APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Strawberry Shopaholic

Strawberry Shopaholic

Xenia Gentarini adalah putri tunggal konglomerat yang baru menyelesaikan studinya di Australia. Di balik kecerdasannya sebagai sekretaris di perusahaan sang kakak, ia memiliki kebiasaan buruk: kecanduan berbelanja barang mewah. Namun, hidup Xenia berubah total setelah ia jatuh cinta pada seorang pemuda sederhana. Demi memenangkan hati pria tersebut, gadis cantik ini bertekad melepaskan segala kemewahannya dan belajar menjalani kehidupan yang jauh lebih bersahaja.
Bab
Bagikan

Bab 1

Xenia Gentarini. Sebut saja seorang gadis dengan rambut ikal pirang sebahu tersebut. Badannya yang ramping berjalan dengan tegap. Suara derap langkah sepatu stilettonya terdengar bernada di telinga.

Dia tampak santai berjalan di tengah-tengah kerumunan orang-orang. Terlihat tidak sabaran saat dihadapkan pada antrean sebuah toko perhiasan.

Xenia langsung menyerobot masuk begitu saja. Perilaku tercelanya telah banyak diketahui orang. Sehingga sudah biasa baginya untuk dikomentari orang banyak, terutama jika sedang berbelanja seperti ini.

"Hei, Xenia! Tolong jaga sikap kamu!"

Sebuah tangan tiba-tiba mencekal tangan Xenia. Menyebabkan Xenia harus beringsut menghadapkan tubuhnya pada tangan yang telah menariknya. Xenia mengerutkan kening begitu tahu siapa yang telah menariknya.

"Aduh. Apa-apaan ini. Lepaskan aku, Juan!" kata Xenia.

"Lepaskan, lepaskan. Enak saja kalau bicara," kata pria yang mencengkram tangan Xenia.

Diketahui bila pria itu adalah teman baik dari Xenia Gentarini. Namanya adalah Juan Tigor. Panggil saja Juan. Sejak dulu Juan memang tidak suka dengan kelakuan Xenia yang sering seenaknya.

Namun apa boleh buat, Xenia juga adalah sahabatnya. Mana bisa dia membenci kelakukan sahabatnya sendiri.

"Juan! Sakit. Lepaskan aku," kata Xenia memohon.

Dia memberot dan minta untuk dilepaskan tangannya oleh Juan. Tidak kalah sengitnya, Juan masih menggenggam tangan Xenia dengan kuat. Hal itu membuat Xenia meronta dan merengek agar dilepaskan.

"Juan! Aku mohon. Aku mau belanja. Jangan ganggu aku," kata Xenia.

Tak lama kemudian, Xenia mencemberutkan mukanya. Setetes air mata bening jatuh dari sudut mata kirinya. Tak dapat dipungkiri lagi bahwa itu adalah air mata buaya yang sering Xenia teteskan untuk merayu Juan.

"Aku mohon. Jangan halangi aku," kata Xenia memelas.

Juan langsung menengok ke arah sekitar. Dia merasa malu karena dilihat oleh banyak orang. Juan segera melepaskan genggaman tangannya. Xenia bisa bernapas lega sekarang.

Tanpa banyak bicara lagi, Xenia langsung membalikkan tubuhnya. Dia ngeloyor pergi begitu saja. Suara derap sepatu stilettonya terdengar menggema di ruangan.

Hal itu membuat Juan menggelengkan kepala. Dia memegangi kepalanya yang tidak sakit. Dia merasa malu karena kelakuan Xenia.

Jika bukan karena Xenia adalah temannya, mungkin Juan tidak akan mau menemani Xenia berbelanja. Juan merasa bodoh karena mau menerima ajakan Xenia untuk menemaninya berbelanja.

Xenia telah berada jauh di depan. Dia tampak asyik melihat-lihat deretan perhiasan di meja kaca. Tak lama kemudian, Xenia memanggil salah seorang pelayan. Terjadi cengkrama di antara mereka.

Merasa penasaran, Juan langsung berjalan mendekati Xenia. Juan beberapa kali melewati orang yang mendesuskan kelakuan Xenia. Mereka tampak kasak-kusuk membahas sikap Xenia yang tampak sok kaya.

Aduh. Ini anak bikin malu saja. Batin Juan.

Juan masih terus berjalan hingga akhirnya sampai di dekat Xenia. Juan memperhatikan wajah Xenia yang terlihat ceria. Matanya berbinar dengan cerah.

"Ada apa kamu melihatku seperti itu," kata Xenia galak.

"Buset. Galak banget," kata Juan.

Xenia hanya tersenyum miring begitu mendengar perkataan Juan. Dia merasa senang dan puas karena bisa menang dari Juan. Xenia seperti mendapatkan angin sekarang.

"Oh iya. Kalau sudah tidak mau menemani, kamu boleh pulang sekarang," kata Xenia seenaknya.

Juan langsung menepuk dahi Xenia dengan keras. Seketika itu juga Xenia langsung mengerang kesakitan.

"Nyuruh orang pulang seenak jidat. Tadi siapa yang suruh temani ke sini," kata Juan marah.

"Oh iya. Aku lupa kalau aku yang menyuruh kamu ke sini," kata Xenia sambil mengusap-usap dahinya yang ditepuk oleh Juan.

"Permisi, Nyonya. Ini barang yang Nyonya pesan," kata pelayan wanita.

Pelayan wanita itu datang sambil membawa sekotak perhiasan berwarna merah. Pelayan wanita tersebut langsung menyodorkan kotak merah kepada Xenia.

"Nyonya, nyonya. Saya masih muda. Umur saya masih dua puluh lima tahun. Panggil saya Nona," kata Xenia marah.

"Maaf, Nona," kata pelayan wanita tersebut.

Xenia langsung menerima kotak merah yang disodorkan oleh pelayan wanita tersebut. Xenia segera membuka kotak dan melihat isinya. Tak lama kemudian, Xenia langsung tersenyum puas.

"Saya bayar cash aja," kata Xenia.

"Baik, Nona. Silakan pergi ke kasir," kata pelayan wanita tersebut masih dengan sabar dan keramahan yang luar biasa.

Xenia langsung berjalan menuju ke kasir. Selang tak lama kemudian, kakinya terkilir. Dia hampir jatuh ke bawah, untung saja Juan segera menahan tangannya. Dia memegangi tubuh Xenia agar tidak terjungkal.

"Makanya kalau jalan hati-hati," kata Juan.

"Iya. Ini juga sudah hati-hati. Salah lantainya yang licin," kata Xenia.

Dia kemudian bergegas bangkit berdiri. Xenia menatap ke arah wajah Juan yang sedang menahan tawa sekaligus prihatin pada Xenia.

"Kamu yang salah kok lantainya yang disalahkan," kata Juan.

"Sudahlah. Jangan membantah," kata Xenia.

Xenia lalu mengalihkan pandangannya ke arah kasir. Pelayan wanita yang membawa kotak merah pesanannya sudah berada di sana.

"Kamu tunggu di sini. Nanti kita ke kafe bareng. Ada banyak yang mau aku omongin sama kamu," kata Xenia sambil menunjuk tepat ke arah muka Juan.

"Baiklah. Baiklah. Awas jatuh lagi. Jalannya pelan-pelan saja," kata Juan.

"It's okey!" balas Xenia.

Xenia langsung bergegas. Dia melangkahkan kaki menuju ke kasir. Dia langsung membayar semua harga yang ditawarkan oleh kasir secara tunai.

Xenia tidak merasa menyesal karena menghabiskan banyak uang. Dia malah terlihat puas sekali bisa membeli perhiasan sore ini. Xenia memperhatikan ke arah para pelayan yang tengah mengurusi pesanannya.

Kotak merah berisi perhiasan tersebut langsung dimasukkan ke dalam kantung belanja. Setelah itu, kantung belanja tersebut diberikan kepada Xenia. Xenia dengan senang hati menerimanya.

"Terima kasih sudah berbelanja di sini," kata pelayan kasir.

"Sama-sama," kata Xenia.

Xenia kemudian membalikkan badannya. Dia mencari sosok Juan. Namun tidak dia temukan. Rupanya Juan membandel. Dia tidak menunggu di tempat semula.

Melihat kejadian tersebut, Xenia langsung berdecak. Dia sebal karena Juan sekarang jadi seenaknya. Xenia memutuskan untuk mencari keberadaan Juan.

Setelah lama mencari, namun Xenia tidak jua menemukan Juan. Dia mengembuskan napas. Dia lalu merogoh dompet dan mendapati ponselnya.

Dia segera mengoperasikan ponselnya dan mencari nomor telepon Juan. Setelah ketemu, dia langsung memencetnya. Dia menempelkan ponsel ke telinganya. Terdengar nada sambung.

Xenia menunggu sampai nada sambung tersebut diangkat oleh Juan. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Juan memutus sambungan telepon tersebut.

Jangan ditanya lagi. Luar biasanya Xenia marah. Xenia kesal. Dia memaki dalam hati. Dia langsung pulang begitu saja. Dia menuruni lift dan bergegas keluar dari dalam mall.

Dalam hati dia keki sekali. Dia hanya belanja satu perhiasan. Padahal dia sudah menghabiskan waktu dua jam untuk berdandan meski dandanannya tidak heboh.

Bagi seorang Xenia, persiapan dan hasilnya tidak berjalan seimbang. Dia merasa kurang untuk berbelanja. Hasratnya masih belum terpuaskan. Namun moodnya berkata lain. Suasana pun tidak mendukung.

Xenia menatap ke arah langit. Langit sore kali ini sudah gelap. Sepertinya mendung. Xenia menghela napas. Dia berjalan menuju ke arah mobil dan segera masuk ke dalam. Dia berhenti sejenak di dalam mobil. Dia menghela napas panjang dan lalu melajukan mobilnya menuju ke arah kafe.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Gairah Pelarian Cinta
8.3
Di tengah keheningan yang menyelimuti, Cinta dan Robi saling berpandangan. Ketegangan di antara mereka mencapai puncak ketika Robi membalikkan tubuh Cinta hingga berada di posisi missionary. Dengan tatapan penuh permintaan, Robi menunggu persetujuan Cinta yang hanya mampu berbisik pelan. Perlahan, Robi menuntun kehormatannya memasuki tubuh Cinta, menembus selaput darah yang menjadi simbol penyerahan diri seutuhnya. Rasa sakit yang menusuk dijawab oleh belaian lembut dan ciuman hangat di kening. Cinta pasrah, menyerahkan segalanya pada lelaki yang telah merebut hatinya.
Sampul Novel Jaring Kebohongan Suami Miliarderku
9.6
Menjadi istri Kian, miliarder teknologi, aku selalu menjadi penenang baginya. Namun, ia tega mengalihkan dana medis adikku demi kucing selingkuhannya. Saat kecelakaan merenggut nyawa adikku, Kian mengabaikan lukaku demi wanita itu. Saat ingin bercerai, aku baru tahu pernikahan kami palsu. Demi membalas dendam dan menghancurkan Kian, aku menghubungi pria dari masa laluku.
Sampul Novel Perjalanan Cinta Yang Sia-Sia
8.6
Pernikahan lima tahun Hosana dan Jack diuji saat Jack meminta pindah ke luar negeri bersama Luna untuk ketiga kalinya. Jack mengaku bahwa Luna, tetangga sebelah mereka, telah menemaninya selama sembilan tahun. Tanpa air mata, Hosana justru membantu membelikan tiket pesawat untuk Luna. Mengira istrinya pasrah, Jack pergi bersama Luna. Namun di bandara, setelah mengantar mereka, Hosana memilih menaiki pesawat berbeda untuk pulang selamanya ke rumah orang tuanya.
Sampul Novel Rindu di Tahun 1992
9.7
Di Bandung tahun 1992, Alya yang berotak encer terpikat oleh kehadiran Reza, siswa baru yang penuh teka-teki. Kedekatan mereka yang awalnya kaku perlahan berubah menjadi asmara. Sayangnya, jalinan kasih ini menghadapi cobaan berat saat Lina, sahabat Alya, ternyata juga menyukai Reza. Di tengah ujian kesetiaan persahabatan tersebut, Alya pun didera tekanan dari tuntutan tinggi keluarganya. Kini, ia harus memilih antara mengejar cita-cita atau mempertahankan cintanya.
Sampul Novel Status WA Mantan Suami
8.0
Hana terus didera penderitaan akibat ulah kejam suaminya. Alih-alih tenang, perceraian justru membawa ancaman baru saat Ari bertekad bulat menghancurkan hidupnya. Di tengah situasi pelik ini, kecurigaan muncul tentang keterlibatan Risa. Kini, Hana harus bertahan dari dendam membara sang mantan suami, sembari berjuang membongkar rahasia kelam yang menyelimuti hubungan misterius antara Ari dan Risa.
Sampul Novel Suami Selingkuh CEO
9.2
Pernikahan perjodohanku dengan seorang dokter tidak seindah impian. Sejak malam pertama yang dingin, aku harus menelan pil pahit saat menemukan foto wanita lain di ponselnya. Meski terus diabaikan dan dikhianati demi selingkuhannya, perasaan bodoh ini sulit hilang. Kini, aku berada di persimpangan jalan yang menyiksa: terus bertahan memaafkan kekejamannya, atau memilih pergi demi menyelamatkan harga diriku yang tersisa melalui perceraian.