APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel She's Mine

She's Mine

Salju telah mencurahkan segalanya demi membawa merek fesyen She's Mine ke puncak kesuksesan. Namun, di tengah pencapaian kariernya, ia terjebak dalam dilema asmara masa lalu. Justin, sang mantan pacar, datang lagi untuk merebut hatinya. Di sisi lain, ada Mars yang selalu setia menyokong bisnisnya. Demi meredam rumor negatif yang mengancam citra perusahaannya, Salju kini dituntut segera memilih demi kelanjutan bisnis dan hidupnya.
Bab
Bagikan

Bab 2

Pikiran Salju kembali ke masa lalu. Di mana ia dan sosok laki-laki depannya itu pernah memiliki hubungan yang cukup intens. Saat itu Salju dikenalkan sebagai adik Sean kepada seluruh anggota grup, dan laki-laki termuda dari grup itu mencintai Salju, dengan sedikit peringatan dari Sean, Salju dan Justin mulai berpacaran. Namun, hal itu tidak berlangsung lama karena rumor yang beredar.

"Eh, bang!" Laki-laki dengan jaket boomber hitam itu berseru saat melihat Sean, menerobos masuk ke dalam rumah, tanpa mempedulikan Salju yang masih mematung di depan pintu.

Sean melambaikan tangan. Sosok yang sudah lama sekali tidak dijumpai selama beberapa tahun terakhir itu pun menyambutnya dengan ramah.

"Ayo masuk, udah lama nggak ketemu nih, Salju kangen katanya." Sean melirik ke arah adik perempuannya yang memicingkan mata tidak suka.

"Oh ya? Gue nggak tau bang, kalau dia kangen sama gue. Emang gengsi aja kali ya? Hahaha." Tawaan itu membuat dada Salju bergemuruh. Ia sangat membenci sosok Justin yang pernah menjadi kekasihnya itu.

"Nah, itu dia. Sekarang, gue mau minta tolong sama lo." Sean duduk di atas sofa bersebelahan dengan Salju, sedangkan Justin berada di hadapan mereka berdua.

"Minta tolong apa bang? Biasanya gue yang minta tolong, kenapa sekarang lo tiba-tiba minta tolong?."

"Ah, itu mah udah biasa. Gantian, sekarang gue yang minta tolong." kata Sean.

Salju yang tidak sabar dengan obrolan klasik itu berdecak sebal dan hendak meninggalkan ruang tengah. Namun, belum ada selangkah gerakannya langsung terhenti saat Sean membuka suara.

"Mau pergi nggak?"

Crazy! Satu kalimat maut yang dikatakan oleh Sean membuat Salju mengurungkan niatnya untuk meninggalkan ruang tengah. Ia kembali duduk dengan suasana hati yang kacau. Belum lagi ia melihat wajah Justin yang tersenyum ke arahnya, semakin membuat perempuan itu jengkel.

"Gini, deh. Karena ini cewe lagi badmood banget pikirannya. Gue langsung ngomong to the point aja." Sean berbicara dengan nada serius. Membuat kedua orang yang ada di ruangan itu memusatkan perhatian padanya.

"Gue minta tolong lo buat temenin Salju ke luar negeri."

"Abang!"

"With my pleasure!" Justin langsung berdiri dan membungkuk sembilan puluh derajat layaknya seseorang yang menghormati bangsawan. Berbeda dengan Salju yang memasang raut kesal kepada kakaknya itu. Namun, Sean hanya membalas dengan tatapan santai.

"Kenapa? Lo mau pergi kan? Kalau lo mau pergi ya silakan. Tapi bareng Justin."

"Bang! Di mana-mana nih, ya. Cewe kalau pergi ya ditemenin sama temen cewenya. Kalau cewe ditemenin sama cowo, pulang-pulang malah jadi omongan tetangga!" Adik bungsu Sean itu tidak mau mengalah dengan pendiriannya. Bagaimanapun ia tidak akan pernah setuju jika harus pergi ditemani Justin. Apalagi status mantan kekasihnya itu masih dikenal oleh banyak orang.

"Iya, gue tau. Lo emang nggak akan gue kasih izin buat pergi sama cowo manapun. Kecuali Justin." kata Sean santai. Lagi-lagi ia menyebut nama Justin yang menjadi orang kepercayaannya. "Lagian juga kalian pernah pacaran, gue juga kenal deket Justin udah lama, gue percayalah sama dia. Emang lo pernah diapain sama dia? Masih aman-aman aja kan?" tambah Sean.

Salju menarik napasnya sambil memejamkan mata. Ia merasa emosinya akan meledak saat itu juga jika tidak memikirkan perjalanan bisnisnya.

"Masih ingat nggak sama kesepakatannya?" Sean dengan santai memetik buah anggur yang dibawa oleh Justin. Sedangkan, Salju berusaha keras untuk menerima permintaan konyol dari kakaknya itu. "Kalau nggak mau sih..."

"Bang, tolong banget ya!" Salju memutus ucapan Sean yang terus memaksanya memilih dua pilihan yang tidak sesuai ekspektasi. "Gue kan masih bisa pergi sama Bella. Gue juga pergi ke sana nggak mungkin sendirian. Gue ke luar negeri emang lumayan lama, tapi gue... "

"Kalau lo keberatan, nggak masalah."

Satu kalimat lagi membuat perempuan bersurai hitam itu kembali terpojok. Belum selesai ia berbicara, Sean langsung membungkam tanpa ampun. Tidak ada pilihan lain untuk perempuan itu selain menuruti keinginan kakaknya yang keras kepala.

"Oke, fine! Gue pergi sama dia." Tidak perlu menunggu tanggapan, Salju memutuskan untuk pergi ke kamarnya dan mempersiapkan kebutuhan selama dua Minggu ke depan bersama mantan kekasihnya yang sangat menyebalkan itu.

---

Melihat kepergian Salju yang sudah melenggang pergi ke lantai atas, Justin tidak mengalihkan netranya sama sekali dari sosok yang sangat disayanginya itu.

Walaupun hubungan mereka harus kandas karena rumor, Justin tidak pernah memiliki hubungan khusus lagi dengan perempuan lain. Baginya, Salju sudah cukup untuk mengisi hatinya dan berusaha untuk mendapatkannya kembali.

"Jadi, gimana kerjaan lo sekarang?" Sean mengalihkan perhatian Justin. Laki-laki dengan senyuman semanis gula itu mengambil makanan yang dibawa oleh Justin.

"Ya. Nggak ada yang berubah. Sekarang, gue udah cukup puas kerja di dunia entertainment. Tapi, kak Jared bilang gue masih harus selesai dulu kontrak untuk iklan dan single terakhir."

"Setelah itu lo mau ngapain?" Sean bertanya sambil mengunyah kue yang sangat lembut. Ia bahkan menggelengkan kepalanya beberapa kali saking enaknya makanan yang dibawa oleh maknae grupnya dahulu.

"Hm... Ya, kalau dibolehin sih... " Justin mengulas senyum penuh arti. Ia merasa sedikit malu untuk mengungkapkannya. Sean yang menyadari hal itu sengaja tidak membuka mulut, pura-pura tidak tahu. "Salju gue bawa ke rumah gue aja, bang." Mendengar pernyataan itu, Sean langsung melemparkan buah anggur ke arah Justin. Keduanya saling tertawa.

"Gila lo. Mana mungkin gue ngasih Salju ke pengangguran kayak lo!" ucap Sean dengan nada bercanda.

"Haha! Jangan salah, bang. Gue nganggur tapi aset gue tetep jalan. Lancar jaya! Tujuh turunan kagak bakal abis-abis hahaha." Justin memakan anggur yang dilemparkan oleh Sean barusan.

"Hahaha. Ya, ya. Bolehlah."

Mendengar pernyataan singkat itu, tiba-tiba Justin terdiam. Ia membulatkan mata ke arah Sean yang sibuk makan makanan yang ada di atas meja, seolah ia tidak mengatakan apapun.

"Tadi... Lo bilang apa bang?" tanya Justin yang tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

"Gue nggak bilang apa-apa. Emang gue bilang apa?" Sean kembali melemparkan pertanyaan.

"Nggak, nggak. Tadi lo bilang boleh, itu maksudnya apa, ya?"

"Boleh? Oh... Ya, tadi gue cuma nanggepin jokes lo doang." Sean mengangguk sendiri. Sedangkan Justin merasa salah tingkah, karena ia berpikir jika laki-laki bersurai coklat itu merestui hubungannya dengan Salju.

"Tapi, gue mau kasih saran aja sih, kalau lo nikah nanti, jangan masak seafood. Gue jamin itu makanan bakal abis sekali duduk sama Salju." Ucapan Sean kembali membuat Justin terkejut. Ia masih belum percaya dengan apa yang dikatakan oleh laki-laki dihadapannya beberapa detik yang lalu.

"Wait, wait. Maksudnya gimana nih bang? Jangan bikin gue salah paham sendiri deh."

Justin mengangkat tangannya, mencoba memberikan penjelasan. Namun, Sean hanya mengangguk sambil terus mengunyah makanan yang ada di mulutnya.

"Lo mau nikah sama Salju?"

"Jelas mau!" Justin mengangguk mantap dan yakin dengan ucapannya.

"Gue percaya sama lo. Kalau lo bisa jaga Salju tanpa kesalahan sedikitpun setelah pergi dari luar negeri, lo mau nikah besok? Gue kasih lampu ijo!"

Justin langsung berseru, ia tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya saat mendapatkan restu dari seorang yang akan menjadi wali nikahnya bersama Salju.

"Makasih banyak, bang! Gila sih ini. Gue nggak percaya bisa langsung dikasih izin sama lo, bang! hahaha."

"Eits, jangan seneng dulu, bro! Kalau nanti ada kejadian yang nggak menyenangkan dari adek gue, gue jamin lo nggak bakal ketemu Salju lagi. Paham?"

"I got it!"

Di sela pembicaraan yang sangat menyenangkan itu, dari lantai atas Salju masih dapat menguping pembicaraan keduanya yang sangat menyakitkan. Ia tertawa miris mendengar perjanjian konyol dua laki-laki yang menyebut namanya berulang kali.

"Kurang ajar, mereka berdua! Liat aja nanti, gue bakal bikin kalian kapok ngomongin gue di belakang!"

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bukan Calon Kakak Ipar
8.2
Nasha mendambakan cinta seperti hubungan kakaknya, Nisha, dengan Rayyan. Demi menirunya, ia memacari Feri yang dinilai sempurna. Namun, duka runtuh saat Nisha wafat sebelum menikah. Kehancuran Nasha kian mendalam ketika Feri berkhianat dan menghamili sahabatnya sendiri karena nafsu. Trauma berat ini membuat Nasha menutup diri dari laki-laki, hingga takdir mempertemukannya kembali dengan Rayyan, pria yang dahulu hampir menjadi kakak iparnya.
Sampul Novel Gairah Sang Pelakor
8.9
Kehancuran rumah tangga seorang istri bermula dari penemuan kontak asing berlabel si buruk rupa di gawai suaminya. Siapa sangka, julukan kejam itu disematkan sang suami untuk menghina dirinya. Demi menyembunyikan perselingkuhan dengan wanita lain, pria itu tega merendahkan istrinya sendiri. Pengkhianatan menyakitkan ini membongkar fakta pahit bahwa sang istri tidak lagi dihargai, sementara suaminya justru asyik memadu kasih di belakangnya.
Sampul Novel Maaf, Aku Tidak Pantas Buatmu
8.6
Irfan, pria tampan dan taat beragama, masih terluka karena penolakan Iffah yang merasa tidak sepadan dengannya. Padahal, kecerdasan dan kesalehan Irfan membuatnya menjadi sosok dambaan. Di saat alasan penolakan itu masih menyisakan tanya, hadirlah Rayhan, seorang lulusan Malaya University yang berupaya mendekati Iffah. Situasi ini membuat Iffah bimbang. Haruskah ia membuka hati untuk Rayhan, ataukah ia akan kembali merajut asa bersama Irfan, cinta lama yang masih tersimpan di hatinya?
Sampul Novel Merebut Istri Yang Kau Sakiti
8.2
Naila, gadis salihah berumur 21 tahun, harus melewati getirnya pernikahan bersama Daffa, anggota geng motor yang kasar dan berperilaku buruk. Di tengah penderitaan itu, ia tetap bertahan karena menganggapnya sebagai ujian Tuhan. Ketegaran Naila menyentuh hati Raihan, teman kuliahnya yang bertekad menyelamatkannya dari hubungan beracun ini. Namun, apakah upaya Raihan akan membebaskan Naila atau justru mendatangkan bahaya baru yang lebih besar bagi mereka?
Sampul Novel Ratu di Istana yang Retak
9.6
Umi Tatu murka akibat gaya hidup bebas Attar di Jerman bersama kekasihnya, meski ia lulusan pesantren. Agar tabiat putranya membaik, Attar dipaksa pulang untuk dinikahkan dengan Nadhera, hafidzah yang sederhana. Tanpa menyadari rencana terselubung sang mertua, Nadhera terperangkap dalam pernikahan dingin dan kerap menerima perlakuan kasar dari suaminya. Sanggupkah ketulusan serta ketabahan Nadhera menyembuhkan luka dalam rumah tangga mereka yang hampir hancur?
Sampul Novel Ternyata Ada Aku Dan Istrimu! "Tapi Aku Bukan Pelakor"
9.0
Depresi akibat trauma masa lalu menyadarkanku bahwa cinta tidak selamanya indah. Di saat impian masa depan mulai dirajut, sebuah kenyataan kelam justru terbongkar. Lelaki yang telah mendampingiku selama bertahun-tahun rupanya telah beristri selama dua tahun. Kendati dikhianati, aku bersyukur kebenaran terungkap sebelum terjerumus dalam poligami. Kisah nyata penuh emosi ini menjadi bukti nyata bahwa kepalsuan serapat apa pun pasti akan tercium juga.