
Suamiku Menjadi Ayah Untuk Anak Cinta Pertamanya
Bab 3
Mendengar ucapan Stefani, Brian pun mengernyit. Lalu, dia berbalik melemparkan tatapan penuh keluhan padaku.
Aku mengalihkan pandangan darinya, menatap orang-orang yang sedang menjilat, sambil melontarkan kata-kata paling keji untuk mengutuk aku dan putriku.
Aku menatap mereka dan menyebut satu per satu,
“Keluarga Zakri yang berbisnis aluminium, Keluarga Liam yang berbisnis semen, Keluarga Salim yang berbisnis produk kedelai….”
Saat aku menyebutkan nama mereka dengan tepat dan tenang, orang-orang itu langsung terdiam, karena semuanya benar.
Grup Soi memang bergerak di banyak bidang dan mereka semua menggantungkan hidup pada naungan Grup Soi.
Kemudian, aku pun dengan tegas mengumumkan, “Mulai hari ini, Grup Soi akan menghentikan kerja sama dengan kalian.”
Mereka sempat terkejut, lalu tertawa terbahak-bahak, berdesakan mendekati Brian.
“Semuanya lihat, perempuan ini benar-benar sudah gila! Barusan mengaku sebagai istri sah Pak Brian, sekarang lebih parah lagi, sok-sokan mengatasnamakan Grup Soi untuk memutuskan hubungan kerja sama.”
“Cih! Kamu pikir kamu siapa?! Pak Brian bahkan nggak bicara apa-apa, kok malah kamu yang bertingkah? Ada yang punya nomor rumah sakit jiwa? Cepat bawa dia ke sana!”
Raut wajah Brian semakin muram dan tatapannya juga menjadi tajam. Dia melangkah maju dan berbisik padaku,
“Yuky, aku sudah menjabat lama di Grup Soi. Kamu pikir kamu masih pantas membuat keributan sebesar itu? Kamu pikir keputusan masih ada di tanganmu? Cepat pulang saja!”
Aku hanya menatapnya lekat-lekat dan tak menjawab. Lalu mengalihkan pandangan pada orang-orang yang menertawakanku, termasuk Enny.
“Selama ini kalian semua salah paham. Brian memang benar manajer umum di Grup Soi, tapi yang mengambil keputusan itu aku!”
Enny sempat terkejut, lalu tertawa terbahak di pelukan Brian, sampai keluar air mata, “Dia benar-benar sudah gila.”
“Aku sudah lama kerja di Grup Soi dan hanya tahu kalau suamiku itu manajer umum Grup Soi! Aku bahkan belum pernah melihat wanita gila ini! Jangan-jangan dia bahkan nggak tahu yang mana gerbang kantor Grup Soi?!”
Aku hanya tersenyum tanpa menjawab, karena anak buahku akan tiba sebentar lagi.
Berdasarkan jabatan Enny, dia hanya bisa naik ke lantai 10 gedung kantor. Mana mungkin pernah bertemu dengan diriku yang berada di lantai 35?
Semua orang masih tertawa, hanya tatapan Brian yang sudah berubah jadi penuh kebencian.
Aku tahu, itu karena dia sedang ketakutan.
Tiba-tiba, ponsel putriku berdering. Begitu diangkat, dia langsung menjerit keras, seperti disambar sesuatu yang menyakitkan!
Begitu dinyalakan pengeras suaranya, terdengar, “Masih kecil sudah licik! Beraninya berpura-pura kasihan untuk menggoda orang! Orang tua nggak berhasil, malah menyuruh anaknya beraksi. Menjijikkan sekali….”
Aku buru-buru menutup telepon dan baru sadar kalau ada orang yang sudah menyebarkan kejadian hari ini ke internet.
Terutama saat Stefani menatap ke arah Brian, bagian itu sengaja ditambah bumbu yang kejam. Ada juga yang membocorkan nomor telepon dan nama sekolah putriku!
Aku mengalihkan pandangan ke arah Enny. Dia sedang tersenyum dan menantang ke arahku, bahkan dengan gerakan bibir, dia berkata,
“Ini hadiah untukmu, suka nggak?”
Putriku sudah mulai gemetaran, hujatan di internet terus berdatangan tanpa henti, bahkan telepon berisi perundungan online masuk satu per satu.
Para orang tua yang ingin menjilat di depan Brian langsung mengerumuni kami berdua, melontarkan makian tajam dan kutukan yang kejam.
“Lihat! Semua orang bisa menilai dengan mata kepala sendiri! Kalian berdua memang pantas membusuk di selokan!”
“Beraninya ngaku-ngaku sebagai petinggi Grup Soi! Tunggu saja digugat sampai bangkrut! Bagian legal Grup Soi itu terkenal tegas. Jangan sampai nanti rumahnya disita untuk ganti rugi, menangis pun sudah nggak ada gunanya!”
Ada yang melirik dengan wajah mengejek, sambil menyindir, “Bukannya itu sangat mudah? Ibu dan anak ini begitu murahan? Mereka tinggal naik ke ranjang pria mana saja, masalah sudah selesai, bukan?!”
Pada saat bersamaan, mobil komersial mewah meluncur kencang. Seseorang yang melihatnya langsung berteriak,
“Itu lambang Grup Soi, petingginya sudah datang!”
Para penjilat itu pun semakin bangga, langkah demi langkah mendekat ke arahku dan putriku. Mulut mereka terus berkomat-kamit, seperti ular berbisa yang siap menerkam,
“Habislah riwayat kalian! Pak Brian memang luar biasa, peringatannya bukan sekadar omong kosong, sekarang waktunya pembalasan! Memohon sekarang pun sudah nggak ada gunanya!”
Ada pula yang mengangkat ponsel, tatapan matanya tertuju padaku dan putriku dengan penuh niat jahat.
[Netizen sekalian, ini kelanjutan gosip heboh tentang sepasang ibu dan anak yang ingin menggoda bos besar. Cepat follow, aku bakal siaran langsung! Biar kalian lihat sendiri bagaimana konglomerat kalangan atas menyingkirkan wanita murahan!]
Enny menatap Brian dengan penuh perasaan, wajahnya tampak begitu gembira.
Namun, saat memandangku, ekspresi angkuh dan puas di wajahnya sama sekali tidak ditutupi. Di sampingnya, Sherwin pun berdiri dengan begitu sombong dan angkuh.
Anda Mungkin Juga Suka





