APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Stempel Miskin untuk Keluargaku

Stempel Miskin untuk Keluargaku

Kembali ke rumah setelah empat tahun merantau, aku mendapati keluargaku menjadi bahan gunjingan dan dicap miskin oleh tetangga serta kerabat akibat jeratan utang. Namun, tidak ada yang tahu bahwa bapak sebenarnya memiliki sebidang tanah rahasia. Berbekal kejujuran dan keteguhan hati, aku kini bertekad penuh untuk memulihkan kehormatan keluarga kami serta membuktikan pada mereka yang telah meremehkan bahwa kami tidak layak dipandang sebelah mata.
Bab
Bagikan

Bab 2

"Berapa hutang Emak saya, Mbok? Saya bayar lunas semuanya," ujarku tegas. 

Mbok Inah sama terkejutnya dengan emak. Raut wajah mbok Inah segera berubah masam, diraihnya buku kecil yang ada di meja dapurnya dengan kasar. Usia mbok Inah lebih muda dari emak, tetapi entah mengapa tidak ada hormatnya sedikitpun dengan bapak dan emak. Padahal, usia anaknya juga masih tingkat sekolah dasar. 

"Owh, jadi anak kebanggaanmu udah pulang, toh," ujarnya sarkas.

"Maaf, Mbok, berapa hutang Emak semuanya?" ucapku kembali lembut. Emak menggenggam tanganku seraya menepuk pelan tanganku, mengisyaratkan agar aku tidak emosi. 

"Dua ratus lima puluh ribu," Mbok Inah menatapku jengah. 

"Emak mau belanja apa lagi?" kutarik lengan Emak lembut, dan menuntunnya ke depan. 

"Emak cuma mau beli minyak sama gula aja, Nduk," 

Padahal aku tahu, emak bukan belanja bahan itu saja, melainkan juga ayam dan bumbu dapur lainnya. Sempat terdengar sebelumnya, emak meminta itu sebelum aku memergoki emak menangis. 

"Mbok, tolong juga dihitung, ayam setengah kilo, gula dan minyak juga satu kilo, ya," ucapku, seraya tanganku sibuk menumpuk barang-barang lainnya. 

Mbok Inah bergegas merapikan barang belanjaanku, tak lupa mulutnya ikut komat kamit seakan tidak suka. 

"Yang ini dibayar kok, Mbok. Jadi gak usah masam gitu, mukanya," Ibu mengedipkan matanya, tanda tak suka akan ucapanku. 

"Totalnya sembilan puluh tiga ribu, ditambah hu … tang," Mbok Inah menekankan kata hutang dengan tegas. 

"Jadi, semuanya tiga ratus empat puluh tiga ribu," jemarinya sibuk menekan kalkulator mininya. 

Kuambil dompet yang ada di saku gamisku, menyerahkan uang lima puluh ribuan sebanyak tujuh lembar dan menyerahkannya ke mbok Inah. 

Mbok Inah sedikit terkejut, tetapi dengan cepat menguasai kembali keadaanya. 

"Nih, kembaliannya," 

"Terimakasih, Mbok," ucap emak seraya mengangkat satu kantong belanjaan. 

"Ya, besok-besok jangan ngutang lagi. Kan si miskin udah jadi kaya," ucapnya pelan, tetapi masih terdengar ditelingaku dan emak. 

Mulutku baru mangap ketika emak sudah menarik paksa untuk keluar dari kedai Mbok Inah. 

"Sudah, jangan dilayani, gak enak nantinya. Emak kalau belanja cuma kesana. Karena itu yang terdekat, Nduk," 

"Iya, Mak. Tapi kan seharusnya mbok Inah mulutnya jangan lemes," memonyongkan bibirku, tanda tidak setuju dengan perkataan emak. 

"Mak, apa uang yang dikirim bang Ilham tidak cukup?" tanyaku 

Mendadak emak menghentikan langkahnya, dan memandang lekat. Ada air mata yang tertahan di sudut mata emak. 

"Besok-besok, Emak cerita ya, Nduk. Sekarang kita masak dulu, kamu juga pasti sudah lapar dan butuh istirahat," ujar emak seraya melangkahkan kakinya kembali. 

Ternyata banyak rahasia yang harus ku ungkap. Empat tahun bukanlah waktu yang singkat. Ah, sejenak akan kulupakan dulu hal tersebut, sekarang waktunya makan enak dan istirahat. 

***

Adzan maghrib telah berkumandang, bapak dan Taufik sudah berangkat ke masjid sejak tadi. Indahnya kampungku, tidak ada suara kendaraan yang berlalu lalang. Berbeda dengan di kota, kendaraan yang sibuk hilir mudik, menandakan waktunya untuk pulang setelah selesai mencari nafkah. 

Emak meraih mushaf yang sedikit usang, dibacanya pelan. Terdengar suara bapak dan Taufik diluar rumah. 

"Assalamu'alaikum," ucap kedua lelaki tersebut bersamaan. 

" Waalaikumsalam," 

"Sudah shalat, nduk?" tanya bapak. 

"Lagi izin, Pak." jawabku. Begitulah kebiasaan bapak, pasti selalu mengabsen anak-anaknya, apakah sudah shalat atau belum. 

'Bapak bukan tidak percaya, tetapi setan banyak tipu muslihatnya. Jadi, Bapak hanya mengingatkan saja. Karena terkadang ada orang yang sudah dengar adzan, tetapi berat untuk melaksanakannya.' Kalimat itu kembali terngiang ditelingaku. 

"Pak, hutang di kedai Mbok Inah, alhamdulillah sudah lunas. Tadi Nia sudah membayarnya," ujar emak seraya menutup mushaf ditangannya. 

"Lah, kok?" 

"Iya, Pak. Alhamdulillah," kulirik Taufik yang tengah makan menghentikan suap nya. 

"Dengan bunganya juga, Kak?" sahut Taufik. 

"Bunga? Maksudnya, Fik?" 

"Hutang Emak, kan, cuma tujuh puluh ribu. Tapi kalau di kedai mbok Inah bisa jadi tujuh ratus ribu," 

"Astagfirullah, benar, Mak?" 

Emak mengangguk lemah dan Bapak terlihat menerawang jauh ke arah pintu rumah. Emak mulai bercerita, kalau kas bon di kedai mbok Inah maka akan ditambah dengan persen bunga per hari dari jadwal pembayaran yang telah ditentukan. Maka apabila telat sehari membayar, maka akan bertambah pula catatan hutangnya. Apakah mbok Inah tidak tahu, bahwa itu adalah riba dan Allah sangat membenci perbuatan tersebut. 

"Pak, Nia mau tanya, apakah uang yang dikirim bang Ilham selama ini, tidak cukup untuk Bapak dan Emak," tanyaku pelan. Kulangkahkan kakiku menuju kursi bapak, ku genggam tangannya hangat. 

Semua terdiam, tidak ada yang terdengar terkecuali suara jangkrik yang bersahutan diluar rumah. 

"Mak?" kualihkan pertanyaanku kepada emak. 

"Nanti juga kamu akan tau, Nduk." Hanya itu jawaban Bapak dan aku paham bahwa ini bukan saat yang tepat untuk mendapatkan jawabannya. 

*** 

Mentari bersinar terik pagi ini, waktu masih menunjukkan pukul sembilan lewat sepuluh menit. Bapak dan Taufik sudah pergi setelah subuh, ke kebun yang ada di kampung sebelah. Emak tengah sibuk di halaman belakang memetik sayuran yang telah ditanamnya. 

Drrt

Drrt 

Terdengar pesan masuk ke telepon genggamku, yang ada di meja dapur. 

[Nia, besok kamu sudah bisa datang ke sekolah ya. Tepat pukul delapan, jangan telat], rupanya Intan yang mengirim pesan. 

[Beres, bu bos] balasku. 

Akhirnya, setelah dua hari menunggu kabar, Intan, teman kecilku dan juga tenaga pengajar di sekolah dasar tempat pengajuan kerjaku memberi kabar. 

"Nia, kapan kamu mulai mengajar?" Emak sudah berdiri di hadapanku. 

"Alhamdulillah, Mak. Intan baru kasih kabar, kalau besok, Nia sudah bisa datang ke sekolah," 

"Alhamdulillah, berarti besok kamu diantar bapak, ya." 

"Loh, bapak gak ke kebun, Mak?" 

Sekolah dan kebun berbeda arah, sekolah yang ku tuju berada di kampung Cemara, sedangkan kebun berada di arah sebaliknya, yaitu di kampung Padi.

"Bapakmu ada urusan di kantor camat," ucap emak ragu. 

"Oh, yowes. Besok aku sama Intan aja, Mak!" Emak tak menanggapi lagi jawabanku, seakan setuju akan keinginanku. 

"Mak, aku ke kedai mbok Inah dulu, ya. Mau beli ***balut," 

"Hati-hati, awas jangan lemes mulutnya," ujar emak seraya terkekeh lucu.  

****

Kedai mbok Inah terlihat ramai oleh ibu-ibu. Wajar bila waktunya mereka belanja untuk keperluan makan siang. Kulihat ada mbah Sarmi, mbak Risa dan mbak Atun, sedangkan yang lainnya tidak ku kenal. 

"Assalamu'alaikum," 

"Waalaikumsalam," ucap mereka serentak, seperti koor paduan suara. 

Mbak Risa memperhatikanku dari ujung kaki sampai ujung kepala, dahinya berkerut menandakan sedang berpikir. 

"Gak usah banyak mikir, itu si miskin yang jadi kaya, Nia, anaknya Arman," mbok Inah tiba tiba muncul dari samping kedainya. 

Andaikan tidak ingat perkataan emak, mungkin sudah ku segel mulut mbok Inah. 

"Wah, Nia. Makin cantik aja," mbah Sarmi menghampiriku, kusalami wanita berkerudung warna maroon itu. 

"Mau ngutang lagi?" Masih dengan ketusnya, mbok Inah terus saja memancing emosiku. Ibu-ibu yang lain mencoba terlihat sibuk dengan memilih bahan belanjaan, mulut mereka juga sibuk berbisik-bisik sambil melirik ku. 

"Gak kok, mbok. Cuma mau beli ***balut, yang merk ***** ada, Mbok?" Merk yang kusebutkan memang sedikit mahal dari lainnya. Bukan karena harga, tapi karena memang aku sudah cocok menggunakannya. 

"Alah, emang kalau pakai merk lain, yang lebih murah, kenapa? Miskin ya miskin aja, keluarga miskin aja belagu" ujarnya lagi. Mbah Sarmi mengusap lembut tanganku sedangkan yang lain terlihat semakin kusuk memindai wajahku. 

"Mbok, dengar ya. Nia tidak tahu, ada masalah apa sebelumnya Mbok dengan keluarga Nia. Setahu Nia, hutang emak sudah Nia bayarkan, lunas. Bukankah hutang emak cuma tujuh puluh ribu? Mengapa Mbok menagihnya menjadi dua ratus lima puluh ribu? Apa Mbok sadar, kalau itu riba? Apa Mbok tahu, orang pemakan riba di hari kiamat tubuhnya halal disentuh api neraka?" ucapku garang, terdengar detak jantung dan nafas ku yang memburu. 

Seketika suara manusia tidak terdengar di telingaku. Semuanya terdiam, mulut mbok Inah terbuka lebar memandangku, pukulan telak baginya. Kuambil ***balut yang ada di gantungan kedai, meletakkan uang dua puluh ribu diatas meja. 

"Kembaliannya untuk mbok saja,. Nia, ikhlas. Lebih baik miskin harta, daripada miskin hati," ujarku seraya meninggalkan kedai tersebut. Masih sempat kuucapkan salam, dan hanya satu orang saja yang menjawab salamku, mbah Sarmi. 

Baiklah, mari kita buktikan, siapa yang paling kaya disini.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bisakah Untuk Tidak Memilih
7.9
Hidup kerap berjalan di luar rencana dan menyodorkan berbagai pilihan rumit. Walau satu jalan tampak menjanjikan, selalu ada konsekuensi di balik setiap keputusan. Kita pun dituntut bijak menyikapi situasi demi hari esok. Bahkan, bersikap pasif dan sekadar mengikuti arus tetap membawa risiko tersendiri. Oleh karena itu, pertimbangkan setiap langkah dengan matang agar terhindar dari penyesalan mendalam akibat salah memilih arah di masa depan.
Sampul Novel CEO in My Bed
8.6
Demi kesembuhan sang adik, Athalia terpaksa menerima tawaran dingin dari Mahesa, seorang CEO kaya raya yang trauma akan cinta. Lelaki skeptis itu bersedia menanggung seluruh biaya medis dengan syarat Athalia mau menjadi teman tidurnya selama sebulan. Meski terus menghadapi sikap Mahesa yang kerap merendahkan perempuan, Athalia bertahan dengan ketulusan. Akankah kelembutan hati Athalia sanggup mencairkan keangkuhan Mahesa dan mengajarinya arti cinta sejati?
Sampul Novel Cintamu Dibayar Dengan Surat
8.3
Akibat sebuah insiden fatal, Rio terpaksa menikahi Sintia Wijaya. Tiga tahun pernikahan berjalan tanpa cinta, Rio bahkan memilih menikahi Clara, mantan kekasihnya. Ia sangat membenci Sintia yang dituduh memanfaatkan kekayaannya demi pengobatan sang ibu, hingga tega menolak mengakui Dika sebagai anak kandungnya. Namun, badai besar mulai mengguncang rumah tangga mereka ketika istri kedua Rio datang membawa sebuah surat perjanjian rahasia yang tak terduga.
Sampul Novel Crazy Maid ( Indonesia )
8.5
Felicity Jolicia Addison, gadis manja yang asing dengan urusan dapur, nekat menyamar sebagai Cia. Demi mendapatkan jet pribadi dari ayahnya, ia rela menjadi pelayan Jerrald Nataniel Mendez, pengusaha jet asal Spanyol. Jerrald dibuat pusing oleh ketidakmampuan Cia yang hampir membakar dapur saat merebus air. Meski dianggap gila karena boros dan polos, interaksi unik pelayan amatir dan majikan angkuh ini perlahan menumbuhkan benih cinta di antara mereka.
Sampul Novel Ditinggalkan Karena Tak Punya Gelar
7.8
Dicampakkan oleh pacarnya yang ambisius demi lelaki bergelar spesialis, Rayhan yang hanya dokter umum mencoba mengobati patah hatinya lewat hubungan virtual dengan El, perempuan misterius. Siapa sangka, sosok yang selama ini menjadi tempatnya berkeluh kesah adalah Dr. Elvira Maheswari, Direktur Utama berdarah dingin di tempat kerjanya sendiri. Kenyataan ini pun menyeret Rayhan ke dalam pusaran asmara dan profesionalisme yang sangat membingungkan.
Sampul Novel Dosa Dalam Pelukan Brondong
7.9
Kehidupan Sheana, wanita 35 tahun yang bersuamikan miliarder, terasa sepi dan hampa. Demi mengusir kesunyian, ia nekat menjalin hubungan terlarang dengan pemuda menawan berusia 23 tahun bernama Ellandra yang ditemuinya di klub malam. Meski pernikahan taruhannya, Sheana kian terjerat pesona sang brondong. Namun, romansa ini dihantui rahasia gelap suaminya, masa lalu kelam, serta pacar Ellandra. Kini ia harus memilih antara bertahan atau mengikuti gairah baru yang menghidupkan jiwanya.