APKDock Logo
Sampul Novel Suami Bayaran

Suami Bayaran

9.3 / 10.0
Indra berkesempatan meraih kekayaan melimpah dan kekuasaan instan secara cuma-cuma. Namun, ada harga mahal yang harus dibayar demi semua kemewahan itu. Ia diwajibkan menikahi seorang wanita, sekaligus menjadi sosok ayah bagi bayi yang bukan anak kandungnya. Di tengah limpahan materi dan tanggung jawab baru yang begitu besar, mampukah Indra bertahan menjalani pernikahan penuh kepura-puraan dan rahasia ini demi imbalan yang luar biasa?

Suami Bayaran Bab 1

"Astaga!!"

Dinda terperanjat sembari menutup mulutnya dengan menggunakan sebelah tangan, melihat sebuah benda pipih kecil yang menunjukkan dua garis merah di tangannya. Wanita itu benar-benar dibuat terkejut hingga tak bisa mengeluarkan sepatah katapun dari dalam mulutnya.

Perlahan, kedua matanya berkaca-kaca seakan-akan tak mampu membendungnya lagi.

"A-aku ... hamil???"

Ya! Awalnya ia benar-benar tak menyangka jika gejala yang ia alami akhir-akhir ini ternyata bukan gejala yang biasa. Pusing serta sering merasa lelah yang menyerangnya merupakan salah satu pertanda bahwa ada sesuatu yang tengah bersemayam di dalam perutnya.

Dinda terdiam untuk sesaat, lalu memandangi dirinya di dalam cermin kamar mandi itu.

"Aku hamil anakmu, Kevin?"

Wanita itu terdiam cukup lama, mengingat semua hal manis yang ia lakukan bersama kekasihnya. Ya! Teramat manis hingga ia lupa diri dan terlena sampai akhirnya terhanyut dalam sungai asmara yang menyebabkan dirinya seperti saat ini.

Dinda tak bisa begini sendiri, ia tidak bisa diam saja hingga semuanya terlambat. Lalu dengan satu gerakkan ia berdiri tegap dan kembali menghadap cermin.

"Aku harus bilang pada Kevin! Dia harus tahu kalau aku hamil anaknya."

Tok ... tok ... tok!

Suara ketukkan pintu itu lantas terdengar hingga ke dalam kamar mandi hingga mengejutkannya dan bahkan membuyarkan lamunannya. Dinda lekas mengerjapkan matanya dan berusaha menguasai diri, tak lupa pula menyeka genangan air mata yang hampir mentes.

"Dinda? Kamu sudah bangun? Ini sudah siang, Nak. Kamu gak akan masuk kerja?"

Terdengar suara bariton dari balik pintu tersebut, suara yang mampu membuat Dinda merasa sedih dan rasa bersalahnyapun tiba-tiba muncul begitu saja.

"I-iya, Pah! Dinda bentar lagi turun ... ini baru selesai mandi," teriaknya dari dalam kamar mandi.

"Baiklah, Papa tunggu di bawah, ya! Kita sarapan bareng."

Dind kembali terdiam dan menarik napas panjangnya, memejamkan mata sembari berpangku tangan pada wastafel di depannya.

"Tenang, Dinda. Kamu hanya harus bilang pada Anton agar dia mau tanggung jawab dan semua akan baik-baik saja," gumamnya penuh percaga diri.

***

"Ah! Sudah setengah jam tapi Dinda belum juga turun, apa dia baik-baik saja?" gumam Anggoro yang sejak tadi tak berhenti melihat jam dan bergantian melihat ke arah tangga rumahnya yang masih saja tak menampakkan sosok putri semata wayangnya.

Bagaimana tidak? Pagi ini berjalan tidak seperti biasanya, bahkan Dinda selalu tiba lebih dulu di ruang makan sebelum dirinya. Hal yang terus membuat kecemasan Anggoro bertambah saat ia mengecek langsung ke lantai atas tepat dimana kamar putrinya berada.

"Tadi suaranya memang terdengar sedikit serak," gumamnya lagi dengan terus mengira-ngira, "Haruskah kupastikan lagi?"

Belum sempat lelaki paruh baya itu bangkit dari duduknya, tiba-tiba gerakkannya terhenti saat seseorang mulai turun dari tangga lalu menyapanya.

"Pagi, Papa! Maaf aku bangun kesiangan, jadi-"

"Kamu tidak apa-apa?"

"Hmm?" Dinda mengerutkan keningnya pertanda heran.

Tetapi Anggoro, dengan sedikit terbata-bata kembali bertanya, "Papa sedikit cemas, apa kamu tidak enak badan?"

"Ah! A-aku gak apa-apa, Pa. Cuma bangun kesiangan aja, kok."

Anggoro masih terdiam dengan terus meneliti wajah anaknya yang terlihat sedikit berbeda.

"Kamu yakin? Dengan wajah pucatmu?"

Dinda terkesiap! Apakah ia lupa memakai lipstick? Ah tidak! Apakah lipstick yang ia gunakan kurang mencolok hingga wajahnya terlihat pucat seperti apa yang dikatakan ayahnya?

"Sial! Apa ini karena perutku yang agak mual!?" batinnya menerka-nerka.

Wanita itu berusaha menguasai diri dan lekas mengambil tempat duduk dengan berusaha pula terlihat berseri-seri.

"Masa sih?? Aku baik-baik aja, Pah. Mungkin karena aku dandan buru-buru jadi begini," jelasnya berusaha tetap tenang.

"Baiklah kalau begitu, tapi kalau kamu merasa gak enak badan jangan memaksakan diri ... izin absen saja dan istirahat yang banyak."

Dinda mengangguk cepat dan menjawab, "Siap, Boss!" Sembari menempelkan tangannya ada kening seolah memberi hormat.

Anggoro terkekeh sembari menggeleng-gelengkan kepalanya dan kembali berkata, "Ya sudah, ayo sarapan dulu!"

Dinda hanya tersenyum seraya mengembuskan napas leganya, "Fyuh ... syukurlah Papa gak curiga," gumamnya dalam hati.

Betapa tidak? Beberapa menit yang ia lewati terasa begitu tegang bagaikan mengikuti interview di perusahaan ternama, namun kali ini jauh ledih besar dari yang ia bayangkan karena jika Dinda salah berucap ... bisa-bisa ayahnya akan mengetahui hal yang sebenarnya.

Keduanya lantas melanjutkan santap sarapan bersama hingga selesai dan berangkat ke Kantor bersama dengan menggunakan mobil pribadi Anggoro.

Akan tetapi, siapa yang akan menyangka jika di tengah-tengah perjalanan tersebut rasa mual di perut Dinda kembali menyerang secara tiba-tiba? Wanita itu kini meboleh ke arah jendela berusaha menyembunyikan dan menahan rasa mual, namun sialnya jalanan pagi ini justru terlihat padat hingga terjadi kemacetan.

"Haduh! Macet lagi ... macet lagi," gerutu Narno, sang sopir pribadi keluarga Anggoro.

Anggoro yang duduk di samping sopir pun ikut geram dan berdecih, "Tidak ada jalan lain, Pak? Kita harus tiba di Kantor segera karena saya ada meeting."

Narno pun terdiam sesaat berusaha mengingat-ngingat jika ada alternatif jalan lain di sekitar tempat itu namun kali ini ia terlihat bingung hingga akhirnya menjawab, "Sepertinya tidak ada, Pak."

Situasipun berubah genting! Terlebih dengan keadaan Dinda yang duduk di jok bagian belakang dan tengah menahan rasa mual yang semakin membesar. Ya! Selain menahan rasa mual itu, Dinda harus tetap bersikp seperti biasa di depan kedua lelaki di depannya meski rasanya begitu sulit.

"Astaga ... mimpi apa aku semalam!? Rasanya aku mau mati!" batinnya.

Setelah terjebak kemacetan beberapa menit, mereka akhirnya keluar dari situasi yang tak mengenakkan itu dan tiba di Perusahaan besar milik Anggoro yang sudah puluhan tahun berdiri.

Dinda yang turun dengan terburu-buru itupun membuat ayahnya heran sembaru mengernyitkan keningnya, "Kamu kenapa lagi, Dinda?"

"A-ah! A-aku kayaknya masuk duluan, Pah. Mau ke Toilet dulu, bye!"

Dengan langkah tertatih-tatih wanita itu berjalan cepat meninggalkan Anggoro yang masih berdiri di samping mobilnya seraya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah sang putri tanpa merasa curiga sedikitpun.

***

Hoek!

Hoek!

Entah berapa kali Dinda terus memuntahkan makanan yang baru saja ia makan di rumah, perutnya benar-benar tak bisa diajak berkompromi lagi hingga wanita itu merasa lemas dan bersandar pada dinding toilet yang untung saja tidak ada orang lain di dalamnya.

Dengan napas terengah-engah Dinda memejamkan matanya merasakan ketidak nyamanan dalam perutnya.

"Aku harus gimana lagi? Masa iya harus absen dari Kantor!? Nanti Papa malah curiga," gumamnya merasa bingung.

Sorot matanya tiba-tiba membulat dan ia pun lekas bangkit dari sandaran dinding itu lalu mengeluarkan ponsel miliknya dari dalam tas.

"Aku harus ketemu Kevin dan ngasih tahu kalo aku lagi hamil!" gumamnya lagi dengan jari-jemari yang sibuk mencari nomor kontak sang kekasih.

Akan tetapi, setelah beberapa detik berlalu sambungan teleponnyapun belum kunjung terhubung, hanya suara bagai klakson kereta api yang ia dengar.

Lanjut Membaca

Daftar Isi Suami Bayaran

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel Do Not Love Me
9.4
Kehidupan sekolah baru Kayla Prawijaya terusik sejak kehadiran murid pindahan asal Singapura, Mexsi Megantara. Kayla bingung mengapa Mexsi sangat membencinya sejak awal bertemu. Namun, tabir rahasia terbuka saat terungkap bahwa mendiang kakak Mexsi merupakan cinta pertama Kayla. Kebencian Mexsi pun luluh menjadi cinta setelah tahu Kayla berjuang melawan kanker darah. Kini, sanggupkah Mexsi tetap bertahan mendampingi gadis itu melewati ujian hidup yang begitu memilukan?
Sampul Novel Dulu Istri Bodoh, Sekarang Obsesi Abadi
8.0
Tiga tahun Cathryn bertahan dalam pernikahan dingin demi Liam, sebelum dikhianati bersama adik tirinya saat sang ibu tiada. Muak, ia memilih cerai meski dicibir. Tak disangka, Liam menyesal dan bersujud memohon di bawah hujan agar kembali. Namun, desas-desus rujuk itu diabaikan Cathryn. Kini, seorang taipan kuat berdiri di sisinya, siap melindungi istri tercintanya dan menghancurkan siapa saja yang berani mengusiknya.
Sampul Novel Gadis Milik Tentara Arogan
9.3
Akibat pandemi global, Amore Acresia terpaksa menyudahi studinya di Los Angeles dan kembali ke Kudus. Sialnya, kepulangan Acre justru membawa petaka saat mobilnya tidak sengaja menabrak seorang tentara arogan bernama Alexander Yudha yang tengah bertugas. Insiden itu menghancurkan ponsel Alex hingga terlindas ban mobil, memicu kemarahan sang prajurit yang menuntut ganti rugi penuh. Perselisihan tajam ini perlahan berubah menjadi benih cinta, sebelum akhirnya tugas negara memisahkan mereka.
Sampul Novel Stay With Me (Gaza dan Clara)
9.5
Pernikahan paksa akibat insiden tak terduga menyatukan Gaza dan Clara dalam ikatan tanpa cinta. Seiring waktu, rasa terpaksa itu terkikis saat mereka menyadari perasaan tulus yang rupanya telah lama terpendam. Namun, kebahagiaan mereka langsung diuji begitu pengakuan cinta terucap. Berbagai rintangan berat kini datang bertubi-tubi mengancam komitmen baru mereka. Mampukah hubungan yang berawal dari ketidaksengajaan ini bertahan melewati badai ujian?
Sampul Novel Surat Dari Venus
7.8
Menghadapi trauma PTSD di tengah lingkungan sosial yang kian toksik membuat hidup Ran terasa berat. Namun, harapan baru muncul saat ia menemukan kehangatan keluarga bersama Nenek Mariyati, Sunny, dan Kinan. Kehadiran mereka perlahan menyembuhkan luka batinnya. Melalui sosok bernama Venus, Ran akhirnya belajar memahami arti cinta sejati. Di balik masa lalu yang kelam, ia kini menemukan setitik cahaya untuk bangkit dan menata kembali masa depannya.
Sampul Novel Terjebak Cinta Tuan Arogan
9.6
Saat berusaha kabur, takdir membawa Maureen bertemu Max. Meski dikenal sebagai pebisnis dingin yang sulit didekati, daya tarik Maureen sanggup meruntuhkan pertahanan Max. Pertemuan tak terduga ini menjebak Maureen dalam hubungan dengan pria arogan yang punya cara unik dalam mencintai. Kehadiran Max yang sangat mendominasi pun seketika mengubah seluruh kehidupan Maureen untuk selamanya, mengikatnya dalam jerat asmara yang tak terelakkan.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan