APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel SUAMI GHAIB

SUAMI GHAIB

Kebiasaan malam Sinta mengundang perhatian genderuwo yang kemudian menyamar sebagai suaminya, Aldo, saat ia sedang dinas di luar kota. Terjebak dalam tipu daya mistis tersebut, Sinta menghadapi hubungan terlarang dan berbagai teror aneh yang mengancam keluarganya. Di tengah kekacauan ini, ia kesulitan membedakan kenyataan dan ilusi. Mampukah mereka selamat dari jerat makhluk halus tersebut, ataukah Sinta akan selamanya terperangkap?
Bab
Bagikan

Bab 1

Bab 1

Aldo menghentikan aktivitasnya dan menghempaskan tubuhnya di samping sang istri. "Sudah ya, Dek. Mas lelah," ucap Aldo dengan napas yang tersengal-sengal.

Sinta. Wanita muda yang baru berusia 27 tahun itu menghela napas dengan pasrah. Dengan wajah masam, dirinya menarik selimut bermotif bunga dan menutupi tubuhnya yang polos tanpa sehelai benang.

"Aku kan belum puas, Mas! Kamu sudah keluar saja!" sungutnya dengan kesal, lalu membalikkan badan memunggungi sang suami.

"Maafkan Mas, Dek. Waktu 20 menit untuk bercinta itu sudah cukup lama. Coba kamu membaca artikel dan internet tentang hubungan badan. Di sana tertulis bahwa waktu yang normal itu sekitar 5-8 menit," ucap Aldo memberi pengertian dan berusaha membujuk sang istri.

Setiap malam sehabis melakukan ritual suami istri, Aldo harus bersusah payah membujuk Sinta agar tidak marah karena belum puas dan tak ingin berhenti.

Mereka bukanlah pengantin baru. Aldo dan Sinta sudah berumah tangga selama 11 tahun. Memiliki seorang putra bernama Rafa yang baru berusia 9 tahun dan Sheila yang baru menginjak usia 7 tahun.

Mereka hidup di sebuah desa yang terdapat hutan besar yang masih asri dan banyak binatang buas. Di desa ini sudah masuk sinyal internet. Akan tetapi, terkadang sinyal itu kuat dan tak jarang pula tiba-tiba menghilang.

"Mau ke mana, Dek?" Aldo bertanya saat Sinta beranjak bangun dan melilitkan selimut ke badannya.

"Aku mau menuntaskan hasratku, Mas!" sahut Sinta dengan ketus.

"Jangan berbuat yang tidak-tidak. Aku sudah bilang hal-hal seperti itu adalah perbuatan yang tidak baik," ucap Aldo mencegah. Namun, Sinta sudah duduk di kursi panjang yang menghadap ke jendela.

"Besok pagi kita main lagi. Mas janji. Ayo kita tidur dan jangan lakukan itu." Suara Aldo terdengar pelan. Dirinya beranjak dan mengajak sang istri kembali ke ranjang.

"Aku tidak tahan menunggu sampai pagi. Aku tersiksa, Mas! Tidak bisa tidur dengan nyenyak." Sinta menyentak tangan Aldo dengan kasar.

"Aku mohon. Perbolehkan aku melakukan kesenangan sendiri seperti biasanya. Dari pada aku selingkuh, lebih baik aku bermain sendiri, bukan?" pinta Sinta dengan penuh permohonan.

Aldo akhirnya membiarkan sang istri melakukan kesenangannya. Dengan langkah gontai, dirinya berjalan menuju ranjang dan kembali membaringkan tubuhnya yang begitu lelah. Kerja di ladang seharian dan malamnya harus di peras lagi untuk memenuhi keinginan sang istri.

Sinta dahulu tidak seperti itu. Ini semua terjadi sejak 2 tahun belakangan. Mungkin istrinya mengalami puber kedua atau bagaimana, Aldo sendiri pun tak tahu. Tiba-tiba saja Sinta memiliki libido tinggi dan selalu merasa tidak puas dengan dirinya.

Aldo menutup wajahnya dengan bantal karena mendengar suara istrinya yang terdengar sampai ke telinganya.

Beberapa menit berlalu, Sinta selesai dengan aktivitasnya dan segera berbaring di samping Aldo.

"Belum tidur, Mas?" tanya Sinta saat mengetahui Aldo masih terjaga.

"Belum. Nungguin kamu, Dek. Jangan langsung tidur. Bersihkan dahulu tubuhmu dan segera pakai pakaianmu," perintah Aldo.

Sinta mendengus kesal. "Aku kehabisan tenaga, Mas. Tanganku pun juga capek. Lagian, tidak ada yang melihat." Sinta tak menggubris perintah sang suami dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. "Nah, sudah tertutup kan? Ya udah, aku mau tidur."

Aldo menggelengkan kepala melihat tingkah sang istri. "Selimutmu akan terlepas saat kamu tertidur nanti. Kita ini hidup berdampingan dengan mahluk gaib. Jadi, kita juga harus bisa menjaga tubuh kita, Dek. Cepat, pakai bajumu kembali."

Ucapan yang Aldo lontarkan tak mendapat respon apa-apa dari Sinta. Perempuan itu sudah tertidur.

....

Selimut yang menutupi badan polos Sinta tersingkap. Angin tiba-tiba tertiup dan membuatnya kedinginan. Dengan mata yang masih terpejam, Sinta menarik selimut itu untuk menutupi badannya kembali.

Seperti ada yang menarik, selimut itu kembali terlepas dari badan Sinta. Berkali-kali Sinta benarkan. Akan tetapi, kain itu terus saja tersingkap.

"Pakai selimutmu sendiri, Mas!" ucap Sinta dengan suara berat dan sedikit serak.

Lagi-lagi selimut itu kembali ditarik, sehingga tubuh polos itu kembali terlihat. Dengan kesal, Sinta terbangun dan mengucek matanya dengan pelan. "Kamu apa-apaan sih, Mas!"

Saat mata Sinta sudah terbuka, dia begitu terkejut karena tidak ada siapapun di sampingnya. "Mas ... Mas Aldo?"

Sinta meraih baju dan memakainya. Kemudian mencari suaminya ke dapur dan kamar mandi. Namun, ia tidak menemukan siapa-siapa. Sinta kembali ke depan dan menengok ke dalam kamar kedua anaknya, akan tetapi tak ada juga.

"Kamu kemana sih, Mas?" gumamnya pelan.

Sinta menuju ruang depan yang terdapat jam dinding di sana. "Baru jam 2 malam. Gak mungkin Mas Aldo pergi ke masjid."

Saat Sinta berbalik, dirinya sangat terkejut melihat suaminya tengah duduk di belakangnya. "Ya ampun, Mas! Kamu dari mana saja? Kenapa tiba-tiba ada di sana?"

Dengan kesal, Sinta terus menggerutu dan duduk di samping sang suami. Aldo hanya diam, tak ada senyum yang menghiasi wajahnya. Sinta menyentuh tangan Aldo. "Tanganmu dingin sekali. Kamu dari luar rumah?"

Aldo menganggukkan kepala dengan pelan. Tanpa berucap sepatah kata pun, Aldo melenggang pergi menuju kamar. Sinta yang masih terkejut dan juga bingung, lantas mengikuti langkah sang suami.

Saat tiba di ambang pintu, Sinta kembali dikejutkan dengan adanya Aldo yang berdiri di sana. "Ya ampun, Mas! Bisa tidak, jangan ngagetin aku?"

Aldo hanya menatap datar wajah Sinta. Setelah Sinta masuk, pintu kembali ditutup oleh Aldo.

"Aaaaaaa ...!"

Sinta memekik karena tubuhnya di angkat dan di gendong menuju ranjang. "Kamu mau ngapain, Mas?"

Tak ada jawaban dari mulut Aldo. Sinta tersenyum malu saat Aldo mencumbu dirinya dengan penuh semangat.

....

Pukul 03.30

Napas Sinta memburu dan tersengal-sengal. "Kamu minum apa, Mas? Tumben kuat banget. Malah aku yang kewalahan."

Sinta memeluk Aldo dengan erat. Dirinya sangat puas dengan performa suaminya itu. Tak seperti biasanya yang hanya mampu bertahan 20 menit. Sinta mengecup pipi Aldo yang terasa dingin.

"Sinta suka sekali." Sinta pun kembali terlelap di pelukan Aldo.

***

***

"Sudah jam berapa ini? Ayo, pulang."

Ardi mengeluarkan ponsel yang berada di saku miliknya. "Jam 4, Mas. Ayo!" sahut Ardi sembari berdiri dan menenteng ikan hasil memancing bersama sang kakak di pinggir sungai.

Aldo pun membereskan alat pancing. "Gak sia-sia kita mancing malam-malam." Dirinya tersenyum sumringah karena hasil memancingnya mendapat banyak ikan dan besar-besar.

Kakak beradik itu pun berjalan berdampingan. Aldo membawa alat pancing, sedangkan Ardi menenteng ikan dan di tangan kirinya membawa senter.

"Besok mancing lagi ya, Mas?"

"Jangan setiap hari. Mas harus ke ladang. Hari ini libur karena pemilik sawah pergi ke rumah saudaranya. Jadi, Mas bisa tidur dengan nyenyak."

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Ghost At School
9.0
Yui bersama sahabatnya berupaya menyelamatkan arwah-arwah yang terperangkap di area sekolah. Namun, sebuah petunjuk dari mimpi mengungkap kebenaran kelam bahwa korban perdana teror ini adalah teman dekat Yui. Investigasi mereka justru menyingkap rahasia keluarga, di mana salah satu anggota keluarga terbukti menjadi dalang demi membalas dendam masa lalu. Di bawah bayang-bayang ketakutan, sanggupkah mereka menghentikan kutukan tersebut?
Sampul Novel Pembalasan Atas Kekejaman Suamiku
8.7
Perubahan drastis sikap suami sejak masa kehamilan memasuki usia tujuh bulan menyisakan tanda tanya besar. Saat malam tiba, ia mendadak menjadi sosok yang sangat bergairah dan menuntut keintiman dalam kegelapan total. Meski membingungkan, perubahan tekniknya yang luar biasa justru membangkitkan hasrat sang istri hingga desahan mereka menggema di seluruh penjuru rumah setiap larut malam. Keanehan memuncak di siang hari, ketika sang suami kembali menjadi pria yang sangat sopan dan bahkan tidak berani menyentuhnya sama sekali.
Sampul Novel Rumah Nenek
8.1
Nenek menempati rumah murah nan nyaman yang ternyata menyimpan sejarah kelam. Di ruang bawah tanahnya, pernah terjadi aksi mutilasi dan pembantaian sadis. Arwah para korban kini bangkit menuntut balas, meneror setiap sudut hunian tersebut. Setiap malam, suasana mencekam mengunci rapat bangunan ini. Para penghuni pun terjebak dan harus berjuang bertahan hidup melawan ancaman gaib mematikan yang sebelumnya telah merenggut nyawa pemilik terdahulu.
Sampul Novel SUARA
9.6
Pasca-perceraian orang tua, Suara yang berumur 12 tahun terpaksa tinggal di rumah tua kosong saat ibunya bekerja. Di sana, ia terus menghadapi teror gaib ayah tirinya sekaligus gangguan makhluk halus tiap malam. Namun, aduannya justru terancam membuat sang ibu menganggapnya gila. Sejak kecil diikuti lelembut, kini Suara harus berjuang sendirian atau memercayai sosok pelindung tak kasat mata yang selama ini mendampinginya secara rahasia.
Sampul Novel Terlahir Kembali di Rahim Perundung
9.6
Setelah tewas akibat penyiksaan kejam, aku justru terbangun kembali dalam wujud seorang bayi yang baru lahir. Ironisnya, perempuan yang melahirkanku dan kini memelukku dengan hangat adalah sosok perundung yang dahulu merenggut nyawaku. Saat dia menyebutku sebagai anak yang baik, kemarahan dalam diriku langsung bergejolak. Aku menangis, meronta, dan mencoba menyerang matanya. Mulai detik ini, aku akan menggunakan identitas baru ini untuk melancarkan aksi balas dendam yang setimpal.
Sampul Novel The Devil
8.8
Trauma mendalam akibat kekejaman sang paman mendorong Alina mengambil keputusan ekstrem. Ia nekat menyerahkan seluruh hidupnya kepada Alardo, sesosok iblis mengerikan, demi mendapatkan perlindungan dan membalaskan dendamnya. Namun, kesepakatan gelap ini justru menjebak Alina dalam perasaan cinta terlarang pada sang iblis. Terseret kian jauh ke dalam kegelapan, akankah Alina mampu menemukan jalan keluar, atau justru hancur selamanya dalam jerat asmara yang mematikan?