APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel SHEILA, GAIRAH LIAR BERSELIMUT DENDAM

SHEILA, GAIRAH LIAR BERSELIMUT DENDAM

Demi menyelamatkan sang ibu yang sakit, Sheila Damaris terpaksa memilih antara jeruji besi atau menyerahkan kesuciannya kepada Revian, atasannya yang sangat arogan. Meski berhasil menuntut pernikahan kontrak, nasib Sheila justru kian menderita. Kekejaman Revian memuncak saat masa lalu Sheila terungkap, mengubah statusnya hanya sebagai pemuas hasrat. Di tengah siksaan sang direktur, mampukah Sheila bertahan dan menuntaskan dendamnya?
Bab
Bagikan

Bab 3

"Sekarang mana tester untukku?" tanya Revian seraya melangkah lebih dekat, sehingga membuat Sheila bergerak mundur dengan paras memucat.

"Be-berjanjilah Anda hanya menyentuh dari luar," pinta Sheila dengan suara terbata.

"Memangnya kamu bisa meminum air dari botol yang ada tutupnya?" tanya Revian dengan seringai tipis.

Sheila terpojok, ia tidak bisa bergerak mundur lagi karena dirinya sudah membentur tembok.

"Ayolah, Sheila. Jangan membuang waktu lagi. Jangan buat rasa penasaranku semakin besar sehingga sulit untuk mengendalikan diri. Sebagai wanita dewasa, kamu pasti sudah bisa melihat bagian bawah tubuhku yang mengeras di balik denim ini. Atau ... kamu memang ingin melalukan tester dengannya langsung? kata Revian lagi yang langsung dijawab dengan gelengan kuat oleh Sheila.

"Pakai tangan saja, Pak. Tapi, please ... jangan masukkan jari Anda. Berjanjilah terlebih dahulu," ujar Sheila.

Revian mengungkung tubuh Sheila dengan kedua tangannya yang ia tumpukan di dinding. Dengan suara rendah ia berkata, "Aku berjanji. Sekarang bukalah celana dalammu."

Sheila memejamkan mata dengan debaran jantung yang semakin tak menentu. Dia sangat gugup saat itu, ditambah lagi dengan posisi wajah Revian yang hanya berjarak beberapa mili dari wajahnya. Hembusan napas lelaki itu bahkan bisa menggetarkan rambut-rambut halus di permukaan kulitnya.

"Kamu pakai parfum apa? Aromanya enak," tanya Revian.

"Ti-tidak ada parfum, Pak. Ha-hanya sabun mandi," jawab Sheila.

"Saya ingin mencium kamu," bisik Revian dengan suara yang semakin parau.

Sheila ingin menolak, tetapi percuma karena bibir lelaki itu sudah menempel di atas bibirnya. Sheila bisa merasakan sapuan lembut dari lidahnya yang basah. Lumatan-lumatan kecil juga pria itu lakukan dengan lembut.

Revian menempelkan tubuhnya ke tubuh Sheila, membiarkan kejantanannya yang mengeras menekan paha wanita itu dengan intens.

Tanpa melepaskan ciumannya tangan Revian mulai menelusuri tubuh Sheila, bergerak turun dari pundak, dada, pinggang, lalu meluncur ke area belakang. Jari-jari kokoh miliknya meremas bokong Sheila dengan penuh hasrat. Dari bokong tangan itu meluncur ke bawah, menyelinap ke balik rok pendek yang Sheila kenakan, setelah itu hinggap di atas paha Sheila yang mulus.

Dari paha itu, tangannya bergerak perlahan menuju area yang berada di sela paha. Ujung jarinya menyentuh tepian bibir yang sangat halus dan lembab.

"Aah ... Sheil, milik kamu benar-benar istimewa dari yang lain," racau Revian sambil terus mengelus permukaan kewanitaan Sheila yang mulus dan chubby.

Sheila sendiri mulai terbakar oleh sentuhan Revian yang memabukkan. Jika saja tak ingat malu, ia mungkin akan mengeluarkan desahan sebagai reaksi atas sentuhan yang pria itu berikan. Namun, akal sehatnya masih berjalan, ia menahan semua sensasi itu dengan sekuat tenaga.

Revian menggeram tanpa sadar.

"Aku ingin memasuki kamu, Sheil. Ooh ...." Revian terus meracau sambil meremas lembut bukit kecil milik Sheila yang benar-benar membuatnya berada di puncak birahi.

Jemari Revian menelusuri celah yang lembut itu, dan bisa merasakan ada cairan yang mengenai ujung jarinya.

"Kamu sudah basah, Sheil. Ternyata tubuh kamu juga menikmati sentuhan ini," ucap Revian.

Janjinya untuk tidak memasukkan jari ke liang itu menguap ke udara. Revian tidak sanggup lagi menahan diri. Dari celah itu jarinya bergerak mencari liang kenikmatan Sheila.

Namun, Sheila bergerak cepat menahan tangan Revian, lalu menyilangkan kedua kakinya, menutup area pribadi itu rapat-rapat.

"Anda sudah berjanji tidak akan memasukkan jari ke sana," kata Sheila memperingatkan.

Dengan ekspresi datar, Sheila menarik tangan lelaki itu, menjauh dari area kewanitaannya.

"Sudah sepuluh menit lewat lima belas detik. Sepertinya sudah cukup kalau hanya untuk tester," lanjut Sheila.

Ia merunduk, meloloskan diri dari kungkungan lengan pria itu, lalu mengenakan celana dalamnya kembali.

"Besok pagi saya akan menyerahkan surat pengunduran diri pada Bapak. Sampai jumpa minggu depan," ucap Sheila seraya melangkah menuju pintu.

"Tidak. Aku tidak bisa menunggu selama itu. Pernikahan kita dipercepat. Aku akan menjemputmu lusa. Persiapkan dirimu," kata Revian sambil berjalan kembali menuju meja kerjanya.

Mata indah itu membesar beberapa detik, tetapi kembali meredup setelah keterkejutannya hilang. Meski berat hati, Sheila mengangguk juga karena memang dirinya tak lagi memiliki hak suara untuk melayangkan protes.

"Baiklah, sampai jumpa lusa," sahut Sheila seraya memutar tubuhnya, lanjut melangkah menuju pintu.

Tangannya sudah meraih handle pintu itu ketika ponsel yang ada di dalam saku blazernya berbunyi.

"Ya, halo, Mbak. Bagaimana proses operasi Mamaku? Apakah sudah selesai?" tanya Sheila dengan sebelah tangan menarik handle.

Namun, handle itu tidak berhasil ia putar hingga habis karena tubuh Sheila seolah membeku di tempatnya berdiri ketika mendengar kata-kata dari perawat ibunya itu.

"Ja-jangan be-bercanda, M-mbak. I-itu nggak lucu," ucap Sheila terbata dengan suara bergetar.

["Saya tidak bercanda, Mbak Sheila. Operasi ibu Mbak tidak berhasil. Beliau meninggal di meja operasi setelah mengalami pendarahan hebat."]

"TIDAAAAK! OPERASI MAMAKU TIDAK MUNGKIN GAGAL. MAMAKU TIDAK BOLEH MATI!" teriak Sheila.

Kedua tungkainya terasa lemas, tanpa sadar Sheila jatuh terduduk tanpa sempat membuka pintu kaca itu.

Revian yang sudah duduk di meja kerjanya langsung terlompat dari kursinya, lalu berlari mendekati Sheila.

"Hei, Sheila. Ada apa? Mengapa kamu histeris begini?" tanya Revian heran.

Sheila mengangkat kepalanya, menatap Revian dengan wajah yang basah oleh air mata.

"Mama saya ... mama saya ... operasinya gagal, Pak. Huhuhuhu ... Mamaaaa ... Mamaaaa," jawab Sheila.

Tangisnya pecah tak tertahan lagi. Sheila meraung sejadi-jadinya sambil memanggil-manggil mamanya.

Revian tertegun, tak tahu harus berkata apa untuk menghibur wanita yang akan ia nikahi itu. Hanya tangannya yang terangkat perlahan, menepuk punggung Sheila dengan pelan.

"Ikhlaskan kepergian ibu kamu. Mungkin ini jalan dari Tuhan agar dia tidak merasakan sakit lagi," ucap Revian.

Sheila terus menangis tersedu, menelungkupkan setengah badannya di lantai tanpa memedulikan kehadiran Revian yang berada di dekatnya. Bagi Sheila dunianya sudah runtuh, tidak ada lagi siapapun yang tersisa di sampingnya. Bahkan dirinya sendiri pun sudah tergadai akibat uang yang ia gunakan untuk membiayai pengobatan almarhum ibunya.

Menit demi menit berlalu, Sheila masih berada dalam posisi duduk dengan tubuh menangkup lantai. Sementara itu Revian berjalan mondar-mandir bingung harus berbuat apa untuk wanita itu.

"Sheila, bangunlah. Berhenti menangis, lebih baik temui ibumu di rumah sakit," kata Revian.

Namun, Sheila bergeming. Ia tetap berada dalam posisi itu tanpa menanggapi kata-kata Revian, membuat lelaki itu berdecak kesal.

"Kamu dengar kata-kataku, tidak? Berhenti tantrum seperti bayi begitu. Dewasalah, urus jenazah ibumu itu!" seru Revian lagi.

Akan tetapi, seruan itu lagi-lagi bagai angin lalu di telinga Sheila. Ia tidak mengubah posisinya sedikit pun, bahkan menggerakkan tubuhnya pun tidak.

'Eh ... sudah berapa lama dia menangis dalam posisi begitu?' gumam Revian heran sambil melirik jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangannya.

"Astaga! Sudah satu jam lebih. Jangan-jangan dia pingsan lagi," seru Revian kaget.

Ia pun bergegas menghampiri Sheila, lalu mengguncang tubuh wanita itu sambil memanggil-manggil namanya.

"Hei, Sheila. Bangun! Mau sampai kapan kamu menangis begini?" tanya Revian.

Lagi-lagi Sheila tidak menjawab. Wajah Revian berubah cemas. Tanpa memedulikan apa pun lagi, Revian mengangkat tubuh Sheila dari lantai. Ternyata benar dugaannya. Mata Sheila terpejam, wajahnya pucat bagaikan tak dialiri darah. Tidak diragukan lagi, wanita itu pingsan karena shock setelah mendengar berita kematian ibunya.

Sekarang giliran Revian yang shock, karena pertama kali di dalam hidupnya berhadapan langsung dengan wanita yang jatuh pingsan saat berada di dekatnya.

'Sial, dia pakai pingsan segala lagi. Apa yang harus aku lakukan?' tanya Revian bingung karena tidak ada siapa pun yang bisa dimintai tolong. Di kantor itu hanya tinggal mereka berdua, sementara karyawan lainnya sudah pulang sejak jam kerja berakhir sore tadi.

Tidak ada cara lain, ia pun menelepon seseorang agar bisa membantu dirinya memindahkan Sheila.

"Ben, datang ke ruangan saya sekarang!" titah Revian pada Benny, sopir pribadinya.

Tidak lama kemudian pria bertubuh tegap datang, masuk ke ruangan Revian setelah mengetuk pintunya tiga kali.

"Astaga! Apa yang terjadi, Bos? Mengapa Bu Sheila bisa pingsan di sini?" tanya Benny heran. Ia cukup mengenal Sheila yang sehari-hari bertugas sebagai kasir utama itu. Sepanjang pengetahuannya, wanita itu tidak memiliki hubungan pribadi dengan Revian. Itu sebabnya ia bingung kenapa Sheila bisa pingsan di dekat pintu ruangan bosnya itu.

"Sudah, tidak usah banyak tanya. Bantu saya memindahkannya ke mobil. Kita harus mengantarnya pulang," jawab Revian.

Benny mengangguk. Dengan mudahnya, ia membopong tubuh Sheila lalu membawanya menuju mobil Revian yang berada di area parkir khusus direksi. Sheila dibaringkan di kursi tengah, sementara Revian duduk di kursi sebelah kemudi. Ia sedang membuka data karyawan untuk menemukan alamat rumah Sheila.

"Di mana alamat rumahnya, Bos?" tanya Benny sambil mengemudikan mobil itu keluar dari area parkir.

"Komplek Duta Mas Blok A3 No. 10. Kamu tahu tempat itu, nggak?" jawab Revian setelah mendapatkan alamat rumah Sheila di database karyawan.

"Tahu, Bos. Cukup dekat kok dari sini," jawab Benny.

"Bagus deh. Kalau begitu tunggu apa lagi, langsung saja ke sana," ujar Revian.

Usai berkata begitu, ia mengubah posisi tempat duduknya, lalu merebahkan tubuh untuk tidur. "Nanti bangunkan saya kalau sudah sampai," titahnya sambil memejamkan mata.

Benny mengiyakan perintah itu tanpa protes, karena memang sudah menjadi kebiasaan Revian begitu. Sejak berkerja sebagai sopir Revian empat tahun yang lalu, Benny sudah sangat hapal dengan kebiasaannya. Lelaki berwajah tampan itu selalu tidur saat berada di perjalanan, tidak peduli itu perjalanan jarak jauh ataupun perjalanan yang hanya membutuhkan waktu sepuluh menit.

Mobil mewah yang dikendarai Benny sampai di alamat yang disebutkan Revian. Ia menghentikan laju mobil itu tepat di depan sebuah rumah bergaya minimalis berukuran sedang.

"Bos, kita sudah sampai," ucap Benny sambil menepuk pelan lengan bosnya itu.

Revian duduk, lalu mengamati sekitarnya untuk beberapa saat.

"Ya, sudah. Kamu beritahu keluarganya sana," titah Revian.

Benny menurut patuh, turun dari mobil itu lalu mengetuk pintu rumah bernomor sepuluh itu dengan pelan.

Seorang pria berusia awal empat puluh membukakan pintu, terlihat kebingungan saat Benny memberitahu perihal Sheila yang pingsan di dalam mobil.

"Ada apa, Ben? Kenapa lama sekali?" tanya Revian dari jendela mobil yang ia buka setengah.

Benny menghampiri Revian dengan kebingungan.

"Ada masalah, Bos. Bapak itu bilang tidak memiliki keluarga bernama Sheila Damaris," jawab Benny.

"Kamu yakin? Kamu sudah sebutkan ciri-ciri fisiknya? Kalau perlu minta bapak itu melihat sendiri ke mobil deh," kata Revian.

"Sudah saya sarankan begitu, Bos. Tetapi bapak itu dengan tegas menolak. Dia bahkan memperlihatkan salinan kartu keluarga yang tersimpan di ponselnya. Memang tidak ada nama Bu Sheila di sana," jelas Benny.

"Lho ... kenapa bisa begitu? Apakah alamat rumahnya salah? Tetapi saya sudah melihat dengan teliti tadi, memang di sini alamatnya," ujar Revian tak kalah bingungnya dengan sang sopir.

Benny mengemudikan mobil itu kembali, fokus pada jalanan yang ada di hadapannya.

"Jadi sekarang kita ke mana, Bos?" tanya Benny lagi.

"Itu yang saya juga tidak tahu, Ben," jawab Revian sambil memijit kepalanya yang terasa pusing. Ia menoleh ke belakang, menatap Sheila yang masih terbaring tak sadarkan diri.

"Ah ... tadi dia menerima panggilan telepon dari seseorang di rumah sakit, 'kan?" seru Revian pada dirinya sendiri.

Ia pun bergegas memeriksa saku blazer Sheila untuk menemukan ponsel gadis itu, sayangnya nihil. Ia gagal menemukan ponsel milik Sheila.

"Sial. Mungkin ponselnya terjatuh saat di kantor," gumam Revian.

Sekarang ia benar-benar kebingungan karena tidak tahu harus membawa Sheila ke mana. Hari semakin malam, Revian sadar dirinya harus segera mengambil keputusan agar tidak berputar-putar tanpa arah di jalanan itu.

"Tidak ada pilihan lain. Bawa dia ke hotel saja, Ben," ucap Revian.

"Hotel yang biasa, Bos?" tanya Benny lugu.

"Apakah pertanyaan itu masih harus saya jawab?" Revian balik bertanya dengan dingin.

Benny menggeleng. Tanpa berkata-kata lagi ia segera melajukan mobil itu menuju hotel bintang lima tempat Revian biasanya menghabiskan waktu bersama wanita-wanita mainannya.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Antara Dua Hati
8.8
Kecewa karena lamarannya ditolak Maida akibat perbedaan status sosial, Razi memilih menikahi Hana, gadis desa pilihan sang ibu. Konflik dimulai ketika Razi memboyong istrinya menetap di Jakarta. Maida yang rupanya memendam rasa kini terobsesi merebut Razi kembali. Keadaan kian rumit dengan campur tangan kakak angkat Maida yang memperkeruh suasana. Di tengah badai ujian dan gangguan ini, mampukah rumah tangga Razi dan Hana bertahan dari kehancuran?
Sampul Novel Kejahatan Termanis
7.9
Demi ambisi jabatan, Nevilla mendekati Adero dan meninggalkan Aron. Namun, langkah keliru ini justru membangkitkan masa lalu kelam dari enam tahun lalu yang menghantuinya kembali. Ketika hubungan mereka semakin intim, Nevilla menyadari dirinya telah terperangkap tanpa jalan keluar. Kini, ia harus menghadapi ancaman dari seorang pria berbahaya yang siap menghancurkan hidupnya dan menyeretnya ke dalam pusaran konflik masa lalu yang mematikan.
Sampul Novel Love And Mystery
7.8
Harry Borison, CEO Rank Group yang dingin, terikat takdir dengan karyawannya, Han Yura. Di balik kesehariannya, Yura memendam trauma masa lalu dan PTSD. Demi keselamatan dari ancaman wanita psikopat yang terobsesi pada Harry, mereka berdua terpaksa menyembunyikan pernikahan mereka. Kini, Yura harus berjuang meluluhkan hati keras Harry sekaligus bertahan hidup dari kejaran sang penguntit yang mengincar nyawanya.
Sampul Novel Skandal Ranjang Ternoda
8.9
Kemewahan rumah tangga sepasang suami istri ini hanyalah kepalsuan untuk menutupi pernikahan yang telah hancur. Terjebak dalam kehampaan, keduanya memilih berselingkuh demi mencari pelarian. Sang suami memadu kasih dengan daun muda yang tak terduga, sedangkan sang istri berpaling pada pria paruh baya demi kebahagiaan sejati. Di balik pengkhianatan ini, ranjang mereka kini ternoda oleh dendam dan nafsu, memicu skandal pernikahan yang sangat getir.
Sampul Novel Tak Apa Jadi Istri Kedua, yang Penting Soleha
8.9
Fika menjalani peran sebagai istri kedua dengan rasa percaya diri yang tinggi. Ia merasa posisinya jauh lebih unggul dibanding istri pertama sang suami. Di dalam hatinya, Fika bangga karena meyakini dirinya memiliki rupa yang lebih menawan. Bukan sekadar penampilan fisik, ia juga merasa tingkat ketakwaan serta pemahaman agamanya jauh lebih mendalam, sehingga ia menilai dirinya sebagai sosok yang lebih saleha dalam pernikahan tersebut.
Sampul Novel Wolf Queen Rising: Dikhianati sebagai Istri, Dimahkotai sebagai Ratu
8.7
Saat mengandung, Ella Vance dikhianati oleh Alpha Laurel Valley, Damian Blackwood, yang memilih Selena dan membuang anak mereka. Setelah selamat dari kecelakaan maut rancangan sepupunya itu, Ella lenyap selama lima tahun. Kini ia kembali sebagai sosok yang kuat dan mandiri. Damian yang didera penyesalan kini memohon ampunan demi menyelamatkan garis keturunannya, namun Ella yang sekarang bukanlah wanita lemah yang bisa ia kuasai lagi.