APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Stempel Miskin untuk Keluargaku

Stempel Miskin untuk Keluargaku

Kembali ke rumah setelah empat tahun merantau, aku mendapati keluargaku menjadi bahan gunjingan dan dicap miskin oleh tetangga serta kerabat akibat jeratan utang. Namun, tidak ada yang tahu bahwa bapak sebenarnya memiliki sebidang tanah rahasia. Berbekal kejujuran dan keteguhan hati, aku kini bertekad penuh untuk memulihkan kehormatan keluarga kami serta membuktikan pada mereka yang telah meremehkan bahwa kami tidak layak dipandang sebelah mata.
Bab
Bagikan

Bab 3

Sepanjang jalan pulang dari kedai mbok Inah, tidak hentinya aku beristighfar, menyesali perbuatanku. Aku tahu ini salah, tetapi setidaknya memang mbok Inah harus diberikan sedikit teguran. 

“Nia! Nia!” terdengar teriakan suara wanita dari arah belakangku. Kulihat mbah Sarmi berjalan cepat, badan tambunnya bergoyang ketika ia dengan cepat menghampiriku. 

“Kenapa, Mbah?”

“Hah, hah, tu … tunggu sebentar,” ujarnya seraya mengatur nafasnya yang terdengar ngos-ngosan. 

“Kamu baik-baik saja, kan, Nia?” 

“Maksud Mbah? Nia baik-baik saja kok” kuputar badanku beberapa kali di hadapan mbah Sarmi, sambil tersenyum jahil. 

“Kamu ini, Mbah serius.” 

“Alhamdulillah, Mbah.” 

“Kamu itu, yo, kok berani-beraninya semburin Inah. Tapi, Alhamdulillah juga, akhirnya ada yang mewakili isi hati dari ibu-ibu kampung. Tau gak Nia, sepulang kamu dari sana, Inah langsung nutupin kedainya. Kena serangan jantung kali ya tu orang. Bilangnnya, ada urusan mendadak, mau pergi kondangan. Padahal, setahu Mbah, gak ada tuh hari ini syukuran di kampung-kampung sini,” ucap Mbah Sarmi tanpa jeda. 

“Iya, Mbah?” 

“Iya, tapi sebelum itu Inah juga ngomong … .” Mbah Sarmi menjeda kalimatnya, dia tampak berpikir untuk melanjutkan perkataannya. 

“Gak apa-apa, Mbah, ngomong aja,” 

“Inah bilang, kalau keluarga kalian kena kutuk, untuk selamanya jadi miskin,” 

Cih! Aku berdecak kesal, percuma tadi aku menyesal. Rupanya mbok Inah belum insaf juga dengan perkataanku. Baiklah, mungkin memang harus dengan pembuktian, mulut mbok Inah akan mingkem untuk selamanya. Kami melanjutkan perjalanan, rumah mbah Sarmi tidak begitu jauh dari rumahku, hanya berselang tiga rumah. Perumahan di kampung tidak seperti perumahan di kota, yang saling berdekatan. Tetapi, satu rumah dengan rumah lainnya terpisah oleh ladang, sehingga jaraknya sedikit berjauhan. 

“Oia, nduk. Bagaimana dengan beasiswa Taufik? Apa pak Gunawan memberikan surat rekomendasinya?” Mbah Sarmi melanjutkan pertanyaannya seiring dengan langkah kaki kami. 

Kuhentikan langkah kakiku, membuat mbah Sarmi pun menghentikan langkahnya. 

“Kenapa, nduk?” 

“Beasiswa? Taufik, Mbah?” 

“Lah, iyo. Taufik, adik mu yang ganteng itu. Emang Taufik di kampung ini ada dua?” ucap mbah Sarmi. 

Kupegang erat pergelangan tangah mbah Sarmi, kutatap lekat wajahnya yang sudah menginjak usia lima puluh tahun itu. Mbah Sarmi sedikit terkejut dengan perubahan wajahku. 

“Mbah, tolong. Ceritakan apa saja yang terjadi dengan keluarga Nia, selama Nia pergi dengan bang Ilham empat tahun lalu,” 

Mbah Sarmi menatapku dengan sayu, ada kesedihan terpancar dari wajahnya. Aku tahu, pasti sesuatu hal telah terjadi dengan keluargaku. 

“Setelah ashar, datanglah ke rumah Mbah. Tapi, jangan tahu emak mu, ya.” 

Aku mengangguk, melepaskan tanganku dari tubuh mbah Sarmi. Baiklah, sepertinya memang harus aku sendiri yang mencari jawaban dari semua kejadian-kejadian yang telah terjadi. Untuk mendapat jawaban dari bapak dan emak, sepertinya akan sia-sia. 

*** 

“Tetap gak bisa, Mak,” suara berbisik bapak terdengar sayup-sayup di telingaku. 

“Ya Allah, Pak. Terus kita harus bagaimana? Taufik juga udah pasrah. Emak gak terima, Pak,” jawab emak cepat. 

“Tenang, Mak. Besok, kan Bapak ke kantor camat lagi,” 

Kutinggalkan dapur tempat bapak dan emak yang masih saling berbisik. Aku yakin, ini pasti masalah beasiswa Taufik. 

*** 

Seperti biasanya, setelah emak selesai shalat ashar, ia akan membaca beberapa ayat suci Al-qur’an. Kulirik jam yang ada di dinding, tepat pukul tiga lewat empat puluh lima menit. Bapak juga belum pulang dari masjid kampung. Taufik sejak subuh tidak terlihat, kata emak ke rumah temannya, Andi, yang berada di kabupaten.  

Jantungku rasanya mau lepas, ketika bapak sudah berdiri di hadapanku. Karena melamun, salam bapak pun tak terdengar. 

“Terkejut, Nduk? Anak gadis, gak baik melamun,” ujarnya terkekeh.

“Nggak, Pak. Oia, Nia izin sebentar ya, Pak. Mau ke rumah … .” ucapanku terhenti, aku bingung tidak tahu mau kerumah siapa. Ah, kenapa tidak kupikirkan dari tadi, alasan apa agar aku bisa menemui mbah Sarmi. Ayo, berpikir Nia, batinku. 

“Intan, mau kerumah Intan,” tegasku. Deal, bertambah pula dosaku, membohongi orang yang tak pernah mengajariku untuk berbohong. Setelah izin kudapatkan, kuraih telepon genggam yang berada di meja tamu dan beranjak keluar rumah.

*** 

Kutoleh beberapa kali ke belakang, takut emak ataupun bapak berada di sekitar rumah. Kupercepat langkahku menuju rumah mbah Sarmi, terlihat pintu depannya tertutup rapat. Tidak mau membuang waktu untuk menggedor pintu depan rumah mbah,  karena masih takut terlihat oleh bapak dan emak, bergegas langkahku menuju pintu dapur. 

“Assalamu’alaikum, Mbah,” ucapku pelan. Aku merasa seperti pencuri yang takut tertangkap tangan, mengendap sambil melirik ke kanan dan ke kiri. Walau terhalang oleh ladang di kanan dan kiri rumah mbah Sarmi, tapi masih bisa terlihat jelas oleh rumah lainnya. 

“Waalaikumsalam,” jawab seseorang dari dalam rumah.

“Mbah,” 

“Eh, Nia, masuk, nduk.” Mbah Sarmi masih menggunakan mukena, mungkin ia baru selesai shalat. 

“Duduk dulu. Kamu kok lewat belakang, sih,” tanyanya sambil menuntunku keruangan tengah. Rumah mbah Sarmi cukup besar, ia janda beranak tiga. Semua anaknya telah menikah, dan tinggal di kabupaten. 

“Mbah, masih sendiri aja nih?” kunaik turunkan alis mataku untuk menggodanya. 

“Oalah, anak bau kencur. Gigi tinggal dua aja, Mbah tinggal dipanggil yang diatas,” selorohnya sambil menoyor kepalaku pelan. 

“Gak boleh ngomong gitu juga, Mbah, ajal ga ada yang tahu. Mungkin saja besok ada yang melamar duluan sebelum dipanggil … .” ku tunjuk jari ku ke atas sambil tersenyum manis. 

“Moh aku,” ujarnya, membuat kami tertawa lepas. 

“Mbah, ceritakan yang Mbah tahu ya, jangan ada yang ditutup-tutupi,” pintaku. Suasana menjadi hening, mbah Sarmi menundukkan kepalanya, helaan nafas panjangnya terdengar. 

"Awal kamu pergi, bapak dan emak mu baik-baik saja. Uang yang kalian kirim cukup dan bahkan lebih, untuk memenuhi kebutuhan mereka, apalagi untuk keperluan sekolah Taufik. Adikmu juga beruntung, dengan kecerdasannya, di kelas satu dia mendapatkan beasiswa, uang spp nya hanya dibayar setengah," mbah Sarmi menarik nafas dalam, menjeda ucapannya. 

Seketika aku teringat, ketika dengan senangnya Taufik menelpon, bahwa ia mendapat peringkat satu umum di sekolahnya. 

"Di tahun kedua kamu pergi, disitulah banyak kejadian yang menimpa keluargamu. Camat terpilih, Gunawan mulai sibuk mengurusi dan mengusik keluargamu. Dari mulai merebut lahan bapakmu, tidak memberikan bantuan pupuk dari pemerintah. Padahal semua masyarakat kampung dapat bantuan, nduk. Terakhir, Taufik mendapatkan beasiswa keperguruan tinggi, tapi ya itu, si Gunawan tidak mau kasih rekom," 

Aku tercengang mendengar penuturan dari mbah Sarmi. Begitu banyak pertanyaan yang berputar di kepalaku, tapi kuurungkan, setelah mbah Sarmi selesai cerita dulu, baru akan aku tanyakan. 

"Andre, anak Gunawan yang begajulan, yang malah mendapat rekomendasi. Warga disini udah maklum dengan kelakuan camat itu, tapi karena keturunan pejabat, yaaa, kamu tahu sendiri kan, nduk." 

Apakah karena ini, bapak akan berangkat besok ke kantor camat? Untuk meminta surat rekomendasi? Tapi surat yang bagaimana? Ah, kepalaku semakin pusing.  

"Mbah, berarti lahan yang digarab bapak selama ini?" kugantung kalimat tanyaku.  

"Entah bagaimana caranya, lahan itu bisa beralih ke pak Gunawan, mbah juga gak ngerti. Bapakmu bisa menggarap lahan tersebut, karena bapakmu bayar perbulan. Uang yang kalian kirimlah yang selalu dijadikan bapakmu agar bisa tetap menggarap lahan tersebut." 

"Astagfirullah," kuusap dadaku yang mulai sesak. 

Mbah Sarmi mengusap matanya dengan ujung mukena yang masih ia kenakan. 

"Emakmu yang selama ini cerita ke Mbah, mereka tidak mau merepotkan kalian. Karena mereka juga tahu, bagaimana kondisi kalian disana," diusapnya bahuku pelan. 

"Emak ga ada cerita tentang lahan itu, Mbah?" 

"Nggak, nduk. Emak cuma bilang, harus bayar dengan pak camat. Jadi bapak, emak dan Taufik hidup dari hasil lahan tersebut. Emak sering berhutang, tapi … ." 

Aku menangis, mbah Sarmi memeluk tubuhku erat. Ya Allah, bapak dan emak tidak pernah berkeluh kesah kepada anak-anaknya. Sehingga, aku dan bang Ilham tidak pernah tahu kejadian yang telah menimpa keluargaku.

Tok 

Tok 

Tok 

Suara pintu dapur mbah Sarmi diketuk oleh seseorang, kami saling berpandangan, kuhapus sisa air mata yang ada di pipi. 

Mbah Sarmi beranjak membukakan pintu. 

"Kamu … ."

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bisakah Untuk Tidak Memilih
7.9
Hidup kerap berjalan di luar rencana dan menyodorkan berbagai pilihan rumit. Walau satu jalan tampak menjanjikan, selalu ada konsekuensi di balik setiap keputusan. Kita pun dituntut bijak menyikapi situasi demi hari esok. Bahkan, bersikap pasif dan sekadar mengikuti arus tetap membawa risiko tersendiri. Oleh karena itu, pertimbangkan setiap langkah dengan matang agar terhindar dari penyesalan mendalam akibat salah memilih arah di masa depan.
Sampul Novel CEO in My Bed
8.6
Demi kesembuhan sang adik, Athalia terpaksa menerima tawaran dingin dari Mahesa, seorang CEO kaya raya yang trauma akan cinta. Lelaki skeptis itu bersedia menanggung seluruh biaya medis dengan syarat Athalia mau menjadi teman tidurnya selama sebulan. Meski terus menghadapi sikap Mahesa yang kerap merendahkan perempuan, Athalia bertahan dengan ketulusan. Akankah kelembutan hati Athalia sanggup mencairkan keangkuhan Mahesa dan mengajarinya arti cinta sejati?
Sampul Novel Cintamu Dibayar Dengan Surat
8.3
Akibat sebuah insiden fatal, Rio terpaksa menikahi Sintia Wijaya. Tiga tahun pernikahan berjalan tanpa cinta, Rio bahkan memilih menikahi Clara, mantan kekasihnya. Ia sangat membenci Sintia yang dituduh memanfaatkan kekayaannya demi pengobatan sang ibu, hingga tega menolak mengakui Dika sebagai anak kandungnya. Namun, badai besar mulai mengguncang rumah tangga mereka ketika istri kedua Rio datang membawa sebuah surat perjanjian rahasia yang tak terduga.
Sampul Novel Crazy Maid ( Indonesia )
8.5
Felicity Jolicia Addison, gadis manja yang asing dengan urusan dapur, nekat menyamar sebagai Cia. Demi mendapatkan jet pribadi dari ayahnya, ia rela menjadi pelayan Jerrald Nataniel Mendez, pengusaha jet asal Spanyol. Jerrald dibuat pusing oleh ketidakmampuan Cia yang hampir membakar dapur saat merebus air. Meski dianggap gila karena boros dan polos, interaksi unik pelayan amatir dan majikan angkuh ini perlahan menumbuhkan benih cinta di antara mereka.
Sampul Novel Ditinggalkan Karena Tak Punya Gelar
7.8
Dicampakkan oleh pacarnya yang ambisius demi lelaki bergelar spesialis, Rayhan yang hanya dokter umum mencoba mengobati patah hatinya lewat hubungan virtual dengan El, perempuan misterius. Siapa sangka, sosok yang selama ini menjadi tempatnya berkeluh kesah adalah Dr. Elvira Maheswari, Direktur Utama berdarah dingin di tempat kerjanya sendiri. Kenyataan ini pun menyeret Rayhan ke dalam pusaran asmara dan profesionalisme yang sangat membingungkan.
Sampul Novel Dosa Dalam Pelukan Brondong
7.9
Kehidupan Sheana, wanita 35 tahun yang bersuamikan miliarder, terasa sepi dan hampa. Demi mengusir kesunyian, ia nekat menjalin hubungan terlarang dengan pemuda menawan berusia 23 tahun bernama Ellandra yang ditemuinya di klub malam. Meski pernikahan taruhannya, Sheana kian terjerat pesona sang brondong. Namun, romansa ini dihantui rahasia gelap suaminya, masa lalu kelam, serta pacar Ellandra. Kini ia harus memilih antara bertahan atau mengikuti gairah baru yang menghidupkan jiwanya.