APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Suamiku adalah menantuku

Suamiku adalah menantuku

Upaya tulus Hana meredakan konflik pernikahan putrinya justru berujung petaka. Ia malah terjebak skandal asmara terlarang dengan sang menantu, Romeo. Begitu hubungan rahasia ini terbongkar ke hadapan publik, Hana langsung menjadi sasaran kemarahan dan cemoohan masyarakat. Kini, di tengah hancurnya reputasi serta hidup yang porak-poranda, ia harus bertahan menghadapi berbagai konsekuensi menyakitkan demi cinta gelap tersebut.
Bab
Bagikan

Bab 3

***

Rahasia merupakan bagian hidup yang harus kita tutupi rapat-rapat. Bagian itu ialah privasi bagi seseorang. Aku punya hal semacam itu, kedok yang tidak mau aku umbar ke publik. Layaknya sebuah bangkai, semakin lama tersembunyi maka aroma busuknya semakin tercium. Pada akhirnya perbuatan keji yang aku pendam terungkap dengan jelas.

Setelah rahasiaku dan Romeo terbongkar, Olivia sangat terpukul. Dia merasa hidupnya tidak berguna. Sore hari, putriku minum racun tikus—sisa racun yang aku pakai dua minggu lalu. Aku menemukan putriku saat busa keluar dari mulutnya. Aku panik, benar-benar hancur. Aku hubungi menantuku sampai dia muncul dengan tatapan pilu, menunjukkan perasaan cemas luar biasa.

Kami merasa bersalah pada Olivia. Aku tidak bisa berkomentar begitu pun dengan Romeo. Aku menggendong Aryan sampai di rumah sakit. Aryan sangat membutuhkan ibunya. Aku tidak percaya Olivia memilih keputusan keliru seperti ini. Mengapa dia mengesampingkan anaknya yang tak berdosa? Apakah dia tidak memikirkan perasaan putranya tanpa ibu? Semua anak tentu mengharapkan orang tua yang utuh.

"Olivia masuk rumah sakit, Mas."

Suaraku bergetar ketika mengabarkan berita buruk itu kepada mantan suamiku. Aku menghubungi Mas Wahyu sebagai ayah kandung Olivia. Dia punya hak untuk mengetahui apa pun yang menimpa putrinya.

Dokter masih memeriksa keadaan Olivia. Entah bagaimana kondisi putriku sekarang. Aku berharap semuanya baik-baik saja. Aku takut menjadi tersangka utama kematian putriku. Aku optimis, segalanya akan segera membaik.

"Memangnya Oliv sakit apa, Han?"

Mas Wahyu agak heran sebab belum lama ini dia sempat bertemu putrinya. Aku gugup, tidak mau mengakui kesalahanku. Aku menggeser ponsel di tanganku diiringi tangan bergetar. Tangan kananku basah karena terlalu tegang.

"Ada racun dalam botol air mineral, Mas. Olivia enggak sengaja minum racun itu."

Aku bohong. Kalau Mas Wahyu tahu apa yang sudah kulakukan pada Olivia. Dia akan siksa aku seperti yang sering dia lakukan saat kami masih bersama. Mas Wahyu sangat berbeda dengan Romeo yang penyayang. Wahyu lebih kasar.

"Kamu tuh gimana sih, Han. Ngapain kamu taruh racun dalam botol air mineral. Kamu memang niat bunuh anak kamu sendiri ya?"

Mas Wahyu berapi-api. Aku minta maaf. Aku bahkan belum jujur dan Mas Wahyu sudah menyerang aku habis-habisan. "Enggak, Mas. Aku sayang Olivia. Aku enggak tahu kalau keadaan akan bakalan begini."

"Kalau sampai Olivia kenapa-napa, habis riwayat kamu, Han. Aku akan hancurkan hidupmu. Ini salahmu," tegas Mas Wahyu.

Panggilan telepon kami berakhir. Aku duduk di ruang tunggu ditemani perasaan sedih. Aryan menyeka air mataku. Dia tidak tahu kalau aku baru saja membuat ibunya dalam masalah. Cucuku masih sangat polos, aku tidak mau melukai anak itu. Aku bergeming, mengingat situasi saat aku ketahuan berselingkuh dengan menantuku. Seketika aku merasa penuh dosa.

"Kamu pulang saja ya, Han. Biar aku yang urus Olivia. Biarkan Aryan istirahat," kata Romeo. Aku tidak bisa meninggalkan putriku segampang ini. Aku berkata, "Enggak, Mas. Aku bertanggung jawab atas Olivia. Aku harus di sini sampai dia sadar."

Romeo menggenggam tanganku. Dia mengusap lembut pipiku seraya berbisik, "Ini bukan salah kamu, oke? Jangan pernah salahkan diri kamu. Mending kamu pulang. Kasian Aryan enggak bisa menginap di tempat ini." Aku melihat Aryan. Anak itu menunjukkan reaksi tak suka berada di rumah sakit. Romeo benar.

"Kabari aku kalau keadaan Olivia sudah baikan." Romeo mengangguk.

Sebelum aku pulang, Romeo menyempatkan untuk berikan aku kecupan di ujung kepalaku. Aku cukup menghangat karena perbuatannya. Selain itu, aku terlalu lelah sehingga tidak sempat protes atas apa yang dia lakukan. "Kamu jaga kesehatan ya, Han. Olivia akan baik-baik saja." Romeo meyakinkan diriku, aku percaya kepadanya.

Sampai di rumah, aku membaringkan Aryan di tempat tidur. Aku benar-benar takut menghadapi takdir hidupku. Di satu sisi, aku tidak mau Olivia kenapa-napa namun di sisi lain, aku akan dibenci semua orang karena sudah membuat kehidupan rumah tangga putriku hancur. Aku pun tak menghendaki ini pada awalnya. Romeo memaksaku berhubungan intim. Aku korban tapi semakin lama. Romeo justru membuat aku nyaman. Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan? Aku sangat bingung.

Aryan sudah tidur. Aku berbaring di sampingnya. Aku istirahat, mengharapkan esok hari lebih baik. Saat aku bangun pagi harinya, aku lihat Romeo ada di sampingku, memelukku dengan erat. Aku terkesiap atas apa yang dia lakukan? Dia seharusnya membangunkan aku saat sudah pulang. Aku bangkit dari tempat tidur.

"Jangan pergi dulu, Han. Aku masih mau peluk kamu."

"Jangan kayak gini Mas. Oliv ada di rumah sakit. Kita tidak seharusnya bersama di saat dia sedang sekarat."

Aku menangis. Aku bersalah dalam hal ini. Aku tidak tahu cara menebus kesalahanku. Hanya air mata yang bisa aku keluarkan. Bagaimana caranya agar Olivia bisa bahagia dengan Romeo? Bagaimana caranya membuat menantuku menyadari betapa besar cinta istrinya kepada dia.

Romeo datang padaku, menyeka air mataku. Dia masih memakai kemeja kerja dengan kancing bagian atas terbuka. Otot dada kekar miliknya tampak jelas bentuknya, beberapa helai bulu dadanya muncul. Setiap kali melihat tubuh Romeo, keinginanku untuk hidup bersamanya selalu timbul. Aku tidak paham cara membunuh perasaanku terhadap menentuku. Dia terlalu seksi untuk dilupakan.

"Kita tidak pernah memaksa Oliv minum racun itu. Kita tidak bisa bertanggung jawab atas perbuatannya." Aku membelalakkan mata. Baru kemarin aku lihat perasaan bersalahnya. Kini dia menunjukkan sisi egoisnya lagi. "Maksud kamu apa ngomong gitu, Mas? Kamu tega melihat Oliv sakit?"

"Olivia minum racun karena kesalahan kita. Kita berselingkuh dari Olivia, Mas. Apa kamu lupa?"

Aku berteriak, mengabaikan rasa kagumku pada karisma-nya. Romeo diam sejenak kemudian membalas, "Aku minta maaf, Han. Aku hanya tidak mau kau terus menyalahkan diri sendiri. Aku tidak mau kau jauhi aku gara-gara Olivia. Aku cinta kamu, Han." Romeo menggenggam tanganku.

"Kalau kamu sayang aku. Tolong, pertahankan Olivia. Aku bahagia kalau putriku bahagia. Kumohon, Mas. Kita akhiri saja hubungan ini." Aku sudah bosan beritahu Romeo. Namun kali ini aku serius mau mengakhiri perselingkuhan antara aku dan dirinya.

"Kalau kamu masih berusaha dekati aku. Aku bakal minum racun yang sama seperti racun yang diminum Oliv." Aku bersungguh-sungguh. Jika memang Olivia bisa merelakan nyawanya demi kebahagian aku. Mengapa tidak, aku relakan nyawaku juga demi kebahagiaan Olivia.

"Kamu enggak serius 'kan, Han?" Romeo tidak rela aku mati. Aku tegaskan padanya kalau aku tidak main-main. Romeo frustrasi. Dia meremas rambutnya kuat-kuat.

"Kenapa kamu beri aku pilihan yang sulit, Han? Aku udah enggak tertarik sama Oliv. Aku sayang kamu, Han?"

"Enggak bisa. Kamu harus kembali pada Olivia kalau kamu sayang sama aku." Romeo memaksa hatinya kembali pada Olivia. Dia memberikan aku satu syarat. Syarat itu cukup membuat aku bimbang namun aku menyetujinya. Aku melaksanakan persyaratan itu dengan Romeo. Sekarang aku bisa pastikan hubungan rumah tangga putriku akan baik-baik saja.

Olivia sudah sadar ketika aku datang menjenguknya. Dia belum bisa bicara. Dia terus melototi aku saat menjenguknya. Dia tidak mengamuk karena ada Mas Wahyu, ibuku, dan juga saudara perempuanku Meida di sana. "Wahyu bilang kamu taruh racun di botol air mineral. Kamu kok bisa sampai seceroboh itu sih, Han?" Ibuku bertanya saat aku menyiapkan makanan untuk Olivia.

"Tolong jangan bahas masalah itu lagi ya, Bu. Olivia akan jelaskan saat dia sudah sembuh."

Biarkan Olivia yang beritahu semua orang kalau aku berhasil merebut suaminya. Aku tidak bisa membicarakan kotoranku sendiri. Ibuku menghela napas panjang. Aku membujuk Olivia makan tetapi dia tidak mau kalau aku yang memberinya makanan. "Biar aku saja." Saudaraku, Meida yang mengambil alih tugasku.

Olivia tidak bisa makan normal untuk sementara. Makanan yang diberikan tidak melalui mulut melainkan dari hidung. Ada selang yang dipasang di hidungnya, yang menghubungkan langsung ke lambungnya. Aku tersiksa setiap kali melihat Olivia kesakitan. Aku tidak sanggup menyaksikannya. Seandainya waktu bisa terulang.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel 180 Days
9.4
Mengetahui suaminya berkhianat, April menolak menyerah pada perceraian. Ia justru memilih jalan sulit untuk menyelamatkan pernikahan mereka yang berada di ambang kehancuran. Sebuah target ambisius ia tetapkan: merebut kembali cinta sang suami dalam waktu 180 hari. Di tengah rasa sakit yang mendalam, April harus berkejaran dengan waktu demi memulihkan keharmonisan rumah tangganya. Akankah ia berhasil memikat kembali hati suaminya sebelum batas waktu tersebut habis?
Sampul Novel Aku Tak Mau Dimadu
9.7
"Aku menolak dipoligami!" tegas diriku. Tidak ada istri yang sudi berbagi cinta, begitu pula denganku. Keadaan terasa kian menyiksa karena calon maduku ternyata perempuan dari masa lalu yang pernah mengisi hati suamiku. Naya, ingatlah ini: sampai embusan napas terakhirku, aku bersumpah takkan membiarkanmu merebut suamiku. Aku akan berjuang mempertahankan pernikahan ini dan memastikan kau tidak akan pernah bisa memilikinya kembali.
Sampul Novel Dikhianati Tunangan dan Sepupu Tercinta
8.8
Pengkhianatan Fredi dengan sepupuku, Lydia, saat berlibur di Bali menghancurkan segalanya. Hubungan kami diputus sepihak, lalu dia dan ibunya terus merendahkanku hingga karierku runtuh. Di masa sulit ini, Hendra yang merupakan kakak sepupu Fredi datang menyelamatkanku. Ketika Fredi kembali mencoba menjatuhkanku dalam sebuah pesta, aku tidak lagi gentar karena ada Hendra di sisiku. Dengan perasaan yang telah mati, aku nyatakan padanya bahwa rasa cintaku sudah sirna.
Sampul Novel Godaan Teknisi AC
9.1
Kehadiran seorang teknisi AC di rumah pada larut malam membawa perubahan drastis yang tak terduga. Sentuhan jemari pria asing itu membangkitkan sensasi intens yang belum pernah dirasakan sang istri sebelumnya. Di tengah pergolakan gairah yang terlarang, sang teknisi bertindak nekat dengan menarik rambutnya dan memaksa wanita itu menghubungi suaminya sendiri. Meski telah memohon demi menyelamatkan pernikahannya, panggilan telepon tersebut telanjur tersambung, mengancam membongkar rahasia malam itu.
Sampul Novel Jangan Main Api Denganku, Mas
8.5
Lima tahun menikah, aku mengira Mas Bambang adalah suami yang setia. Namun, semua ilusi itu sirna saat perselingkuhannya terungkap. Menghadapi pengkhianatan ini, aku memilih tidak gegabah. Kubiarkan dia terus bersandiwara dengan dustanya, sementara aku diam-diam menyusun taktik matang untuk merampas seluruh hartanya. Aku akan bermain rapi hingga dia jatuh miskin dan mengemis maaf. Pengkhianatan perih ini akan kubalas dengan penyesalan seumur hidup yang takkan pernah bisa dia lupakan.
Sampul Novel Terjebak dalam Godaan Ipar
9.7
Kehidupan Elara, wanita mandiri yang teguh, berubah total setelah bertemu keluarga Kaden. Kaden adalah suami dari Marisol, kakak angkat Elara. Dikenal sebagai pria setia, Kaden justru mulai terpikat oleh daya tarik Elara yang polos sekaligus menantang. Situasi ini menjebak Elara dalam dilema antara rahasia gelap dan cinta terlarang. Kini, ia harus memilih: menyerah pada godaan berbahaya sang ipar atau pergi demi melindungi kebahagiaan orang-orang tercinta.