APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Suami pura-pura

Suami pura-pura

Demi membahagiakan Nenek Laila, Alan nekat mengaku sebagai suami Adinda. Kebohongan mendadak ini membuat Adinda panik dan cemas jika rahasia mereka terungkap. Ia pun menolak keras sandiwara tersebut hingga memicu pertengkaran sengit di antara keduanya. Namun, saat Adinda berusaha keras untuk menyangkal pernikahan pura-pura ini, Alan justru melontarkan pertanyaan tak terduga yang membuatnya bungkam: apakah Adinda bersedia menjadi istri aslinya?
Bab
Bagikan

Bab 1

Suasana tegang menghiasi ruangan itu. Seorang anak sedang berseteru dengan kedua orang tuanya. Mereka saling beradu pendapat, dan tidak ada mengalah di antara ketiganya. Wajahnya pun tampak memerah karena menahan amarah.

Adinda Salsha, seorang gadis yang baru saja menggapai gelar sarjana, dipaksa menikah oleh kedua orang tuanya. Ia menentang, karena menurutnya perjalanan hidup masih panjang, dan Adinda belum puas untuk menikmati masa muda. Sementara Lukman – ayah Adinda, terus bersikeras agar anaknya segera menikah. Dengan alasan umurnya yang tidak akan lama lagi, mengingat dirinya sudah paruh baya dan ingin melihat puterinya ada yang membimbing.

“Ayah, Adinda tidak mau jika harus menikah sekarang,” ujar Adinda dengan penuh penekanan.

“Sampai kapan kamu akan sendiri seperti ini? Ayah sudah tua, dan tidak mungkin bisa mendampingimu lebih lama.”

“Ayah jangan berkata seperti itu. Adinda masih bisa jaga Ayah, tidak harus dengan menikah secepat ini.”

Lukman mendengus kesal, “Kalau kamu tidak mau menikah, maka tidak akan ada harta warisan untukmu.”

Lukman kemudian pergi meninggalkan mereka. Sementara Hana – Ibu Adinda, mengusap pundaknya agar anaknya sedikit lebih tenang. Adinda merasa kalau dirinya telah melakukan kesalahan. Sebab, telah membuat sang ayah terluka karena perkataannya.

“Sudah, biar nanti Bunda bicarakan hal ini kepada ayahmu.”

“Tapi, Bunda. Kenapa Ayah tega sekali dengan Adinda? Padahal Adinda ingin menikmati masa muda.”

Hana mengusap pundak anaknya itu, “Kamu tidak usah khawatir, mungkin Ayah itu sedang banyak pikiran. Yang membuat Ayah seperti itu.”

Adinda menghela nafas, karena tidak mau bertengkar lagi dengan ayahnya. Adinda memutuskan untuk pergi ke luar rumah, dan mencari udara segar yang mampu pikirannya kembali tenang. Adinda pergi mengendarai mobilnya, sepanjang perjalanan ia terus memikirkan permintaan ayahnya tersebut. Jauh di lubuk hati yang paling dalam, Adinda tidak ingin mengecewakan ayahnya. Tetapi ia juga tidak mungkin menikah muda. Kepala Adinda terasa pusing dan berdenyut. Hal itu membuat ia tidak focus mengendarai mobil. Dan secara tiba-tiba, ada seorang pria yang melintas begitu saja. Membuat Adinda menghentikan laju mobilnya secara mendadak.

“Astaga! Siapa itu?” Kejadian itu membuat tubuhnya condong ke arah depan.

Ia melihat seorang pria tengah berdiri kaku tepat berada di depan mobilnya. Ia tidak kalah terkejut, bahkan sampai berteriak sambil menutupi wajahnya menggunakan kedua lengannya. Adinda kemudian turun untuk menghampiri pria tersebut. Terlihat seorang pria yang berpenampilan biasa saja. Mengenakan kaos polos berwarna hitam, dan sandal jepit yang melindungi kakinya.

“Kalau jalan lihat-lihat, jangan asal menyebrang begitu saja,” oceh Adinda.

“Harusnya anda yang hati-hati. Kalau mengendarai mobil itu pelan saja.”

Adinda berdecak kesal, bukannya meminta maaf, pria itu malah memarahinya.

“Anda tidak sopan sekali. Sudah tahu anda yang salah, kenapa malah menyalahkan saya?” Nada bicara Adinda meninggi.

Pria itu menatap Adinda dengan intens, ia tidak mau mempermasalahkan lebih jauh. Dan memutuskan pergi begitu saja, meninggalkan Adinda yang masih dikuasai oleh rasa kesalnya.

“Awas saja kalau bertemu, aku tidak akan pernah mengampuni pria seperti itu.”

Adinda kembali berjalan masuk ke dalam mobil. Ia mengarahkan laju mobil pada sebuah café yang terletak di kota tersebut. Tetapi sebelum ke sana, Adinda lebih dulu menghubungi Chika – sahabatnya untuk menemani dirinya.

Sampainya di cafe, Chika sudah lebih dulu sampai ke sana. Bahkan ia sudah memesankan minuman untuk dirinya dan juga Adinda. Chika melihat kedatangan Adinda dan langsung menghempaskan tasnya ke atas meja. Menyebabkan suara bising.

“Kamu kenapa? Wajah ditekuk seperti itu,” oceh Chika.

“Hari ini membuat suasana hatiku hancur. Sudah Ayah yang terus memaksa untuk menikah. Dan tadi ada pria yang tidak sopan, sudah dia yang salah dan dia juga tidak mau meminta maaf.” Adinda menceritakan semua kejadian sialnya hari ini.

Chika yang mendengar cerita itu terkekeh geli, “Hahaha. Makanya patuh dengan nasihat orang tua. Jangan melawan.”

“Tapi aku masih mau menikmati masa muda. Masa mau nikah sekarang?”

Chika menaikkan bahunya tanda tidak tahu.

Adinda mengaduk minuman itu dan sesekali menyeruputnya. Hatinya benar-benar hancur, dan tidak tahu harus berbuat apa. Tak berapa lama, datang makanan yang sudah dipesankan oleh Chika. Tanpa aba-aba, Adinda langsung saja melahap semua makanan itu. Chika menelan ludahnya, memang sudah biasa melihat Adinda yang rakus dengan makanan. Tetapi Adinda tetap menjaga tubuhnya agar terlihat ramping dan menarik.

“Oiya, bagaimana jika kamu tinggal di rumahku saja?” Tawar Chika.

“Boleh juga, telingaku rasanya panas kalau harus terus menerus mendengarkan Ayah yang mendesak untuk menikah.”

“Oke, baiklah kalau begitu. Nanti kita langsung saja ke rumahku.”

Adinda setuju dengan itu semua. Chika memang sudah memiliki rumah sendiri, itu ia lakukan karena kampung halamannya yang jauh. Mengharuskan Chika membeli rumah agar tidak harus pulang pergi ke rumah kedua orang tuanya. Setelah makan selesai, Chika langsung mengajak Adinda untuk segera pulang. Kebetulan Chika datang ke café dengan menaiki taksi.

Sampainya di rumah Chika. Adinda langsung turun bersama dengan sahabatnya itu. Tampak sebuah rumah, yang bisa dibilang tidak terlalu mewah. Tetapi terkesan sederhana, dan cukup nyaman dengan taman kecil di samping rumah itu. Ini bukan kali pertama Adinda berkunjung ke rumah Chika. Ia sudah sering sekali mampir atau menginap sekalipun di rumah itu. Mereka memang bersahabat sejak pertama kali menjejakkan kaki di bangku perkuliahan.

Suasana rumah yang rapi, Chika itu tidak akan tinggal diam jika melihat rumahnya berantakan. Maka ia sering dijuluki gadis rajin oleh teman-temannya yang lain. Berbeda sekali dengan Adinda yang tidak terlalu perduli dengan sekitar. Bahkan barangnya saja Adinda jarang merapikan. Selalu saja Hana yang merapikan itu.

“Oiya, aku ‘kan tidak membawa pakaian? bagaimana?” Adinda baru ingat kalau ia tidak membawa apa-apa.

“Pakai saja ini. Bukannya pakaianku juga bisa dipakai sama kamu?” ujar Chika sambil melempar satu pakaian ke tangannya.

“Oiya aku lupa,” jawab Adinda singkat.

**

Malam tiba.

Adinda sudah disibukkan oleh pekerjaan kantor. Sejak lulus, ia langsung melamar pekerjaan. Dan langsung diterima sebagai staff marketing. Memang tidak tinggi, tetapi Adinda selalu mensyukuri apa yang sudah ia dapat dengan jerih payahnya sendiri. Bahkan Adinda sama sekali tidak mengemis pekerjaan kepada orang tuanya, padahal Ayahnya adalah direktur utama di PT. Abadi Jaya. Sedari tadi Adinda terus sibuk dengan layar laptopnya, sampai tidak memberi jeda kepada tubuhnya untuk beristirahat.

“Ini minum.” Chika meletakkan minuman di atas meja.

Adinda menoleh kemudian tersenyum, “Terima kasih, sahabat aku memang baik sekali.”

“Kamu ini kalau sudah kerja suka tidak ingat waktu. Jaga kesehatan, Din, kamu juga perlu istirahat.”

Adinda mengangguk faham, “Aku tahu. Tapi pekerjaan di kantor lagi banyak sekali, dan aku harus mengerjakan malam ini juga.”

Chika tidak menanyakan lebih, karena ia tahu kalau sahabatnya akan melakukan yang terbaik untuk membuat pekerjaannya menjadi sempurna. Chika dan Adinda tidak bekerja pada perusahaan yang sama. Walau begitu, mereka sering sekali menghabiskan waktu berdua.

Tidak terasa malam semakin larut, Adinda memutuskan untuk menyudahi semuanya. Rasa kantuk mulai menyerang, dan ingin rasanya Adinda meregangkan otot-otot yang tegang. Sementara Chika sudah lebih dulu tertidur di kamar. Sebelum pergi ke kamar, Adinda terlebih dulu memberikan pesan kepada sang bunda. Agar Hana tidak mencemaskan dirinya. Ia mengatakan kalau akan tinggal di rumah Chika untuk beberapa hari, sampai Lukman menghentikan permintaannya untuk Adinda segera menikah.

**

Bersambung.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Di Balik Penyakit, Ada Cinta yang Mekar
8.5
Keputusan untuk menyembuhkan penyakit stenosis kongenital di rumah sakit diambil demi masa depan bersama Alex Simina. Namun, situasi menjadi canggung saat dokter yang menangani prosedur medis tersebut ternyata adalah teman dekat Alex sendiri. Sang protagonis harus menghadapi rencana perawatan medis tidak biasa yang memicu rasa malu, di mana terapi kesembuhannya menuntut kontak fisik yang sangat intim secara intens, mulai dari sentuhan hingga ciuman yang tidak dapat dihindari demi memulihkan kondisinya.
Sampul Novel Gadis SMA Milik Mafia Kejam
9.8
Jimmy Alexander adalah mafia berusia 25 tahun yang tak kenal ampun dalam menjalankan bisnis ilegalnya. Namun, sebuah kecelakaan mengubah hidupnya saat ia bertemu seorang siswi SMA yang tulus menolongnya. Ketulusan itu memicu obsesi cinta dalam diri Jimmy yang kejam. Masalah besar muncul karena gadis impiannya ternyata sudah bertunangan dengan pria lain. Akankah sang mafia merelakan cintanya, atau justru melakukan segala cara demi memiliki gadis tersebut?
Sampul Novel Om Teman Masa Kecil Ayah
9.3
Perjalanan pulang menggunakan bus tidur di hari libur menjadi awal dari peristiwa yang tak terlupakan. Setelah kembali dari toilet dalam kondisi kabin yang gelap gulita, sebuah kekeliruan terjadi saat mencari ranjang. Di balik tirai yang salah, seorang pria misterius telah menunggu. Alih-alih boneka silikon yang baru dibeli untuk memuaskan hasrat, pertemuan tak terduga di atas ranjang sempit itu justru menuntun pada pergulatan intim yang intens dan penuh gairah panas di tengah malam.
Sampul Novel Pacar yang Tak Pernah Punya Waktu untukku
7.9
Pernikahan paksa akibat perjodohan membuat Elara dan Kiano saling membenci hingga memutuskan bercerai. Namun, takdir mempertemukan mereka lagi dalam satu proyek kerja setelah lima tahun berpisah. Meski awalnya dipenuhi ketegangan dan sindiran masa lalu, mereka perlahan menyadari ketulusan yang dahulu tak terlihat. Rasa cinta pun mulai tumbuh di antara sisa amarah. Kini, mereka harus memilih antara membuka hati kembali atau terperangkap dalam luka lama.
Sampul Novel Secret Family
9.1
Model bernama Jasmine terjebak hubungan terlarang dengan putra mantan suaminya, yang seketika kacau dan memicu kemarahan akibat kehadiran Lilo. Sementara itu, Sica yang dahulu ditelantarkan sang ibu kini menjalin kedekatan dengan teman masa kecilnya. Namun, kedatangan Rannu mulai mengusik ketenangan hidup Sica. Sebagai kelanjutan kisah generasi lalu, sanggupkah Jasmine dan Sica memilih jalan yang benar, atau justru kembali terperangkap dalam pusaran dilema serupa?
Sampul Novel SELAKSA KISAH ANAK MANUSIA
8.7
Temukan kumpulan cerita pendek pilihan dalam antologi ini yang siap mengisi waktu luang Anda. Menyajikan ragam kisah cinta modern yang sarat makna, tiap untaian kisahnya menyuguhkan bacaan ringan namun tetap mampu menyentuh perasaan. Karya ini menjadi rekomendasi bahan bacaan yang pas untuk melepas lelah, sembari menikmati liku-liku hubungan asmara manusia yang disajikan secara indah sekaligus penuh emosi.