APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Silver Eyes

Silver Eyes

Kekalahan dalam pertarungan membuat Ciu San, putra Bun San dari keluarga Luk San yang lemah, sekarat dengan urat nadi hampir terputus. Namun, keajaiban terjadi saat mata Dewa Tata Surya yang jatuh ke bumi menyelamatkan nyawanya. Kini, Ciu San memiliki kekuatan baru, tetapi ia juga menjadi buruan para kultivator yang mengincar darahnya demi peningkatan kekuatan instan. Di tengah kejaran musuh, mampukah ia bertahan hidup sekaligus membalaskan dendam kematian orang tuanya?
Bab
Bagikan

Bab 2

Mendengar ucapan dari si pendeta Shaolin itu, Bun San bergegas menggendong putranya bersama dengan sang istri berlari menuju kereta kuda yang tadi mereka gunakan bersama dengan keluarganya untuk datang menghadiri acara pibu tersebut.

Pada saat itu dua orang kusir kuda bergegas membantu Bun San memapah Ciu San masuk ke kereta kuda tersebut. Dan ketika mereka berdua hendak naik di belakang kuda, terdengar suara adiknya yang bernama Bwe San, “Kalian berdua janganlah membantu mereka. Sebab kalau kalian tetap membantu mereka, maka hari ini juga kalian berdua akan saya pecat.

Bun San segera berkata kepada kedua kusir itu, “Terima kasih. Sebaiknya kalian berdua turun saja. Dan biarkan kami yang membawa anak kami pergi.”

Dengan hati dan wajah tidak tega kedua kusir itu akhirnya turun lagi. Bersamaan dengan itu suami-istri tadi segera mencelat ke atas kereta kuda dan langsung duduk di tempat si kusir tadi.

Bun San pun segera memecut kuda-kuda itu dan larilah kuda-kuda itu melesat pergi meninggalkan arena pertandingan adu ketangkasan tersebut, dan Tiong San sempat menoleh ke arah laju kereta kuda itu dan menoleh juga ke arah adiknya yang paling bungsu seraya mengangguk.

Bwe San pun segera menyelinap pergi dari situ ketika melihat anggukan dari sang Twako.

Sedangkan kerta kuda itu terus melaju cepat menuju ke tempat tabib yang pernah menolong Ciu San. Karena Ciu San sudah yang ketiga kalinya mengalami luka parah seperti ini. Untung yang dua kali pertama dia selamat.

Kata-kata biksu Shaolin itu kembali terngiang di telinga suami-istri itu dan mereka saling melihat satu sama lain.

Ucap Mu Yung kepada suaminya, “Jika kelak putraku tidak dapat di sembuhkan sama sekali. Aku akan menuntut balas kepada keluarga anak itu!”

Bun San diam saja ia tidak memberikan komentar. Karena ia harus konsentrasi ke depan ke jalanan yang harus ia lewati.

Baru saja memasuki sebuah jalan setapak. Jalan itu sepi, tidak banyak orang yang melewati jalan tersebut, dan tiba-tiba saja mereka di kejutkan dengan datangnya serombongan orang bertopeng setan.

Rombongan itu tidak basa-basi. Mereka segera menyerang sepasang suami-istri itu.

Keduanya pun segera berkelebatan menghadapi serangan yang datang mendadak itu. Dan rupanya mereka lupa kalau di dalam kereta kuda itu ada putranya pula yang sedang sekarat.

Beberapa orang dari rombongan yang menyerang keluarga Bun San itu segera menculik Ciu San.

Beruntung Mu Yung melihat hal itu dan ia pun berusaha mati-matian menebas orang-orang yang mencoba menghalanginya dengan senjata selendang yang telah membawa namanya di dalam dunia kang ouw.

Tetapi orang-orang itu sepertinya mati-matian juga bertahan agar Mu Yung tidak dapat mengejar teman-teman mereka yang menculik Ciu San.

Alhasil orang-orang itu mati juga di tangan Mu Yung. Tetapi ia telah kehilangan jejak kawanan mereka yang menculik Ciu San.

Mu yung berteriak, “Suamiku! Ciu San telah di culik! Aku akan mengejar dan mencari jejak mereka!”

Pada saat itu kedua orang itu telah terpisah cukup jauh dan mereka berdua dikurung oleh orang-orang tangguh. Terutama sekali orang-orang yang mengurung Bun San.

Sepertinya mereka tahu kalau Bun San memiliki ilmu yang sangat tinggi. Karena dia telah menguasai jurus pukulan telapak tangan tingkat delapan.

Bun San menoleh dan berteriak, “Aku segera menyusul!” tapi sayangnya ia kurang hati-hati. Salah satu dari mereka berhasil melukai paha kanan lelaki itu.

Ia terlihat murka. Dan ia pun tidak main-main lagi. Dan segera menggunakan jurus andalannya. Tetapi mereka sepertinya sudah tahu kalau lawan memiliki kemampuan sangat tinggi.

Begitu Bun San hendak melepaskan serangan pukulan yang mematikan. Yaitu jurus ke delapan dari pukulan telapak tangan yang di beri nama, “Pukulan telapak tangan beruntun!”

Sebelum ia melancarkan serangan pukulan itu, lawan telah meniupkan beberapa bubuk asap warna-warni.

Bun San terkejut melihat serangan bubuk asap itu dan ia terlambat untuk menahan napas. Karena ia sedang konsentrasi untuk melancarkan serangan. Akibatnya ia sempat menghirup asap itu dan membuat dirinya hilang kendali.

Tenaga pulukannya berbalik menyerang dirinya. Dan ia pun mengalami luka dalam yang cukup parah. Di tambah pengaruh racun yang telah menjalar memasuki tubuhnya.

Orang-orang tersebut segera menancapkan senjata mereka ke tubuh Bun San.

Suara jeritan sang Suami cukup keras. Dan mengejutkan kuda mereka sehingga kuda itu berlari meninggalkan majikannya. Dan suara itu juga samar-samar terdengar Mu Yung.

Bersamaan dengan itu perasaan sang Istri merasa tidak enak. Dalam hati ia berkata, “Jangan-jangan…”

Ia sempat melamun sejenak. Dan itu membuat dirinya terkena serangan dari lawan yang datangnya mendadak sekali.

Bahu kiri wanita itu terkena bacokan senjata lawan.

Mereka pun juga menggunakan racun yang sama untuk melumpuhkan Mu Yung. Perempuan itu pun tewas dengan cara yang sama. Di tusuk dengan senjata lawan bersama-sama.

Wanita itu berteriak pula, “Koko! aku menyusul mu!” akhirnya ia pun tewas dengan mengenaskan.

Sementara itu di tempat lain, orang-orang yang telah berhasil menculik Ciu San melempar pemuda itu sebuah jurang yang tidak jauh dari situ.

Jurang itu tidak cukup dalam. Hanya sekitar lima meter saja. Tetapi tubuh Ciu San sudah terluka parah. Dan orang-orang itu pikir Ciu San bakal mati di dalam jurang tersebut.

Ternyata Tian masih mengharapkan pemuda itu hidup.

Ketika tubuhnya di lempar ke dalam jurang ternyata tubuhnya jatuh di atas sebuah bangunan tua yang sudah lama di tinggalkan. Sehingga tubuh pemuda itu tidak langsung jatuh ke tanah tetapi mengenai atap rumah yang terbuat dari daun dan jerami yang cukup tebal. Barulah tubuh Ciu San gelinding ke bawah.

Jatuh tepat di depan pintu bangunan itu. Sayangnya pemuda itu tidak dapat bangun. Ia sudah mencoba beberapa kali untuk bangkit berdiri.

Pemuda itu mengerang kesakitan. Lalu tak sadarkan diri.

Ketika ia sadar kembali hari sudah malam. Hanya bintang-bintang saja yang terlihat di langit. Awan terlihat cerah.

Ciu San mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi sehingga ia harus berada di situ. Ketika ia teringat dirinya di culik, ia pun segera teringat akan kedua orang tuanya. Lalu ia berteriak memanggil nama mereka. Sambil menangis sesegukan.

Ia merasa kalau kedua orang tuanya sudah tiada. Karena pada saat teringat akan kejadian itu perasaannya tidak enak. Dan hatinya terasa sakit dan pedih.

Pemuda itu kembali tak sadarkan diri.

sesudah membuang pemuda itu ke dalam jurang, orang-orang yang mengenakan topeng setan bergegas melepaskan topeng dan pergi dari situ.

Sayangnya tidak ada satu orang pun yang mendengar kejadian tersebut, sampai keesokan harinya, beberapa orang lewat dan menemukan jenazah ayah dan ibu Ciu San.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel A Thousand Tears of Sword
8.8
Di benua terkutuk yang penuh penindasan dan perdagangan manusia, dewa mengutus Dewi Kematian untuk menegakkan keadilan. Sialnya, sebuah insiden saat turun ke bumi melenyapkan seluruh kekuatannya. Ia justru bereinkarnasi sebagai gadis kecil bernama Hua Hua. Tanpa kekuatan dewa yang tersisa, mampukah ia menuntaskan misi sucinya untuk menyelamatkan mereka yang tertindas di tengah neraka dunia ini?
Sampul Novel Jasper dan Misteri Sang Raja Kerajaan Almekia
8.7
Di Almekia, kerajaan futuristik yang dikuasai seorang ratu, Pangeran Jasper menyimpan rasa penasaran mendalam tentang mendiang ayahnya. Identitas sang raja sengaja dirahasiakan rapat oleh pihak istana. Demi mengungkap kebenaran, Jasper bersama Diamond, Zircon, dan Opal nekat melanggar hukum kerajaan. Meski kini berstatus buronan dan menghadapi berbagai bahaya, mereka terus berjuang menembus misteri besar yang menyelimuti Almekia.
Sampul Novel Misteri Mata Air Kembar Yang Tak Pernah Kering
9.2
Mata air kembar di Kampung Serigi tak pernah kering dan menjadi penyelamat warga saat kemarau. Namun, di balik keajaiban pancuran bambu tersebut, tersimpan misteri kelam dan pantangan yang sangat ketat. Siapa pun yang berani melanggar aturan akan didatangi oleh entitas gaib penjaga tempat sakral itu. Kini, teror mistis terus membayangi penduduk lokal dan pendatang, mengubah ketenangan sumber air legendaris ini menjadi ancaman nyata yang mencekam.
Sampul Novel Not A Perfect Marriage
9.5
Ivy Marionet menjalani pernikahan rumit yang penuh rahasia dengan seorang ksatria kerajaan. Ia harus berjuang keras demi menyembunyikan identitas aslinya yang misterius. Keadaan kian genting saat campur tangan Putra Mahkota Winter membuat Ivy terancam hukuman mati di tangan suaminya sendiri. Siapa sebenarnya sosok Ivy? Di tengah intrik dan bahaya yang mengintai, mampukah ia mengungkap kebenaran sekaligus menyelamatkan diri dari eksekusi yang membayangi hidupnya?
Sampul Novel Persembahan Untuk Sang Kirin
9.3
Kehidupan bahagia seorang putri kaya dan pemilik gym hancur dalam sekejap. Setelah dua bulan diabaikan suaminya, ia dikepung lima pria di gym miliknya sendiri. Tiga hari kemudian, ia disiksa, dirantai, dan dipaksa merangkak untuk dipersembahkan kepada kirin. Sepuluh bulan pasca-persembahan tersebut, para penculiknya mengincar pil keabadian yang mampu memberikan kemudaan serta hidup abadi bagi pria.
Sampul Novel Reinkarnasi ke Zaman Ajaib
8.7
Setelah tewas dibakar oleh adiknya yang cemburu, sang protagonis terbangun kembali di hari pernikahan antara manusia dan binatang. Di kehidupan lalu, ia melahirkan pewaris aliansi dari Klan Serigala, sementara adiknya menderita bersama Klan Rubah. Kini, sang adik yang juga bereinkarnasi langsung merebut Jati Jatmiko, putra sulung Klan Serigala yang kejam. Tanpa disadari adiknya, keputusan itu justru menjadi awal dari petaka baru, sementara sang protagonis siap mengambil jalan berbeda dalam takdir teranyar ini.