APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Suamiku adalah menantuku

Suamiku adalah menantuku

Upaya tulus Hana meredakan konflik pernikahan putrinya justru berujung petaka. Ia malah terjebak skandal asmara terlarang dengan sang menantu, Romeo. Begitu hubungan rahasia ini terbongkar ke hadapan publik, Hana langsung menjadi sasaran kemarahan dan cemoohan masyarakat. Kini, di tengah hancurnya reputasi serta hidup yang porak-poranda, ia harus bertahan menghadapi berbagai konsekuensi menyakitkan demi cinta gelap tersebut.
Bab
Bagikan

Bab 2

***

Setelah pertemuan kami terakhir kali, aku menjauhi Romeo. Aku tegaskan padanya kalau kami tidak boleh berhubungan lagi. Aku melakukan itu demi menjaga keutuhan rumah tangga putriku, Olivia. Setiap kali Romeo pulang kerja, aku sengaja tidak menampakkan diriku karena memang tidak mau menemuinya saat ini.

Aku menduga Romeo akan menyerah mempertahankan cinta kami, ternyata tidak. Saat tengah malam tiba, dia menggedor-gedor pintu kamarku. Ketukannya di pintu itu membuat aku takut. Aku tidak mau Olivia memergoki kami. Jadi kuputuskan untuk membukakan menantuku pintu kamar.

"Mau apa lagi Mas? Kita sudah berakhir," kataku.

Romeo sudah memakai baju tidur. Itu artinya dia datang ke kamarku setelah putriku terlelap. Aku menatap serius ke arah menantuku. Rambut pria itu berantakan tetapi masih begitu tampan di mataku. Aku terlalu terpukau pada pesonanya sehingga tidak menyadari dia telah masuk kamarku, mengunci pintu kamar tanpa persetujuan dariku.

Dia berusaha mendapatkan kesenangan yang dia harapkan padaku. Romeo semakin agresif. Dia memaksa aku menanggalkan bajuku. Aku mencoba menahan hasrat yang beringsut menguasai ragaku.

"Jangan, Mas. Pikirkan Aryan, pikirkan Olivia. Bagaimana perasaan mereka kalau tahu selama ini kita sering begini di belakang mereka." Waktu aku bicara begitu, Romeo berhenti sejenak. "Kita sudah terlanjur berdosa. Kita lakukan saja selagi tidak ketahuan."

Aku mendorong tubuh Romeo. Aku tidak bisa menyakiti putriku meski aku menyukai suaminya juga. Aku pernah menikah, disakiti pria tua. Kini gairahku pada pria muda amat besar. Aku mencoba mengusir perasaan itu. Namun aku tidak sanggup kalau Romeo terus memelas belaian. Aku tidak pernah mampu lolos dari jeratnya. "Kamu milikku," bisik Romeo waktu dia berhasil menguasai diriku. Kami berhubungan badan untuk kesekian kalinya.

"Kamu enggak boleh nyesel, Han. Inilah takdir kita," gumam Romeo. Aku cuma bisa menangis. Aku tidak bisa menghentikan perasaan ini. Aku benar-benar tidak sanggup menjalani kehidupan begini. Kalau ketahuan Olivia dan seluruh anggota keluarga lain, entah apa yang mereka pikirkan tentangku.

"Ini bukan takdir kita, Mas."

Aku menyela. Air mataku tak berhenti bercucuran, membasahi pipi putihku. Tetapi apa gunanya itu semua. Tidak ada! Rugi aku meneteskan air mata jikalau aku belum mampu menolak permintaan menantuku. Ibu macam apa aku? Begitu tega merusak rumah tangga putriku sendiri.

"Aku berusaha melupakan kamu, Mas. Tolong, jangan dekati aku lagi. Ini tidak benar. Kita tidak boleh seperti ini terus."

Romeo mendekap aku dari belakang. Aku mengusir tangan lembut miliknya yang membelenggu badanku. Aku menoleh sampai mataku menangkap bulu dada pria itu. Aku menghela napas meraih pakaian tidur menantuku supaya dia segera memakai baju.

"Mending kamu keluar, Mas. Aku enggak mau Olivia pergokin kita habis melakukan ini."

"Tapi, Han. Aku kangen kamu."

Tidak bisa. Aku tidak bisa berkompromi akan hal beginian. Ini tidak boleh terjadi 'kan? Ini sebuah kesalahan besar dalam hidupku. Biasanya Romeo kembali ke kamar Olivia saat subuh akan tiba. Kami tidak boleh seperti itu lagi. Semakin jarang kami bertemu maka semakin perasaan kami segera mati.

"Tolong, Mas. Kamu sudah dapatkan yang kamu mau. Sekarang kamu tinggalin aku sendiri." Aku berbicara tegas.

Perlahan aku mendengar gerakan Romeo menjauhi aku. Dia memakai pakaiannya kemudian keluar dari kamar milikku. Sebelum meninggalkanku, pria itu menegaskan kalau hubungan kami takkan pernah berakhir sampai kapanpun.

"Ini belum berakhir, Han. Kita akan terus begini. Kamu adalah takdirku. Kamu tidak akan jauh dari aku."

Romeo meninggalkan aku sendiri. Dia sangat egois, mungkin aku juga begitu. Bedanya aku masih punya sedikit hati. Kebalikan dari Romeo, dia sama sekali tak mau melepaskan aku. Dalam keadaan begini, aku tidak tahu harus melakukan apa. Aku serba salah. Aku memejamkan mata, berusaha melupakan malam ini. Aku tidak akan membukakan pintu Romeo kendati dia memaksa seperti malam ini.

***

Aku bangun agak terlambat. Aku benar-benar mengantuk setelah Romeo berhasil mengganggu tidurku semalam. Aku melangkah keluar kamar ketika aku mendengar perdebatan putri dan menantuku. Aku menggeleng, mereka selalu seperti ini. Aku tidak tahu sampai kapan mereka akan berhenti bertengkar seperti anak kecil.

"Kenapa kamu selalu membandingkan aku dengan mamaku? Apa kamu suka dengan mama?"

Jantungku berdebar hebat ketika kudengar bentakan Olivia. Dia melibatkan aku dalam pertengkaran mereka. Aku punya firasat buruk akan hal ini. Aku berlari mendekati sumber suara, menjadi penengah di antara mereka.

"Ya, aku memang mendambakan ibumu. Dia jauh lebih baik jadi istriku ketimbang kamu. Aku bosan dimarahi terus sama kamu, Liv. Apa kamu enggak bisa melayani aku dengan baik seperti ibumu?"

Mataku membelalak, aku menyela, "Kamu itu bicara apa, Romeo!" Aku tidak mau kedokku terbongkar. Ini bukan waktu yang tepat untuk membahas hal itu. Olivia diam sejenak. Dia memperhatikan aku dan Romeo secara bergiliran. "Ini enggak mungkin 'kan, Ma? Mama dan Romeo enggak mungkin selingkuh 'kan?"

Aku merasa jantungku seakan dicabut paksa. Bibirku keluh, aku membalas dengan pelan, "Mama enggak pernah punya hubungan sama suami kamu, Nak." Aku berusaha menghindari tatapan tajam Olivia. "Romeo adalah menantu mama. Enggak mungkin mama merebut dia dari kamu. Mama terlalu tua buat dia." Aku berusaha mencari kata-kata logis.

"Mama dan Romeo hanya berbeda 5 tahun. Mama bisa saja melakukan itu sama Mas Romeo. Kalau itu tidak benar maka tatap aku, Ma!"

Aku berusaha menatap Olivia tapi aku tidak bisa menyembunyikan perasaan bersalahku. Mataku tiba-tiba menggenang air mata. Aku mengalihkan pandangan ke jendela supaya tidak menangis di hadapan menantu dan putriku.

"Mama bohong!"

"Enggak, Liv. Mama jujur. Mama hanya tidak menyangka kamu menud--."

Ucapanku dipotong oleh ucapan Romeo. Dia berseru, "Aku dan mamamu memang punya hubungan serius, Liv. Aku terpaksa selingkuh dengan dia karena bosan bertengkar dengan kamu. Aku tidak bisa diomeli sepanjang hidupku. Aku bukan orang sabar yang kamu impikan. Aku punya batas kesabaran, Liv."

Olivia membuka mulutnya lebar-lebar. Perlahan dia menutup mulut itu, berusaha mencerna kata-kata suaminya. Dia terisak, aku mencoba menenangkannya tapi Olivia menepis tanganku. Dia tidak mau aku menyentuh kulitnya. Olivia benar-benar marah. "Aku enggak nyangka mama dan Mas Romeo bisa se-tega itu sama aku. Aku--."

Olivia menangis terluka. Aku ikut terbawa oleh isakan itu. Aku minta maaf berkali-kali. Sementara Romeo terus mencari pembenaran atas perbuatan kami. "Perselingkuhan antara aku dan mamamu bermula dari kamu, Liv. Kalau saja kamu memperlakukan aku dengan baik. Kalau saja kamu mau menghargai aku sebagai suamimu maka perselingkuhan ini tidak akan terjadi."

Tangisan Olivia semakin pecah. Aku mendengar suara Aryan menangis di dalam kamar. Namun aku tidak bisa meninggalkan Olivia dalam keadaan seburuk ini. Aku mau menyelesaikan masalah yang telah aku buat.

"Berhenti, Mas. Jangan teruskan lagi," pintaku.

Aku mau Romeo memahami istrinya tetapi dia tidak mendengarkan aku. "Tidak bisa, Han. Dia harus tahu di mana letak kesalahannya sampai semua ini terjadi. Bukan hanya dia yang terluka di sini."

Olivia tidak berhenti meneteskan air mata. Dia tidak bisa membalas satu pun kata-kata suaminya. Semua kata yang yang dia punya seakan telah habis mengetahui fakta perbuatan aku dan Romeo. "Seandainya kamu bisa lebih bersabar, Liv. Bisa menyambut aku dengan baik. Aku tidak akan begini. Hanya ibumu yang memberikan perhatian yang seharusnya kamu berikan padaku."

Olivia menatap aku dengan linangan air mata. "Ini 'kan yang mama harapkan terjadi padaku? Sudah puas bikin aku begini? Aku enggak percaya mama bisa kayak gini." Olivia sesenggukan waktu mengatakan itu. Hatiku teriris, aku tidak membalas karena aku tahu aku memang salah.

"Aku percaya mama tetapi kenapa mama kayak begini?"

Olivia kecewa. Dia sangat rapuh. Dia benar-benar tersakiti. "Ini bukan salah mamamu, Liv. Aku yang paksa dia."

Romeo masih menyempatkan diri membelaku. Olivia menoleh ke arah suaminya. Dia melangkah mendekati Romeo, memberikan satu tamparan setelah itu tangisannya kembali tumpah. Olivia meninggalkan kami kemudian masuk ke dalam kamar. Dia menangis bersama putranya Aryan di dalam kamar.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel 180 Days
9.4
Mengetahui suaminya berkhianat, April menolak menyerah pada perceraian. Ia justru memilih jalan sulit untuk menyelamatkan pernikahan mereka yang berada di ambang kehancuran. Sebuah target ambisius ia tetapkan: merebut kembali cinta sang suami dalam waktu 180 hari. Di tengah rasa sakit yang mendalam, April harus berkejaran dengan waktu demi memulihkan keharmonisan rumah tangganya. Akankah ia berhasil memikat kembali hati suaminya sebelum batas waktu tersebut habis?
Sampul Novel Aku Tak Mau Dimadu
9.7
"Aku menolak dipoligami!" tegas diriku. Tidak ada istri yang sudi berbagi cinta, begitu pula denganku. Keadaan terasa kian menyiksa karena calon maduku ternyata perempuan dari masa lalu yang pernah mengisi hati suamiku. Naya, ingatlah ini: sampai embusan napas terakhirku, aku bersumpah takkan membiarkanmu merebut suamiku. Aku akan berjuang mempertahankan pernikahan ini dan memastikan kau tidak akan pernah bisa memilikinya kembali.
Sampul Novel Dikhianati Tunangan dan Sepupu Tercinta
8.8
Pengkhianatan Fredi dengan sepupuku, Lydia, saat berlibur di Bali menghancurkan segalanya. Hubungan kami diputus sepihak, lalu dia dan ibunya terus merendahkanku hingga karierku runtuh. Di masa sulit ini, Hendra yang merupakan kakak sepupu Fredi datang menyelamatkanku. Ketika Fredi kembali mencoba menjatuhkanku dalam sebuah pesta, aku tidak lagi gentar karena ada Hendra di sisiku. Dengan perasaan yang telah mati, aku nyatakan padanya bahwa rasa cintaku sudah sirna.
Sampul Novel Godaan Teknisi AC
9.1
Kehadiran seorang teknisi AC di rumah pada larut malam membawa perubahan drastis yang tak terduga. Sentuhan jemari pria asing itu membangkitkan sensasi intens yang belum pernah dirasakan sang istri sebelumnya. Di tengah pergolakan gairah yang terlarang, sang teknisi bertindak nekat dengan menarik rambutnya dan memaksa wanita itu menghubungi suaminya sendiri. Meski telah memohon demi menyelamatkan pernikahannya, panggilan telepon tersebut telanjur tersambung, mengancam membongkar rahasia malam itu.
Sampul Novel Jangan Main Api Denganku, Mas
8.5
Lima tahun menikah, aku mengira Mas Bambang adalah suami yang setia. Namun, semua ilusi itu sirna saat perselingkuhannya terungkap. Menghadapi pengkhianatan ini, aku memilih tidak gegabah. Kubiarkan dia terus bersandiwara dengan dustanya, sementara aku diam-diam menyusun taktik matang untuk merampas seluruh hartanya. Aku akan bermain rapi hingga dia jatuh miskin dan mengemis maaf. Pengkhianatan perih ini akan kubalas dengan penyesalan seumur hidup yang takkan pernah bisa dia lupakan.
Sampul Novel Terjebak dalam Godaan Ipar
9.7
Kehidupan Elara, wanita mandiri yang teguh, berubah total setelah bertemu keluarga Kaden. Kaden adalah suami dari Marisol, kakak angkat Elara. Dikenal sebagai pria setia, Kaden justru mulai terpikat oleh daya tarik Elara yang polos sekaligus menantang. Situasi ini menjebak Elara dalam dilema antara rahasia gelap dan cinta terlarang. Kini, ia harus memilih: menyerah pada godaan berbahaya sang ipar atau pergi demi melindungi kebahagiaan orang-orang tercinta.