
Insiden Setelah Adikku Lulus dari Program Pelatihan Sosialita
Bab 2
Hayden pergi dengan menaiki mobil Maybach yang datang menjemputnya, sedangkan mobil sportnya dibawa pergi oleh truk derek. Kap mobilku juga rusak dan salah satu lampunya pecah.
“Ini mobil yang baru kubeli kemarin. Hari ini, kamu malah menghancurkannya sampai begini. Gimana ini?”
Olivia sama sekali tidak peduli padaku. Setelah tiba di rumah, dia langsung merangkul lengan Ayah dan sengaja mengadu bahwa aku mempersulitnya.
Ayahku bernama Ricky. Dia menepuk-nepuk tangan Olivia dengan penuh kasih sayang, lalu menoleh ke arahku dan menyuruhku untuk menangani hal ini sendiri.
“Buat apa kamu permasalahkan hal sepele ini dengan adikmu? Kamu sama sekali nggak kayak seorang kakak.”
Pagi ini, Olivia bersikeras mau membawa mobilku. Padahal, dia tidak memiliki SIM karena sudah gagal tes sebanyak 5 kali. Ricky mengkhawatirkan keselamatannya dan mengharuskanku untuk mengikutinya.
Saat ini, ibu tiriku yang bernama Fenny juga berjalan keluar dari dapur dengan membawa sepiring buah. Namun, garpu yang dikeluarkannya hanya 3 buah. Mereka makan semangka dan mangga dengan gembira, seolah-olah tidak ada aku di tempat ini.
“Hayden bahkan nggak mengedipkan matanya saat melihatku! Aku kira tokoh sehebat dia sangat sulit ditundukkan. Ternyata, dia nggak ada bedanya dengan pria-pria lain.”
Seusai berbicara, Olivia mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan kontak Hayden.
“Kelak, Olivia pasti akan menikah dengan Hayden. Kita akan jadi mertua Hayden!” ujar Fenny sambil menepuk tangannya. Ricky juga ikut bermimpi indah.
Saat ini, Olivia tiba-tiba memilih sebuah durian dan menyodorkannya ke samping mulut Ricky dan berkata, “Ayah, aku masih belum bayar biaya pelatihan sebesar 600 juta.”
Kening Ricky pun sedikit berkerut. Dia tidak langsung mengiakannya.
Keluarga kami mencari nafkah dengan membuka toko kelontong. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, berhubung sudah dibuka mal-mal baru, bisnis mereka pun sangat sepi.
Program pelatihan sosialita yang dihadiri Olivia memakan biaya sebesar 1 miliar per peserta. Pelatihan itu sebenarnya adalah kelas yang menjamin seseorang bisa melampaui status sosial dan menikah dengan orang kaya.
Olivia sudah tamat kuliah 3 tahun. Namun, selama ini, dia hanya sibuk melakukan operasi plastik dan membangun citranya sebagai sosialita, bukannya mencari kerja. Uang muka sebesar 400 juta untuk masuk ke program pelatihan itu sudah menguras tabungan Ricky.
“Ricky, Olivia ikuti program pelatihan itu juga demi membiarkanmu hidup enak.” Fenny memainkan gelang emas di tangannya sambil berkata tanpa ragu, “Kalau kamu bahkan nggak bisa keluarkan sedikit uang itu, jangan harap kamu bisa keciprat keberuntungan Olivia kelak. Lagian, bukannya ada yang juga lagi kerja. Yang namanya keluarga itu sudah seharusnya saling membantu.”
Fenny sedang menyiratkan kepadaku untuk mengeluarkan uang itu.
Di kehidupan sebelumnya, keluarga kami berutang sejumlah uang yang sangat besar demi mengabulkan mimpi Olivia menikah dengan orang kaya. Penagih utang datang membuat onar ke perusahaanku sehingga aku dipecat.
Selain itu, mereka sepertinya sama sekali tidak tahu apa-apa mengenai mobil sport Hayden itu dan merasa sangat yakin Hayden tidak akan membiarkan Olivia ganti rugi. Aku tidak seperti mereka yang menaruh seluruh harapan pada ilusi Olivia dapat menikah dengan orang kaya.
Sebelum mereka bersuara, aku sudah terlebih dahulu mengajukan untuk pindah keluar dari rumah. “Aku sudah ketemu rumah yang mau kutinggali. Nanti, aku juga akan hapus namaku dari kartu keluarga kalian.”
Fenny pun berdecak dan mengatakan aku cemburu pada Olivia yang ingin menjadi istri orang kaya.
“Hal yang paling penting untuk seorang wanita itu punya wajah yang cantik dan nikah sama orang kaya. Evelyn, nggak ada gunanya kamu cemburu. Gajimu cuma serendah itu, tapi kamu masih mau pindah keluar dari rumah? Konyol banget!”
Pada saat ini, ponselku tiba-tiba bergetar. Itu adalah pesan dari rekan kerjaku yang memberitahuku bahwa ada sebuah rapat mendadak. Aku pun kembali ke kamar untuk mengambil beberapa dokumen dan berencana kembali ke perusahaan.
Olivia mengejekku dengan mengatakan sia-sia saja aku bekerja mati-matian demi gaji 9 juta per bulan. Dia juga mengatakan aku masih tidak sebanding dengan sebuah jarinya.
Ricky juga menimpali dengan nada meremehkan, “Evelyn, sebaiknya kamu bersikap baik pada Olivia. Kalau Olivia senang, mungkin saja dia akan memberimu sebuah vila. Dengan begitu, kamu nggak usah sewa rumah di luar lagi.”
Olivia tersenyum cerah dan menungguku untuk tunduk.
Aku menggenggam erat dokumen di tanganku, lalu melirik ketiga orang itu dan menjawab, “Uang keluarga ini bukan milik Olivia, sedangkan uang yang kuhasilkan cuma milikku seorang. Punya paras yang cantik memang menguntungkan. Tapi, orang yang nggak punya kelebihan lain selain paras cantik adalah sebuah bencana. Sebaiknya kalian periksa dulu mobil Hayden itu mobil apa.”
Anda Mungkin Juga Suka





