APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Stempel Miskin untuk Keluargaku

Stempel Miskin untuk Keluargaku

Kembali ke rumah setelah empat tahun merantau, aku mendapati keluargaku menjadi bahan gunjingan dan dicap miskin oleh tetangga serta kerabat akibat jeratan utang. Namun, tidak ada yang tahu bahwa bapak sebenarnya memiliki sebidang tanah rahasia. Berbekal kejujuran dan keteguhan hati, aku kini bertekad penuh untuk memulihkan kehormatan keluarga kami serta membuktikan pada mereka yang telah meremehkan bahwa kami tidak layak dipandang sebelah mata.
Bab
Bagikan

Bab 1

“Bang, bolehkah Nia pulang? Menemani Bapak dan Emak di kampung?” tanyaku. Kutatap lekat wajah bang Ilham, abang kandungku, yang tengah menyesap kopi hitamnya, yang terkejut mendengar permintaanku.

“Ke ...kenapa, Dek?” ujarnya terbata.

“Alhamdulillah, Nia sebentar lagi akan wisuda. Nia ingin membahagiakan bapak dan emak, Bang,”

Sudah empat tahun aku mengikuti laki-laki berbadan tegap yang duduk di depanku ini. Sejak meninggalnya kak Intan, istrinya, yang meninggalkan Bela, keponakanku yang saat itu masih berusia delapan tahun. Bang Ilham meminta izin pada bapak dan emak, agar aku bisa menemani Bela yang saat itu masih sedih atas kehilangan ibunya. Sejak saat itulah, aku mulai tinggal dengan bang Ilham dan Bela, jauh meninggalkan bapak dan emak, dan adik bungsu kami, Taufik.

Bang ilham mengalihkan pandangannya dariku, ditatapnya langit malam, desahan nafas panjangnya terdengar.

“Abang paham, Dek. Mungkin memang ini saatnya, kamu pulang,” ucapnya, tanpa sekalipun memandangku.

Bang Ilham hanyalah karyawan kantor biasa, Alhamdulillah, dengan gaji tidak seberapa, mampu menguliahkanku. Jatuh bangun kami lalui bersama, bang Ilham tetap bersikeras untuk tetap menguliahkanku. Akhirnya, aku bekerja sampingan, dengan membuka jasa les privat di rumah, bisa membantu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Kapan rencana kamu pulang, Dek?”

“Setelah acara wisuda, Bang. Tepatnya dua hari setelah acara, Nia juga sudah pesan tiket Bus,” kuputar-putar sendok yang ada di dalam gelas.

Helaan nafas Bang Ilham makin jelas terdengar. Ya, keputusan untuk pulang ke kampung memang sudah lama aku rencanakan, dan baru saat ini aku memberitahukannya kepada bang Ilham.

“Bela juga sebentar lagi akan melanjutkan sekolahnya ke pesantren, Dek. Jadi, Abang ditinggal sendiri nih, ya,” ujarnya terkekeh, menunjukkan lesung pipit di pipi kanannya.

“Apa rencana kamu di kampung, Dek?”

“Nia sudah tanya teman-teman disana, Bang. Alhamdulillah, sekolah dasar yang ada di kampung sebelah menerima tenaga pengajar. Nia juga sudah mendaftarkan diri,” ujarku lancar.

“Alhamdulillah, pergunakan ilmu yang kamu dapat disini sebaik-baiknya ya, Dek. Jangan mengharap pamrih, kerjakan dengan ikhlas. Insyaallah, Allah akan memberi lebih,” diusapnya pucuk kepalaku, ada setetes air mata di ujung mata bang Ilham. Ah, kupeluk erat bang Ilham, tangisku pecah.

“Maafkan Nia, Bang,” ujarku

“Sudah, sudah. Abang juga minta maaf, pulanglah. Abang ikhlas,” dipeluknya tubuhku erat. Perpisahan ini bukanlah yang kupinta, entah mengapa perasaanku tidak enak beberapa hari ini. Kemarin malam, aku juga bermimpi, bertemu bapak dan emak yang memakai baju putih. Hal ini tidak pernah kuceritakan pada siapapun, termasuk bang Ilham, karena takut akan membuatnya khawatir.

***

Alhamdulillah, hari ini acara wisuda dilaksanakan. Kulihat bang Ilham sudah siap, ketampanannya bertambah dengan setelah yang dikenakannya. Bela juga sudah selesai menggunakan jilbab panjangnya.

'Kata umi, perempuan itu berdosa, kalau tidak menutup rambutnya, Bunda,' ujarnya waktu itu, padahal usianya masih sembilan tahun.

“Bunda cantik,” ujarnya mengagetkanku.

“Ponakan Tante, yang lebih cantik,” ku cubit pipi tembemnya.

“Ayo, kita berangkat, mobilnya sudah datang, tuh,” ujar bang Ilham.

Kugenggam tangan Bela menuju mobil yang telah dipesan bang Ilham sebelumnya. Pagi tadi, sempat ku hubungi bapak dan emak via telepon, mengabarkan bahwa hari ini aku wisuda. Emak menangis bahagia, namun wajahnya tidak terlihat, karena keluargaku di kampung belum ada gawai buatan cina yang bisa menampilkan wajah seseorang.

Alhamdulillah, acara wisudaku selesai, didampingi oleh bang Ilham untuk menerima ijazah. Kebahagiaanku bertambah, karena mendapatkan predikat cumlaude.

***

“Kalau sudah sampai, kabari Abang ya, Dek,” kusalami takzim tangan bang Ilham. Kami sudah berada di terminal, kebisingan kendaraan yang hilir mudik dan hiruk pikuk manusia tidak menghalangi air mataku jatuh.

“Terus beri kabar, ya. Abang tidak bisa mengantar kamu pulang,” ujarnya haru.

“Iya, Bang,”

Kunaiki bus yang sudah memberikan tanda akan segera berangkat. Enam belas jam perjalanan sampai di kabupaten, ditambah dua jam perjalanan lagi untuk sampai di kampung Asri, kampung kelahiranku.

“Assalamu’alaikum,” kulambaikan tangan ketika sudah berada di pintu bus.

“Wa’alaikumsalam,” ujarnya, dengan cepat bang Ilham menghapus jejak air matanya.

***

Beberapa saat lagi, bus akan sampai di kabupaten. Kubuka gawai yang ada di tas kecilku.

Tuut

Tuut

Kuhubungi Taufik, untuk menjemputku di terminal. Tanpa sepengetahuan bapak dan emak, aku berencana untuk memberikan surprise dengan kepulanganku.

“Halo, Kak. Taufik udah di terminal, Kak Nia udah dimana?” ucap Taufik, begitu telepon tersambung.

“Sebentar lagi, Fik. Mungkin beberapa menit lagi,” jawabku.

“Oke, kak,” telepon dimatikan begitu saja olehnya.

Ah, kupandangi jalan yang dilalui, begitu banyak perubahan yang terjadi. Selama empat tahun, tidak pernah sekalipun aku pulang, bukan karena tidak mau. Tapi aku paham bagaimana keuangan bang Ilham, sedikit banyaknya aku tidak mau membebaninya.

‘Nduk, kita itu orang susah. Walaupun kita susah harta, tapi kita tidak boleh susah hati. Allah maha kaya, Allah tahu mana yang baik untuk kita. Jika kita kaya hati, insyaallah kita bahagia,’ ucapan bapak mengingatkanku ketika akan melepaskanku pergi.

Bus berhenti, kulangkahkan kaki keluar dari bus, seraya sopir menuruni beberapa barang, kuhubungi kembali Taufik.

“Dek, dimana? Kakak sudah sampai,” belum ada jawaban dari ujung telepon, tiba-tiba seorang pria tinggi bertopi meraih tas yang ada di depanku.

“Hei, siapa kamu?” kutarik ujung bajunya kuat.

“Tadaaaa ... Kak Nia, ini Taufik,” ujarnya.

“Taufik?”

Diraih dan diciumnya punggung tanganku. Laki-laki yang kini lebih tinggi dariku itu, membawa beberapa barang bawaanku menuju kereta roda dua tua milik bapak. Roda dua yang sudah sering turun mesin itu masih setia dengan keluargaku.

Taufik menata barang bawaanku, kupandangi adikku satu-satunya itu. Tahun ini, seharusnya ia akan melanjutkan ke perguruan tinggi.

‘Lihat nanti gimananya, Bang,’ jawabnya, ketika aku dan bang Ilham menanyakannya setelah menerima ijazah sekolah menengah atasnya.

Roda dua bapak melaju pelan, kalau dipaksakan nanti batuk kak, ujar Taufik ketika kutanyakan mengapa ia membawanya sangat santai sekali. Perjalanan yang kurindukan, menikmati ciptaanNya gunung-gunung dan sawah terlihat di sepanjang perjalanan.

Tiba-tiba terlihat mobil sedan berwarna merah yang ada di belakang kendaraanku, membunyikan klakson nya secara barbar.

“Dek, mobil itu kenapa?” tanyaku sedikit teriak, agar Taufik bisa mendengarnya.

Taufik melirik ke kaca spion yang sudah sedikit retak dan mulai melambatkan kendaraan.

“Heh, Taufik,” teriak seorang perempuan muda turun dari mobil tersebut, setelah menyalip kendaraan kami.

“Gak usah belagu ya. Udah dibilangin, kalau kamu tu ga pantas dapat beasiswa itu,”

Aku hanya bisa melongo, memperhatikan perempuan tersebut marah-marah sambil berkacak pinggang. Apa yang terjadi? siapa wanita ini? beasiswa?.

“Ayo, Kak. Naik, kita pulang,” ucap Taufik membuyarkan lamunanku.

Segera kunaiki kembali roda dua bapak, Taufik segera tancap gas.

“Hei, orang miskin. Jangan belagu ya,” teriak wanita tersebut tanpa henti.

Kuperhatikan wanita itu yang makin lama semakin jauh, wajahnya seperti tidak asing, kucoba untuk mengingatnya, tetapi nihil. Ah, mungkin nanti saja kutanyakan dengan Taufik, apa hubungannya dengan wanita muda tersebut.

***

Dari kejauhan, aku sudah bisa melihat rumah dengan atap seng yang sudah mulai berkarat, pintu rumah kecil tempat aku dilahirkan itu terlihat terbuka. Taufik membelokkan kendaraan ke halaman rumah, belum sempat aku turun, terdengar suara bapak dari dalam.

“Bukankah, kami layak mendapatkan bantuan tersebut, Pak?” suara bapak terdengar begitu lembut, suara yang selalu kurindukan.

“Sudah saya bilang berapa kali, Pak Arman. Bapak tidak bisa mengajukan bantuan tersebut,” ujar seorang laki-laki lain terdengar marah.

“Tapi, Pak ...?”

“Saya tidak akan mengajukannya, permisi,”

Seorang laki-laki berpakaian rapi, mengenakan celana kain dan baju batik keluar dengan wajah marahnya. Kuanggukan kepala ketika ia melewatiku.

“Miskin, belagu lagi,” ucapnya ketus, terdengar ditelingaku.

Apalagi ini, siapa pria ini, apa maksud ucapannya. Ini juga akan kutanyakan nanti dengan bapak dan emak.

“Assalamu’alaikum,” ucapku. Bergegas kulangkahkan kakiku masuk, bapak dan emak terkejut melihatku. Kupeluk emak yang duduk di dipan ruang tamu, air mataku membasahi kerudung emak, begitupun emak, diciumnya pipiku berkali-kali.

“Anak gadis emak, udah pulang,” ucapnya sambil terus menciumi pipiku.

“Kok ga bilang-bilang, kamu mau pulang, Nduk,” ucap bapak, kulirik bapak, matanya memerah, bukan karena marah, tapi ada jejak air mata di pipinya.

“Mau buat kejutan, untuk Bapak dan Emak,” sahut Taufik yang muncul di depan pintu sambil membawa barang bawaanku.

“Hehehe, iya Pak,” kuhampiri bapak, memeluknya erat. Bau keringatnya pun selalu kurindukan, wajah yang tidak lagi muda, kulit bapak sudah mulai berkerut di wajah dan tangannya.

“Bapak dan Emak, sehat?" tanyaku,

"Alhamdulillah, sehat Nduk," ucap Ibu.

"Yowes, kamu istirahat dulu. Emak mau ke kedai Mbok Inah dulu, ya. Mau belanja banyak, terus masak enak," seru Ibu seraya bangkit dari duduknya.

"Nia juga ikut ya, Mak," kupeluk lengan emak seraya berjalan keluar rumah.

Kedai Mbok Inah tidak terlalu jauh dari rumahku, dengan berjalan santai saja, cukup memakan waktu lima belas menit. Di sepanjang perjalanan aku selalu bercerita tentang kegiatanku selama tinggal dengan bang Ilham, dan emak pun selalu bertanya dengan semangatnya. Tanganku tidak pernah melepas pergelangan tangan emak.

"Kamu tunggu disini ya, Emak kebelakang dulu," ucap Emak setelah sampai di kedai Mbok Inah. Terlihat orang-orang hilir mudik, kuanggukan kepala ketika ada seorang wanita tersenyum padaku. Sudah sepuluh menit berlalu, tetapi emak belum muncul juga.

"Mak," kupanggil emak seraya masuk kedalam kedai. Terdengar emak berkata seraya menangis.

"Nanti, kalau ada uang, saya bayar ya, Mbok," suara emak terdengar lirih.

"Kamu itu ya, kalau miskin gak usah belanja banyak. Yang kemarin juga belum bayar, kan? Mau uang darimana untuk bayar semuanya? Apa anakmu Ilham, gak kirimin uang?"

Degh

Segera kuhampiri emak, kutatap wajahnya yang terkejut melihatku.

"Berapa hutang Emak saya, Mbok? Saya bayar lunas semuanya," ujarku tegas.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bisakah Untuk Tidak Memilih
7.9
Hidup kerap berjalan di luar rencana dan menyodorkan berbagai pilihan rumit. Walau satu jalan tampak menjanjikan, selalu ada konsekuensi di balik setiap keputusan. Kita pun dituntut bijak menyikapi situasi demi hari esok. Bahkan, bersikap pasif dan sekadar mengikuti arus tetap membawa risiko tersendiri. Oleh karena itu, pertimbangkan setiap langkah dengan matang agar terhindar dari penyesalan mendalam akibat salah memilih arah di masa depan.
Sampul Novel CEO in My Bed
8.6
Demi kesembuhan sang adik, Athalia terpaksa menerima tawaran dingin dari Mahesa, seorang CEO kaya raya yang trauma akan cinta. Lelaki skeptis itu bersedia menanggung seluruh biaya medis dengan syarat Athalia mau menjadi teman tidurnya selama sebulan. Meski terus menghadapi sikap Mahesa yang kerap merendahkan perempuan, Athalia bertahan dengan ketulusan. Akankah kelembutan hati Athalia sanggup mencairkan keangkuhan Mahesa dan mengajarinya arti cinta sejati?
Sampul Novel Cintamu Dibayar Dengan Surat
8.3
Akibat sebuah insiden fatal, Rio terpaksa menikahi Sintia Wijaya. Tiga tahun pernikahan berjalan tanpa cinta, Rio bahkan memilih menikahi Clara, mantan kekasihnya. Ia sangat membenci Sintia yang dituduh memanfaatkan kekayaannya demi pengobatan sang ibu, hingga tega menolak mengakui Dika sebagai anak kandungnya. Namun, badai besar mulai mengguncang rumah tangga mereka ketika istri kedua Rio datang membawa sebuah surat perjanjian rahasia yang tak terduga.
Sampul Novel Crazy Maid ( Indonesia )
8.5
Felicity Jolicia Addison, gadis manja yang asing dengan urusan dapur, nekat menyamar sebagai Cia. Demi mendapatkan jet pribadi dari ayahnya, ia rela menjadi pelayan Jerrald Nataniel Mendez, pengusaha jet asal Spanyol. Jerrald dibuat pusing oleh ketidakmampuan Cia yang hampir membakar dapur saat merebus air. Meski dianggap gila karena boros dan polos, interaksi unik pelayan amatir dan majikan angkuh ini perlahan menumbuhkan benih cinta di antara mereka.
Sampul Novel Ditinggalkan Karena Tak Punya Gelar
7.8
Dicampakkan oleh pacarnya yang ambisius demi lelaki bergelar spesialis, Rayhan yang hanya dokter umum mencoba mengobati patah hatinya lewat hubungan virtual dengan El, perempuan misterius. Siapa sangka, sosok yang selama ini menjadi tempatnya berkeluh kesah adalah Dr. Elvira Maheswari, Direktur Utama berdarah dingin di tempat kerjanya sendiri. Kenyataan ini pun menyeret Rayhan ke dalam pusaran asmara dan profesionalisme yang sangat membingungkan.
Sampul Novel Dosa Dalam Pelukan Brondong
7.9
Kehidupan Sheana, wanita 35 tahun yang bersuamikan miliarder, terasa sepi dan hampa. Demi mengusir kesunyian, ia nekat menjalin hubungan terlarang dengan pemuda menawan berusia 23 tahun bernama Ellandra yang ditemuinya di klub malam. Meski pernikahan taruhannya, Sheana kian terjerat pesona sang brondong. Namun, romansa ini dihantui rahasia gelap suaminya, masa lalu kelam, serta pacar Ellandra. Kini ia harus memilih antara bertahan atau mengikuti gairah baru yang menghidupkan jiwanya.