah dibahas!"

Butuh waktu beberapa lama sampai mereka terbiasa dengan ketėlȧnjȧngan yang terjadi di antara keduanya. Hingga akhirnya Indira tidak lagi malu-malu bergerak kesana kemari di dalam air, seolah-olah tempat itu merupakan tempat bermainnya sejak kecil. "Coba kaya gini dari kemarin-kemarin," gumam Indira jenaka, sambil berenang-renang di cerukan yang dalamnya 2 meter, sampai-sampai alpa menutupi pȧyüdȧrȧnya.

"Lah, kan udah kubilangin dari awal! Kita mandi bareng!" jawab Ava penuh pede.

"Huuuu!" Indira menyemburkan air kembali ke arah Ava, dengan wajah bersemu. Kulit tübüh Indira yang seputih pualam kini semakin merona kemerahan, nampak makin segar bagai setangkai teratai yang baru merekah dengan aksentuasi bulir-bulir air yang jatuh di pundak dan pucuk-pucuk pȧyüdȧrȧnya.

Suara air yang jatuh dari ketinggian menderu memenuhi dinding-dinding tebing. Menciptakan dunia tanpa ruang waktu antara mata Ava dan tubuh telanjang Indira.

Suara air yang jatuh dari ketinggian menderu memenuhi dinding-dinding tebing. Menciptakan dunia tanpa ruang waktu antara mata Ava dan tubuh telanjang Indira. Tak henti-hentinya mata kampungan Ava memandangi payudara Indira yang timbul tenggelam. Setengah mati pemuda itu menahan diri agar tidak ereksi, namun Indira terlalu seksi: puting merah hati yang mengintip dari balik permukaan air, payudara ranum yang baru saja bertumbuh, dan sepasang pantat montok dan menggemaskan yang bergerak-gerak menendangi air. Semua itu mau tak mau membuat jantung Ava berdentam-dentam dan memompakan berliter-liter darah dan hormon testosteron menuju kejantanannya yang makin lama makin mengeras!

Indira bisa melihat itu semua dari sudut matanya; batang berukuran cukup besar yang kini membayang malu-malu dari balik permukaan air. Hanya samar-samar barangkali, namun itu sudah cukup bagi Indira untuk menangkap sebentuk batang berotot yang kini mengacung tegak dan menantang. Indira menelan ludah, jantungnya melewatkan detaknya sekali. Berkali-kali gadis itu mengatur nafasnya yang mulai memburu sambil menahan rasa merinding hebat di selangkangan gara-gara kilasan kejantanan Ava yang berurat itu tak mau hilang dari pikirannya!

Padahal ini bukan pertama kalinya Indira melihat kejantanan pria yang sedang menegang. Usianya baru 18, namun Indira sudah bisa dibilang 'berpengalaman' dengan lawan jenis. Namun kali ini, bugil di depan pemuda yang sama sekali asing dan jelas-jelas terangsang melihat tubuhnya mau tak mau membuat selangkangan Indira ikut meremang dan kedua putingnya mulai mengeras, lebih gatal, lebih menggila dari biasanya...

Cepat-cepat Indira menuang sabun cair, berharap rasa gatal di tajuk-tajuk payudaranya bisa dihilangkan dengan larutan triclosan dan antiseptic. Namun apa lacur, sekujur tubuh Indira malah seperti disetrum dengan tegangan 220 volt. Jemarinya yang licin oleh sabun tak sengaja mengenai ujung-ujung saraf-saraf sensitifnya! Indira menahan nafas, berusaha tampil wajar di depan Ava, meski kadang terpaksa ia memejamkan mata, mati-matian menahan otot-otot tubuhnya yang gemetar di luar kesadaran.

"Va... kamu enggak udahan... mandinya?"

"E-enggak... kamu...?"

Bersambung

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Benih Rahasia sang Fuckboy
8.7
Demi Edgar Emiliano, si playboy sekolah, Vania Clarista rela melepaskan kemewahan hidupnya. Namun, cinta buta itu berujung luka saat ia hamil dan ditinggalkan berjuang sendiri. Vania pun memilih pergi menjauh demi kehormatan keluarganya, lalu membangun hidup baru secara mandiri. Enam tahun berselang, anaknya kini tumbuh besar. Akankah takdir mempertemukan mereka kembali, ataukah Vania bakal tetap bertahan sendirian tanpa Edgar?
Sampul Novel Fantasi Tukar Pasangan Ranjang
9.2
Kehidupan pernikahan Maya-Adrian serta Sinta-Rizky yang terlihat ideal ternyata terasa hampa. Guna mengatasi kejenuhan tersebut, mereka nekat melakukan kesepakatan ekstrem untuk bertukar pasangan. Walau diliputi rasa canggung dan cemas di awal, keputusan ini justru menyingkap hasrat tersembunyi mereka. Melewati badai konflik dan kecemburuan, keempatnya dipaksa menghadapi realitas serta memulihkan luka masa lalu demi membangun kembali fondasi cinta yang lebih kokoh.
Sampul Novel Jangan Main Api Denganku, Mas
8.5
Lima tahun menikah, aku mengira Mas Bambang adalah suami yang setia. Namun, semua ilusi itu sirna saat perselingkuhannya terungkap. Menghadapi pengkhianatan ini, aku memilih tidak gegabah. Kubiarkan dia terus bersandiwara dengan dustanya, sementara aku diam-diam menyusun taktik matang untuk merampas seluruh hartanya. Aku akan bermain rapi hingga dia jatuh miskin dan mengemis maaf. Pengkhianatan perih ini akan kubalas dengan penyesalan seumur hidup yang takkan pernah bisa dia lupakan.
Sampul Novel Mencintai Istri Kakakku
9.1
Farzan memendam cinta terlarang pada Arini, kakak iparnya yang berjasa merawatnya. Demi melindungi pernikahan Brandon, sang kakak, Farzan nekat bersandiwara kekasih dengan Nadzifa, perempuan dari masa lalunya di Zürich. Namun, Nadzifa ternyata menyimpan niat terselubung. Ketika sebuah peristiwa membuka jalan bagi Farzan untuk mendekati Arini, ia pun terjebak dalam dilema besar: mengejar obsesi lamanya atau terseret dalam rencana misterius Nadzifa.
Sampul Novel Setelah Reinkarnasi, Aku Menjauhinya
8.7
Setelah terlahir kembali, aku bertekad menjauhi tunanganku dan membiarkannya bersama cinta pertamanya demi menghindari nasib tragis di kehidupan lalu, di mana aku disiksa hingga mati akibat dituduh memicu bunuh diri kekasihnya. Aku menuruti semua keinginannya untuk pergi jauh hingga menerima lamaran pria lain demi hidup tenang. Namun, saat aku sedang berbahagia bersama keluarga baruku, mantan tunanganku itu justru datang berlutut sambil menangis, memohon agar aku kembali ke pelukannya.
Sampul Novel Takdir Cinta Gigolo Kampung
8.7
Kisah perjuangan seorang pria penghibur asal desa yang berupaya keras lepas dari dunia hitam demi menebus masa lalunya. Langkah hijrahnya membawa ia pada sebuah cinta sejati yang ternyata sarat bahaya. Hubungan asmara ini tidak berjalan mulus, melainkan menjadi pertaruhan hidup dan mati yang membahayakan nyawa banyak orang. Dikemas penuh ketegangan dan emosi, drama romantis ini menyajikan kisah mendalam tentang arti pengorbanan dan pertobatan nyata.